A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Rasa Yang Tulus...



Pagi itu Linny memutuskan untuk mengunjungi Farid di rumah sakit terlebih dahulu bersama Sean.


Berdasarkan informasi dari pengawal yang berjaga, Farid sudah bangun dan dia tampak lebih baik. Anak kecil itu terlihat ceria bersama dengan sang Kakak.


"Ke rumah sakit dulu baru ke markas Om Donald"  Ucap Linny pada Jun.


Mereka kemudian segera menuju rumah sakit tempat Farid di rawat. Jika bertanya untuk apa ke markas Om Donald tentu kalian sudah tahu maksudnya bukan?


Apalagi jika bukan Ayah Tiri bajingan itu sudah di temukan dan mungkin sebentar lagi akan menjadi abu di tangan Linny.


Tiba di rumah sakit mereka langsung menuju ruang perawatan Farid. Tampak Dewi sedang dengan telaten menyuapi sang adik.


Bubur encer menjadi makanan untuk Farid beberapa waktu ini karena kondisinya masih dalam pemulihan.


Dokter tidak mengizinkan Farid memakan makanan yang keras dan terlalu berserat terlebih dulu. Semua makanan di usahakan selembut dan seencer mungkin karena takut akan melukai Farid saat buang air besar nanti.


Melihat kehadiran Linny dan Sean membuat Dewi berhenti menyuapi sang adik dan langsung berdiri menghampiri Linny dan Sean.


Dewi menyambut hangat dua manusia yang sudah menyelamatkan nyawa adiknya.


"Bu. Silakan duduk"  Ucap Dewi menyambut Linny dan Sean.


"Panggil Aku Nona. Nona Linny. Aku tidak setua itu untuk di panggil ibu"  Ucap Linny terdengar ketus.


Dewi tersenyum mengangguk paham dengan perkataan Linny. Hanya dia memanggil Linny dengan sebutan Ibu karena dia menghormati Linny yang memang tampak berkarisma.


"Baik Nona Linny. Ah maaf, Saya tidak tahu Nona mau datang. Nona mau minum apa biar saya belikan"  Ucap Dewi merasa sungkan pada Linny.


"Tidak usah. Lebih baik kau urus makan adik mu hingga selesai"  Ucap Linny yang tahu Farid belum selesai makan.


"Ah iya Bu. Eh maksud saya Nona. Permisi sebentar Nona"  Ucap Dewi dengan sopan.


Linny hanya mengangguk memberi ijin pada Dewi mengurus sang adik.


Sean melihat sikap Dewi yang sangat sopan itu kini paham kenapa Linny begitu yakin pada gadis itu tanpa curiga.


Semalaman Sean sudah mengemukakan pemikirannya yang takut Dewi hanya berpura-pura dan itu jebakan dari Rain. Terlebih melihat Farid yang menjadi korban asusila membuat Sean berpikir ada kaitan dengan kelompok Rain.


Namun Linny berkata insting serigalanya tidak pernah salah. Dan dia yakin Dewi tidak ada kaitan dengan kelompok Rain. Tapi Dewi bisa menjadi senjata untuk mengacau kelompok Rain jika mereka latih dengan baik.


Selain itu mungkin Dewi bisa membantu mencari master video Sean berada. Linny masih terus berusaha mendapatkan video itu kembali karena dia tahu jika di dalam pikiran Sean masih terus takut akan video itu benar-benar di sebar tanpa sensor.


Linny berencana memecah belah kehidupan Rain jika dia berani melakukan sesuatu di luar batas lagi. Jika hanya video maka Linny akan dengan mudah melenyapkan semua berita. Namun jika menyangkut nyawa dan keselamatan Sean juga sekelilingnya maka Linny akan membunuh Rain.


..."Jangan mencari masalah jika dia tidak menggunakan kekerasan pada kalian. Jika hanya video maka fokus pada video dan foto itu untuk di hanguskan. Jangan lagi merusak. Ingat Sean dan keluarganya hampir mendapat bahaya besar karena Rain sangat marah kau sudah menghancurkan Bar besar miliknya. Bahkan hampir saja nyawa Mahaprana melayang bukan Linny? Itu karena kemarahan Rain dan sekali lagi kau sudah melukai kekasihnya pasti dia akan menyerang sewaktu-waktu jika sudah siap"...


Nasehat panjang yang Linny dengar dari Om Donald semalam terus terngiang di telinga Linny. Om Donald yang sudah seperti Ayah bagi Linny tentu mengkhawatirkan keselamatan Linny.


Meskipun Rain hanya segelintir mafia kecil yang bisa dia bunuh namun jika Linny tidak waspada maka akan berbahaya. Belum lagi Linny mengotot dan memaksa agar Om Donald jangan ikut campur. Dia sendiri yang akan turun tangan menyelesaikan masalah Sean.


..."Berhati-hatilah. Om tahu kau kuat tapi belum tentu dengan orang di sekelilingmu. Fokus saja melenyapkan video Sean yang ada pada mereka dan Lindungi Sean agar tidak di jebak kembali ke dunia itu. Jangan terus membuat masalah yang tidak perlu di cari. Ingat tujuan awal mu bukan hanya Rain. Banyak yang lebih penting. Tentang menjaga perasaan Sean juga masalah keluarga tirimu. Jangan habiskan waktu dan tenaga mu terlalu banyak"...


Setiap perkataan Om Donald memang benar setelah di cerna Linny. Dia terlalu berfokus pada Rain yang mendukung Erik, tapi Linny lupa dengan keluarga tirinya yang sedang mencoba mencari dukungan untuk mengembalikan pamor keluarga mereka yang baru di hancurkan Linny satu persatu.


Dan terkadang semua tindakan Linny selalu membuat Sean cemas. Seperti kemarin Sean sangat marah karena Linny mengabaikan perkataannya hingga kembali terluka di saat luka perut Linny masih basah.


Untuk kali ini Linny mengalah. Dia memilih mengikuti saran dan nasehat Om Donald yang dia hormati itu.


"Ada apa?"  Tanya Sean saat melihat wajah Linny yang tampak berpikir keras.


"Tidak. Hanya memikirkan perkataan Om Donald"  Ucap Linny.


Sean yang juga turut mendengar nasehat Om Donald pun paham maksud dan isi pikiran Linny.


"Om benar. Kita fokus saja dengan tujuan mu. Asal mereka tidak menyerang maka kita kuatkan saja posisi kita. Aku tidak mau kau terluka lagi"  Ucap Sean terdengar khawatir.


Terlihat Dewi sudah selesai mengurus sang adik. Dan Farid juga berusaha memosisikan dirinya untuk duduk menghadap Linny dan Sean.


"Hei adik kecil! Jangan banyak gerak! Kau mau terluka lagi?"  Tanya Linny yang terdengar galak di telinga siapa pun.


Sean sampai menggelengkan kepalanya. Linny begitu menakutkan jika dilihat orang yang tak di kenal. Padahal hatinya tidak sekejam itu. Ya kecuali jika sudah berani menyinggung keamanan Linny dan orang sekitarnya sih pasti akan di jadikan abu oleh Linny. Atau mungkin kehilangan masa depan seperti Reza.


Ah, Reza entah bagaimana kondisi pria itu sekarang. Sedikit rasa kasihan timbul di hati Sean jika memikirkan mantan pacar Linny itu. Satu kata yang selalu teringat. Kasihan.


"Terima kasih sudah menolong Farid, Tante - Om"


Ucap anak itu dengan polosnya yang membuat Linny mem-bolakan matanya.


Tante? Dia di panggil tante??? Ah tapi tidak salah juga. Linny sudah kepala 3.


"Sabar. Jika punya anak dia memang sudah seusia anak kita"  Bisik Sean di telinga Linny yang tau betapa Linny tidak suka di panggil begitu.


"Ck!"  Linny hanya bisa berdecak kesal.


"Mau ikut tinggal dengan ku? Bersama kakak mu juga" Tanya Linny pada Farid.


Farid menatap sang Kakak sebelum berbicara.


"Ayah bagaimana?? Kasihan kalau di tinggal nanti Ayah tidak ada teman"


Ucapan Farid yang dengan polosnya masih memikirkan monster yang sudah menghancurkan masa depannya.


Hati siapa pun akan mencelos mendengar ucapan polos dari anak seusia Farid. Tak ada dendam di mata anak itu. Dia hanya tau dia menyayangi semua anggota keluarganya.


Ya salam... Linny semakin jengah dan ingin membunuh pria yang sudah tega menyakiti anak sambungnya itu.


.


.


.


Changi Airport Singapore~


Terlihat Andrean sedang menarik koper kecilnya menuju ke arah pintu kedatangan. Dia baru saja tiba di negara Singapore.


Andrean langsung memesan taxi menuju salah satu hotel untuk tempatnya menginap selama dua malam di negara itu.


Dia ingin menemui Angel dan membicarakan masalah mereka. Sesuai perkataan Sisilia -Adik tercintanya. Andrean tidak mau menjadi orang yang menghancurkan hidup dan karier Angel.


Dia tidak ingin sama berengseknya seperti Reza ataupun pria lainnya. Andrean memiliki sikap bertanggung jawab yang besar yang sejak kecil di ajarkan oleh Wisnu -Sang Papa.


"Astaga. Dia masih memblokirku"  Keluh Andrean yang kembali mencoba menelepon Angel namun tetap nomornya masih di blokir oleh Angel.


Taxi yang Andrean tumpangi kini tiba di hotel tempat Andrean menginap. Dia segera check in sebelum keluar mencari sesuatu sebagai buah tangan untuk dia bawa pada Angel.


..."Belikan sesuatu untuk Angel. Makanan kesukaannya misalnya. Jangan tangan kosong agar setidaknya dia tahu kalau Kau datang dengan tulus Dre!"...


Begitulah nasehat serta petuah dari Sisilia. Andrean kini pun mencoba mengikuti saran Sisilia.


..."Jika bisa aku harap kalian mau mempertimbangkan untuk menikah. Aku yakin kau bisa mencintai Angel jika kau mau membuka hati. Atau setidaknya pastikan dia tidak dirugikan oleh tindakan mu"...


Ucapan Sisilia terus terngiang di telinga Andrean. Dia bingung apakah dia harus menikahi Angel. Sedangkan dia tidak pernah memiliki perasaan lebih pada Angel hingga saat ini.


.


.


.