
"Kau tidak apa-apa Linny?" Tanya Sisilia yang khawatir pada Linny.
Mereka tiba di penthouse dan Jun serta Alfa tampak menyiapkan makanan tambahan. Mereka memang belum sempat menyelesaikan makan akibat kehadiran dua manusia itu.
"Tidak masalah. Maaf merusak acara yang sudah kalian siapkan" Ucap Linny merasa tidak enak pada William dan Sisilia.
"Tidak apa-apa. Bukan salahmu. Memang dua orang tua itu yang tak tau malu" Ucap Sisilia yang memang sangat kesal dengan sikap Sisca Natalie.
"Aku tidak menyangka seorang ibu tega pada anaknya" Ucap William tidak menyangka sikap Sisca Natalie seperti itu.
"Kedua orang tua ku sudah lama mati, Liam. Dia bukan siapa-siapa untukku" Ucap Linny dengan wajah datar tanpa emosi.
"Sudahlah, ayo makan dulu. Jun dan Alfa sudah menyiapkannya" Ucap Sean menghentikan pembicaraan yang menurutnya tidak penting itu.
Dia tidak ingin Linny kembali terlarut dalam kekecewaan dan rasa sakit hatinya.
Mereka makan bersama hingga seluruh makanan tak bersisa. Linny menyuruh Alfa mengeluarkan wine koleksinya untuk di minum bersama Sean juga William - Sisilia.
"Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Sisilia pada Linny.
"Tetap lanjutkan seluruh rencana kita. Jangan di tunda" Ucap Linny dengan yakin.
Sisilia hanya mengangguk paham. Dia tau dendam Linny tak bisa lagi di bendung, terlebih setelah bertemu langsung dengan dua orang yang sangat mengecewakannya dan menyakitinya itu.
Waktu kian larut hingga William dan Sisilia pun pamit pada Sean dan Linny untuk kembali ke rumah mereka.
Se-peninggalan William dan Sisilia. Linny segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Di ikuti Sean. Keduanya benar-benar hanya mandi karena Linny tampak terus memikirkan sesuatu.
Sean membantu Linny mengeringkan rambutnya setelah itu dia memeluk Linny dengan erat dari belakang.
"Jika ingin menangis maka menangis lah. Ada aku di sini. Aku yang akan menghapus semua air mata mu" Ucap Sean.
Tubuh Linny bergetar. Dia menangis keras. Rasa marah kecewa sedih bercampur dari satu. Dia tidak menyangka setelah sekian lama berlalu sang Mama masih belum menyadari kekeliruannya. Dan bahkan dengan tega merendahkan Linny lagi.
Bohong jika Linny tidak merindukan sang Mama. Bagaimanapun itu adalah ibu kandungnya yang sudah melahirkan Linny. Namun bayangan perlakuan sang Mama terakhir kali membuat Linny selalu merasa sakit hati.
Di tambah kejadian di restoran tadi benar-benar menghancurkan perasaan Linny. Dia benar-benar kecewa dan tidak menyangka akan bertemu dengan mereka dan mendapat perlakuan seburuk itu lagi.
"Orang tua ku sudah mati Sean. Mereka sudah mati. Aku- Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Mereka sudah mati" Ucap Linny terus menerus mengeluarkan rasa kecewa dan sakit hatinya.
Sean memeluk erat Linny dan menenangkannya.
"Tidak apa-apa. Ada aku dan Nicolas juga yang lainnya. Kami keluarga mu Linny. Kami yang akan selalu untukmu" Ucap Sean.
Linny menatap lirih pada Sean. Wajahnya kini penuh air mata. Sean menghapus perlahan air mata yang tumpah tanpa henti itu.
"Jangan lupa ada kau. Kita akan membuat keluarga kita sendiri bukan? Ada aku. Ada Nicolas. Ada sahabat-sahabat kita. Ada Jun - Alfa. Juga ada Farid - Anak angkat kita" Ucap Sean mengingatkan Linny agar tak lagi mengingat keluarga jahatnya itu.
Sean sangat mengerti perasaan Linny yang di maki dan di hujat oleh ibu kandungnya sendiri. Persis saat Sean menerima caci maki dari Mahaprana -sang Papa yang otoriter itu.
Keduanya berpelukan dengan erat dan saling menenangkan.
Jun dan Alfa yang tadinya ingin membawakan buah dan susu untuk camilan Tuan dan Nonanya hanya bisa terdiam di depan pintu kamar Sean dan Linny.
Mereka saling berpandangan dan ikut sedih mendengar kekecewaan sang Nona.
Nona yang mereka tau sangat kuat itu kini terdengar sangat lemah dan kecewa. Dan mereka paham rasa kecewa terbesar adalah saat keluarga mu sendiri menjatuhkan mu.
.
.
.
Tiga hari berlalu dari pertemuan tidak menyenangkan itu. Hari ini merupakan hari resepsi pernikahan Andrean dan Angel yang sempat tertunda sedikit lebih lama setelah kejadian yang menimpa Linny.
Tampak pesta mewah di adakan di hotel Alexxander itu di hadiri berbagai pebisnis ternama yang menjadi partner perusahaan Linny.
Bahkan juga seluruh karyawan perusahaan ikut di undang. Kolega-kolega dari berbagai sudut berkumpul semua di tempat itu.
Linny kembali bertemu dengan Santo Wisnu Negara. Kalian ingat bukan? Pria muda pewaris perusahaan besar Wisnu Negara yang akrab dengan Linny.
Santo tampak hadir sendirian. Tidak membawa pasangannya seperti sebelumnya.
"Ke mana calon istri mu?" Tanya Linny pada Santo.
"Sedang ada acara dengan sahabat-sahabatnya. Kebetulan bentrok dengan acara Andrean" Ucap Santo menanggapi pertanyaan Linny.
"Aku kira sudah kau lenyapkan" Ucap Linny meledek.
"Sialan kau ini. Kau kira aku sembarang melenyapkan orang?" Tanya Santo membalas candaan Linny.
"Mungkin kau bosan dengannya" Ucap Linny sambil tertawa.
"Aku dengar terjadi sesuatu. Tapi cepat sekali tenggelam berita menyangkut dirimu" Ucap Santo mengomentari.
"Kau tidak apa-apa bukan? Sepertinya kau menyimpan sesuatu yang terjadi" Tanya Santo yang cukup khawatir.
"Tenang. Aku sudah baik-baik saja. Itu hana\ya operasi kecil" Jawab Liny dengan santai.
"Kau... Apa kau, miscarriage?" Taya Santo dengan suara setengah berbisik.
Linny hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Kau bisa bantu urus sesuatu?" Tanya Linny pada Santo.
"Apa yang tidak bisa untuk mu Queen?" Ucap Santo berkelakar.
"Sialan kau ini. Aku serius" Ucap Linny kesal.
Santo menertawakan Linny yang tampak lucu menurutnya.
"Katakan. Apapun akan aku lakukan jika itu menyangkut keperluanmu" Ucap Santo serius.
"Bantu cari tau markas utama Hendra Abdi Wijaya juga bukti perdagangan manusia dia" Ucap Linny.
"Kau yakin mau mengganggu urusan itu? Bisa jadi ada kaitan dengan mafia lain?" Ucap Santo mengingatkan Linny.
"Selama kau tidak beerkaitan dengan mereka maka aku tidak peduli" Ucap Linny tegas.
"Dan aku lebih baik memotong diriku dari pada berkaitan dengan manusia bejad seperti mereka. Sebejadnya kau tidak akan aku rusak anak ku sendiri seperti perbuatan wanita gila itu" Ucap Santo yang memang memiliki ibu yang buruk juga.
"Jadi bisa kau lakukan? Hanya kau yang punya akses untuk hal itu. Aku tidak mau melibatkan Om Donald. Dia sedang sibuk membantuku mengurus hal lain" Ucap Linny.
"Tentu akan aku lakukan. Tunggu beberapa hari akan aku berikan yang kau butuh" Ucap Santo.
Linny dan Santo memang sering saling membantu dan menutupi karena kisah keduanya yang memiliki ibu yang buruk. Itu membuat mereka menjadi dekat meskipun Santo jauh lebih muda dari pada Linny.
Di luar itu Linny tidak peduli dengan suara sumbang jika Santo keji dan psikopat. Karena Santo jauh lebih baik di banding manusia seperti Sisca Natalie dan Keluarga Hendra Abdi Wijaya menurutnya.
Tak lama Sean tampak mendekat pada Linny dan Santo yang sedang asyik berbincang.
"Halo Tuan Santo" Sapa Sean pada Santo.
"Panggil Santo saja. Aku jauh lebih muda dari mu Kak Sean" Ucap Santo dengan ramah.
Santo yang sulit ramah dan dekat dnegan orang itu mau tidak mau percaya Sean orang yang bisa di percaya. Karena Sean merupakan pria pilihan Linny dan Santo tau Linny tidak akan sembarang memilih pasangan hidup.
"Ah baiklah. Oh ya dimana istri mu?" Tanya Sean pada Santo.
Dia tak lagi cemburu karena Linny sudah menjelaskan siapa Santo dan seperti apa hubungannya dengan Santo.
"Tidak bisa ikut karena bentrok jadwal" Ucap Santo dengan ramah.
Mereka pun berbincang hingga ponsel Linny berbunyi tanda pesan masuk.
'Erik muntah darah dan sesak nafas' -Pesan Om Donald-
Mata Linny membola terkejut. Dia tidak ingin Erik meninggal begitu saja.
"Tolong berikan kesempatan untuk Joe. Dia pria yang baik. Aku yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang melukai ku. Beri dia kesempatan seperti kau memberiku kesempatan"
Ucapan Erik membuat Linny teringat pria bernama Joe itu. Linny menjauh dari Sean dan Santo lalu menelepon seseorang.
"Bawa Joe menemui Erik. Pastikan dia tidak berbuat macam-macam" Ucap Linny di telepon.
"Kau yakin? Untuk apa?" Tanya ornag itu pada Linny.
"Dia bisa menguatkan Erik. Feeling ku tidak pernah salah. Lakukan saja dan awasi dengan ketat perilaku Joe" Ucap Linny tegas.
"Baik" Jawab orang di sebrang itu.
Linny menutup telepon itu dan bertepatan dengan Sean mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
"Ada apa?" Tanya Sean.
"Enggak. Aku ingin minum" Ucap Linny berkilah.
"Tunggu sebentar" Ucap Sean lalu menuju meja yang tersedia minuman jus segar.
Linny menatap punggung Sean dari jauh. Dia merasa gundah apakah Sean sekarang harus tau kondisi sebenarnya Erik. Tapi Linny terlanjur berjanji pada Erik untuk menutupi semua itu dari Sean.
'Kau harus bertahan Erik. Jangan mati sebelum kau melihat Sean memakai tuxedo' Batin Linny mendoakan Erik agar bisa kuat dan bertahan.
.
.
.