
Linny memasuki salon langganannya. Seorang pria yang gemulai menyambut kedatangan Linny. Dia adalah Soan pria Thailand pemilik salon yang sudah lama tinggal di negara singa air mancur itu.
Soan melihat kedatangan Linny langsung menyambutnya. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan seharusnya Soan sudah menutup salon. Namun karena Linny yang akan datang membuat Soan tidak jadi menutup salonnya.
"Hai Linny. How are you???" Tanya Soan sambil cipika-cipiki dengan Linny.
Suara melengking Soan dan gayanya yang gemulai selalu membuat Linny tertawa.
"I'm Fine. How about you? Sorry I had to make you open a shop at night" Ucap Linny.
"No problem. I'm so happy can meet you again. Ah, Who is this handsome guy who came with you?" Tanya Soan yang kemudian menyentuh lengan Sean dengan gaya centilnya.
"My partner. Don't touch mine, okey?" Ucap Linny sambil tersenyum.
"Ah. Don't worry. I don't want to touch someone else's. After all my husband can be angry" Jawab Soan yang masih tampak mengganggu Sean.
Dia memang sangat usil. Andrean saja sudah pasrah setiap bertemu Soan. Soan suka sekali mengganggu dan menggoda Andrean si tampan yang selalu stay cool itu.
"Are you really get married with him? Wow. Congrats Soan! I will sent you wedding gift" Ucap Linny terkejut.
Linny tidak mengira Soan serius akan menikah dengan pacar bule-nya itu.
"Yeah. Okey. Stop it! I will change your style now! Come on. It's already night" Ucap Soan lalu menarik Linny duduk di salah satu kursi.
"You really want to cut your hair? Short hair?" Tanya Soan memastikan.
"Yeah. And i want to dye my hair. Hm~ Lavender" Ucap Linny memilih warna lavender untuk rambutnya.
"Okey! That's good choice baby!" Ucap Soan lalu mulai memotong rambut panjang Linny hingga menjadi pendek sebahu.
Soan juga memberikan beberapa treatment untuk rambut Linny sebelum mulai mengecat rambutnya. Agar rambut Linny tidak cepat rusak dan warna catnya akan tahan lama.
Sean hanya duduk di kursi menunggu Linny yang asyik bercanda dengan Soan.
Tampak sesekali Soan bahkan mengajari Linny bahasa Thailand.
Tak terasa sudah dua jam akhirnya Linny selesai dengan penampilan rambut barunya. Sean tampak setengah tertidur di kursi sofa.
"Hei! Sean!" Panggil Linny yang membuat Sean langsung membuka matanya.
Sean terpukau melihat penampilan baru Linny.
"Cantik" Ucap Sean tanpa sadar sambil terus menatap kagum pada Linny.
Soan menertawai ekspresi Sean yang lucu menurutnya.
"Hahaha. Look at it, he is very fascinated to see your new look. So sweet" Ucap Soan membuat Linny ikut tertawa melihat ekspresi Sean.
"Thank you Soan. Tomorrow i will sent you special wedding gift. See ya" Ucap Linny sambil berpelukan kembali dengan Soan.
"I wish and pray for you happiness. This is the first time you have come with a man other than Andrean" Ucap Soan.
"Thankyou. I will go. Bye!" Ucap Linny berpamitan.
"Bye. Take care Linny. Take care handsome!" Ucap Soan dengan gaya centilnya.
Linny dan Sean keluar dari daerah pertokoan itu untuk kembali menuju kapal. Waktu sudah larut Linny tampak cukup lelah.
"Dia lucu" Ucap Sean mengomentari tentang Soan.
"Lucu tapi tidak terlalu menggilai p****. Ah tepatnya dia lebih suka pria yang mengejarnya\, bukan dia yang mengejar pria" Ucap Linny meralat perkataannya.
"Kau mau kembali tidur?" Tanya Sean.
"Tidak. Aku ingin minum-minum di bar-club" Ucap Linny.
Sean tahu jika di dalam kapal memang ada ruangan bar dan club. Tentu saja fasilitas itu buka untuk memanjakan kesenangan para tamu yang ikut di kapal pesiar mereka.
"Baiklah. Mau mandi dulu sebelum ke sana?" Tanya Sean memastikan.
"Tentu. Aku harus berganti pakaian" Ucap Linny.
Sean menjadi resah. Pakaian Linny tentu akan menonjolkan lekuk tubuh Linny yang indah. Sean merasa tidak ingin Linny menjadi bahan pikiran mesum para laki-laki. Tapi dia juga tidak bisa melarang Linny. Semakin dilarang maka akan semakin berbahaya penampilan Linny nantinya.
"Ayo cepat!" Ucap Linny saat melihat Sean berjalan semakin lambat.
Ingin malah Sean menarik Linny agar tidak usah masuk ke kapal agar Linny tidak jadi bersantai di bar-club, tapi hal itu sangat-lah mustahil.
.
Selesai mandi seperti perkataan Linny, dia akan bersantai di bar-club. Ternyata tidak hanya Linny yang bersantai di sana. Sisilia dengan William, sahabat-sahabat Sean, Andrean, Nicolas juga ayu dan Eka serta adik Eka, dan Reza juga ada di sana ditemani Andrean.
"Hei Linny!! Wow!! Rambut baru!! Cantik" Ucap Doni spontan.
Semua orang spontan uhuy langsung menatap ke arah Linny bahkan tamu-tamu yang ada di dalam sana entah Linny kenal atau tidak.
Linny memang tampak cantik dengan baju crop top pas badan serta celana panjangnya. Ditambah rambut barunya yang pendek sebahu dan dia warnai warna lavender.
"Cantik banget Kak Linny" Ucap Eka memuji.
"Wah, kalau soal modis emang Sean jagonya" Ucap Aston.
Memang benar Sean paham dengan trend dan model yang cocok untuk seseorang. Tapi untuk urusan rambut Linny, Sean sebenarnya tidak ikut campur. Para pembaca tau tentunya bukan?
Sean hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan mereka.
Akhirnya mereka semua memutuskan duduk bersama sambil bercanda gurau. Linny mau tidak mau duduk bersebelahan dengan Reza karena hanya spot itu yang kosong. Baginya tidak masalah karena dia bahkan menganggap Reza tidak ada.
Banyak tamu-tamu yang mengenali Linny juga Andrean dan Sisilia, hingga banyak yang berdatangan ke meja sofa mereka untuk sekedar menyapa dan mengajak minum sesekali.
Setelah tak ada yang mengajak Linny berbicara, Linny pun kembali sibuk dengan Sean sambil memperlihatkan beberapa laporan perusahaan melalui ponselnya agar Sean bisa membantu. Ya begitulah Linny dan Sean, saling melengkapi dan bisa membahas masalah pekerjaan di mana pun mereka ingin.
Linny tampak terlalu bersantai dan tidak mawas diri. Dia tidak menyangka tangan Reza menuangkan sebuah cairan ke dalam gelas minumannya. Linny dengan santai malah menegak minumannya itu.
Ponsel Sean berbunyi. Sean melihat panggilan masuk dari Kakaknya. Hati Sean masih ragu dan tidak ingin berhubungan dengan keluarganya. Melihat itu Linny menasihati Sean untuk menerima telepon itu terlebih dahulu.
"Angkat saja" Ucap Linny.
"Aku tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Mereka tidak berhak ikut campur hubungan ku denganmu" Ucap Sean tegas.
"Coba angkat dulu. Kali aja ada hal penting. Kau sudah terlalu lama mendiamkan mereka" Ucap Linny.
"Baiklah" Sean pun mematuhi perkataan Linny.
Sean berjalan keluar dari bar-club itu, mencari tempat yang tidak terlalu ramai agar bisa mengangkat telepon dari Kakaknya.
Sepeninggalan Sean, Linny merasa sedikit tidak nyaman dengan tubuhnya.
' Sial.. Ada yang salah dengan tubuhku ' Pikir Linny.
Dia mulai mencurigai ada yang memasukkan sesuatu pada minumannya. Tubuhnya mulai panas.
"Mau ke mana Linny?" Tanya Aston melihat Linny yang hendak pergi.
"Kamar mandi" Ucap Linny lalu menuju kamar mandi mencuci wajahnya dengan air dingin.
Namun dia sadar sesuatu tidak beres dengan tubuhnya, dia harus mengambil obat penawar agar bisa menghilangkan efek aneh ditubuhnya itu. Linny segera menuju kamarnya tanpa memberitahu siapa pun.
"Bangsstttt. Siapa yang bermain-main denganku. Argh! Aku lupa membawa penawar!" Umpat Linny kesal.
Dia berpikir akan aman berada di tempat miliknya sendiri terlebih di jaga oleh Om Donald dan anggota-anggotanya.
Hal itu membuat Linny lupa membawa obat penawar untuk zat perangsang ataupun obat-obatan berbahaya yang akan menurunkan kesadarannya.
Obat yang sengaja di pesan oleh Om Donald untuk berjaga-jaga. Maklum dunia begitu kejam hingga Linny pun selalu waspada.
Sialnya karena terlalu berpikir aman malah dia di ganggu di kandangnya sendiri. Jika Linny tahu siapa yang bermain-main dengannya akan dia pastikan menghancurkan orang itu. Terlalu banyak orang yang mondar-mandir di meja mereka tadi.
Linny tidak sadar Reza yang berpamitan ke kamar mandi pada Andrean ternyata mengikuti Linny hingga ke kamarnya. Saat Linny membuka pintu kamar, saat itu juga Reza ikut masuk dan mendorong tubuh Linny.
"Kau!!!" Linny tersentak melihat Reza yang memaksa masuk dan memeluknya.
"Aku merindukan mu sayang" ucap Reza berusaha mencium Linny.
Linny mengumpulkan kesadarannya dan langsung menendang Reza.
"Jangan coba menyentuhku sialan!" Umpuat Linny.
Reza tersungkur di lantai menahan sakit akibat tendangan Linny yang cukup kuat. Meskipun obat itu mulai bereaksi ternyata Linny cukup kuat menendang Reza.
Reza melakukan itu karena dia tahu Linny akan sangat keras kepala jika di ajak berbicara berdua, apalagi Reza tahu dari Andrean kalau Linny sudah menguasai ilmu bela diri sejak kejadian kegugurannya akibat perbuatan Mama Reza. Linny tidak ingin lagi lemah dan diperlakukan semena-mena.
Dalam pikiran Reza hanya satu. Menghamili Linny dan merebutnya kembali. Dia tidak ingin lagi kehilangan Linny.
Maka saat memastikan para pengawal Linny tidak ikut berjaga, saat itu pula keinginan Reza dan tekadnya semakin kuat.
Linny tampak sibuk mencari obat penawarnya. Dia ingat memasukkan obat itu antara di dalam tasnya ataupun di dalam tas milik Sean. Akhirnya Linny menemukan obat penawarnya. Namun belum sempat dia menelan pil itu tangannya di cengkeram oleh Reza.
Reza membuang obat itu lalu menghempaskan tubuh Linny di atas tempat tidurnya.
"Bangssttt!!! Pergi kau dari sini!!!" Ucap Linny yang sangat marah.
"Aku mencintaimu Linny. Bagaimana kalau kita mengulang lagi kenangan lama kita. Dan hamil-lah anakku. Kali ini kita akan menikah, aku janji" Ucap Reza yang otaknya sudah tidak waras.
"Kau gila! Aku lebih baik mati daripada hamil anak mu!" Umpat Linny yang sangat membenci Reza.
Sudah cukup dia merasakan luka itu dahulu. Tidak mungkin baginya untuk kembali pada orang yang telah menghancurkan hidupnya, terlebih perbuatan Nyonya Wijaya yang sampai kapan pun tidak akan Linny maafkan.
Efek obat itu menguasai seluruh tubuh Linny. Meskipun dia menolak dan masih mengumpat. Tetap saja bibirnya bersuara saat Reza mencium perlahan tubuhnya.
"Aku mencintaimu" Ucap Reza lalu melepas semua pakaiannya dan pakaian Linny. Dia sadar tidak banyak waktu untuk memanfaatkan situasi itu.
.
.
.