
"Bagaimana kondisi Eka?"
Linny tampak khawatir. Dia dan Sean langsung datang ke rumah Aston terburu-buru saat mendengar kabar Eka hampir menjadi korban pelecehan.
"Sudah tertidur setelah di beri obat oleh dokter"
Jawab Aston lirih. Dia masih merasa bersalah karena hampir saja membuat Eka menjadi korban perbuatan biadab orang tak bertanggung jawab.
"Untunglah kau cepat tanggap Ton" Ucap Sean berusaha menghibur Aston.
Setidaknya Eka masih terselamatkan, jika Aston lebih lambat maka Eka pasti sudah menjadi korban permerkaosan orang tak di kenal.
"Cari tau siapa dan laporkan. Jangan biarkan orang seperti itu berkeliaran di dekat BAR. Nanti para tamu akan merasa tidak aman lagi datang ke sana" Ucap Linny memberi saran.
Aston mengangguk. Memang itu yang akan dia lakukan. Dia pasti akan mencari tau siapa orang yang sudah berani melakukan hal biadab itu pada kekasihnya. Tentu tak akan Aston ampuni orang itu, apalagi saat melihat Eka yang menangis ketakutan.
"Ya sudah kami pulang dulu. Jika ada apa-apa ingat kabari kami lagi" Ucap Sean pada Aston.
"Iya. Hati-hati" Jawab Aston mengantar Sean dan Linny keluar dari pintu kamar tidur Eka.
Saat Sean dan Linny sudah pergi. Terdengar Suara Eka menangis dalam tidurnya.
"To-tolong~" Gumam Eka lirih.
Aston langsung memeluk Eka dengan penuh kasih dan membelai kepalanya seraya berkata, "Tenang sayang. Aku di sini. Aku akan melindungimu. Maafkan Aku".
.
.
Di dalam penthouse tampak Linny berpikir. Dia cukup curiga dengan semua kejadian yang menimpa orang-orang di dekat mereka.
Mulai dari percobaan pencurian data di perusahaan, hingga Eka yang di serang. Selama ini tidak pernah ada kejadian apa pun di tempat itu karena semua orang tau itu Bar milik Linny dan Eka adalah kesayangan Linny.
Tidak mungkin orang-orang di sekitar an sana berani mengganggu Eka, semua preman setempat sudah sangat hafal wajah Eka dan Linny. Mereka bisa mati di tangan Om Donald jika melakukan hal yang melukai Linny dan Eka. Entah mengapa Linny mencurigai Rain ada di balik semua kejadian itu.
Tentu Linny boleh berpikiran buruk bukan? Apa lagi kejadian itu beruntun dan seperti tampak sengaja ingin menjatuhkan mental Linny.
"Kenapa sayang?"
Tanya Sean saat melihat Linny yang berdiam diri dan memikirkan sesuatu dengan dalam.
"Tidak. Hanya mencoba mencari benang merah dari semua kejadian belakangan ini"
Jawab Linny yang memang tampak sangat serius wajahnya.
"Kau curiga ini perbuatan Rain?" Tanya Sean lagi.
"50% ya. Aku merasa seperti ada yang mencoba menjatuhkan mental ku dengan menyerang perusahaan dan orang yang aku kenal" Jawab Linny.
"Kau akan melakukan apa?" Tanya Sean pada Linny.
"Aku harus memastikan dia benar-benar sudah kembali ke sini dan akan membunuhnya jika dia berani mengacau hidupku" Ucap Linny terdengar dingin.
Sean hanya bisa menghela nafas. Dia tidak bisa melarang Linny karena Linny melakukan semua itu untuk melindungi orang-orangnya.
"Baiklah. Kita tidur dulu sudah larut. Lusa akan ada pesta Mister Lee. Kau tidak boleh kelelahan dan melewatkannya. Kau tau Mister Lee sangat baik pada kita" Ucap Sean mengingatkan.
"Hmm. Aku tau. Ayo tidur" Ucap Linny mengikuti perkataan Sean.
Keduanya segera merebahkan diri dan masuk ke dalam dunia mimpi masing-masing.
.
.
Rendy terbangun di sebuah ruangan putih, tengkuknya terasa sakit akibat pukulan yang dia dapatkan.
Dia melihat seorang pria berwajah oriental negeri ginseng duduk di hadapannya. Pria itu dengan santai berciuman dengan sejenisnya hingga Rendy merasa mual melihatnya.
"Oh kau sudah bangun?" Ucap pria itu yang fasih berbahasa.
"Kalian siapa?" Tanya Rendy yang curiga jika dia akan di jadikan bahan eksperimen pria itu.
"Tak perlu tau aku siapa. Aku hanya akan memberi mu bantuan menghancurkan CEO Kim. Kau mau?" Tanya pria itu.
Di kepalanya hanya ada kata balas dendam pada Linny dengan cara apa pun. Jika ada yang menawarkan bantuan tentu dia akan menerima dengan senang hati. Dia tidak akan mau melewatkan kesempatan itu.
"Baguslah, aku berikan kau dua racun bunga yang sudah aku buat ini. Masukan saja ke minuman atau makanan mereka" Ucap pria yang ternyata adalah Rain itu.
Ajudan Rain menyerahkan dua botol kecil berisi racun bunga yang sudah di buat oleh Rain secara khusus. Racun yang tidak memiliki rasa atau pun bau itu tidak akan terdeteksi dengan mudah oleh orang yang meminumnya.
"Ini? Kau yakin ampuh?" Tanya Rendy lagi.
"Tentu. Sangat yakin" Ucap Rain dengan senyum mengerikan.
"Tapi aku tidak bisa mendekat. Dia akan mengenali ku" Ucap Rendy lagi yang takut sebelum berhasil meracuni Linny maka dia sudah tertangkap.
"Jika itu tenang saja. Kau pasti kenal Mister Lee yang gagal bekerja sama dengan keluarga kalian bukan? Lusa akan ada acara Mister Lee. AKu akan memasukkan mu sebagai pelayan di acara itu dengan koneksiku" Ucap Rain dengan santai.
"Baiklah. Setelah itu?? Apa yang sebenarnya kau inginkan??" Tanya Rendy yang tidak yakin jika pria di hadapannya itu mau membantunya cuma-cuma.
"Aku sama seperti mu. Hanya ingin kehancuran CEO Kim yang sombong itu" Ucap Rain sambil tersenyum.
Rendy terdiam mendengar jawaban Rain dan menatap dua botol kecil yang ada di tangannya. Dia tersenyum senang karena akan mengakhiri hidup orang yang sudah membuat keluarganya kacau balau itu.
.
.
.
Acara Mister Lee pun tiba. Sean dan Linny sudah tiba di acara outdoor itu. Banyak sekali pengusaha dan investor yang juga Sean dan Linny kenali turut hadir di acara itu.
"Hai CEO Kim. Hai Sean. Thanks for coming here" Sapa Mister Lee dengan ramah pada Sean dan Linny.
"Thank you for inviting us to this event, Mister Lee" Ucap Linny sambil tersenyum ramah.
"Enjoy this party okay? I will be back" Ucap Mister Lee yang melanjutkan menyapa tamunya yang lain.
Linny dan Sean tampak tersenyum melihat antusiasnya Mister Lee di acara itu.
Keduanya duduk di kursi dekat kolam renang dan menikmati buah. Salah satu pelayan tampak mendekat dan menyajikan dua gelas jus segar kepada Linny dan Sean padahal tidak di minta.
"Loh kami tidak pesan" Ucap Sean.
"Ini perintah dari Tuan Lee" Ucap pelayan pria itu terdengar samar-samar namun masih bisa di dengar oleh Sean dan Linny.
Linny sempat memperhatikan pria itu, dia seperti mengenali pelayan itu namun pelayan itu sudah berlalu.
Linny merasa ada yang tidak beres dan aneh. Perasaannya sangat tidak nyaman.
Baru saja Sean mau meminum jusnya, terdengar seseorang terbatuk-batuk. Seorang wanita tampak tersedak dan meminta air.
Refleks Sean menyerahkan jusnya pada wanita itu dan segera di minum. Wanita itu berterima kasih dan memuji jus itu sangat enak dan seperti ada aroma bunga.
Linny mengernyit heran. Ada aroma bunga untuk segelas jus jeruk? Itu sangat aneh. Apakah gelas itu tidak di cuci bersih sehingga meninggalkan aroma bunga sabun pembersih?
Linny yang curiga mencegah Sean untuk menyentuh gelas jus miliknya. Dia ingin melihat kecurigaannya terbukti atau tidak.
5 menit kemudian wanita yang meminum jus itu menjerit kesakitan menahan perutnya lalu memuntahkan darah.
"Jangan menyentuhnya!" Seru Linny pada Sean.
"Dia di racuni!"
Ucap Linny yang membuat semua orang di sana terkejut termasuk Mister Lee.
"CLOSE THE DOOR!!!!! Don't let anyone get away! I Have to find the culprit who dared to mess up my party!!"
Titah Mister Lee dengan geram. Dia tidak menyangka ada yang berani menaruh racun pada hidangan di pestanya.
Linny meminta susu segar untuk segera di tuangkan ke mulut wanita itu. Namun sayangnya wanita itu tidak berhasil di selamatkan. Sambil menggeledah semua tamu dan staff mereka juga menunggu polisi datang dan mengamankan situasi serta korban.
Namun mereka tidak mendapatkan apa pun kecuali dua botol kecil yang diduga berisi racun dengan aroma bunga. Tidak ada pelaku yang bisa mereka temukan karena Rendy sudah kabur secepat mungkin setelah menyajikan minuman itu pada Sean dan Linny. Apalagi melihat Sean yang sudah hampir meminum racun itu dan dia juga mempelajari kebiasaan Sean yang akan menyuapi Linny.
.
.