
Kini pernikahan Sean dan Linny tinggal hitungan hari. Keduanya masih sibuk bekerja di kantor.
"Astaga kalian ini!! Di suruh cuti saja kenapa susah sekali???" Ucap Sisilia yang kesal saat melihat Linny dan Sean masih kerja.
"Lagian cuti di rumah juga bosan. Gak tau apa yang mau kami kerjakan" Ucap Linny yang fokus dengan laptopnya.
"Sean. Bujuk tuh calon istri mu. Pergi spa kek. Atau santai nge-chill biar nanti pas acara gak kelewat lelah" Ucap Sisilia pada Sean.
"Jangan harap Linny akan duduk diam Sisil. Kau sudah mengenalnya sejak kecil bukan?" Ucap Sean yang sambil menyusun beberapa berkas untuk di tanda tangani Linny.
"Kalian berdua memang cocok. Workaholic gila!" Ucap Sisilia kesal.
Linny dan Sean malah tersenyum mendengar Sisilia yang merepet kesal tak jelas itu.
"Kenapa marah? William masih di luar kota?" Tanya Sean menebak kekesalan Sisilia.
Ya memang benar adanya. William sedang berada di luar kota beberapa hari ini dan berjanji akan kembali di malam sebelum pernikahan Sean dan Linny.
Yang membuat Sisilia kesal adalah dia saat ini sedang hamil muda dan ingin mengabari William secara langsung saat dia tiba. Tapi pria itu sulit sekali di bujuk untuk cepat pulang.
Padahal Sisilia sudah sangat tidak sabar ingin bertemu dan melihat ekspresi William saat tau istrinya tengah hamil.
"Apa susahnya telepon bilang kau hamil dan ingin makan sesuatu. Pasti dia langsung pulang" Ucap Linny dengan santai seolah tak peduli.
"Ah gak romantis. Ck! Sudahlah aku mau ke gudang cek stok" Ucap Sisilia lalu berdiri dari duduknya.
"Tunggu!" Ucap Linny.
Sisilia melihat Linny dengan wajah bingung.
"Tukar heels mu dengan ini. Kau di ijin kan mengenakan sandal selama hamil" Ucap Linny menyerahkan tas berlambang H berkotak orange itu.
Sisilia menerima tas itu dari tangan Linny dengan tersenyum senang. Linny memang tampak cuek namun selalu peduli dan peka.
"Makasih Nona CEO Kim yang terhormat dan tersayang" Ucap Sisilia.
Sean tertawa melihat interaksi kedua sahabat itu.
"Tukar sekarang. Jangan coba-coba pakai heels di acaraku juga. Atau ku buang semua heels koleksi mu" Ucap Linny mengancam.
"Iya-iya tenang saja. Terima kasih ya" Ucap Sisilia yang sudah berganti sandal pemberian Linny.
"Dan infokan pada HRD. Wanita yang hamil di wajibkan memakai sepatu flat atau sandal anti slip selama bekerja. Baik di kantor maupun di gudang. Jangan sampai ada masalah dengan kehamilan mereka" Ucap Linny dengan serius.
Sisilia langsung berubah menjadi mode asisten saat Linny berbicara serius seperti itu.
"Baik Nona. Akan saya laksanakan. Saya permisi" Ucap Sisilia lalu keluar dari ruangan Linny.
Sean yang sudah menyelesaikan berkas itu menyerahkannya pada Linny untuk di tanda tangani.
"Kau baik sekali" Ucap Sean sambil merapikan anak rambut Linny.
"Aku baru sadar jika itu berbahaya. Selama ini aku tidak begitu memperhatikan aturan fashion pekerja yang tak pandang bulu atau situasi" Ucap Linny.
Sean hanya mengangguk paham.
"Sepertinya nanti aku mau membuat kau berhak menandatangani berkas mewakili ku" Ucap Linny pada Sean.
Sean terkejut mendengar rencana Linny. Dia tidak ingin dan tidak setuju untuk hal itu.
"Aku rasa jangan. Aku tidak mau nanti ada kesalahpahaman. Dan aku juga belum dalam tahap itu untuk menentukan itu baik untuk perusahaan atau tidak. Satu tanda tangan itu menyangkut seluruh kelangsungan hidup karyawan di sini" Ucap Sean.
Linny senang mendengar Sean yang paham jika semua hal yang di ambil harus di pikirkan dengan baik karena menyangkut kelangsungan kehidupan lainnya.
"Bagaimana kalau untuk tanda tangan mu akan ada stemple yang harus di bubuhkan. Jadi itu tanda sudah seijinku. Dan stempel itu akan khusus di buat hanya Kau yang memegangnya. Setiap kau melaporkan dan aku setuju maka tanda tangani saja" Ucap Linny memberi ide.
Sean hanya mampu mengangguk pasrah dengan keputusan Linny. Dia tidak pernah berharap bisa sejajar dengan Linny di perusahaan yang Linny bangun dengan keringat sendiri itu. Dia hanya ingin membantu Linny.
"Tenang, aku melakukan itu jika nanti aku terlalu sibuk dan tidak bisa menandatangani berkas maka kau bisa melakukannya untukku. Tidak mungkin berkas dengan tanda tangan basah di pending terlalu lama bukan?" Ucap Linny meyakinkan Sean.
"Baiklah" Ucap Sean.
"Kau tetap manager khusus divisi pemasaran dan asisten pribadi ku" Ucap Linny menggoda Sean.
"Ya. Atau aku resign saja untuk menjadi bapak rumah tangga yang baik?" Tanya Sean tak kalah jahilnya.
Keduanya saling menggenggam tangan satu sama lain. Tinggal beberapa hari lagi mereka akan menikah.
"Kita harus ke makam Papa" Ucap Linny.
Sean mengangguk, segera dia memberitahu Andrean dan Sisilia jika dia dan Linny akan cuti besok untuk ke makam almarhum Frans.
"Ayo selesaikan kerjaan dan pulang. Nicolas sudah menunggu dengan Ayu" Ucap Sean pada Linny.
Keduanya segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa lebih cepat pulang.
Tiba di penthouse terlihat Nicolas - Ayu juga Aston - Eka sedang berkumpul di penthouse dan memasak untuk makan malam mereka.
"Wangi sekali" Ucap Linny yang baru tiba mengomentari masakan yang ada.
"Kak Linny"
Eka langsung menghambur memeluk Linny. Sudah lama mereka tidak bertemu karena Linny yang tak mengunjungi bar RB dan Eka yang memang sibuk.
Di pagi hingga sore dia membantu Rebecca - Mama Aston dengan segala kesibukannya. Dan menjelang malam dia mengurus Bar RB yang masih tetap eksis itu.
"Gimana kabar mu?" Tanya Linny pada Eka yang sudah dia anggap adik sendiri.
"Baik Kak" Ucap Eka yang tampak semakin cantik dan terawat.
Keluarga Aston benar-benar merawat Eka dengan baik dan menyayanginya.
"Kau makin cantik" Ucap Linny yang membuat Eka tersipu malu.
"Aku sudah janji padamu. Tentu tidak mungkin akan aku biarkan Eka semakin jelek" Ucap Aston yang menjawab perkataan Linny.
Semuanya tertawa mendengar perkataan Aston. Linny dan Sean memilih membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dahulu.
Setelahnya mereka kembali bergabung dengan yang lainnya untuk makan bersama sambil berbincang.
"Besok Kakak jadi ke makam Papa?" Tanya Nicolas.
"Iya. Mau ikut?" Tanya Linny pada Nicolas.
"Boleh? Boleh aku bawa Ayu?" Tanya Nicolas meminta ijin.
"Ya tentu. Itu Papa mu juga. Dan Ayu kekasihmu" Ucap Linny dengan santai.
Nicolas tersenyum senang mendengar ucapan Linny. Dalam hidupnya semua hal yang akan dia lakukan memang dia ingin atas ijin Linny meskipun Linny membiarkannya memilih dan memutuskan sendiri.
Linny tidak akan melarang asal Nicolas tidak melakukan hal yang berbahaya atau melanggar hukum.
"Ya sudah besok kita pergi barengan aja" Ucap Linny pada Nicolas.
"Baik Kak" Ucap Nicolas.
Mereka kembali melanjutkan makan hingga larut malam semuanya kembali ke rumah masing-masing.
Nicolas mengantarkan Ayu pulang ke rumah orang tuanya di temani Alfa dan seorang bodyguard lainnya.
Sementara Nicolas akan tinggal di kamar apartemen Alfa selama berada di negara itu. Sean memintanya tidur di penthouse di kamar Linny dan dia akan tidur di sofa besar atau di ruang kerja. Namun Nicolas menolak.
Dia tidak ingin mengganggu waktu Kakak dan calon Kakak Iparnya itu di rumah. Dan dia juga tidak tahan karena Sean dan Linny sangat mesra terutama Sean yang selalu me-ratukan Linny setiap saat.
Hal itu yang membuat Nicolas sangat menyukai Sean dan mendukung Sean menikahi Linny. Orang yang paling berbahagia atas kabar pernikahan Sean - Linny tentu adalah Nicolas. Karena sangat bahagia dia sampai memasang foto Sean dan Linny sebagai foto profile di semua media sosial miliknya.
Di Penthouse tampak Sean dan Linny sudah berganti pakaian tidur.
"Ayo tidur besok kita harus ke beberapa tempat bukan?" Ucap Sean.
"Iya" Jawab Linny singkat lalu merebahkan diri di sisi Sean.
Keduanya masuk ke alam mimpi dan tertidur nyenyak.
.
.
.