
Malam menjelang. Sean entah berada di mana saat ini. Linny berkeliling mencari dirinya di seluruh sudut Villa tempat mereka akan menginap untuk beberapa waktu ke depan selama berada di Bali.
"Sean!!!" Panggil Linny yang mulai kesal.
Sean tak ada di mana pun. Ponselnya juga tidak di jawab saat Linny berusaha terus meneleponnya.
Alfa dan Jun juga turut mencari Sean tapi tidak ada yang menemukan Sean.
Salah satu pengawal khusus yang di tunjuk oleh Om Donald berjalan mendekati Linny. Wajahnya tampak merasa bimbang untuk berbicara. Sebut saja namanya Ucok. Agar mudah di ingat.
"Ada apa? Kau tahu di mana Sean berada?" Tanya Linny yang sudah cemas.
Sean menghilang tanpa bersama Jun dan Alfa. Satu pemikiran yang terlintas di kepala Linny hanya rasa takut Sean di lukai oleh orang suruhan Erik dan Rain.
"Maaf Nona. Saya tadi melihat Tuan Sean berjalan keluar dari Villa. Saya pikir dia hanya mau ke depan sebentar" Ucap Ucok takut-takut.
Percayalah meskipun semua pengawal khusus itu berbadan besar namun tetap mereka sangat takut dan segan dengan Linny.
Jangan lupa dengan kemampuan Linny yang mampu bertarung dengan tangan kosong menghadapi 10 orang sekaligus itu.
Linny merasa kesal kenapa si Ucok tidak lebih peka dan langsung mengikuti Sean minimal menemani Sean jika sudah tau Sean keluar sendirian.
"Kau! Kenapa Kau tidak mengikutinya?! Sudah aku katakan jaga dia dengan baik!" Bentak Linny emosi.
Kepala Linny terasa ingin meledak saat mendengar perkataan Ucok itu.
"Ma-Maaf Nona. Saya pikir Tuan hanya berdiri di luar untuk mencari udara segar. Dan biasanya Jun juga akan mengikuti Tuan ke mana pun" Ucap Ucok yang bersiap sedia menerima pukulan dari Linny.
Hal yang harus di persiapkan semua pengawal jika melakukan kesalahan bukan? Begitulah sekiranya menjadi pengawal di dunia mafia. Jika salah mereka pasti akan di pukuli dan jika lalai menjaga boss mereka sudah di pastikan nyawa mereka taruhannya.
"Sial! Cari segera!" Titah Linny tanpa bisa di bantah.
Mereka semua berpencar mencari Sean di sekitaran Villa. Mulai dari tempat makan hingga rumah warga mereka juga bertanya.
Namun tidak ada info apa pun yang mereka dapatkan. Linny semakin takut dan was-was hingga Jun berhasil mendapatkan titik lokasi ter update posisi Sean.
Sean berada di daerah berjarak 10 km dari villa mereka. Hal yang aneh. Untuk apa Sean sejauh itu pergi sendirian. Tanpa kabar dan ijin pula dari Linny.
Linny di temani Jun dan Alfa menuju lokasi tersebut untuk memastikan keberadaan Sean.
Mereka tiba di sebuah villa yang cukup mewah. Terlihat beberapa penjaga di luarnya.
"Kalian siapa?" Tanya penjaga itu.
Tanpa basa basi Linny dan yang lainnya melumpuhkan penjaga itu dan menerobos masuk.
Hati Linny semakin kacau. Setiap sudut di cari oleh Linny hingga tersisa satu kamar yang belum Linny cek isinya.
"Ah... Sean... Push Me harder baby"
Terdengar suara dari dalam kamar itu. Linny mematung seketika. Suara seorang pria yang dia dengar.
"Kau masih tetap hebat Sean. Sudah lama kita tidak thr33s0me begini"
Terdengar lagi suara lainnya yang membuat emosi Linny semakin naik ke ubun-ubun.
Sean berada di dalam kamar itu bersama dengan pria. Bukan hanya satu tapi dua. Dan dari yang Linny dengar pasti terjadi permainan antar pedang di dalam ruangan itu.
"Ah. Pelan-pelan Erik"
Suara Sean terdengar nyaring mendesah. Linny seketika merasa mual dan sakit pada kepalanya mendengar suara Sean itu.
"Jangan pergi dari ku lagi. Berjanjilah. Aku tidak masalah jika kau bermain dengan wanita bernama Linny itu atau memiliki anak dengannya. Tapi jangan pernah meninggalkan ku. Aku sangat mencintai mu sayang"
"Baiklah, tapi berjanjilah jangan memberitahu Linny. Jangan mengganggu kami ya. Kau boleh menghubungi ku jika aku mencari mu. Aku juga masih sangat menyayangi mu Erik"
"Benarkah? Janji ya sayang. Aku akan menjadi pacar yang penurut kok"
"Iya aku janji. Jangan sampai Linny tau. Dia akan marah. Dia tidak suka aku berhubungan lagi dengan sesama jenis"
"Ah kau ini, jangan takut. Selama bersama kami kau akan aman. Asal kau tetap menjadi bagian kami maka aku akan mengalah kali ini. Seorang Rain sangat jarang akan mengalah dalam bertempur, ingat itu Sean"
"Iya. Masalah video itu aku minta maaf. Itu tidak akan bocor lagi akan aku hapus asal kau tetap bersama ku"
Linny merasa tidak tahan lagi langsung mendobrak pintu kamar itu. Pemandangan mengejutkan tentu terlihat.
Sean berada di dalam kamar bersama Erik dan Rain.
Rain yang sudah tanpa busana sama sekali sedang duduk asyik menghisap cerutunya. Sedangkan Sean tampak sedang memacu tubuhnya di atas tubuh Erik.
"Li-Linny" Ucap Sean tergagap melihat kehadiran Linny.
Erik juga terkejut melihat kehadiran Linny. Berbeda dengan Rain yang tampak malah tenang dan mengabaikan kehadiran Linny.
"Kau! Bangsatttt!" Umpat Linny dengan kasar dan menatap nyalang pada Sean, Erik dan Rain.
"Li-Linny. Tunggu. Dengarkan aku" Ucap Sean merasa gugup.
Segera Sean memisahkan tubuhnya dari Erik yang masih diam mematung.
"Aku akan membunuh mu sialan!" Umpat Linny kesal.
"Li-Linny maaf. Dengarkan aku. Ini bukan seperti yang kau kira. Linny"
Melihat itu Rain membantu Sean dan membalas pukulan Linny. Rain memukul perut Linny hingga terjatuh.
"Argh!"
Linny tampak kesakitan menahan perutnya. Rasa sakit itu sangat menyiksa. Pangkal paha Linny mengalir darah segar.
Ingatan Linny tertuju pada saat dia keguguran dulu.
Linny hanya mampu meringis kesakitan. Melihat itu Sean berlari memeluk Liny.
"Linny!! Linny maafkan aku. Linny" Ucap Sean sambil memeluk Linny.
Tak lama Linny merasa dunia menjadi gelap. Dia pingsan.
**********************************************************************************************************************************************************
Linny terbangun, tubuhnya terasa sakit begitu pula dengan perutnya.
"Eh..."
Linny melihat sekeliling. Dia berada di dalam kamar villa nya.
"Hai sweety. Sudah bangun? Aku sudah membuatkan sarapan ayo makan"
Terlihat Sean memasuki kamar sambil mengenakan apron.
Linny menghela nafas berat dan menyisir rambutnya dengan kasar.
"Astaga. Mimpi gila" Gumam Linny antara lega dan kesal.
Melihat ekspresi Linny yang tidak biasa membuat Sean bergerak mendekati Linny.
"Ada apa Linny? Kau sakit?" Tanya Sean heran.
Sean mengecek tubuh Linny apakah demam karena semalam Linny mengeluh tubuhnya tidak enak sehingga setelah makan siang Linny langsung beristirahat dan tertidur hingga pagi ini.
Hal yang sangat jarang di lakukan Linny bisa tidur selama itu. Melihat wajah Linny yang muram membuat Sean semakin khawatir jika wanitanya ini sedang tidak sehat.
"Tidak. Aku hanya bermimpi hal konyol" Ucap Linny dengan berat.
"Mimpi?" Sean menatap heran pada Linny.
"Iya, Mimpi aneh. Aku bermimpi kau mengkhianatiku dan kembali pada Erik bahkan merencanakan untuk membohongiku" Ucap Linny menahan kesal.
Meskipun itu hanya mimpi tetap saja Linny merasa kesal dan ingin memukuli Sean.
Sean yang mendengarkan hal itu membola terkejut. Entah apa isi pikiran Linny sampai bisa bermimpi hal seperti itu.
Tidak sedikit pun ada keinginan Sean untuk membohongi Linny apalagi sampai harus kembali bersama Erik.
"Astaga Linny. Aku lebih baik mati di tangan mu daripada harus kembali pada komunitas itu. Aku berani bersumpah. Aku tidak pernah punya keinginan gila seperti itu"
Sean tampak sangat takut Linny berpikiran aneh padanya.
"Aku tau. Tapi aku masih kesal karena mimpi itu seperti nyata. Bahkan di dalam mimpi itu aku seperti merasakan diriku keguguran"
Benar, hal lain yang membuat Linny merasa tidak nyaman karena dia merasakan dia keguguran di dalam mimpi itu.
Sean yang mendengar perkataan Linny ikut terkejut. Entah apakah itu pertanda Linny akan hamil anaknya atau jangan-jangan Linny memang hamil???
"Li-Linny. Itu apa kau--"
Sean ingin bertanya pada Linny mengenai siklus mensnya. Jika benar Linny hamil tentu Sean sangat senang.
"Tenang saja aku tidak hamil. Jika aku hamil pasti sudah ketahuan apalagi kemarin aku baru terluka tusuk kan?" Ucap Linny dengan santai menanggapi.
Sean menghela nafas, dia sedikit kecewa karena apa yang di katakan Linny cukup logis. Mungkin itu hanya mimpi pertanda Linny akan memberikan Sean anak. Mungkin.
"Maafkan aku. Jika mimpi itu mengusik mu. Tapi aku berani bersumpah. Aku tidak akan seperti itu. Kau boleh membunuhku jika sampai aku kembali pada Erik" Ucap Sean berusaha meyakinkan Linny.
Linny hanya mengangguk paham. Itu hanya mimpi dan dia berusaha tidak terbawa suasana.
"Ayo. Aku lapar. Kau masak apa?" Tanya Linny mengalihkan pembicaraan.
"Sangat banyak. Cuci lah wajahmu dulu setelah itu kita sarapan dengan yang lainnya. Semuanya sedang menunggu mu Boss" Ucap Sean sambil menggoda Linny sebagai boss kawanan mafia.
Linny hanya tersenyum dan mengecup bibir Sean dengan cepat.
"Quick morning s*x. Can you?"
Tanya Linny menggoda Sean. Tangan Linny sudah menjalar mengusap si Pluto dari luar celana itu.
"Kau ini"
.
.
.