
Dua minggu telah berlalu. Sean sudah keluar dari rumah sakit dan dinyatakan boleh rawat jalan saja.
Bertepatan dengan itu hari bahagia Sisilia dan William pun tiba. Mereka akan mengadakan acara pertunangan yang mewah di hotel Alexxander sesuai sponsor dari Linny.
Sean juga tampak semakin membaik. Lukanya sudah mengering meskipun dia masih harus berhati-hati dan tidak melakukan pekerjaan terlalu berat. Butuh waktu satu minggu lagi untuknya benar-benar bisa beraktivitas normal.
Sean dan Linny tampak masuk ke dalam ruangan acara pertunangan Sisilia dan William. Acara megah itu diadakan untuk keluarga besar Sisilia dan William serta hanya mengundang beberapa teman-teman mereka.
Sisilia dan William berencana mengundang kolega bisnis juga karyawan perusahaan saat acara pernikahan nanti, tepatnya dua minggu setelah pertunangan mereka.
"Terima kasih atas kehadiran Keluarga dan teman-teman di acara pertunangan aku dengan Sisilia. Untuk undangan pernikahan kami akan segera kami sebar nanti. Kami berharap doa untuk kelancaran pernikahan kami" Ucap William kepada seluruh tamu yang hadir.
Linny kemudian berjalan mendekati podium William dan Sisilia berdiri.
Semua menatap heran melihat ke arah Linny yang dengan santai menuju podium.
Mungkin jika kebanyakan menonton film ikan terbang ataupun drama negeri ginseng tentang perselingkuhan ataupun pelakor mungkin akan mengira saat ini akan terjadi drama keluarga itu. Namun maaf teman-teman ini bukan cerita ikan terbang ataupun negeri ginseng yang penuh dengan kisah pelakor. Ini kisah Sean dan Linny ya teman-teman.
Dia atas podium, Linny meminta mic dari tangan MC yang bertugas membawa acara pertunangan itu. Dengan sopan MC itu menyerahkan mic kepada Linny. Tentu MC itu mengenali Linny adalah CEO Kim yang juga Boss serta sahabat Sisilia.
"Perkenalkan aku Kimberlyn , Teman, Sahabat juga Boss dari Sisilia. Betul begitukan *bit*ch?" Tanya Linny pada Sisilia sambil tersenyum.
Sisilia tertawa mendengar perkataan Linny itu. Meskipun terdengar tegas namun perkataan Linny menjadi sebuah candaan di telinga Sisilia.
"Ada satu hal yang akan aku sampaikan. Sisilia dan William belum tahu hal ini" Ucap Linny lalu berhenti sejenak.
Semua orang menatap penasaran pada Linny.
"Acara pernikahan Sisilia dan William akan diadakan di atas kapal pesiar milik FP Corporation yang baru aku beli hari ini. Kita akan berlayar ke negara tetangga" ucap Linny sambil tersenyum menatap sepasang calon suami istri itu.
Sisilia dan William membola terkejut. Mereka tidak mengetahui hal itu.
Sean tersenyum, Linny ternyata sudah merencanakan itu saat pergi ke pelabuhan.
"Tidak ada penolakan, tapi sepertinya undangan kalian harus di ubah karena tindakan spontanku ini" Ucap Linny lagi.
Sisilia tertawa dan menangis bahagia, dirinya langsung memeluk Linny. Sahabat terbaiknya yang selalu mampu memberi kejutan dan kebahagiaan untuk orang di sekitarnya.
"Terima kasih Linny" Ucap Sisilia sambil menangis bahagia.
"Kau sudah senang bukan? Keinginan mu sejak kecil untuk menikah di atas kapal pesiar yang hanya berisi seluruh tamu mu sudah tercapai bukan?" Tanya Linny sambil membalas pelukan Sisilia.
Tidak ada yang tidak terkejut. Linny melakukan hal itu karena mimpi Sisilia untuk bisa mengadakan pernikahan di atas kapal pesiar, dengan hanya berisi tamu-tamu pernikahannya pula. Tentu butuh budget yang luar biasa besar.
Sisilia melepas pelukannya sambil menatap penuh tanya pada Linny.
"Kau masih ingat?? Padahal itu sudah lama sekali", Ucap Sisilia yang juga terkejut Linny mengingat semua pembicaraan konyol mereka saat masih SMP.
"Aku bahkan ingat apa saja warna pakaian dalam mu dan nomor sepatumu. Percuma kita bersahabat sejak masih kecil" ucap Linny sambil berpura-pura kesal.
Keduanya tertawa bahagia. Siapa pun bisa merasakan kebahagiaan dan persahabatan kedua wanita itu.
"Tugas kau dan William adalah mengundang sebanyak mungkin orang yang bisa kalian undang. Kita akan sekalian berhenti di Singapore" Ucap Linny.
William dan Sisilia mengangguk paham.
Acara kembali dilanjutkan hingga menjelang tengah malam.
Semua tamu akhirnya bubar termasuk Linny dan Sean yang kembali ke penthouse.
Bahkan saat Sean mau ke mana pun sendirian dia akan di temani salah satu bodyguard Linny. Untuk mencegah hal tidak di inginkan terjadi seperti waktu itu.
Sean juga belum diizinkan banyak beraktivitas mengingat dia masih dalam tahap penyembuhan meskipun lukanya sudah mengering.
Didalam kamar penthouse, Linny tampak memandang keluar kaca jendela besar.
"Sedang memikirkan apa?" Tanya Sean yang memeluk Linny dari belakang.
"Hanya memikirkan tikus-tikus yang bersembunyi itu. Hebat sekali mereka bisa bersembunyi tanpa ketahuan Om Donald" Ucap Linny yang memang penasaran di mana dua manusia kelainan orientasi seksual itu berada.
"Sudah lah. Lebih baik kau istirahat, besok ada meeting bukan? Kau juga harus bertemu Mister Lee" Ucap Sean yang takut Linny kelelahan.
"Kau benar. Ayo tidur" Ucap Linny lalu berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan diri.
Sean menatap Linny dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Kenapa memandangi ku begitu?" Tanya Linny heran.
"Kau... Apa kau tidur dengan pria lain?" Tanya Sean penasaran.
Bagaimana tidak, selama ini Sean tidak bisa menyentuh Linny karena kondisinya yang terluka. Sedangkan Sean tahu Linny memiliki hasrat yang tinggi juga tidak suka bermain menggunakan alat bantu.
"Kau gila. Jangan-jangan otak mu juga terluka kemarin. Seharusnya aku menyuruh dokter mengecek otakmu juga!" Ucap Linny kesal.
Sean berdecak kesal karena Linny tidak menjawabnya. Sean makin kesini makin ke sana. Eh????
Sean semakin hari semakin manja dan mengantungkan diri pada Linny. Dia bahkan sekarang sudah bisa mengambek pada Linny seperti anak kecil.
Melihat Sean yang dalam mode ngambek membuat Linny memeluknya dari belakang.
"Apa kau lupa aku sibuk selama ini? Aku bahkan lebih banyak menghabiskan waktu menjaga mu daripada ke kantor. Aku hanya pergi ke kantor atau meeting dengan investor dalam kondisi urgent! Mana mungkin aku ada waktu untuk bersenang-senang dengan pria lain. Dasar bodoh!" Ucap Linny sambil menyenderkan kepalanya di punggung Sean.
Linny merasa nyaman dalam posisi itu. Sean berbalik menghadap Linny lalu meraih Linny dalam pelukannya.
"Maaf. Aku hanya khawatir" Ucap Sean yang memang takut Linny mencari pria lain.
"Jangan memikirkan hal bodoh. Aku tidak suka. Lagi pula kau juga tau aku hanya puas saat bermain denganmu. Jadi apa yang kau cemaskan sih?" Tanya Linny heran.
Sean juga tidak mengerti, dia sangat takut dan khawatir. Dia selalu ingin tampil sempurna dan bisa menyenangkan Linny.
"Bagaimana bekas luka mu? Masih sakit?" Tanya Linny serius.
"Sudah tidak. Aku bahkan sudah bisa jogging tadi pagi" Jawab Sean jujur.
"Besok ke rumah sakit dan periksakan lagi. Kau harus pastikan bagian dalam benar-benar sembuh dan tidak akan mengalami masalah. Bukan hanya kulit luarnya saja" Ucap Linny khawatir.
"Iya. Besok kau bisa sendirian menghadiri peresmian proyek mu dengan Mister Lee?" Tanya Sean.
"Tenang saja. Andrean akan menemaniku" Ucap Linny sambil tersenyum.
"Baiklah. Ayo tidur. Kau tampak kurang istirahat belakangan" Ucap Sean sambil mengelus kepala Linny.
Keduanya merebahkan diri dan memasuki alam tidur masing-masing.
.
.