
Di sebuah apartemen tampak Rain sedang duduk bersama seorang pria berpakaian aparat keamanan negara itu. Tampak dia memiliki gelar yang cukup tinggi di posisinya sebagai aparat keamanan.
"Jadi bangun ulang?" Tanya pria itu pada Rain.
"Jadi. Itu salah satu sumber keuanganku. Kau urus dengan baik ya" Ucap Rain pada pria itu.
"Tenang saja. Asal kantongku selalu terisi semua aman" Ucap pria itu sambil tersenyum.
"Aku dengar kepala bagian mu akan ulang tahun dan mengadakan pesta private. Butuh wanita?" Tanya Rain menawarkan.
"Jika kau berkenan. Sediakan yang masih muda ya" Ucap pria itu tampak senang mendengar perkataan Rain.
"Okey. Akan aku aturkan yang masih di bawah 17 tahun" Ucap Rain dengan santainya.
"Oh ya. Apa perlu kami mencari wanita CEO itu? Dia yang membakar Bar mu bukan?" Tanya pria itu lagi.
"No. Bisa ketahuan public nanti. Akan aku urus sendiri tanpa melibatkan polisi. Asal nanti jika aku melakukan tindakan maka kalian harus tutup sebelah mata saja" Ucap Rain dengan senyum mengerikan.
"Tenang saja jika tentang itu. Selama ini laporan tentang perdagangan manusia di bawah umur kalian juga selalu kami abaikan bukan? Bahkan masalah obat-obatan terlarang juga lolos. Jadi jangan khawatir" Ucap pria itu lalu mematikan rokoknya.
Tampak aparat itu memakai jaketnya dan beranjak naik dari kursi.
"Aku pergi dulu. Ada patroli dengan junior. Jika perlu bantuan telepon saja" Ucap pria itu sambil tersenyum.
Rain hanya membalas senyumannya tanpa menjawab apa pun. Se-peninggalan pria itu wajah Rain tampak berbeda. Tidak tersenyum seperti saat dia menanggapi pria tadi.
"Ada apa boss?" Tanya salah satu bodyguard Rain yang memperhatikan perbedaan air mukanya.
"Tidak. Semuanya sama saja. Jika di beri uang dan wanita pasti lancar. Heh!" Ucap Rain sambil tertawa sinis.
.
.
Sean mengajak Linny mendatangi salah satu club terbesar di Bali saat ini. Club Atlantik yang baru di resmikan tidak lama.
Club milik salah satu pengacara kondang di negara +26 itu tentu sangat mewah dan ramai pengunjung.
Sering ada DJ maupun artis ternama yang di undang untuk memeriahkan panggung di Club itu.
"Ayo ke sana" Ucap Sean mengajak Linny menuju salah satu bagian sofa yang sudah di pesan Sean sebelumnya.
Sengaja Sean memilih lokasi VVIP untuk mereka ber-14 orang di bagian main section.
Jun - Alfa dan yang lainnya tampak memakai pakaian santai. Namun tetap mereka menggunakan earpiece dan menyelipkan senjata di bagian bajunya untuk berjaga-jaga.
"Kita pesan Macallan saja ya? Mau berapa botol?" Tanya Sean pada Linny.
"Pesan 1 saja dulu dan camilan untuk yang lainnya. Juga jus dan air mineral. Mereka gak akan minum alkohol kalau harus menjaga kita" Ucap Linny yang paham betul para penjaga itu akan menolak jika di tawari alkohol.
Sebuah tata krama dan keharusan mereka tetap waras dan sadar saat menjaga Tuan dan Nona mereka.
"Baiklah kalau begitu" Ucap Sean lalu memesankan apa yang di katakan oleh Linny.
Malam itu cukup banyak pengunjung yang datang ke Club Atlantik dan tentunya ada DJ terkenal yang memainkan alunan music.
Linny menikmati waktunya bersama Sean dan para pengawalnya. Meskipun begitu dia tetap waspada. Tidak ingin ceroboh lagi seperti waktu di kapal pesiar.
Ah. Mengingat kapal pesiar membuat Linny merasa kesal. Teringat perbuatan Reza yang benar-benar memuakkan bagi Linny.
Pelangi yang kita renda perlahan memudar. Tertiup ganasnya amukan angin kehidupan. Menyisakan sang warna merah dan jingga.
Jika kau tanya tentu aku tak kan pernah rela. Namun aku juga tak berdaya. Hanya mampu melangkah dengan patahnya hati dan hasrat.
Mungkin hanya waktu yang mampu mengobati lukaku. Mungkin hanya waktu yang kan menuntunku melupa. Namun goresan luka akan kegagalan tetap ada. Hanya mampu ku balas dengan senyuman tanpa rasa
Ya begitulah kira-kira gambaran rasa Linny setiap dia teringat dengan masa lalunya yang kelam.
Melihat Linny yang terdiam dan tidak bersuara membuat Sean menatap heran pada Linny.
"Jangan menatapku begitu. Apa tidak cukup setiap saat bisa menatapku?" Tanya Linny tanpa menoleh pada Sean.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Sean heran.
"Hanya memikirkan cara menyingkirkan para tikus itu" Jawab Linny sambil menikmati whiskey di gelasnya itu.
Sean mengerti siapa yang di maksud Linny. Sepertinya Linny setiap saat memikirkan hal itu. Meskipun sudah Sean larang tetap saja Linny tak akan berhenti sebelum memutuskan manusia-manusia kelainan itu menjauh dari Sean.
"Jangan sampai kau sakit karena terlalu banyak berpikir" Ucap Sean sambil mengelus kepala Linny.
Linny menatap ke arah Sean dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Ada apa menatapku seperti itu?"
Kini giliran Sean yang bertanya heran pada Linny.
"Tidak. Aku baru sadar kau memiliki lesung pipi saat tersenyum. Alismu juga bagus. Matamu juga" Ucap Linny sambil menyentuh setiap bagian yang dia sebutkan itu.
Sean tersenyum dan langsung meraih tangan Linny. Perlahan Sean mengecup punggung tangan dari wanita yang dia cintai itu.
"Dan semua yang kau lihat ini hanya milikmu seorang"
Ucap Sean dengan penuh perasaan. Senyum terbit dari wajah Linny. Belakangan dia tampak sangat senang dengan sikap Sean yang manis dan lembut itu.
Padahal sebelumnya dia merasa Sean sangat lebay. Entah mengapa Linny semakin nyaman dan terbiasa dengan sikap Sean.
Malah dia merasa hampa jika Sean tidak memanjakan dirinya seperti ini.
Bolehkan Linny berharap pada langit untuk mendapat kisah cinta dan kebersamaan yang indah plus abadi bersama Sean? Entahlah. Linny juga bimbang. Dia masih takut jika berharap lebih pada Sean. Juga pada Langit yang tampak semakin cerah mengitari kehidupan Linny belakangan ini.
.
Inginku berteriak pada langit yang tampak menunggu. Awan mengingatkanku pada semua kewajaran dalam kehidupan.
Aku berusaha waras agar tak salah lagi menerka kehidupan.
Hei Kawan, Tak ada yang perubahan yang berarti dalam hidup ini. Hanya seuntai janji terucap dan susunan kalimat yang di rapikan. Semua tata bahasa yang di perhalus dan visi misi yang sudah seadanya.
Jika ini ujian maka suara langit adalah pertanyaan yang harus di jawab. Semua orang bebas menjawab. Semua orang bebas bersuara selagi tak di telan oleh angin.
Apa pun yang kau jawab. Apa pun yang kau pilih. Semua itu sudah di janjikan sang langit.
Jangan mengejar angin. Jangan melukis di langit. Dengarkan saja desauannya. Lihat saja warnanya.
Intiplah ke mana langkah perginya. Janji langit yang sudah kau tau jawabnya.
.
.
To be continue ^^