A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Bertemu Erik...



"Jun uruskan berkas Farid. Ubah aku menjadi wali sahnya Farid dan Dewi. Masukan Farid dalam berkas keluarga ku sama seperti Sean"


"Linny??? Apa maksudmu? Aku?? Berkas keluarga??"


Semua orang termasuk Sean kebingungan dengan perkataan Linny. Mereka menunggu penjelasan dari perkataan Linny.


"Sean sudah masuk dalam daftar ahli warisku sebagai pasanganku yang belum di resmikan. Jadi dalam arti lain semua milikku adalah milik Sean. Dan Farid akan aku angkat sebagai anakku serta mendapat bagian yang seharusnya"  Ucap Linny sambil tersenyum membelai kepala Farid.


Semua orang tersikap. Keputusan Linny itu benar-benar di luar perkiraan bahkan Sisilia dan Andrean juga tidak mengetahuinya.


"Linny. Itu-"


"Tidak ada bantahan Sean. Ingat janji mu tidak akan mengganggu apa pun keputusanku"  Ucap Linny dengan tegas.


Sean terdiam saat Linny sudah berbicara setegas itu. Tandanya Linny tak ingin di bantah apa pun.


Andrean dan Sisilia saling berpandangan heran. Linny sangat mempercayai Sean. Sean yang sudah mendapat 2% saham perusahaan kini juga menjadi ahli waris semua kekayaan Linny.


"Dan jangan khawatir, Nicolas yang menyetujuinya. Dia percaya dengan Sean. Bagian Nicolas juga sudah aku urus dengan baik"  Ucap Linny yang tidak ingin mereka mengira Linny mengabaikan Nicolas.


Ya, Nicolas sangat setuju bahkan dia selalu mendesak Linny untuk menikah saja dengan Sean. Nicolas percaya Sean pilihan terbaik untuk Linny.


"Sudah malam. Kalian pulang lah aku ingin istirahat. Dan kau juga Sean. Tolong bawakan pakaian dalam ku yang bersih. Aku harus menggantinya nanti. Dan bawakan laptop ku juga ya"  Ucap Linny.


Sean mengangguk mengerti. Mungkin masalah itu akan dia bahas nanti saat berdua dengan Linny.


Semuanya berpamitan pada Linny hingga hanya tersisa Alfa dan beberapa bodyguard lainnya.


Saat keadaan sudah sepi, Linny memutuskan untuk menemui Erik sesuai permintaannya pada William.


William sudah mengatur agar Erik menemui Linny di salah satu ruangan khusus CT Scan.


"Ayo kita ke ruangan CT Scan. Cukup kau saja. Suruh yang lain di sini dan memantau apa ada yang memata-matai"  Ucap Linny memberi perintah pada Alfa.


"Baik Nona"  Alfa langsung menuruti perkataan Linny dan me-briefing sedikit tersembunyi pada pada Bodyguard.


Setelahnya Alfa membantu Linny duduk di atas kursi roda dan mendorongnya menuju ruang CT Scan.


Di dalamnya ternyata Erik sudah menunggu Linny dengan cemas. Erik memakai masker menutupi wajahnya. Dia takut menularkan itu pada Linny.


Dia juga merasa Rain akan segera tau apa yang dia lakukan. Sehingga Erik menjadi lebih waspada di banding sebelumnya.


"Tenang saja. Aku tidak seceroboh itu untuk merugikan diri sendiri"  Ucap Linny dengan santai.


Linny langsung memberi kode pada Alfa untuk berjaga di luar saja sambil memantau situasi sekeliling.


Alfa menurut dan langsung keluar dari ruangan setelah menyerahkan sebuah pistol pada Linny. Begitu waspada Alfa yang takut Erik bertindak buruk saat Linny sendirian.


Erik memicingkan matanya menatap Alfa yang menyerahkan pistol pada Linny.


"Hei! Aku tidak akan menyakiti Nona mu ini! Tidak perlu segitunya. Jika curiga maka tembak saja aku sekarang"  Ucap Erik terdengar sangat kesal.


"Jangan marah. Itu memang tugas dia untuk selalu waspada. Apalagi sebelumnya kau memang mau menusuk Sean tapi mengenaiku bukan?"  Ucap Linny mengejek.


"Ck! Sialan!"  Erik berdecak kesal.


Dia tidak bisa membantah perkataan Linny yang benar sepenuhnya.


Alfa segera keluar dari ruangan untuk membiarkan Nonanya berbicara empat mata dengan Erik.


"Jadi apa yang bisa aku bantu? Dan apa yang kau ingin kan? Aku orang bisnis. Tentu aku paham tidak ada bantuan yang gratis"  Ucap Linny tanpa basa basi sama sekali.


"Kau yakin bisa melakukannya untukku?"  Tanya Erik serius.


"Tergantung apa itu. Apa pun bisa seorang Linny lakukan kecuali membiarkan kau mengambil Sean kembali!"  Ucap Linny dengan tegas.


"Tapi kalau itu yang aku inginkan bagaimana??"


Keduanya saling bertatapan.


.


.


.