
Seminggu kemudian Erik di perbolehkan pulang. Erik kembali menetap di rumah Om Donald namun bukan lagi di ruangan rahasia.
Karena Sean juga sudah tau yang sebenarnya. Erik dan Joe di jaga ketat oleh pengawal yang diminta Linny.
Linny juga sudah kembali ke penthouse namun dia masih mendiamkan Sean. Tidak sedikitpun dia tergerak untuk berbicara dengan pria itu.
Linny bahkan memilih tidur di ruang kerjanya. Dia masih belum mau tidur satu ranjang dengan Sean sebelum pria itu benar-benar paham kesalahannya dan mau meminta maaf atas tindakannya itu.
Bukan Sean tidak mengajak Linny berbicara. Dia sudah mencoba. Dan juga meminta maaf kepada Linny. Tapi yang Linny ingin bukan permintaan maaf untuknya.
Tapi permintaan maaf Sean pada Erik. Sean harus belajar berpikiran lebih terbuka dan tidak melihat dari satu sudut yang menurutnya saja itu benar.
Linny tidak mau Sean nantinya menjadi seperti Mahaprana jilid kedua.
"Linny, makanan sudah siap sayang"
Suara Sean terdengar lembut saat membuka pintu ruang kerja Linny dan mengabarinya untuk makan bersama.
Linny tidak menyahut panggilan Sean. Dia langsung bergerak menuju ke ruang makan dan duduk. Linny juga tidak memperbolehkan Sean menyuapinya.
Dia makan sendiri dengan porsi yang jauh lebih sedikit. Linny masih tetap dalam diam meskipun Sean berusaha mengajak bicara.
Sean menceritakan semua kegiatannya pada Linny dan apa yang dia lakukan selama di perusahaan.
Linny hanya menanggapinya dengan deheman sesekali. Tidak ada niat Linny untuk menanggapi lebih apa yang Sean ucapkan.
Hal itu tentu membuat Sean sedih. Dia kembali teringat Linny yang begitu menjaga jarak dulu. Bahkan ini lebih mengerikan.
Bukan lagi menjaga jarak. Tapi seperti menunggu ketukan palu dimana Linny bisa dengan mudah meninggalkan dan membuang Sean.
Karena tidak tahan di diamkan selama itu. Sean menguatkan hati dan keberaniannya untuk memeluk dan berbicara pada Linny.
Linny yang sedang merapikan beberapa buku bacaan di ruang kerja tersentak karena Sean memeluknya dengan erat dari belakang.
Hanya saja Linny diam, dia tidak mau berbicara. Dia diam dan membiarkan Sean seperti itu.
"Linny. Aku benar-benar minta maaf. Aku mohon. Jangan lagi marah seperti ini. Kau seperti sedang bersiap meninggalkan ku"
Suara Sean terdengar lemah dan lirih. Dia benar-benar sangat takut kehilangan Linny.
Linny hanya menarik nafas dalam. Dia tau jika dia sudah begitu dingin pada Sean. Tapi dia ingin melihat Sean yang benar-benar tau salah dan mau berubah lebih baik.
"Aku tau aku sudah keterlaluan. Selama beberapa waktu ini aku sudah merenungi kesalahanku. Aku mohon maafkan aku Linny. Aku bisa mati tanpa mu"
Ucap Sean lagi.
Pasrah. Takut. Itu yang terlintas di pikiran Sean.
"Minta maaf pada yang seharusnya mendengarkan itu"
Setelah mengatakan itu, Linny melepas pelukan Sean.
Sean tampak mematung mencerna perkataan Linny.
"Yang seharusnya? Maksudnya Linny apa?" Gumam Sean.
Sedetik kemudian Sean paham. Linny ingin Sean meminta maaf pada Erik. Tapi kenapa Sean harus minta maaf? Bukan kah Erik yang memulai semua hal yang membuat Sean membencinya? Itu yang terlintas di pikiran Sean.
.
.
Weekend itu Linny mengunjungi Erik di kediaman Om Donald. Sean ikut dengannya, padahal Linny tidak meminta Sean ikut. Sean sendiri yang berinisiatif ingin ikut ke sana.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil mereka hanya saling diam. Jun dan Alfa yang merasakan dinginnya Linny ikut kasihan pada Sean. Tapi apa mau di kata, perkataan Sean saat emosi itu memang begitu keterlaluan.
Tiba di rumah om Donald tentu mereka di sambut langsung dengan hangat oleh Om Donald.
"Dimana Erik, Om?"
Tanya Linny saat mereka masuk ke dalam rumah Om Donald.
"Ada di taman belakang di temani Joe yang sambil olahraga"
Om Donald kemudian menatap Sean. Dia tau Linny masih mendiamkan Sean.
Om Donald menepuk pelan pundak Sean seolah memberi semangat. Sean hanya mampu tersenyum tipis dan menarik nafas dalam.
Mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan orang yang pernah dia cintai dan dia benci itu.
"Hei!"
Linny menyapa Joe dan Erik yang sedang duduk bersama. Tampak beberapa pengawal sedang berlatih.
Pengawal itu berhenti saat melihat ada Linny dan Sean. Mereka membungkuk hormat pada Linny.
"Sudah lanjutkan latihan kalian"
Ucap Linny yang memang tidak mau mengganggu latihan pengawal itu. Mereka kembali fokus berlatih.
"Duduklah. Linny~ Sean!"
Ucap Joe mempersilahkan keduanya duduk.
"Gimana? Jauh lebih baik?"
Tanya Linny tanpa basa basi pad aErik.
"Masih belum ada perubahan. Dia masih belum bisa merasakan apa-apa pada kakinya"
Joe yang mewakili Erik menjawab pertanyaan Linny.
"Dan gimana pengobatan Kankernya? Perlu kemo?"
Tanya Linny lagi.
Joe menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Ajaibnya kankernya turun ke stadium awal. Dia tidak perlu kemo. Sementara cukup menjaga pola makan dan obat yang rutin. Dokter bilang imun tubuhnya juga semakin membaik"
Joe tersenyum sambil membelai lembut kepala Erik. Keduanya begitu mesra.
"Baguslah. Jangan pikirkan masalah kaki mu. Fokus dulu untuk mengobati kanker mu. Lagian baru semingguan, tidak mungkin secepat itu bisa langsung berjalan. Tabrakan mu cukup keras"
Linny tampak mencoba menghibur Erik. Meski pun nada bicaranya tetap datar dan terasa dingin. Tapi Erik tau jika Linny peduli.
Kalau tidak peduli, Linny tidak akan menjaganya di rumah sakit dan mendonorkan darahnya untuk Erik.
Erik yang waktu sadar terkejut jika dia bisa bertahan karena Doni dan Linny. Dia tidak terkejut kalau Doni mendonorkan darahnya karena mereka tidak pernah terlibat masalah.
Namun dia terkejut Linny mau memberikan darahnya. Meskipun Linny memang menyelamatkan dan memberi Erik kesempatan berubah, tapi mendapat donor darah dari Linny tidak pernah Erik bayangkan.
"Terima kasih. Kalau bukan karena kau dan Doni. Aku pasti sudah tidak bernyawa"
Ucap Erik terdengar sangat tulus. Sean terkejut melihat Erik bisa begitu tulus berterima kasih pada Linny.
Erik menoleh menatap Sean dan tersenyum lembut. Senyuman tulus seorang teman. Bukan senyuman menggoda Erik seperti dulu.
"Hai Sean. Terima kasih sudah mau menjengukku. Bukankah setidaknya kau harus membawakan buah tangan?" Ucap Erik mencoba berkelakar.
Linny memberi kode pada Joe untuk meninggalkan Erik dan Sean agar mereka bisa berbicara.
Linny mengajak Joe sparing, sudah lama dia tidak berlatih muaythai karena sibuk. Keduanya sibuk saling menyerang dan berlatih.
Erik menatap lurus melihat Joe dan Linny yang bertarung. Linny begitu kuat, bahkan Joe yang sudah terbiasa hidup di jalanan saja kewalahan mengahdapi serangan Linny.
"Linny sangat kuat dan hebat. Dia sangat luar biasa. Pantas saja kau memilih dia daripada diriku"
Ucap Erik tanpa menoleh pada Sean sedikitpun. Perkataan Erik begitu tulus. Dia pun tersenyum menatap Joe yang sempat melihat ke arahnya.
"Maaf. Aku dulu terlalu kekanakan dan egois. Aku hanya belum bisa melepaskan mu waktu itu. Kau satu-satunya pria yang peduli dan selalu menanyai kabarku. Bahkan kau yang selalu duluan menghubungiku. Kau sangat tulus memperlakukanku dengan baik. Bukan hanya ingin mendapat kenikmatan ranjangku. Kau selalu memasak dan merawatku saat aku sakit. Meskipun kita harus berhubungan diam-diam agar tidak tercium publik. Tapi aku benar-benar menyukai waktu yang dulu kita habiskan"
Erik terdengar begitu senang membahas masa lalunya dengan Sean.
"Maafkan aku Sean. Aku gagal menjaga mu dari Rain. Dulu saat mengenalmu. Aku tidak yakin akan mencintaimu sejauh itu. Aku juga berpikir kau hanya sama dengan gay lainnya yang butuh pelampiasan. Tapi melihat perlakuanmu yang tulus padaku. Dan kau yang di ancam Agus membuatku tergerak membantumu dengan bantuan Rain. Tapi aku ternyata salah langkah. Rain juga mengincarmu"
"Saat aku tau itu, aku mulai menyukai mu. Aku tidak ingin rain mengambilmu karena aku tau kau sepolos itu. Kau hanya terbawa arus dan masuk ke dunia pelangi. Padahal di dalam jiwa mu itu masih jiwa pria sejati. Kau sangat baik dan aku tidak tega jika Rain merusakmu. Dia jauh lebih berbahaya dari pada si Agus mafia gadungan itu. Koneksi Rain sangat besar. Kau tau kenapa kau aman saja ONS dengan siapapun bahkan tidak ada yang berani mau memiliki mu?"
Erik menatap Sean dengan penuh senyuman. Sean menggeleng tidak paham apa yang terjadi dulu.
"Itu karena mereka semua takut pada Rain. Apa kau sadar? Semua pria yang menemui mu di Bar tidak ada yang berani meminta lebih dari mu. Semua karena Rain. Dia pernah membunuh dua pelanggan yang ketahuan ingin menjadikan mu kekasih dan melarang mu kembali ke Bar itu lagi. Kau adalah maskot menarik bagi Rain. Karena kau sering ke Bar, penghasilan di Bar naik tinggi. Banyak pria yang tertarik untuk bisa melihat mu secara langsung dan berkesempatan tidur denganmu"
"Harusnya saat itu aku mengancam dan melarang mu datang ke Bar. Tapi aku membiarkannya karena aku juga investor di usaha Rain. Dia meminta dirimu dari ku. Tapi aku menolak, aku bilang aku tidak mau berbagi pria ku. Dia paham itu. Aku tidak suka pria ku di jadikan budak di BAR nya. Jika kau mau datang sendiri dan ONS itu hak mu, dan dia tidak boleh menganggumu. Sebagai gantinya aku yang harus menemaninya di ranjang jika kekasihnya tidak bisa melayaninya"
"Maaf Sean. Salahku, sejak awal harusnya aku tidak mendekatimu. Rain tau selera ku bagus. Mungkin dia juga heran kenapa aku sangat bertahan dan menjagamu"
Erik terdengar begitu lirih. Dia menyesali perbuatannya.
Melihat Erik seperti itu membuat Sean terkejut. Ini kali pertama Erik berbicara dengan tenang dan dewasa padanya. Selama mengenal Erik, Sean hanya melihat Erik yang kekanakan dan selalu merengek. Sangat berbeda dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Aku~ Anu. Ah itu. Maaf"
Ucap Sean terbata-bata. Dia bingung harus memulai dari mana.
"Untuk?"
Erik tampak terkejut mendengar Sean meminta maaf padanya.
"Kau benar. Aku dulu memperlakukan mu begitu dekat. Tentu kau marah aku tiba-tiba mencampakkan mu. Kita bahkan pernah berniat menikah dan pindah negara. Maaf, Aku sudah merendahkanmu. Aku sudah meninggalkanmu. Dan tidak pernah mau melihat sisi baikmu. Maaf"
Sean meminta maaf dengan tulus. Dia merasa turut bersalah kini. Ternyata Erik memang setulus itu padanya. Dia selama ini mengira Erik hanya menginginkan sesuatu darinya dan tidak tulus.
Obsesi yang Erik tunjukkan selama ini begitu jelas. Hal itu yang membuat Sean merasa takut Erik masih akan menyakiti Sean dan orang sekelilingnya.
Ternyata Sean salah, Erik juga banyak berubah. Bahkan menjadi sosok yang lebih dewasa dan tulus.
"Terima kasih Sean. Kau pernah begitu tulus pada ku. Juga kau kini sudah kembali ke dunia yang seharusnya"
Ucap Erik mengakhiri pembicaraan mereka.
"Tidak usah khawatir. Aku juga sudah menemukan seseorang yang akan selalu memeluk dan mengandengku tanpa peduli tatapan tidak suka dari siapapun di negara ini"
Lanjut Erik sambil menatap Joe penuh cinta. Sean yakin Erik sudah jatuh cinta pada Joe. Karena tatapan penuh cinta itu pernah Sean lihat di mata Erik saat menatapnya dulu.
"Semoga kalian bahagia"
Ucap Sean tulus.
Erik membalas ucapan Sean dengan anggukan kepala dan senyuman yang tulus. Mereka berdamai dengan masa lalu.
.
.