A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Dia



Hari demi hari terasa menyenangkan untuk Sean dan Linny.


Rasa khawatir akan gangguan telah hilang. Selain itu Santo mengabari Linny jika Carlie sudah tidak bernyawa setelah dia ajak bermain-main sebentar.


"Permainan mu sepertinya terlalu tingkat tinggi. Aku kira setidaknya aku masih bisa melayangkan dua pukulan di wajah orang itu"


Ucap Linny saat menjamu Santo yang datang ke kantornya.


"Ya baru di ajak bermain satu malam saja dia sudah menyerah. Ya ku berikan saja buat makanan buaya peliharaan kenalanku"


Jelas Santo dengan santai tanpa rasa kasihan sedikitpun.


"Cepat sekali sudah kau jadikan santapan yang lain?"


Linny menertawakan kesadisan Santo.


Padahal dirinya juga tak kalah sadisnya dan malah masih bisa menertawakan perbuatan Santo.


Benar-benar menyeramkan jika wanita dingin ini sedang satu perahu dengan pria psikopat. Pantas saja pengawal mereka sangat takut berbuat kesalahan.


"Tapi apa kau aman? Tidak ada yang tau kau terlibat? Bisa berbahaya untuk bisnis Papa mu"


Ucap Linny yang tidak mau merusak bisnis keluarga Santo nantinya.


"Tenang saja. Sudah aku bersihkan lokasi sebelum beraksi. Lagian semua orang hanya anggap mafia bertopeng yang membuat kerusuhan. Atau para pejabat kotor itu memang punya musuh. Orang-orang juga lebih fokus dengan berita mereka melakukan bisnis haram"


Jelas Santo dengan santai.


Keduanya tampak tersenyum tipis dan menikmati teh bersama.


"Ah ya, berarti Rain sudah masuk bui kan?" Tanya Santo memastikan.


"Ya. Kabarnya dia sedang dalam proses pemeriksaan. Tapi aku ingin sekali dia mati minimal cacat agar tidak bisa berulah di kemudian hari. Tapi Sean melarangku. Dia takut jika aku menerobos atau membayar polisi ujungnya akan jadi boomerang untukku"


Jelas Linny sambil menatap Santo. Senyum terkembang di wajah keduanya.


"Perlu aku yang urus?"


Tanya Santo sambil menaikkan satu alisnya.


"Tidak usah. Kalau Sean tau dia akan merasa aku tidak memikirkannya lagi. Aku sedang malas ribut dengan pria yang sedang sensitif itu"


Linny tampak mengeluh pada Santo. Sean memang belakangan sangat sensitif dan tampak sering tidak enak badan.


"Memangnya ada apa?"


Tanya Santo penasaran. Dia senang sekali menggoda hubungan Linny dan Sean yang sangat unik menurutnya.


"Dia tiba-tiba ingin makan es serut di tengah malam. Terus mengeluh aroma ini tidak enak itu tidak enak. Kadang juga dia muntah kalau mencium bau yang gak enak. Terus di banding orang yang lagi PMS malah dia lebih sensitif. Pakai acara mengambek lama banget lagi. Aku seperti mengurus anak 5 tahun saat ini"


Keluh Linny yang benar-benar pusing dengan tingkah Sean. Malah Sean tampak tidak takut saat Linny marah atau diam. Kini jika dia mengambek dan Linny sengaja mengabaikannya maka dia akan lebih marah lagi dan bisa tidak pulang ke penthouse.


Tentu hal itu membuat Linny pusing menghadapinya. Sean seperti tak takut lagi dengan ancamannya. Mungkin karena mereka sudah terbebas dari ancaman Rain sehingga Sean berani melawan Linny.


Santo yang mendengar cerita Linny malah tertawa lebar. Hal yang jarang sekali Santo lakukan. Dia persis Linny sangat dingin dan serius dalam melakukan segala sesuatu.


"Kenapa ketawa?"


Tanya Linny heran melihat respons Santo. Dia merasa Santo sedang mengejeknya yang kini mati kutu menghadapi suami sendiri.


"Kau ini. Sepertinya kau hamil dan Sean yang mengalami gejalanya" Ucap Santo yang masih tertawa.


"Hah?" Linny merasa heran dan tidak percaya.


"Iya. Kau tau istilah sindrom kauvide? Itu istilah untuk para calon ayah yang mengalami morning sickness. Sepertinya anakmu sangat baik pada mu sampai-sampai ayahnya yang harus mengalami gejala yang tidak nyaman"


Ucap Santo sambil menahan tawanya itu.


Mendengar ucapan Santo membuat Linny menyentuh perutnya sendiri. Dia masih tidak percaya bisa hamil lagi. Padahal kemungkinan dia hamil sangat kecil karena dokter sendiri juga menyarankannya dan Sean melakukan bayi tabung setelah keguguran kedua kalinya.


Tapi jika itu benar tentu dia dan Sean akan sangat senang. Linny baru teringat dia memang belum berjumpa tamu bulanannya yang sudah telat dua minggu itu.


"Periksakan dirimu ke dokter.  Jaga dengan baik jangan sampai kenapa-kenapa lagi. Aku turut senang kau akan segera menjadi ibu. Jadi ibu yang baik. Jangan seperti dua wanita ****** itu"


Ucap Santo menasihati Linny. Baik Linny maupun Santo memang sangat membenci ibu kandung mereka. Tentu mereka tidak ingin anaknya kelak menderita seperti mereka.


"Aku pulang dulu. Kau segaralah periksakan dirimu"


Santo berpamitan pada Linny karena dia masih memiliki urusan lainnya.


Linny tersenyum tipis. Dia terus mengelus perutnya yang masih rata itu sambil berharap jika memang benar dia hamil dia ingin anak ini lahir dengan selamat tanpa kekurangan apa pun.


Setelah dua kali mengalami keguguran tentu Linny akan lebih waspada menjaga kandungannya itu.


.


.


.


Dia ingin memasak untuk Sean karena pria itu sedari pagi rewel ingin makan mie buatan tangan Linny.


Dengan cekatan Linny membuatkan mie itu di bantu oleh Dewi yang sudah pulang dari kuliah.


"Ini harus di potong bagaimana Nona?"


Dewi tampak menunggu perintah dari Linny. Dia takut salah melakukan step memasak itu.


"Potong agak miring saja. Ya seperti itu" Ucap Linny mengarahkan Dewi.


Dewi dengan cekatan memotong bahan-bahan yang ada. Sedangkan Farid tampak duduk belajar di temani Alfa.


"Oh ya bagaimana kau dan Jun?" Tanya Linny tiba-tiba.


Dewi terdiam mematung. Dia terkejut dengan pertanyaan Linny.


"Jangan bohong. aku tau kalian sedang pendekatan. Jangan terlalu lama pendekatan doang. Jun banyak yang suka bahkan karyawan di perusahaanku semua sangat menyukainya. Hanya dia tidak tertarik pada mereka"


Perkataan Linny membuat wajah Dewi merona malu. Dia tidak menyangka kedekatannya dengan Jun menjadi perhatian Linny.


"Aku sudah menduga kalau kau dan Jun akan dekat. Kalian sering adu mulut tapi tampak saling memperhatikan. Aku setuju saja jika kalian memang mau serius yang penting kuliah mu tidak terganggu"


Lanjut Linny dengan santai. Dewi semakin kagum pada Linny yang begitu santai menanggapi kedekatan anggotanya. Dia malah bisa memberi nasehat yang baik untuk hubungan mereka.


"Terima kasih Nona" Ucap Dewi malu-malu.


"Cepat potong sayurnya. Ini sudah mau selesai mienya jangan sampai sayurnya belum di ongseng"


Tegur Linny yang meskipun sedang berbincang tetap fokus dalam masakannya.


"Ah iya. Maaf"


Dewi kembali menyelesaikan memotong bahan-bahan yang akan di masak oleh Linny.


.


.


Sore itu Erik duduk di taman menunggu Joe yang sudah mulai membantu Om Donald mengurusi seluruh bisnisnya di negara itu.


Joe sudah menjadi tangan kanan Om Donald bahkan sudah mirip anak angkatnya.


Erik meminta pengawal mereka menjaga jarak sejauh mungkin. Dia tidak ingin menarik perhatian sekeliling lagi pula dia merasa sudah aman karena dia juga di anggap sudah mati serta Rain telah di tangkap.


Saat sedang duduk sendirian, Erik bergerak bangkit dari kursi rodanya. Ya, dia sudah bisa berjalan meskipun masih agak tertatih. Dia sengaja mengajak Joe menemuinya di taman di ujung kota untuk memberi kejutan bagi Joe.


Seseorang menepuk pundak Erik dari belakang. Erik segera menoleh.


"Joe?"


Erik mengira orang yang menepuk pundaknya itu adalah Joe.


Namun sedetik kemudian dia membeku. Pria itu adalah Rain.


"Rain. Kau~"


"Ssstttt. Hai sayang. Apa kau tidak merindukan ku? Sudah ku duga kau masih hidup"


Rain tersenyum menyeringai sambil membelai kepala Erik.


"Kau? Bukannya kau-"


"Di tangkap? Come on Baby. Bukti tidak mengarah padaku sebagai pemilik bisnis itu. Semua tercatat nama si Kuncoro dan aku hanya di curigai sebagai kekasih dan ikut menikmati bisnis itu. Jadi aku bisa bebas bersyarat seperti ini"


Perkataan Rain membuat Erik semakin membeku takut. Dia sudah terlalu bahagia mengingat Rain di tangkap dan di penjara. Bahkan semua komplotannya juga sudah menjadi tersangka dan di penjara.


"Kau harus kembali pada ku. Kita akan bersama lagi"


Ucap Rain sambil tersenyum pada Erik.


"Jika aku tidak mau? Apa kau akan membunuhku sekarang?"


Erik tampak berusaha berani di hadapan Rain. Dia tidak mau terjebak lagi dengan pria itu.


"Kau akan mau. Karena jika tidak. Kekasihmu akan mati hanya dalam waktu kurang dari setengah bulan"


Rain tampak menyeringai senang. Wajah Erik memucat menatap Rain.


.


.


.