
"Kau mau makan apa, Linny?"
"Mau memakan mu"
"Shhh... Linny. Please~"
Sean merasa geram karena Linny terus menggodanya bahkan dengan sentuhan-sentuhan yang memabukkan.
Tangan Sean langsung memegang tangan Linny yang sudah menari-nari di atas Pluto.
"Sudah jangan. Tunggu sampai sembuh dulu ya" Ucap Sean lalu mengecup perlahan bibir Linny.
"Tapi aku lagi pengen" Ucap Linny terdengar menggoda.
Astaga setan mana yang siang-siang begini membuat Linny menjadi sangat manja dan menggodanya dengan sengaja.
Sean langsung mengendong Linny menuju kamar. Satu persatu pakaian Linny di buka hingga Linny polos.
Direbahkannya Linny di atas tempat tidur. Sean mengelus perlahan si Venus dengan lembut lalu mengecupnya.
"Ah~ Sean" Linny merasa terbang terbuai dengan sentuhan Sean pada miliknya itu.
Terus Sean memanjakan milik Linny dengan tangan dan bibirnya hingga Linny mencapai pelepasannya.
Sean tersenyum melihat Linny yang tampak puas. Segera dia mengambil handuk basah dan membersihkan milik Linny hingga kembali bersih.
Setelahnya barulah Sean membersihkan dirinya sendiri sambil menuntaskan keinginan si Pluto yang hendak mengeluarkan lava cinta.
Sean belum tega melakukan penyatuan pada Linny, dia takut malah menyakiti Linny nantinya. Jadi dia hanya make out dengan Linny dan menuntaskan hasratnya sendiri di kamar mandi.
Selesai membersihkan diri Sean kembali ke tempat tidur dan memperhatikan Linny yang masih berbaring.
"Curang" Ucap Linny kesal.
Sean malah tertawa melihat ekspresi kesal Linny lalu mengecup bibir Linny.
"Cepat sembuh setelah itu kita akan berlibur. Aku juga merindukan sentuhan mu sayang" Ucap Sean sambil membelai wajah Linny.
"Ya sudahlah. Aku lapar. Bisa kita makan sesuatu?" Tanya Linny yang sudah mulai merasa lapar.
"Mau aku masak apa?" Tanya Sean dengan lembut.
"Apa saja yang penting cepat. Aku sudah mulai lapar" Ucap Linny.
Sean mengangguk paham dan langsung menuju dapur untuk memasak nasi goreng. Makanan simple dan cepat untuk di hidangkan.
Setelahnya mereka makan bersama. Ponsel Sean terlihat bergetar dan tampak pesan masuk dari Eny.
' Papa sudah bangun. Papa mencari mu. Segera kemarilah ' -Isi pesan Eny-
"Siapa?" Tanya Linny yang melihat ekspresi Sean berubah menjadi serius.
"Eny. Katanya Papa sudah sadar dan mencariku. Firasatku tidak enak Linny" Ucap Sean jujur.
Sean merasa sang Papa hanya ingin bertengkar dengan Sean karena sudah tau hal yang sebenarnya.
"Karena Papa mu sudah tau? " Tanya Linny langsung.
"Iya. Papa sepertinya melihat foto ku dengan Erik. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya" Ucap Sean cemas.
"Hadapi. Jujur saja. Aku akan bersama mu apa pun yang terjadi" Ucap Linny meyakinkan Sean.
"Kau akan menemaniku ke sana?" Tanya Sean memastikan.
Linny tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Bantu aku bersiap. Aku harus tampak berwibawa untuk menekan keras kepala Mahaprana bukan?" Ucap Linny yang membuat Sean tertawa mendengarnya.
Memang Linny always Linny. Dia tetap akan melawan siapa pun yang mencoba menyakiti Sean. Meskipun itu adalah keluarga Sean.
Linny tidak ingin Sean di hina oleh keluarganya, karena itu dia memutuskan untuk ikut dan memberi pelajaran kepada orang tua keras kepala yang haus pujian dan nama baik tanpa memikirkan kondisi anaknya sendiri.
Linny dan Sean berangkat bersama menuju rumah sakit. Mereka di kawan oleh Jun-Alfa juga 10 pengawal pilihan Om Donald untuk menjaga Linny dan Sean.
Tiba di rumah sakit mereka langsung menuju kamar rawat Mahaprana. Tampak Mahaprana, Nyonya Mahaprana, Nini beserta suaminya, Eny, juga ada Willy dan Alicia -pacar Willy berada di dalam ruangan itu.
"Kau masuk dulu. Aku akan angkat telepon Om Donald dulu" Ucap Linny meyakinkan Sean.
Sean hanya mengangguk dan masuk terlebih dahulu. Jun - Alfa dan yang lainnya hanya menunggu di luar kamar itu.
Prang!!!!
Baru saja Sean masuk, terlihat sebuah baki terlempar hampir mengenai Sean.
"ANAK BIADAB! MONSTER MENJIJIKAN!" Bentak Mahaprana penuh emosi.
Sean yang sudah bisa menduga hal itu hanya diam tanpa melawan. Tatapan Sean tampak datar dan tidak berekspresi melihat keluarganya.
"KAU MEMANG SAMPAH MENJIJIKAN! MALU AKU MEMILIKI PUTRA SEPERTI MU!" Ucap Mahaprana penuh emosi.
"Sudah Pa. Dengarkan dulu Sean" Ucap Nyonya Mahaprana berusaha menengahi.
Melihat Sean yang berubah dingin membuat Nyonya Mahaprana merasa sedikit menyesal sudah membiarkan Sean selama ini dilukai oleh keluarganya sendiri.
"Kau diam! Dia jelas-jelas GAY menjijikkan!" Ucap Mahaprana kesal.
Nini, Eny, Willy tidak berani berbicara saat melihat Mahaprana begitu emosi.
"Aku memang Gay dulunya. Lantas kenapa? Apa kalian pernah memperlakukan aku lebih baik dari pada orang-orang Gay yang bersamaku dulu?" Tanya Sean datar tanpa emosi.
Mahaprana begitu terkejut, dia tidak menyangka Sean akan mengatakan hal itu dari mulutnya. Mahaprana mengira Sean akan membantah dan menyangkal semua hal itu.
"Apa pernah kalian ada saat aku terluka? Saat aku di jatuhkan ke dalam lubang terdalam? Saat aku kesepian?" Tanya Sean lalu tertawa menyedihkan.
Melihat Sean membuat Eny merasa sedih. Keluarga mereka tampak harmonis dari luar tapi memang semuanya kesepian pada kenyataannya.
"Aku sudah pernah bilang bukan? Anggap saja Winsen Darren Mahaprana bukan anak kalian lagi. Sejak dulu aku juga tidak pernah kalian hargai. Apa pun harus sesuai mau kalian. Aku selalu jadi boneka. Jadi kalau aku menjadi boneka bagi kaum pelangi apa salahnya? Setidaknya mereka memperlakukanku dengan baik dan menghargaiku" Ucap Sean terdengar begitu menyakitkan.
Mahaprana yang emosi kembali melempar apa saja yang bisa dia raih. Namun lemparannya meleset karena Linny langsung menarik Sean dan memeluknya di hadapan keluarga Sean.
Linny yang baru saja masuk ke dalam ruangan setelah menerima telepon dari Om Donald melihat betapa keterlaluannya Mahaprana pada Sean.
Tak ada satupun dari keluarga Sean yang bertanya terlebih dahulu. Mereka hanya melihat Sean dengan tatapan aneh dan membiarkan Mahaprana begitu kasar pada Sean.
Sean menangis tanpa Suara saat Linny memeluknya erat dan menepuk punggungnya.
"It's Okay Sean. Itu sudah berlalu. Kau sekarang milikku. Tidak ada yang akan mengatakan mu seorang Gay lagi" Ucap Linny dengan tegas.
Perkataan Linny membuat keluarga Sean terkejut dan menatap heran pada Linny dan Sean.
Linny melepas pelukannya dan menghapus air mata Sean.
Hal itu membuat keluarga Sean tersikap. Mereka belum pernah memeluk Sean sehangat itu dan mengusap air mata Sean saat dia terluka.
Yang ada Mahaprana dan istrinya selalu mengatakan Sean harus bangkit sendiri karena dia anak laki-laki dan tidak boleh menangis cengeng.
"Kalian pikir Sean bukan manusia? Dia juga manusia. Walaupun dia laki-laki, dia juga punya rasa lelah dan bisa jatuh. Saat dia terjatuh dia ingin di peluk dan di ajak bangkit. Bukan mendapat cacian dan dijatuhkan lebih dalam lagi" Ucap Linny terdengar tegas.
Mahaprana hendak bersuara namun Linny langsung mengangkat tangannya mengisyaratkan agar dia tetap diam dan jangan memotong perkataan Linny.
"Hari ini aku datang bukan ingin mendengar kalian mencaci maki Sean. Jika kalian berani lakukan itu maka akan aku potong lidah kalian sekarang juga" Ucap Linny terdengar mengerikan.
Sean langsung menatap lirih pada Linny. Linny begitu berkarisma hingga keluarga Sean hanya bisa diam tanpa berani membantah.
"Kalian tau Sean menjadi korban pemerko*saan di saat dia patah hati? Dia di lecehkan sesama jenisnya. Dia bahkan dijadikan pemuas nafsu tanpa bayaran. Setiap inci tubuhnya di siksa dan di lukai. Kalian pikir dia menikmatinya?" Tanya Linny sambil menatap Mahaprana.
Nyonya Mahaprana yang mendengar hal itu menangis. Dia tidak menyangka sang putra menjadi korban pelecehan dan hanya diam selama ini.
"Sean tidak menjadi Gay karena keinginannya. Dia menjadi Gay karena kau Mahaprana!" Ucap Linny dengan tegas menunjuk Mahaprana.
Semua orang terkejut termasuk Sean. Linny begitu keras dan tegas langsung menyalahkan Mahaprana.
"Kalian yang sudah membuat Sean menjadi melenceng dan kalian mau melukainya lagi sekarang? Aku sudah bersusah payah menarik dia keluar dari kehidupan tidak sehat itu dan aku tidak akan biarkan siapa pun menghancurkan Sean lagi. Berani menyakiti Sean sama saja meminta kematian dariku!" Tegas Linny.
.
.
.