
Dentuman suara musik DJ menggema ditelinga pengunjung club malam di kota besar itu.
Sean baru saja tiba di Wingtiger Club, dia berjanji berkumpul bersama ke empat sahabatnya.
" Loh Erik mana? " Tanya Danu heran melihat Sean datang sendirian.
" Enggak enak badan" Jawab Sean singkat.
Erik memang berencana ikut malam itu namun tidak jadi karena tubuhnya terasa demam.
"Kebanyakan kali ? " Ledek Aston sambil menatap Sean.
" Jirrrr. Aku bukan maniak ya! " Ucap Sean terdengar sangat kesal.
" Bukan maniak tapi kagak bisa lepas dari Erik" Tambah William meledek Sean juga
Memang jika sahabatnya berkumpul sudah di pasti bully an terdahsyat akan keluar.
" Kayak kalian enggak aja" Ucap Sean santai membalas ledekan sahabat-sahabatnya itu.
" Kita maniak tapi sama lobang beneran bukan lobang belakang! " Ucap Danu meledek Sean.
" Sialan bener kalian nih. Aku pulang nih kalau cuman mau ngeledekin mulu! " Ucap Sean memasang wajah kesal.
" Ih udah kayak cewek pms aja mas ini" Ucap Doni meniru gaya bicara wanita.
Sontak hal itu membuat ketiga sahabat Sean yang lainnya tertawa terpingkal-pingkal melihat gaya Doni.
Memang sialan sahabatnya ini. Tapi mereka pulalah yang bisa menerima Sean apa adanya serta selalu ada untuk Sean di saat terburuk seperti apa pun.
" Tapi Aku serius guys! Belakangan Aku enggak punya keinginan begituan sama Erik. Enggak bisa tergoda kayak biasanya" Ujar Sean mengeluarkan keluh kesahnya.
" Masa? Udah dapat Erik-Erik yang baru gitu?" Tanya Danu serius.
" Enggak ada! Mana bisa aku ngelakuin berulang kali sama orang yang sama selain dengan Erik! " Ucap Sean membantah.
" Kok tumben? Enggak jadi impoten 'kan kau Bro??" Tanya Aston heran.
" Enggak. Masih bisa bikin Erik menjerit keenakan semalam!" Ucap Sean geram mendengar dirinya dikatakan impoten oleh sahabatnya.
" Jadi apa masalahnya? Buktinya masih bisa di pake bareng Erik semalam 'kan?" Tanya William yang memang lebih dewasa cara berbicara serta berpikir di antara yang lainnya.
" Aku sebenarnya enggak bisa punya keinginan saat di sentuh Erik sejak dia balik dari Singapore. Biar bisa berdiri 'itu' Aku, Aku harus ngebayangi wajah seseorang" Ucap Sean jujur.
" Siapa????!!!! " Tanya ke empat sahabatnya bersamaan. Mereka sungguh penasaran.
" Sial! Terkejut woi! " Ucap Sean yang syok dengan respons ke empat sahabatnya itu.
"Cewek yang punya bar kecil" Ucap Sean memelankan suaranya.
" Wow!!! Serius bro??!!! Wah!!!! " Danu sangat syok mendengar pengakuan Sean.
" Wah akhirnya teman kita balik ke jalurnya Bro!! Bangga bener Aku!!" Tambah Doni.
" Congrats Bro!! Selamat sudah sadar!!! " Ucap Aston menambahi.
William hanya menggeleng mendengarkan percakapan mereka.
" Maksud kalian tuh Aku udah balik normal? Enggak mungkin deh. Kalau bisa kenapa baru sekarang? Aku udah coba berkali-kali dengan bermacam ragam wanita! " Ucap Sean membantah perkataan sahabat-sahabat nya.
" Mungkin sekarang udah nemu yang pas kali?! " Tambah Danu meyakinkan Sean agar benar-benar bisa berubah.
" Gimana ceritanya bisa ketemu tuh cewek? "
William yang sendari tadi hanya diam, kini ikut berbicara serius menanggapi pengakuan Sean.
"Kenal nya pas random aja masuk ke bar yang ternyata punyanya tuh cewek" Ucap Sean.
Sean menceritakan detail awal perkenalannya dengan Linny, seberapa sering mereka bertemu.
Tentang karakter Linny. Wajahnya yang cantik. Bagaimana Linny membantunya yang mabuk hingga dirinya yang menawarkan pernikahan kontrak serta melihat Linny berada di hotel bersama Om-Om kemarin yang membuatnya merasa kecewa dan marah.
Ke empat sahabatnya saling melirik satu sama lain seolah sama-sama menyimpulkan, Sean sudah jatuh cinta dengan Linny!
" Bro! Kali aja Linny jumpa saudaranya di sana?! " Ucap Danu mencoba bersikap positif.
" Mana mungkin saudara peluk mesra gitu. Emang Kau kira Aku anak umur 5 tahun apa? " Ucap Sean kesal.
" Bro. Saran Ku tetap jumpai Linny saja. Mungkin dia yang bisa menyembuhkan sifat melenceng mu sekarang ini! " Saran William yang tampak sangat serius.
" Ya dan mungkin saja dia punya masalah yang tak jauh beda dengan mu. Hanya dia tidak melenceng dari kodratnya saja" Ujar Doni menerka.
" Ah gimana kalau kita jumpai Linny. Boleh dong sesekali ajak kita. Biar kita bisa sekalian nilai orangnya gimana" Ucap Aston memberi usul.
" Semoga dia enggak kayak si Merissa deh! " Ucap Danu yang membuat Sean menatapnya.
Tatapan yang penuh kenangan dan rasa sakit.
Merissa, cinta pertama Sean dulu.
** Flashback on* *
* 19 tahun lalu. Tepat saat usia Sean menginjak 19 tahun, dirinya memiliki seorang kekasih bernama Merissa. Gadis yang sangat cantik, putri dari orang kaya berpengaruh yang sudah berpacaran dengan Sean sejak duduk di bangku SMA 1.*
* Keduanya sangat intim dan memang bahkan sudah melakukan hubungan di luar batas kewajaran usia mereka. *
* Merissa sangat cantik dan lembut. Sean benar-benar menjadi budak cinta Merissa. *
* Apa pun yang di katakan Merissa seperti sebuah keharusan dan hukum wajib untuk Sean ikuti.*
* Bahkan saat Merissa meminta Sean berkuliah di tempat yang sama dengannya, Sean menuruti padahal lokasi kampus sangat lah jauh dengan rumah Sean. *
* Namun semuanya pupus saat Sean mendapati Merissa ternyata berhubungan dekat dengan teman sekelasnya di kampus.*
* Bahkan yang lebih menyakitkan, Sean mendapati keduanya dalam kondisi tanpa sehelai benang pun di ruangan perpustakaan kampus mereka.*
* Sean yang masih muda dan menjadi budak cinta itu benar-benar patah hati. *
* Saat kembali ke rumah dan menceritakan hal itu kepada keluarganya, kedua orang tua Sean malah memarahinya dan mengata-ngatai Sean adalah laki-laki bodoh yang tidak becus, lemah, cengeng.*
* Tidak ada satu pun yang mau menenangkan dan mendengarkannya berbicara. Tidak ada yang peduli dengannya dan terus menjatuhkannya dan menjelek-jelekkan Sean.*
* Hingga Sean yang frustrasi akhirnya memilih mendatangi sebuah club malam dan bertemu dengan para manusia dari kaum pelangi. *
Sean yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di sebuah club malam membuatnya malah nyaman dengan orang-orang disana. Bahkan dia tampak nyaman bersama kaum pelangi yang ada di tempat itu.
Orang-orang yang memiliki orientasi melenceng itu malah mau mendengarkan dan menenangkan hati Sean yang terluka.
* Sejak itu pula Sean terjebak dalam lingkungan para pelangi itu. *
* Dirinya sering melakukan ons (one night stand) dengan pria berbeda setiap harinya. *
* Hingga akhirnya dia bertemu Erik dan memutuskan berpacaran dengan Erik yang sanggup memenuhi hasrat dan mengerti dirinya. *
* Meskipun Sean masih sering melakukan hubungan random dengan pria lain, tidak terbantahkan hanya Erik yang bisa memuaskan si Pluto kesayangan Sean.*
* flashback off*
.
" Jujur. Kita lebih setuju kalau Kau bisa kembali ke kodrat mu. Apalagi udah umur segini bro! Belum lagi Papa mu itu keras kepala sama seperti mu!" Ucap Danu menasihati.
" Iya. Cobalah. Tapi feeling Ku sih Kau sudah bertemu dengan wanita yang memang bisa mengetuk hati kodrat mu sesungguhnya. Makanya Kau bisa merasa begitu" Ujar Aston menambahi.
Sean bingung, apa dia hanya merasa kehilangan teman seperti Linny. Atau memang dirinya sudah kembali pada kodratnya untuk mencintai wanita.
Karena bagaimana pun dia masih sering merindukan perlakuan lembut Erik serta sulit meninggalkan pria muda itu.
" Udah yang penting lain kali kita jumpa dengan wanita itu. Aku jadi penasaran dengan wajahnya! " Ucap Aston bersemangat.
" Asal jangan tikung punya kawan ya Bro! " Ucap Doni mengingat sifat Aston yang playboy sejati.
Nampak hajar libas! Urusan teman belakangan! Itu prinsip Aston.
Tapi jika bersangkutan dengan sahabatnya, tentu dia tidak berani.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOK-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-