
"Aku merindukan mu. Kau ke mana saja. Sudah 10 tahun aku tidak bisa mendapat kabarmu" Ucap pria bernama Reza yang refleks mencium pipi Linny.
"Kau siapa?" Tanya Sean yang sangat tidak menyukai pemandangan di hadapannya itu.
"Reza? Kau kapan kembali?" Tanya Linny terkejut.
"Beberapa bulan lalu. Aku di undang Andrean untuk hadir. Jangan menyalahkannya. Aku yang minta dia merahasiakan ini" Ucap Reza yang menatap Linny dengan penuh cinta.
Linny terdiam, pria dari masa lalu nya itu kembali di hadapannya.
"Linny" Sean merasa dirinya tidak bisa diam melihat kemesraan di hadapannya itu.
Linny tersadar saat ini dia bersama Sean dan dia sudah mengizinkan Sean menjadi miliknya. Dia tidak bisa bersikap dekat dengan sembarang pria lagi.
"Ah Sean. Ini teman lama ku. Namanya Reza" Ucap Linny berusaha setenang mungkin.
"Oh. Hai. Aku Sean" Ucap Sean mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Pria bernama Reza itu menyalami Sean sambil tersenyum meremehkan.
"Dia siapa mu, Kimberlyn? Aku tidak pernah melihat mu sedekat ini dengan pria selain aku dan Andrean" Ucap Reza yang membuat hati Sean panas.
Sean semakin bertanya-tanya siapa Reza ini. Yang Sean tahu, Linny tidak pernah bisa dekat dengan pria mana pun sedekat itu apalagi menyentuh dan mencium wajah Linny.
Linny masih terdiam. Sean merasa dirinya saat ini seolah keberadaannya tidak dilihat Linny.
"Kita akan bicara lain kali Reza. Aku harus menemui Sisilia" Ucap Linny lalu beranjak dari tempat itu tanpa menoleh sekalipun pada Sean.
Sean hendak mengikuti Linny berjalan. Namun Reza mencegahnya.
"Aku tidak tahu siapa pun kau. Tapi melihat kedekatan mu aku bisa menebak sesuatu" Ucap Reza sebelum Sean bergerak mengikuti Linny.
Sean menoleh ke arah Reza dengan tatapan bingung.
"Kimberlyn tidak akan bertahan dengan pria mana pun. Yang selalu bisa membuatnya nyaman dan bersandar hanya aku. Aku tahu segala sesuatu tentang Kimberlyn. Dan perlu kau ketahui aku kembali untuk Kimberlyn" Ucap Reza sambil tersenyum tipis.
Sean tidak ingin berbicara apa pun lagi. Dia langsung mencari Linny di luar restoran.
"Kau di mana Linny..." Gumam Sean yang hatinya kini tidak tenang setelah mendengar perkataan Reza.
Terlihat Aston dan yang lain sedang menikmati matahari dan udara di ruangan outdoor.
"Sean! Sini!" Seru Aston saat melihat Sean yang sedang celingak-celinguk mencari keberadaan Linny.
Sean berjalan mendekati Aston.
"Kau lihat Linny?" Tanya Sean tanpa basa-basi.
"Ah bukannya dia selalu bersama mu?" Tanya Doni heran.
"Iya. Tapi tadi dia duluan jalan keluar dari restoran. Di telepon juga enggak angkat" Ucap Sean yang khawatir. Bukan hanya khawatir.
Dirinya butuh penjelasan tentang siapa Reza. Entah mengapa Sean menjadi sangat takut melihat keberadaan Reza di antara dirinya dan Linny.
"Eh itu Linny. Lagi mengobrol sama cowok ganteng tuh?" Ucap Danu refleks menunjuk ke arah sudut kiri tempat mereka berdiri.
Linny tampak sedang berbincang dengan pria muda di pesta kemarin. Keduanya tampak akrab bahkan Linny bisa tertawa sambil merokok. Hal yang jarang di lihat oleh Sean.
Sean tahu Linny memang menyesap nikotin namun jenis Pod bukan rokok biasa. Entah apa yang membuat Linny merokok hari itu.
.
"Mau?" Tanya Linny menyodorkan sebatang rokok pada pria muda bernama Santo itu.
"Sejak kapan kau malah bisa merokok. Tumben" Tanya Linny heran.
"Sejak 4 tahun lalu. Kau sendiri bukannya lebih suka nge-pod?" Tanya Santo yang tampak akrab dengan Linny.
"Sakit kepala ku" Ucap Linny yang ternyata memang sudah lama mengenal keluarga Santo.
Mereka cukup akrab dan memiliki hubungan dengan jaringan bawah tanah yang tidak pernah terdeteksi siapa pun.
"Tadi aku melihat Reza. Apa dia mencari mu?" Tanya Santo sambil tersenyum.
"Ya. Dia mendadak muncul makanya aku sakit kepala" Ucap Linny mengeluh.
"Sepertinya dia masih mengharapkan Kau. Yakin tidak mau memberinya kesempatan?" Tanya Santo menatap Linny.
"No! Aku tidak punya perasaan apa pun untuknya. Lagi pula hubungan kami dulu hanya partner ranjang sesaat sebelum dia pergi keluar negeri untuk melanjutkan study nya" Ucap Linny dengan santai.
"Oh. Kau tidak tertarik saat aku ajak berbagi ranjang" Ucap Santo dengan santai.
"Aku tidak perlu batangan mu sialan! Kau tidak semenarik itu untukku. Hanya orang super bodoh yang berani menjalin hubungan dengan mu jika mereka tahu siapa kau sebenarnya" Ucap Linny mengejek.
"Jadi kau ingin berkata kekasihku sekarang adalah orang super bodoh?" Tanya Santo yang malah tertawa di ejek Linny.
Santo tidak bisa marah pada Linny yang memang tahu segalanya tentang Santo bahkan terkadang Linny yang membantu Santo merapikan masalah yang ditimbulkannya. Karena Linny yang sebelumnya tidak pernah muncul di publik mempermudah pergerakannya dibanding Santo seorang crazy rich dan pewaris perusahaan besar.
"Tepat sekali. Aku tidak bisa membayangkan wajahnya jika tahu siapa kau" Ucap Linny menertawai kebodohan Kekasih Santo.
"Dia murid yang pintar. Jangan mengatainya bodoh" Ucap Santo lalu membuang puntung rokok pada tempatnya.
"Tapi dia bodoh menghadapi pria sepertimu. Semoga dia tidak bernasib sama seperti mantan mu. Atau setidaknya dia tidak memiliki perangai seperti mantan mu itu" Ucap Linny serius.
"Tidak. Dia benar-benar polos. Makanya aku menyukainya sejak awal. Dia sangat bergantung penuh padaku" Ucap Santo.
"Kau sudah menidurinya?" Tanya Linny tanpa basa basi.
"Tentu. Sesuai perkataan mu untuk segera mengikatnya. Aku tidak ingin dia malah menjadi milik yang lain" Ucap Santo sambil tertawa.
"Dasar psiko. Hati-hati dengan tingkah kau. Jangan membuat kecurigaan dan mengharapkanku membantu membereskannya lagi brengsek!" Ucap Linny kesal.
"Tenanglah. Aku pasti akan terus merepotkan mu. Tapi sepertinya akan susah menghubungi mu kalau kau berpacaran dengan Gay cemburuan itu. Lihatlah matanya sudah menatapku tajam sejak tadi" Ucap Santo sambil melihat ke arah Sean.
Sejak tadi Santo sudah tahu Sean dan teman-temannya menatap ke arah mereka. Dia bisa merasakan aura kecemburuan yang tinggi di mata Sean.
"Sialan kau. Dia mantan gay lebih tepatnya" Ucap Linny sambil tertawa.
"Bagaimana kalau dia kembali dengan kebiasaan lamanya?" Tanya Santo penasaran.
"Kau sudah tau jawabannya. Untuk apa bertanya?" Jawab Linny.
"Tapi aku rasa dia tulus dengan mu. Tatapan itu seperti tatapan suami yang takut istrinya dicuri laki-laki lain" Ucap Santo santai.
"Biarkan saja. Kau berhati-hatilah. Orang dari kelompok hitam ada di sini. Entah aku salah atau tidak, sejak di acara mereka memperhatikan Kau dan pasangan mu" Ucap Linny yang memang memiliki insting dan pandangan tajam jika melihat adanya mafia di sekitar dirinya.
"Aku tahu itu. Tapi aneh mereka tidak melakukan apa pun" Ucap Santo yang juga tahu keberadaan orang-orang hitam itu tapi mereka tidak melakukan tindakan apa pun.
Linny menatap Santo dan tersenyum misterius.
.
.
.