
Linny terbangun di sebuah taman penuh bunga. Dia melihat Sean di sisinya. Keduanya tersenyum. Tiga orang anak kecil tampak berlarian dan menyebut mereka 'Mama' 'Papa'.
Sean menciumi kening Linny. Seketika Linny merasa mengantuk dan merebahkan dirinya di atas pangkuan Sean.
"Hei Linny sudah sadar"
Suara Sisilia terdengar begitu keras.
"Linny. Hei Sayang"
Linny mendengar suara Sean memanggilnya. Dia melihat sekelilingnya. Sahabat mereka bahkan Om Donald ada di sana. Semua tampak cemas melihat Linny.
Seketika dia sadar dan menatap ke arah perutnya.
"Tenang. Dia aman. Dia kuat" Ucap Sean sambil meneteskan air matanya.
Keduanya berpelukan dan Linny turut menangis.
"Maaf. Maafkan aku. Harusnya aku yang menjaga kalian" Ucap Sean berulang kali.
Dia merasa sangat bersalah dan ketakutan saat melihat Linny tertembak. Beruntung peluru itu tidak terlalu dalam.
Mereka dengan cepat membawa Linny pergi dari sana. Linny bingung dengan apa yang terjadi. Dia hanya ingat perutnya terasa sakit dan pandangannya menggelap. Dia juga hanya ingat mendengar suara tembakan sebelum dia pingsan.
"Erik. Dimana Erik dan Dewi? Rain? Apa dia kabur?" Tanya Linny panik.
Semuanya menatap Linny dan membisu. Linny mencari Joe. Dia tidak tampak di sana.
"Joe dimana?" Tanya Linny lagi.
Sean yang melihat Linny panik langsung memeluk dan menenangkannya.
"Linny. Istirahat dulu. Ingat ada anak kita di sini" Ucap Sean sambil menyentuh pelan perut Linny.
Linny tampak mengalah dan kembali membaringkan tubuhnya. Meskipun dia masih cemas dan takut Rain kabur lagi.
.
.
Om Donald dan yang lainnya keluar dari ruangan rawat Linny. Mereka tidak mau menganggu waktu istirahat Linny.
Terlihat Jun berjalan mendekati mereka.
"Saya dengar Nona sudah sadar?" Tanya Jun sambil menatap mereka bergantian.
Semuanya mengangguk, Jun merasa sangat lega.
"Bagaimana dengan dewi. Lukanya parah?" Tanya Om Donald.
"Tidak. Sudah di obati dan tidak berbahaya. Ah Tuan bagaimana? Katanya Tuan sudah diracuni?" Tanya Jun khawatir.
"Entahlah. Sean bilang dia tidak merasakan apapun di tubuhnya. Tadi sudah ada dokter yang mengambil darahnya untuk di cek"
Jelas William yang juga khawatir.
"Joe dan Erik saat ini sudah dalam introgasi pihak berwajib. Dan Rain belum mati"
Lapor Alfa pada Om Donald. Bukan hanya polisi yang berjaga saat Rain di operasi. Pengawal terbaik Om Donald juga berjaga agar bisa menahan pria itu tidak kabur lagi.
"Harusnya aku yang turun tangan. Harusnya aku mencegah Linny menghadapi belut sialan itu!" Ucap Om Donald kesal.
"Om tau seberapa keras Linny. Yang penting Linny dan bayinya selamat. Semoga Sean tidak kenapa-kenapa" Ucap Andrean merasa khawatir.
Dia mendengar Rain berkata sudah meracuni Joe dan Sean. Dan Erik tampak membelot demi mendapatkan obat penawar untuk Joe. Pria bucin itu tidak ingin Joe mati sia-sia.
"Biarkan Linny pulih dan beristirahat. Selebihnya urusan Om. Akan Om pastikan Rain tidak bisa keluar. Kalaupun keluar maka dia akan menjadi tahanan Om"
Tegas Om Donald yang sudah muak dengan Rain. Pria itu tidak bisa di biarkan hidup lebih lama.
Om donald baru mendapat fakta, anak laki-lakinya juga hampir menjadi korban Rain. Bahkan juga keponakannya pernah menjadi sasaran kelompok Rain.
Tentu hal itu membuat Om Donald murka semurka-murkanya.
Mereka semua setuju karena Om Donald yang akan turun tangan menghabisi Rain secara langsung. Tentu Om Donald tidak akan membiarkan Rain hidup nyaman di dalam penjara. Dia akan menyiksa Rain hingga pria itu berharap mati lebih cepat.
.
.
Di dalam kantor polisi. Tampak Joe dan Erik di tanyai oleh polisi apa hubungannya sampai CEO Kim tertembak dan terlibat di markas yang ternyata milik pengedar obat-obatan terlarang itu.
Joe dan Erik kompak menutupi fakta tentang Linny. Mereka mengatakan tidak ada kaitan dengan Linny Cs. Mereka hanya orang biasa yang kebetulan ada di sana dan menjadi salah saasaran tembak. Joe dan Erik mengaku mereka membenci Rain, mereka terlibat perseteruan itu karena Rain hendak membuat masalah untuk mereka berdua.
Tak ada sedikitpun Joe dan Erik menyebut tentang kaitan Sean Linny ataupun Om Donald. Mereka bungkam tentang hal itu.
Keduanya kini menjadi tahanan sementara di dalam kantor polisi.
"Erik"
Joe mengenggam tangan Erik dengan lembut.
---flashback kejadian di markas Rain----
"Tembak mereka Erik! Ingat hanya aku yang bisa menyelamatkan Joe!"
Ucapan Rain membuat Erik makin yakin dengan pilihannya. Erik menembaki bahu kiri Rain.
"Argh!!! Kenapa kau menembakku!!! Kau ingin Joe mati???!!!!"
Teriak Rain marah. Dia tidak menyangka Erik akan menembakinya.
Ucap Erik dengan pasti. Dia kembali menembaki tangan Rain.
Erik ingin menembaki kepala Rain namun sayangnya dia tidak terlatih menembak hingga meleset. Dan saat dia ingin menembak lagi polisi sudah membekuk mereka.
Erik di tangkap saat menodongkan pistol pada Rain. Sedangkan Joe sengaja menyerahkan dirinya untuk menemani Erik.
Linny dan yang lainnya langsung di bawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Sebelum di bawa polisi Erik sempat menatap Sean dan tersenyum tipis. Bibirnya bergerak tanpa suara yang seperti mengatakan "Kalian aman".
------Flashback off-------
"Maaf. Aku sempat tergoda ajakan Rain. Dia berjanji akan menyelamatkan nyawamu. Dia sudah memasukkan racun kedalam minuman mu di hari kita akan bertemu di taman"
Jelas Erik sambil menangis. Joe langsung memeluk Erik dengan erat.
"Dia bilang dia akan memberikan penawar untukmu. Dia akan membawa mu bersama ku dan memaafkan mu jika aku memihak dia. Tapi setelah aku pikirkan lagi dan dia meminta ku memberikan obat aneh itu pada Sean aku sadar. Dia orang yang berbahaya. Dia bisa membunuh kita kapan saja. Dan lagi pula aku juga memiliki penyakit kanker yang bisa saja memburuk. Aku lebih baik mati bersama mu"
Jelas Erik panjang lebar pada Joe. Joe mengerjap mendengar perkataan Erik.
"Memang kapan dia meracuniku?" Tanya Joe.
"Saat aku minta kita berjalan-jalan di taman. Kau datang terlambat sambil membawa jus jeruk. Di jus itu sudah dia taruh obat. Dia memberikan bukti laporan anggotanya yang mengikutimu ke dalam mall dan menukar minumanmu. Saat kau datang aku lihat minuman itu sudah habis. Aku menjadi semakin takut kau mati"
Jelas Erik sambil menangis. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan Joe.
Joe malah tersenyum dan tertawa kecil sambil berkata, "Bodoh. Kalau begitu aku akan hidup dengan sehat"
Ucapan Joe membuat Erik kebingungan. Joe tersenyum dan menghapus air mata Erik perlahan.
-----flashback on-----
Joe tampak berlari kecil. Dia duduk di tempat drop off mobil menunggu mobil jemputannya.
Di saat itu dia memang meletakkan jus jeruknya di meja. Tanpa dia sadari jus itu telah di tukar.
"Kak Joe. Kami ada di luar. Jalanan masuk macet parah. Bisa Kakak keluar kami di dekat tangga turun pejalan kaki" Ucap salah satu pengawal Om Donald yang akrab dengan Joe.
Mereka sudah sangat akrab dan menganggap Joe sebagai saudara. Joe saat itu sudah menjadi kepercayaan Om Donald dan akan menjadi penerus kelompok yang di bangun Om Donald.
"Baiklah. Tunggu disana" Ucap Joe yang bergegas menuruni tangga.
Tanpa sengaja dia menabrak anak muda hingga minuman orang itu terjatuh.
"Astaga maaf" Ucap Joe merasa tidak enak.
"Ahhh bagaimana ini. Minumanku" Anak muda itu merasa sedih minuman yang baru dia beli tumbah setengah lebih.
"Ah maaf. Jika tidak keberatan ini ambil saja minuman saya" Ucap Joe dengan sopan dan dia tidak mau terlibat adu mulut dengan anak muda itu.
Erik sedang menunggunya dan dia harus bergegas agar sang kekasih tidak khawatir menunggunya.
"Ah iya. Baiklah terimakasih" Ucap anak muda itu dengan senang hati.
Dia senang menerima minuman baru itu. Joe langsung bergegas menuju mobil.
"Ayo cepat. Erik sudah menunggu"
Mobil melaju dengan cepat menuju taman. Namun karena sudah sangat haus Joe melipir sebentar membeli segelas jus jeruk yang baru dan meminumnya.
Ya jus tanpa racun itu yang di minum Joe. Namun di mata Erik itu adalah jus berisi racun dan dia sangat kalut.
-------------flashback off--------------
"Jadi tidak ada racun yang aku minum" Ucap Joe.
Meskipun begitu dia sangat senang, Erik ternyata mau bertemu kembali dengan Rain karena demi menyelamatkannya. Bukan karena niat Erik kembali menjadi orang yang buruk bersama Rain.
Erik menangis lega. Dia senang Joe tidak meminum racun itu.
"Jadi kau sudah bisa jalan?" Tanya Joe lagi.
"Iya. Sebenarnya hari itu aku mau mengejutkan mu. Tapi malah bertemu Rain dan aku dalam kondisi bimbang" Jelas Erik lagi.
"Dan kau membiarkan pengawal kita pingsan dan senang hati ikut Rain pergi?" Tanya Joe lagi.
Dia mendapat informasi jika Erik yang berjalan sendiri tanpa paksaan masuk ke sebuah mobil dan pergi dari tempat Joe memintanya menunggu.
Erik hanya mengangguk pelan. Joe tersenyum, dia tidak mempermasalahkan itu. Karena apa yang dilakukan Erik adalah demi keselamatan Joe.
Joe teringat dengan kondisi Sean. Dia ingat Rain mengatakan sudah meracuni Sean.
"Ah ya. Kalau Sean. Kata Joe, dia sudah~"
"Tidak ada racun di tubuh Sean. Aku memberikannya cairan obat perangsang dosis rendah. Dia hanya akan mabuk dan linglung serta kepanasan sebentar. Aku menukar obatnya. Ini obat buatan Rain masih aku simpan di dalam kaus dalam ku"
Ucap Erik jujur. Joe langsung menutup mulut Erik.
"Hei! Kau bawa obat-obatan??" Bisik Joe pelan.
Erik mengangguk dengan polosnya. Sekejap kemudian dia tersadar. Dia membawa obatan terlarang kedalam kantor polisi sama saja dia menyerahkan diri untuk mati.
"Haisss" Joe merasa bingung sedangkan Erik hanya menyengir merasa bodoh dan bersalah.
.
.
.