A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Acara Dan Kecelakaan



Sejak pagi Linny dan Sean tampak sibuk. Begitu pula dengan yang lainnya. Semua berkumpul menuju tempat pemberkatan pernikahan Andrean dengan Angel.


Saat sang pastor mengucapkan :


"Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."


Suasana menjadi penuh hening dan khimat bagi kedua mempelai.


" Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi,  maka saya Andrean Wisnu Lukman, dengan niat yang suci dan ikhlas hati telah memilihmu Angel Putri Zen menjadi istri saya. Saya berjanji untuk selalu setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan juga sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan juga menghormatimu sepanjang hidupku. Saya bersedia menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak  yang akan dipercayakan Tuhan kepada saya dan akan mendidik mereka secara Katolik. Demikian janji saya demi Allah dan Injil suci ini, semoga Tuhan selalu menolong saya. Hingga maut memisahkan."


Kalimat janji pernikahan yang di ucapkan mempelai terdengar penuh kesungguhan di dalamnya. Sangat bermakna tentunya.


Suasana kembali penuh haru saat prosesi sungkem Andrean dan Angel di hadapan kedua orang tua mereka.


"Wah. Yang rencana nikah aku. Yang duluan nikah mendadak si Andrean. Luar biasa"  Ucap Aston mengomentari saat acara telah selesai dan semuanya sedang berkumpul berbincang.


"Lebih luar biasa Aku yang duluan nikah tapi Andrean yang duluan mau jadi Papa"  Timpal Sisilia.


"Sirikan gak berkat tau"  Ucap Doni mengomentari mulut julid Aston.


"Ketimbang yang duluan jadian mesra tapi gak nikah-nikah"  Ucap Danu sambil melirik ke arah Sean dan Linny.


Ya salam. Jika bisa Sean ingin sekali melempar Danu keluar dari tempat itu. Sayangnya sedang di tempat pemberkatan pernikahan Andrean dan Angel. Sehingga mau tidak mau Sean hanya bisa menahan kesalnya untuk memukuli sahabat terlaknat itu.


Tidak kah mereka tau betapa Sean ingin sekali membawa Linny mengucap janji suci di altar seperti yang dilakukan Andrean dan Angel? Sean sangat ingin sejak lama namun Linny masih tak bergeming.


Apa daya, dari pada Linny marah dan menjauh. Sean hanya bisa perlahan dan bersabar untuk Linny.


"Sudah lah. Ini udah kelar kan acara? Kita mau makan bareng dulu atau bubar langsung nih?"  Tanya William menengahi pertengkaran unfaedah itu.


"Wahai pria pria penggibah julid yang juga kesepian. Ayo kita makan dulu barengan. Disini cuman ada kue gak bakal kenyang"  Ucap Sean sambil melirik Doni dan Danu.


"Ya sudahlah. Ayo"  Ucap Doni.


Mereka berjalan bersama hendak menyeberang ke seberang gedung. Tempat parkir kendaraan mereka berada di seberang gedung pemberkatan.


Tanpa Sean dan Linny sadari sebuah mobil melaju kencang tanpa henti meskipun lampu lalu lintas sudah menunjukkan merah.


"Sean!!! Linny!!! Awas!!!"


Sean dan Linny terkejut hingga ada yang menarik keduanya mundur dan terjatuh.


"Argh!!!"  Pekik Sean dan Linny berbarengan.


"Ahh!!! Ssshhhh" Suara seseorang yang sangat di kenali Sean terdengar di sebelahnya.


"Erik???"


Sean dan Linny tampak terkejut melihat Erik. Kening Erik terbentur sedikit ke aspal hingga terluka.


Erik terdiam saat Sean dan Linny menatapnya penuh heran.


"Kau-"


Belum sempat Sean bertanya pada Erik. Semua sudah berkerumun mendekati mereka.


"Loh? Erik?"


Danu terkejut melihat Erik ada di sana.


Mobil yang hendak menabrak mereka kini menabrak halte dan mengakibatkan korban tertabrak.


Suasana kacau hingga tampak polisi datang dan memeriksa keadaan.


"Sean.. Perutku enggak nyaman"  Ucap Linny yang terlihat menahan rasa sakit di perutnya.


"Kau kenapa Linny?"  Tanya Sean khawatir.


Linny hanya menggelengkan kepalanya.


.


.


.