A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Tidak Akan Sadar..



Linny terlihat sibuk mengurus berkas-berkas yang di butuh kan untuk pencatatan pernikahannya dengan Sean nanti.


Sean yang masuk ke dalam ruangan pun tidak di ketahui Linny yang terlalu sibuk di di meja kerjanya.


"Hei. Ayo makan dulu"  Ucap Sean yang membuat Linny terkejut.


Dia tersadar jika waktu sudah menunjukkan waktunya jam makan siang.


Sean membawa Linny menuju sofa dan menyuapinya makanan yang sudah di beli.


Dengan lahap Linny menghabiskan semua makanannya. Sudah menjadi kebiasaan Sean untuk menyuapi Linny. Dia senang melakukan hal itu.


Sedangkan bagi Linny dia tidak keberatan karena Linny tau itu merupakan wujud cinta dari Sean untuknya.


"Sudah kenyang"  Ucap Linny saat makanan itu tersisa beberapa suap lagi.


"Tumben tidak habis"  Ucap Sean heran melihat porsi makan Linny yang lebih sedikit di banding biasanya.


"Aku harus diet. Kita akan segera menikah. Yang ada nanti gaun nikah ku tidak muat"  Ucap Linny .


Sean tertawa mendengar perkataan Linny. Tubuhnya yang begitu langsing tidak mungkin menggemuk dalam hitungan hari. Apalagi Linny rajin berolahraga setiap harinya.


"Tidak apa-apa. Jika gemuk tandanya kau merasa bahagia bersama ku"  Ucap Sean menggoda Linny.


"Ck! Kau ini. Sudahlah. ini banyak berkas yang harus kita laporkan ke pengadilan agama juga ke pihak gereja"  Ucap Linny merasa bingung dengan persiapan berkas pernikahan yang ada.


"Tenang saja. Biar aku bantu. Kau duduk saja"  Ucap Sean yang langsung mengambil alih pekerjaan Linny.


Sean tampak begitu teliti dan sigap mengisi berbagai hal yang harus di tuliskan dan memastikan semua lampiran yang di butuh kan sudah lengkap.


Meskipun sebulan lagi pernikahan mereka tetap saja semua harus di atur dengan baik dan tanpa kesalah. Pernikahan untuk mereka itu sangat sakral dan cukup panjang prosedurnya.


Sejenak Linny menyempatkan diri membaca berita tentang perkembangan kasus Hendra Abdi Wijaya.


..."Saat ini anak dari HAW yaitu RAW masih buron dan dalam pengejaran polisi. Polisi menduga RAW bersembunyi ataupun kemungkinan sudah meninggal akibat luka tembakan di kakinya. Orang yang kabur bersama RAW telah menembak dirinya sendiri untuk bungkam sehingga polisi kehilangan informasi tentang RAW. Ponsel RAW di temukan di dekat pesisir laut namun polisi tidak mampu menemukan RAW. Saat ini polisi masih menyusuri seluruh daerah pesisir. Berdasarkan pelacakan lokasi terakhir ponsel memang berada di titik penemuan ponsel. Selain itu semua aset HAW telah di sita polisi. Di ketahui HAW juga menitipkan sejumlah dana kepada beberapa wanita yang di duga merupakan selingkuhan HAW juga kepada keluarga besar HAW. Rumah beserta property kini di sita dan dalam pengawasan kepolisian" ...


Linny menghela nafas berat membaca isi berita itu. Dia cukup kesal karena beberapa aset almarhum Papa-nya ikut di sita. Tentu Linny tidak terima aset almarhum Frans disita. Karena Linny tau berapa keras usaha almarhum Frans itu bekerja tanpa lelah demi memastikan kehidupan keluarganya akan baik-baik saja meskipun tanpa dia nantinya.


Melihat Linny yang menghela nafas kesal itu membuat Sean menatap heran padanya.


"Ada apa?"  Tanya Sean.


Linny menyerahkan iPad-nya pada Sean agar tunangannya itu bisa membaca isi berita.


Sean membaca isi berita itu dan menerka kerisauan Linny. Antara kesal karena Rendy belum tertangkap atau khawatir dengan nasib ibu kandungnya. Namun jika khawatir pada Ibu kandungnya tentu kemungkinan sangat kecil melihat Linny yang semakin marah karena Sisca Natalie tidak menyadari kesalahannya sama sekali.


"Kau khawatir karena Rendy belum tertangkap?"  Tanya Linny.


"Itu salah satunya. Kinerja polisi buruk. Aku yakin Rendy tidak sebodoh itu kabur dari pesisir dan meninggalkan jejaknya. Pasti dia kabur di tempat lain"  Ucap Linny.


Sean mengangguk paham lalu kembali menatap Linny.


"Terus hal apa lagi yang menjadi beban pikiran mu. Wajah mu begitu masam sejak membaca berita"  Ucap Sean sambil merapikan rambut anak Linny yang berantakan.


"Aset Papa ku ikut di sita. Aku tidak suka itu. Semua gara-gara ulah perempuan tidak tau diri itu"  Ucap Linny kesal.


Sean akhirnya paham, Linny memang sangat menjaga aset milik almarhum Frans John Pratama. Bahkan Linny membesarkan perusahaan dan kekuasaannya agar bisa menarik aset milik almarhum Frans kembali. Terbukti Nama perusahaan Linny sengaja di namai FP - Frans Pratama.


Dia sangat mencintai almarhum Papanya dan selalu ingin mengingat almarhum Papanya dalam segala aspek.


Ucap Sean mengingatkan Linny. Linny terkejut, ingatan Sean begitu bagus. Dia saja lupa dengan hal itu.


"Kau benar" Ucap Linny yang baru ingat hal itu.


"Kau mau menuntut Mama mu? Itu mungkin ada celah. Bisa di beri bukti jika dia menelantarkan kalian dan tidak membiayai kalian. Malah mengalihkan aset itu atas nama suami keduanya. Coba konsultasikan pada kuasa hukum kita. Mungkin ada cara bisa menarik kembali aset itu dari sitaan. Hanya itu berarti kau harus melaporkan Mama mu sendiri sudah melakukan kecurangan"  Ucap Sean menjelaskan.


"Tidak masalah. Yang penting milik Papa bisa di selamatkan"  Ucap Linny tanpa berpikir.


Yang ada di pikirannya memang hanya bagaimana bisa menyelamatkan aset almarhum Frans John Pratama.


"Ya sudah nanti pulang kita ke tempat Gerry"  Ucap Sean menyebut nama kuasa hukum kepercayaan mereka.


Linny hanya mengangguk setuju dan kembali membantu menyelesaikan arsip untuk berkas pernikahan mereka.


Tak lama terdengar suara keributan dan Sisilia masuk sambil membawa Sisca Natalie yang acak-acakan.


"Dia mengamuk di lobi dan terus berteriak mengatakan kau anak durhaka. Terpaksa aku membawanya masuk. Dia juga menyebarkan foto mu di lobi"  Ucap Sisilia terdengar kesal.


Linny menatap Sisca Natalie yang sudah acak-acakan itu.


"Anak biadab! Kau mau melepaskan tanggung jawab mengurus ku?! Jangan harap bisa!!! Lebih baik sekarang kau ke kantor polisi dan jamin dia agar bisa lolos!! Gara kau Rendy hilang!!"  Ucap Sisca Natalie mengebu-gebu.


Linny tersenyum namun senyumannya begitu mengerikan. Linny seperti sosok lain yang tak di kenali orang-orang di ruangan itu.


"Sampai akhir pun kau masih seperti ini ternyata. Masih tidak mau menyadari kesalahan mu. Kau tau aku yang sudah melaporkan bisnis haram suami tercinta mu itu. Bagaimana rasanya hidup dengan kondisi menyedihkan? Menyenangkan bukan?"  Ucap Linny dengan mengejek.


Mata Sisca Natalie membola tidak percaya. Dia terkejut Linny yang sudah menyebabkan semua kekacauan itu.


"Kau--"


Sisca Natalie begitu kesal hingga kehabisan kata-kata.


"Apa perlu aku juga menghancurkan dan menginjak mu ke tanah? Mungkin sekalian aku kirim kau bertemu Papa agar Papa yang mendisiplinkan mantan istri biadabnya ini?"  Ucap Linny yang dengan kasar mengatai Sisca Natalie biadab.


Siapa pun benar-benar terkejut. Linny berada dalam mode singa mafia yang begitu keji kini. Tak ada yang bisa menyalahkan sikap Linny meski terkesan kurang ajar.


Karena Sisca Natalie yang memulai bahkan hingga akhir masih tidak menyadari semua kesalahannya dan terus berusaha mengacau hidup Linny. Jika saja mereka bertemu dan Sisca Natalie meminta maaf karena pernah membuang Linny. Di pastikan Linny tidak akan setega itu pada orang yang sudah melahirkannya.


"Kau!! Lihat saja akan aku hancurkan kehidupan mu juga j@l@ng!!"  Bentak Sisca Natalie lalu pergi dari tempat itu.


Sisilia menggelengkan kepalanya sangat pusing menghadapi Mama Linny yang gila itu. Sean pun cukup terkejut, dalam kondisi seburuk itu saja Sisca Natalie masih mengancam Linny bahkan meminta Linny untuk menjamin Hendra untuk bebas dari penjara.


Pantas Linny mengatai Mamanya gila kekuasaan dan k3l#min. Memang begitu adanya yang terjadi.


"Sean. Panggil Gerry kesini sekarang juga. Tidak usah di tunda lagi. Wanita itu tidak bisa di kasihani"  Ucap Linny terdengar dingin dan mengerikan.


Sisilia sampai menelan salivanya menahan gugup dan takut karena Linny terlihat begitu mengerikan.


Benar kata Om Donald. Linny yang sekarang semakin mengerikan. Dia tidak akan segan-segan menghancurkan bahkan membasahi tangannya dengan darah musuhnya.


Om Donald saja kadang merasa kalah kejam di banding Linny.


.


.


.