
Linny langsung menerjang masuk ke dalam ruang rawat Sean.
"Bangssttt!!!!"
Suster yang baru saja menyuntikkan cairan ke dalam kantung infus milik Sean langsung terjatuh di tendang keras oleh Linny.
Linny mencabut infus yang terpasang pada punggung tangan Sean.
" Apa kau pusing ? Mual ? " Tanya Linny yang sangat cemas. Telat se-menit saja bisa berakibat buruk pada Sean.
Sean hanya menggeleng pelan dan lemah.
" Cepat panggil DOKTER!!!!" Teriak Linny.
Andrean tergesa-gesa mencari dokter jaga yang ada untuk memeriksa Sean. Beruntung Sean tidak kenapa-kenapa karena cairan itu baru di suntikan ke kantung infus dan belum sempat masuk ke tubuh Sean.
Suster itu kini di bawah ancaman Linny dan Om Donald.
"Katakan siapa yang menyuruhmu !" Bentak Linny.
Kesal karena tidak ada jawaban. Linny mengeluarkan pisau ny dan menempelkan pisau itu di leher si suster.
"Akan kupastikan kau tidak bisa melihat matahari besok. Jawab atau kau dan seluruh keluarga mu akan aku binasakan! " Ancam Linny dengan mata tajam.
Suster itu langsung menangis ketakutan.
"Maaf. Aku tidak ada pilihan. Anak ku disandera mereka " Ucap Suster itu.
"Siapa?! "
"Aku tidak tahu namanya tapi dia yang memesan cairan itu. Bungkusan nama pengirim dan penerimanya masih ada di loker ku "
Om Donald langsung menyuruh anggotanya mengambil bungkusan yang di katakan suster itu. Terlihat nama Carlie dan Carlos tertera di sana.
"Sudah Linny. Ini urusan Om. Om juga sudah tau siapa Agus itu. Dia juga salah satu mafia kelas teri di negara ini. Biar Om yang urus saja " Ucap Om Donald mencoba meredakan amarah Linny.
"Ampuni saya, Saya benar-benar tidak punya pilihan" Ucap suster itu berusaha memohon pengampunan.
"Kau akan membusuk di penjara! " Ucap Linny lalu meminta Andrean mengurusi suster itu.
Setelah itu Sean di pindahkan di ruangan khusus dengan penjagaan ketat dari bodyguard juga anggota Om Donald. Semua petugas rumah sakit yang masuk akan di periksa dan wajib di temani dokter untuk mencegah hal serupa terjadi.
Linny tidak ingin kecolongan lagi mengingat Carlie dan Agus belum di temukan Om Donald. Dendam Carlie, Carlos dan Agus menyimpan dendam dengan Sean karena kehilangan Sean sebagai mainan paling bagus milik mereka.
Pernah melihat anak kecil yang menangis meraung-raung dan tantrum akibat mainan kesukaannya diambil bukan?? Begitulah perasaan Carlie, Carlos dan Agus yang tidak terima kehilangan Sean tapi tidak bisa lagi mengganggunya.
Sean memang dilindungi Erik yang ternyata memiliki hubungan dekat dengan pemilik bar madam pelangi yang lebih kuat komunitasnya di banding Agus. Pemilik bar itu juga ternyata salah satu anggota mafia kecil di negeri ini, tentu tidak heran karena dia bisa mendirikan bar yang penuh kemaksiatan dan penjualan obat-obatan terlarang di dalamnya. Agus di ancam oleh Erik dan pemilik bar madam pelangi untuk menjauhi Sean karena Sean sudah milik Erik, bahkan adik juga kekasih Carlos meninggal karena perbuatan gila Erik.
Akhirnya Sean-lah yang menjadi sasaran mereka karena tidak bisa langsung membalas Erik.
Sungguh gila manusia-manusia itu. Hanya memikirkan kesenangan nafsu mereka yang menyeleweng tidak sesuai alur lubang yang seharusnya. Bahkan tega saling menyakiti karena tidak terima di lepaskan. Dunia sudah gila!
.
Sean menatap Linny dengan perasaan senang. Sean berpikir mungkin ini yang di rasakan Erik sebelumnya, harus terluka agar bisa mendapat perhatian dari orang yang sangat dia cintai.
Linny belum mengganti pakaiannya yang penuh bercak darah Carlos itu.
Melihat itu Sean teringat mimpi buruknya itu. Linny yang memegang pisau dan berlumuran darah.
"Kau terluka Linny?" Tanya Sean khawatir.
"Kau yang terluka. Bukan aku!" Jawab Linny dengan ketus.
Sean senang. Linny sudah mulai berekspresi meskipun tampak ketus terhadapnya.
"Maaf. Aku selalu merepotkan mu" Ucap Sean sambil menahan sakit di bekas jahitan luka perutnya.
"Kenapa? Apa sakit sekali? " Tanya Linny khawatir.
Sean mengangguk perlahan. Linny mendekat lalu mengambil kain lembut dan menyeka wajah Sean yang berkeringat karena menahan nyeri bekas operasinya.
"Tidur lah" Ucap Linny dengan melembut.
Dia sangat menyesal sudah mengabaikan Sean hingga Sean harus terluka parah seperti ini.
Jika saja Linny tidak mengabaikannya. Maka Sean tidak akan terluka seperti ini.
" Kau masih marah pada ku? Jujur aku tidak paham kenapa. " Ucap Sean sambil menahan nyeri.
" Kau tidak salah. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak membiarkan mu sendirian. Ah bukan. Seharusnya aku tidak pernah ikut campur urusan mu sejak awal kita bertemu. Mungkin kau masih aman dan tidak perlu bimbang karena pacar gay mu itu " Jelas Linny merasa menyesal.
Sean tersenyum. Akhirnya Linny mau berbicara dengannya.
"Kau...."
Belum sempat Linny berbicara. Sean tampak meringis kesakitan. Tampak bercak darah di bagian luka perutnya mengalir cukup banyak.
Linny segera menekan tombol darurat agar dokter segera datang.
Luka Sean masih basah. Dia harus mengurangi gerakan agar cepat sembuh total.
Setelah memastikan Sean sudah tertidur, Linny pulang ke penthouse terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Berhubung hari juga sudah menunjukkan hampir dini hari. Dia tidak bisa terlalu lama di rumah sakit.
Linny memutuskan untuk kembali lagi ke sana besok pagi membawakan bubur untuk Sean.
.
.
.
Pagi itu Linny bangun lebih cepat memasak bubur juga sup obat ayam kampung untuk membantu pemulihan tubuh Sean.
Linny berjalan dengan penuh senyum menuju ruang rawat Sean. Tampak Bodyguard-nya menjaga dari jauh.
"Apa yang kalian lakukan? Bukannya aku sudah memerintahkan untuk menjaga ketat dari dekat? " Tanya Linny pada bodyguard-nya yang sedang berjaga.
"Maaf Nona Kim. Tadi Tuan Sean minta kita untuk menjauh sedikit karena ada hal penting yang mau dia bicarakan dengan tamunya" Jawab salah satu bodyguard-nya.
"Tamu?"
Linny heran. Siapa yang datang pagi-pagi. Apa keluarga Sean?
Linny hendak membuka pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Langkah nya terhenti melihat Erik ada di dalam bersama Sean.
Linny melihat Erik dan Sean sedang berciuman.
"Sudah ku katakan kau tidak akan bisa melupakan ku Sean"
Kalimat Erik membuat hati Linny sakit mendengarnya.
' ****! Kenapa aku sangat tidak suka manusia itu! Mereka berciuman ' Batin Linny. Lama dirinya berdiam diri di depan pintu itu.
"Erik..."
Terdengar suara Sean yang lirih.
Linny merasa tidak akan sanggup mendengar pembicaraan kedua manusia sejenis yang masih saling menyimpan perasaan itu.
Linny berbalik menjauhi ruang rawat. Bodyguard-nya menatap heran kepada CEO mereka yang tampak menyimpan kesedihan.
William, Danu, Doni dan Aston ternyata datang bersama pagi itu menjenguk Sean. Setelah kejadian mengerikan semalam.
Mereka berempat terkejut melihat Linny menenteng sebuah tas berisi kotak makanan.
"Linny " Sapa William.
"Hai Liam " Jawab Linny lalu tersenyum seperti biasanya seolah tidak ada yang terjadi.
Sorot mata Linny tidak bisa membohongi William. Dia yakin ada yang tidak beres.
"Jenguk Sean?" Tanya William.
"Sudah bangun Sean-nya? " Tanya Doni.
Linny hanya tersenyum lalu menyerahkan tas berisi kotak makanan itu pada William.
"Aku titip. Aku harus ke kantor ada meeting penting. Sampai jumpa ya semuanya " Ucap Linny sambil tersenyum dan melangkah pergi.
William, Danu, Doni dan Aston saling berpandangan heran.
Mereka berjalan mendekati ruang rawat Sean. Bodyguard Linny sudah mengenali William dan membiarkan keempat pria lajang itu langsung masuk ke kamar rawat Sean.
"Erik????"
Serentak Keempat pria lajang itu tampak terkejut.
Sean terkejut teman-temannya masuk saat Erik membuka kancing baju Sean.
.
.