
" Jadi Kau sudah tahu? " Tanya Sean yang menatap tajam pada Aston.
Aston merasa tenggorokannya tercekat dengan pertanyaan Sean. Dia merasa sangat bodoh, seharusnya sejak bertemu tadi dia segera menceritakan hal itu kepada Sean dan yang lainnya.
" Aku baru tahu semalam. Maaf. Tadi aku mau cerita tapi belum ada kesempatan" Ucap Aston berusaha menenangkan Sean.
William menyadari ketegangan antara Sean dan Aston lantas mengajak sahabat-sahabatnya untuk berbicara di tempat lain.
" Guys, kita bicara di tempat lain aja yuk. Kagak enak dilihat orang ramai" Ucap William menyarankan.
Sean berusaha mencoba agar tetap tenang dan mengikuti saran William.
Ke lima pria lajang itu berkumpul di kamar Aston meninggalkan ruangan pesta yang menjadi tegang akibat kejadian tadi.
.
Di dalam kamar Aston tampak ketegangan di antara sahabat-sahabat itu.
" Jelaskan! " Tegas Sean tanpa basa basi.
Aston tampak menarik nafas dalam sebelum memulai cerita. Dia merasa tidak enak kepada Sean.
" Aku memang merasa pernah bertemu Linny tapi enggak ingat. Sampai-sampai aku pikir pernah ONS dengan nya" Ucap Aston jujur.
Mata Sean menatap tajam ke arah Aston merasa tidak senang mendengar perkataan Aston itu.
" Santai bro! Sabar! 'Kan cuman pikiran. Maklum Cewek Aston berjibun di luar sana! " Ucap Doni menenangkan Sean yang tampak marah.
Fix! Sean sudah mencintai Linny bukan?!
" Terus? " Tanya William meminta Aston melanjutkan penjelasannya.
" Semalam aku disuruh mengantar undangan untuk keluarga Sisilia dan Andrean. Enggak sengaja aku lewat ruangan yang terbuka terus dengar pembicaraan mereka. Saat itulah aku baru tahu siapa Linny sebenarnya. Jujur aku juga syok berat!" Jelas Aston dengan jujur.
Tampak amarah Sean mulai mereda. Yang lainnya juga paham jika Aston memang jujur pada mereka.
" Dan maaf aku baru bisa berbicara sekarang, sejak tadi bertemu kalian aku sudah mau ceritakan hal ini, tapi sejak tadi belum ketemu moment yang pas. Dan jujur aku enggak tahu Linny di undang! Apalagi soal nyokap aku yang mau kenalin aku dengan Linny! Sumpah woi!! " Ucap Aston sambil bersumpah. Dia tidak ingin karena hal itu, persahabatan mereka rusak.
" Ya, aku percaya segila-gilanya kau sebagai penjahat wanita, enggak mungkin kau mengambil wanita milik sahabat mu sendiri" Ucap William membela Aston.
Sean masih terdiam. Dirinya benar-benar tidak menyangka Linny adalah CEO di tempatnya bekerja.
Pantas saja saat Sean menawarkan kawin kontrak dan biaya untuk Linny, Linny tampak begitu marah
Sean merutuki kebodohannya. Linny memang berbeda dengan wanita lain. Kenapa dia tidak menyadari perbedaan sikap wanita itu dengan wanita lain yang memang terbebani hutang.
Hanya usaha bar kecil tapi hidupnya terlihat nyaman dan santai seperti tidak ada beban hutang sesuai yang sering di ucapkan Linny.
" Astaga. Sepertinya aku bakal tamat kali ini" Ucap Sean merasa frustrasi.
" Kenapa? " Tanya Danu heran.
" Ah kalau masalah Papa mu itu coba bicara baik-baik dengan Linny. Aku yakin dia mau mengerti kok, tidak mungkin dia memecat mu" Ucap William menyarankan.
Sean menghela nafas berat. Bukan masalah di pecat, dia tidak takut di pecat. Yang dia takutkan Linny akan menjauhinya.
Sean benar-benar sudah bergantung pada Linny. Hanya dengan sebuah pesan penyemangat atau pelukan saja sudah mampu membuat Sean senang sepanjang hari.
" Bukan itu. Aku takut Linny menjauhi ku. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia" Ucap Sean lirih.
Netra ke empat sahabatnya membola. Kejujuran Sean membuat mereka terkejut juga senang. Akhirnya Sean menyadari kodratnya.
" Apa perlu kita bantu ngomong sama Linny? " Tanya Danu menawarkan bantuan.
" Entahlah. Apa dia mau mendengarkan ju? " Ucap Sean lirih.
" Coba saja dulu. Kita jumpai saja sekarang. Aku juga bosan dengan acara ini" Ujar Aston mendukung Sean.
Doni, Danu dan William juga tampak mendukung. Mereka tentu akan senang membantu Sean demi mencapai cintanya pada orang yang tepat.
Apalagi jika wanita itu adalah Linny, ke empat sahabat Sean yakin jika hanya Linny yang mampu menerima kekurangan Sean dan mengubahnya menjadi lebih baik lagi. Wanita seperti Linny sangat jarang ditemukan saat ini.
Sean akhirnya berangkat menuju bar RB bersama ke empat sahabatnya itu. Namun bar tutup, sepertinya Linny menutup bar demi menghadiri acara di rumah Aston.
Mereka berlima naik ke lantai dua menuju kamar apartemen milik Linny.
Sejenak Sean ragu. Linny terbiasa berpakaian minim di dalam apartemen. Dia tidak akan rela membiarkan bagian tubuh Linny di lihat oleh sahabat-sahabatnya.
Baru saja Sean ingin menekan bell, pintu apartemen Linny terbuka. Tampak Sisilia dan Andrean keluar dari apartemen
" Loh. Kau? Aston? " Andrean menatap wajah kelima pria lajang itu bergantian.
" Ya Dre! Kita mau jumpa Linny" Ucap Aston jujur.
" Mau ngapain? Ngehina lagi? " Tanya Sisilia sambil menatap tajam pada Sean.
" Mana mungkin Sil! Kami semua malah sangat kagum dan senang berteman dengan Linny sejak mengenalinya di bar RB" Ucap Aston mencoba membela Sean yang tampak di sudutkan.
Linny mendengar percakapan mereka lalu menegur.
" Sil, Dre. Kalian pulang aja. Biar kan mereka masuk" Ucap Linny.
" Tapi--" Sisilia masih merasa tidak senang dengan keberadaan Sean.
" Sudah aku bilang. Pulang! " Tegas Linny.
Linny tidak bisa di bantah saat ini.
Sisilia dan Andrean langsung pulang. Sedangkan kelima pria lajang itu masuk ke dalam apartemen Linny.
Linny tetap seperti biasa. Memakai celana kain yang pendek dengan tanktop.
Reflek Sean melepas jasnya dan menutupi kaki Linny yang duduk di sofa bed.
" Ada apa? " Tanya Linny dengan santai.
" Ah itu , kami minta maaf" Ucap Aston membuka pembicaraan.
" Untuk? " Tanya Linny lagi.
Ke lima pria itu saling berpandangan satu sama lain.
" Kalian tidak salah. Untuk apa minta maaf? Takut aku pecat? Atau takut aku tarik investasi ku? " Tanya Linny langsung sambil menaikkan satu alisnya.
" Sayangnya aku bukan pebisnis yang seperti itu. Yang salah yang akan di hukum" Ucap Linny dengan santai.
Ke empat sahabat Sean cukup tenang mendengar perkataan Linny. Wanita itu memang berbeda. Dirinya malah sangat santai berbicara dengan mereka seolah tidak ada yang terjadi tadi.
" Mau minum? Aku haus, tidak sempat mencicipi minuman enak di tempat mu Aston" Ucap Linny dengan santai lalu mengambil 6 gelas dan sebotol whiskey.
Sean menatap Linny dengan lekat.
" Linny " Panggil Sean.
Linny hanya menoleh sebentar lalu tidak memperdulikan Sean.
" Maaf " Ucap Sean kemudian.
Linny menatap Sean dengan lekat.
" Sekali lagi kau berkata maaf, jangan pernah menemui ku lagi! " Tegas Linny.
Sean dan ke empat sahabatnya sontak terkejut mendengar perkataan Linny.
Bagaimana ini? Minta maaf salah, tidak minta maaf juga salah bukan???
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-