
Di ruangan CEO tampak Linny sedang menatap ponselnya. Linny tersenyum tipis melihat pesan dari Sean.
Sejenak Linny menatap layar laptop di hadapannya. Terlihat foto Sean mengenakan apporn di Bar RB yang diam-diam di potret oleh Linny.
Sean memang terlalu sempurna tampilannya sebagai seorang pria dewasa. Tentu saja banyak wanita yang bersedia mengejarnya dengan segala cara, contoh nyatanya adalah Nabila dan Prilly.
Bahkan bukan hanya wanita yang bisa tergila-gila dan nekad melakukan hal apapun untuk mendapatkan Sean, Erik pun sama halnya dengan wanita-wanita itu. Begitu pula dengan Agus dan si kembar Carlie-Carlos.
Mengingat Agus serta Carlie membuat Linny merasa resah. Om Donald belum menemukan letak persembunyian dua orang itu. Sepertinya mereka tahu bahwa kini mereka sedang menjadi burononan dari Kepolisian juga Linny. Apalagi dengan adanya Om Donald -mafia terkejam di dunia bawah itu membuat Agus dan Carlie tentunya akan menyembunyikan keberadaan mereka.
"Ck! Sialan manusia-manusia itu. Aku kira cuman aku yang segila itu untuk membalas dendam, ternyata ada yang lebih gila. Apa semua manusia kelainan orientasi seksual itu benar-benar tidak tahu cara halus membalas dendam?"
" Ah tapi bagus juga mereka menggunakan cara kasar, jadi aku bisa sedikit berolahraga" Ucap Linny sambil tersenyum.
Linny menatap tangan kanannya yang sedikit terluka gores saat bertarung dengan Carlos kemarin. Linny mengenggam erat tangannya sendiri.
Pintu ruangan CEO di ketuk dari luar. Linny melihat dari layar CCTV siapa yang datang.
Pintu terbuka saat Linny menekan tombol open door.
"Ada apa?" Tanya Linny langsung.
"Maaf Nona, saya mengantarkan laporan ini. Kata Pak Andrean harus di berikan kepada Nona langsung" Ucap salah satu karyawan admin di perusahaannya itu.
"Ya sudah. Letakkan saja di meja. Silakan lanjutkan pekerjaan mu" Jawab Linny mengusir halus orang itu agar tidak berlama-lama di dalam ruangannya.
"Baik Nona. Saya permisi" Ucap karyawan itu lalu segera keluar dan menutup pintu dari luar.
Linny menatap laporan-laporan keuangan juga data penjualan ter-update di hadapannya itu. Entah mengapa dia merasa tidak bersemangat seharian.
Linny meraih ponselnya dan menelpon Andrean.
"Hallo" Suara Andrean terdengar di ujung telepon itu.
"Apa aku masih punya banyak jadwal setelah ini?" Tanya Linny tanpa basa basi.
"Belum ada. Hanya nanti menunggu waktunya launching produk kerja sama dengan Mister Lee. Selebihnya sudah aku wakilkan kau" Jawab Andrean yang tahu Linny malas harus menghadiri acara makan bersama koleganya yang ujung-ujungnya hanya ingin mendekati Linny secara personal atau menjodohkan Linny dengan keluarga mereka.
"Kalau begitu aku bisa meninggalkan kantor bukan?" Tanya Linny lagi.
"Kau mau ke rumah sakit?" Andrean tampaknya mengerti keinginan Linny.
"Ya. Suruh Sisilia berjaga di kantor saja. Jika ada yang penting suruh bawa berkasnya ke rumah sakit. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku di sana" Ucap Linny.
"Ya sudah. Tidak masalah. Aku juga sedang perjalanan kembali ke kantor. Jika kau mau pergi sekarang juga tidak masalah" Jawab Andrean.
Tanpa menunggu lagi Linny langsung mematikan panggilan itu dan meraih tas laptopnya. Linny memasukkan semua berkas yang akan dia baca juga laptopnya ke dalam tas. Segera Linny keluar dari ruangan menuju Lift. Bodyguard-nya langsung bersiap melihat Linny keluar dari ruangan.
"Kita ke rumah sakit" Ucap Linny kepada Bodyguard-nya.
"Baik Nona" Jawab bodyguard itu.
Terlihat sang bodyguard menghubungi sopir pribadi Nonanya agar segera menuju Loby.
Linny masuk ke dalam lift bersama bodyguard-nya. Keluar dari Lift terlihat sang sopir sudah bersiap menunggu di Loby.
Tak butuh waktu lama mobil melaju dan tiba di rumah sakit. Linny keluar dari mobil di ikuti oleh bodyguard-nya. Kedua tas Linny di bawakan oleh bodyguard setianya itu sambil mengikuti langkah Linny.
Tiba di dekat ruang rawat Sean terlihat 6 orang berjaga di depan ruangan Sean. Itu adalah para bodyguard Linny juga anggota Om Donald yang terlatih membunuh dan melumpuhkan musuh dalam hitungan detik.
Ke-enam orang itu langsung dengan sigap menyambut Linny dan menghormat padanya.
"Kalian sudah beristirahat?" Tanya Linny melihat mereka.
"Kami bisa beristirahat nanti Nona" Jawab salah satu bodyguard itu.
"Pergilah membersihkan diri dan tidur sebentar. Aku rasa jauh lebih baik kalian bergantian untuk beristirahat" Ucap Linny.
"Baik Nona" Bodyguard-nya tampak berembuk dengan yang lain untuk berbagi waktu berjaga.
Linny menatap Bodyguard pribadinya.
"Alfa, suruh orang menyediakan kursi panjang di depan ruangan Sean agar mereka bisa duduk saat berjaga. Pesankan kursi yang bagus dan nyaman" Ucap Linny memerintah.
"Baik Nona" Jawab Alfa -bodyguard pribadi Linny.
Ke-enam bodyguard dan pengawal itu tampak bahagia, Nona Muda mereka sepertinya sangat baik dan pengertian \ meskipun cenderung dingin dan kejam jika sudah marah.
Linny masuk ke dalam ruang rawat Sean. Tampak pria itu sedang tertidur.
Linny memberi kode kepada Alfa untuk tidak berisik. Alfa tampak paham lalu meletakkan tas Linny di sofa dalam ruangan itu lalu segera keluar dari ruangan itu menutup pintu dari luar.
Linny mendekati ranjang Sean. Terlihat pria itu tertidur dengan keringat membasahi keningnya.
Hal yang aneh menurut Linny karena suhu di dalam ruangan itu sangat sejuk, tidak mungkin Sean akan kepanasan.
Merasa ada yang janggal, Linny segera memeriksa tubuh Sean.
Tampak baju bagian perutnya merembeskan darah segar.
"Sh**it! Hei Sean! Kau kenapa?!" Pekik Linny terkejut.
Linny menyentuh kening Sean, tampaknya Sean sedikit demam.
Tombol darurat langsung di tekan oleh Linny sehingga dokter tampak tergesa-gesa masuk ke dalam ruang rawat Sean.
"Ada apa?" Tanya dokter.
"Sepertinya lukanya masih mengeluarkan darah dan dia demam" Jelas Linny.
"Saya periksa dulu" Dokter itu dengan cekatan memeriksa suhu tubuh juga luka Sean.
Dibersihkannya luka itu dengan perlahan serta memberi paracetamol untuk Sean.
"Sudah saya bersihkan. Ini wajar masih akan merembes sedikit darah karena tadi luka pasien sedikit terbuka karena terjatuh. Pasien demam karena efek sentakan dan luka yang sedikit terbuka tadi. Sudah saya bersihkan lagi lukanya dan sudah saya berikan penurun demam serta antibiotik. Selebihnya pastikan pasien jangan bergerak berlebihan juga bagian lukanya harus tetap kering agar cepat membaik" Jelas dokter itu.
Linny terkejut mendengar Sean terjatuh dan lukanya terbuka kembali.
Dokter itu pamit keluar di ikuti Linny. Linny menatap seluruh bodyguard dan pengawal Om Donald.
"Apa yang terjadi tadi?" Tanya Linny dengan aura mematikan.
"Saya kurang tahu apa yang terjadi di dalam Nona. Hanya saat saya masuk karena mendengar keributan di dalam dan suara Tuan Sean, saya melihat Tuan Sean sudah terjatuh di lantai dan Tunangan Nona Sisilia meminta saya mengusir tamu Tuan Sean juga tidak boleh membiarkan orang itu masuk kesini lagi" Jelas sang Bodyguard secara rinci agar tidak mendapat amukan dari Linny.
Linny menghela nafas panjang. Dia tampak kesal mendengar hal itu.
"Ya sudah. Lanjutkan tugas kalian" Ucap Linny lalu masuk kembali menemui Sean.
Sean sudah terbangun saat dokter tadi datang.
"Kau datang Linny?" Tanya Sean berusaha tersenyum meskipun luka perutnya masih nyeri akibat terjatuh tadi.
"Hmmmm" Jawab Linny hanya berdeham pelan.
"Maaf" Ucap Sean lirih.
"Untuk?" Linny menatap Sean dengan penuh tanda tanya.
Sean menarik nafas dalam sebelum berbicara.
"Jika tadi kau melihat aku dan Erik berciuman, itu tidak benar. Erik memang datang dan minta berbicara dengan ku. Jadi aku biarkan dia masuk. Dia yang mendadak menciumku saat aku masih tiduran begini. Aku juga menolaknya namun tidak bisa begitu banyak bergerak karena luka ku"
"Oke. Terus? Kenapa Luka mu bisa terbuka lagi?"
Linny menatap tajam Sean merasa pria itu sangat ceroboh. Sean lalu menceritakan kejadian tadi pagi bagaimana Erik memaksa untuk kembali dengannya hingga dia terjatuh karena tarikan Erik, juga Aston yang memukuli Erik. Bagaimana semua sahabat-sahabat Sean yang mengamuk dan mengusir Erik.
"Maaf, tapi itu tidak benar seperti yang kau lihat. Aku sungguh-sungguh. Aku berani bersumpah" Ucap Sean lalu berusaha bangun dari tempat tidur.
Baru saja Sean mencoba bergerak, dirinya sudah meringis kesakitan dan kembali merebahkan diri.
"Hei! Jangan banyak bergerak! Kau lupa apa kata dokter tadi?" Omel Linny kesal melihat Sean.
"Maaf. Aku hanya ingin meminta maaf dengan baik padamu" Ucap Sean.
Sean mencoba bangun untuk mendekati Linny karena Linny begitu menjaga jarak darinya. Sean sejak tadi ingin sekali meraih tangan Linny.
Melihat hal itu Linny langsung berjalan berada tepat di hadapan Sean. Linny langsung mengecup bibir Sean perlahan.
"Linny...." Sean tampak agak terkejut dengan tindakan refleks Linny.
"Aku hanya ingin membersihkan bekas pasangan gay mu. Aku tidak suka bibir orang yang di cium pasangan gay-nya" Jelas Linny.
Sean tersenyum , tangan kanannya yang terpasang infus di gerakkannya untuk menyentuh wajah Linny.
"Ck! Jangan banyak bergerak. Semua tubuh mu sedang ada luka! Bandel banget sih!" Omel Linny lagi.
Sean tertawa pelan. Dia menyukai Linny yang cerewet padanya.
"Aku gerah. Badan ku rasanya lengket sekali. Apa aku tidak boleh mandi?" Tanya Sean yang memang merasa tidak nyaman sekujur tubuhnya. Sean merupakan orang yang sangat pembersih.
"Tidak boleh. Luka mu harus dijaga agar tetap kering. Biar aku lap saja badan mu. Oke?" Tanya Linny.
Sean hanya mengangguk setuju. Linny mencari baskom dan wash lap di lemari dekat pintu.
Dengan perlahan Linny membuka satu persatu kancing baju pasien Sean. Linny mengusap perlahan tubuh Sean tanpa menyentuh bagian yang terluka. Begitu pula dengan celana Sean turut di bukanya dan dia lap seluruh bagian hingga inti tubuh Sean.
Diperlakukan begitu, si Pluto tanpa malu malah turn on. Si Pluto itu seperti tidak mengerti situasi itu langsung mengeras di hadapan Linny.
Linny langsung menatap tajam ke arah Sean.
"Kau beneran sakit atau pura-pura sakit?" Tanya Linny ketus.
"Eh.. I-itu...." Sean gugup.
Sial sekali si Pluto benar-benar tidak bisa di ajak kerja sama agar mau tertidur. Semakin lama si Pluto malah makin mengeras sempurna.
.
.
.