
Sean duduk bersama Aston dan yang lainnya sambil menikmati wine. Pembahasan mereka kini seputar acara resepsi Andrean.
"Mungkin kita harus menaikan pengamanan? Soalnya aku ragu jika masalah ini tidak berkaitan dengan si mahluk psikopat itu. Siapa itu Erik ya kan sama gerombolannya?" Ucap Sisilia,
Danu dan Doni yang tau kondisi sebenarnya tentang Erik tidak berani ikut berkomentar. Mereka tidak tega membicarakan orang yang kondisinya sendiri sangat buruk.
Terlebih orang itu sudah mengambil risiko demi menyelamatkan Sean dan orang sekitarnya dengan berkhianat.
"Tidak perlu terlalu berlebihan. Nanti tamu juga jadi tidak nyaman. Apalagi ini acaranya di tengah kota. Jangan sampai jadi sorotan dan pembicaraan, nanti di luar sana Linny bisa ikut terimbas" Ucap Andrean menyuarakan pendapatnya.
"Andrean benar. Kalau harus membuat penjagaan khusus maka kita harus lakukan dengan smoth. Jangan sampai menarik perhatian. Apalagi segala sesuatu tentang Linny selalu menjadi sorotan publik" Ucap Sean yang paham arah pemikiran Andrean.
"Baiklah. Kita sortir lagi saja orang yang bisa di undang dan buat barcode khusus seperti acara ku di kapal kemarin. Dan undangnya mendadak saja 1 hari sebelum sehingga orang tidak ada kesempatan membuat rencana buruk nantinya" Ucap Sisilia.
Andrean mengangguk setuju sedangkan Angel hanya ikut saja. Dia tau apa pun yang di inginkan Andrean dan yang lainnya sudah di pertimbangkan sematang mungkin demi kebaikan bersama.
Terlebih Sean dan Linny baru melalui hal yang benar-benar menyakitkan perasaan siapa pun.
Sean yang tersadar Linny tidak ada di dekatnya pun melihat sekeliling. Dia melihat Linny sedang bicara berdua dengan William dan menjauh dari kumpulan orang-orang.
'Kenapa mereka bicara sejauh itu?' Batin Sean heran.
Tidak biasanya Sean melihat Linny berbicara dengan seseorang dalam posisi sejauh itu dari Sean. Seolah tak ada yang boleh tau apa yang mereka bicarakan.
Sean melangkah mendekati Linny. Sayup-sayup Sean mendengar kalimat yang Linny ucapkan sebelum Sean tepat berdiri di belakang Linny.
"Semua orang mempunyai kesempatan kedua asal mereka mau mengakui kesalahan mereka, juga memperbaiki sikap tanpa menambah kesalahan baru"
"Kesalahan? Kesalahan apa?" Tanya Sean yang sudah berdiri di belakang Linny.
William dan Linny tampak tersikap namun keduanya kembali tampak santai seolah tak ada yang terjadi.
Linny langsung mengecup bibir Sean saat melihatnya.
"Tidak. Hanya berbicara soal keluarga Linny. Kalau mereka mau meminta maaf maka Linny tak mungkin menyerang mereka" Ucap William berkilah.
"Loh? Kau kenal keluarga Linny, Liam?" Tanya Sean terkejut.
"Hanya sekedar. Kami kan sama-sama dari keluarga pebisnis. Abdi Wijaya merupakan salah satu keluarga pebisnis lama sama seperti keluarga ku" Jelas William dengan tenang.
Sean tampak percaya dengan penjelasan itu. Dia tahu betul memang William berasal dari keluarga pebisnis.
"Ah. Aku mau minum" Ucap Linny berusaha menyudahi pembicaraan itu sebelum Sean bertanya lebih banyak lagi.
"Jangan, kau tidak boleh sembarang makan dan minum dulu" Ucap Sean tidak mengizinkan Linny untuk minum minuman beralkohol.
"Hanya sedikit saja" Ucap Linny mulai ngambek.
"Tunggu dua hari lagi ya. Kau kan masih harus minum obat hingga dua hari ke depan" Ucap Sean berusaha membujuk.
Linny tampak diam dan memasang muka kesal.
"Sini, aku suapi daging wagyu saja ya sama aku buatkan teh. Ayo" Ucap Sean sambil menuntun Linny.
Linny pun menurut. Linny melirik William dan William mengangguk tanda paham.
Mereka kembali berkumpul dengan yang lain hingga waktu cukup larut dan semuanya bubar kembali ke rumah masing-masing.
Sean pun mengajak Linny untuk beristirahat mengingat Linny baru saja pemulihan pasca operasi.
"Ada apa?" Tanya Linny saat Sean menatapnya terus menerus.
"Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari ku kan?" Tanya Sean perlahan.
"Hah?" Linny berpura-pura tidak mengerti maksud Sean.
"Kau tidak sedang merencanakan hal berbahaya kan?" Tanya Sean penuh khawatir.
"Merencanakan apa Sean? Aku saja baru kembali dari rumah sakit" Ucap Linny berkilah.
"Kau bisa melakukan apa pun di mana pun. Jadi tidak ada hal yang tak mungkin tidak bisa kau lakukan meskipun kau terbaring di rumah sakit sekali pun" Ucap Sean yang memang tahu seniat apa Linny jika dia sudah mengincar sesuatu.
"Aku tidak ada waktu untuk itu. Yang aku pikirkan saat ini hanya kau yang terus memikirkan anak kita itu" Ucap Linny terus berkilah.
"Kau juga menutupi masalah aku yang kau masukan sebagai ahli waris" Ucap Sean lirih.
Linny mendekat dan memeluk Sean.
Pelukan yang begitu erat dan hangat.
"Kau tahu kenapa? Karena aku tau kau akan menolak. Jadi aku tidak berencana memberitahu mu" Ucap Linny jujur.
Sean tidak akan mau hal itu karena dia tidak ingin di cap sebagai pria mokondo alias tidak bermodal alias mau menggerogoti Linny, sang CEO Kim yang menjadi incaran banyak pebisnis untuk di jadikan istri.
Sekarang saja masih banyak suara sumbang yang berkata Sean memanfaatkan CEO Kim dan menggunakan hal-hal mistis untuk mendapatkan seorang CEO Kim.
Padahal Sean di anggap tidak memiliki kelebihan apa pun. Hanya dari keluarga bisa juga karyawan di perusahaan FP Corporation.
"Aku merasa sangat buruk. Menjagamu dan anak kita saja tidak bisa aku lakukan dengan baik. Tapi kau malah menjadikan ku bagian dari hidupmu hingga semuanya kau bagi dengan ku. Aku tak pantas menerima itu Linny" Ucap Sean lirih.
Rasa bersalahnya masih begitu tinggi dan membuatnya selalu di liputi duka.
"Sudah jangan bahas lagi. Besok temani aku mengunjungi makam anak-anak ku. Setelahnya kita harus fiting baju untuk pesta Andrean - Angel" Ucap Linny.
Sean pun mengangguk mengikuti kemauan Linny. Keduanya tidur berpelukan.
.
.
Di apartemen Rain~
Tampak Rain sedang memacu tubuhnya di atas tubuh Erik.
"Pelan-pelan Rain. Tubuh ku masih lelah" Ucap Erik sambil menahan rasa sakit di tubuh bagian bawah tubuhnya itu.
"Aku masih ingin. Sudah beberapa hari kita tidak bermain-main sayang" Ucap Rain yang tetap tanpa ampun menghunjam lubang belakang Erik.
"Kita masih bisa lanjutkan besok" Ucap Erik terengah-engah.
"Tidak bisa. Besok pagi-pagi aku harus membawa Zin ke Amerika" Ucap Rain.
"Kenapa?" Tanya Erik berusaha mencari informasi tentang kegiatan Rain.
Rain yang telah mencapai pelepasan kesekian kalinya pun menghentikan gerakan tubuhnya tepat saat Erik bertanya. Keduanya mengerang bersama, Rain menikmati sisa-sisa pelepasannya. Sedangkan Erik masih terus menahan rasa sakitnya.
"Ada dokter yang di kenal hebat di sana. Mereka pasti bisa menyembuhkan Zin. Kau mau ikut dengan ku?" Tanya Rain yang masih kelelahan.
"Tidak. Toko ku tidak bisa di tinggal" Ucap Erik beralasan.
"Hanya toko kecil jangan di urus. Lebih baik kau ikut aku. Kita bisa mencari mangsa baru di sana" Ucap Rain sambil terkekeh.
"Mangsa?" Tanya Erik heran.
"Ya. Mungkin ada anak remaja di sana yang bisa menjadi koleksi Bar ku. Biasa pria barat sangat kuat dan di minati bukan? Persis perawakan Sean yang kuat dan kekar itu. Sayang sekali dia malah memilih mau lepas. Dia pikir semudah itu bisa lepas dari kita" Ucap Rain tanpa curiga jika Erik berbeda.
"Kau berencana apa lagi?" Tanya Erik.
"Belum ada. Rencana sebelumnya gagal. Tapi tenang lah tak ada yang curiga itu perbuatan kita. Aku akan membawa Zin dulu ke Amerika, setelahnya baru aku pikirkan apa yang lebih baik" Ucap Rain yang memang sangat fokus demi kesembuhan sang kekasih.
"Baiklah" Ucap Erik singkat.
"Ah ya. Pembangunan Bar akan di mulai. Jangan lupa jaga markas ya sayang. Banyak hal penting di sana. Jangan sampai ada yang mengusik. Bunuh saja jika ada tikus yang mengganggu" Ucap Rain sambil mengelus rambut Erik.
"Iya. Aku tau. Sudah berapa lama kita bersama. Untuk apa mengingatkan ku hal itu lagi?" Tanya Erik.
"Haha. Aku hanya takut kau lupa. Ah sayang sekali si tikus bangkai itu tidak seperti mu. Jika dia tidak melawan dan berkhianat pasti dia akan hidup nyaman. Dan kita bisa melakukannya bertiga. Pasti seru. Dia cukup lihai di ranjang" Ucap Rain sambil tertawa.
Erik menahan rasa kesalnya dan hanya tersenyum memeluk Rain. Setidaknya hanya untuk malam ini. Dan besok Rain tidak akan ada di negara ini. Erik bisa bernafas sedikit lega.
.
.