A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Akhirnya...



"Kalian ngapain di sini?" Tanya Sean yang melihat Linny dan Santo ada di halaman belakang.


Sejak tadi Sean mencari Linny karena jam besuk tahanan sudah akan tiba. Mereka tidak bisa menemui Sisca Natalie di luar ketentuan jam besuk tahanan.


"Hanya melihat beberapa tanaman di belakang sana"  Ucap Santo dengan ramah pada Sean.


Sean mengangguk percaya pada perkataan Santo.


Mereka bertiga segera masuk ke dalam rumah Santo dan setelah berbincang sedikit Sean - Linny juga Nicolas - Ayu segera pamit untuk menemui Sisca Natalie di Rutan sebelum jam besuk berakhir.


Sepanjang perjalanan Linny tampak terdiam dan banyak memikirkan sesuatu.


30 menit kemudian mereka tiba di Rutan tempat Sisca Natalie di tahan. Setelah mendapat ijin dari petugas Rutan, Linny di persilahkan menemui Sisca Natalie.


Nicolas memilih untuk menunggu di luar, dia tidak ingin ikut masuk ke ruangan khusus kunjungan tahanan.


Rasa kebenciannya pada sang Ibu Kandung juga begitu besar. Dia takut akan berkata kasar jika melihat Sisca Natalie. Terlebih dia tau Sisca Natalie belum juga menyesali perbuatannya pada Linny.


Linny duduk dengan santai di ruang jenguk tahanan sambil menikmati kopi yang di berikan Alfa untuknya.


Tampak dua orang petugas wanita membawa Sisca Natalie masuk ke ruangan itu dengan tangan di borgol.


Sisca Natalie duduk tepat di hadapan Linny. Linny menatap kedua petugas itu.


"Bisa lepaskan borgolnya?"  Tanya Linny dengan ekspresi senyuman ramah pada petugas itu.


"Baiklah. Kami akan berjaga di sini"  Ucap kedua petugas itu.


"Tidak usah. Saya ingin bicara empat mata"  Ucap Linny yang tak ingin di ganggu itu.


"Baik kalau begitu. Maaf Nona waktu Anda hanya 15 menit karena jam besuk sudah mau selesai"  Ucap salah satu petugas.


"Terima kasih"  Ucap Linny.


Kedua petugas itu meninggalkan Linny dan Sisca Natalie di ruangan itu. Sisca Natalie menatap Linny dengan penuh kebencian.


"Aku datang hanya akan bilang Aku dan Sean akan menikah. Dan tenang saja. Tidak akan ada namamu tersebut sebagai orang tua ku"  Ucap Linny dengan santai.


"Kau-"


Sisca Natalie begitu kesal dan marah mendengar ucapan Linny.


"Jangan coba menyerangku di sini. Karena itu hanya akan memperberat hukuman mu"  Ucap Linny lalu tersenyum mengejek pada Sisca Natalie.


"Kau tau. Aku sempat mengurungkan niat untuk menghancurkan kalian. Aku sudah lama tau tentang apa yang suami tercinta mu itu lakukan, aku berniat tutup sebelah mata dan tidak ingin ikut campur. Namun Kau dan Suamimu malah menantangku dan masih tidak menyadari kesalahan kalian. Jadi nikmati saja neraka yang kau ciptakan sendiri. Teruslah ingat kalau kau yang memang tidak membutuhkan ku selama ini"


Linny lalu berdiri dan meninggalkan Sisca Natalie yang menjerit histeris karena tidak mampu melakukan apa pun untuk membalas Linny.


Sebelum keluar dari ruangan itu Linny meneteskan air matanya dan segera menghapusnya.


Linny keluar dari ruangan itu dengan senyuman. Dia tidak ingin menunjukkan rasa sakitnya yang masih ada. Jauh di sudut hatinya dia tidak tega melihat Sisca Natalie sehancur itu namun di saat bersamaan rasa kebencian serta sakit hati itu kian membakar dirinya.


"Sudah selesai?" Tanya Sean saat melihat Linny keluar dari ruangan.


Nicolas langsung menghampiri Linny. Dia yakin sang Kakak tercinta pasti menahan segala rasa sakit itu meskipun dia tersenyum.


Di peluknya Linny dengan hangat. Linny menepuk pelan punggung Nicolas seolah berkata semua berakhir dan aku baik-baik saja.


Sean segera membawa mereka kembali ke penthouse. Kegiatan hari itu benar-benar menyita waktu dan tenaga mereka semua.


Lusa adalah hari pernikahan Sean dan Linny jadi mereka harus menyiapkan tenaga lebih agar bisa lebih waspada selama acara pernikahan nanti.


.


.


H-1 pernikahan Sean dan Linny membuat semua pihak semakin sibuk. Terutama Sean dan Linny yang harus melakukan fitting baju terakhir untuk esok juga serangkaian perawatan yang sudah Sisilia aturkan.


Meskipun Linny tidak suka dengan perawatan itu namun Sisilia tidak mau menyerah. Dia terus memaksa Sean dan Linny mengikuti semua yang sudah dia aturkan.


"Nah diam dan lakukan saja apa yang sudah aku aturkan. Oh ya tiket bulan madu kalian dan penginapan semua sudah aku aturkan. Akomodasi juga. Jadi kalian harus menikmati hari besar kalian besok ya"  Ucap Sisilia.


Karena Sisilia tau jika sampai ada yang menghubungi Linny langsung. Maka si wanita workaholic itu pasti akan masuk kantor dan mengurusi masalah dengan rekan bisnis mereka.


Ya mana ada calon pengantin yang besok akan menikah namun hari ini masih sibuk dengan urusan kantor dan meetingnya bukan?


Dan Linny hanya bisa mengikuti keinginan Sisilia. Sahabatnya itu benar-benar melarangnya melakukan apapun sementara itu.


"Kau gugup kah?"  Tanya Sean di sela-sela keduanya menikmati perawatan dari terapis yang memiliki tugas masing-masing itu.


"Tidak juga. Kau sendiri?"  Tanya Linny sambil menatap Sean yang ada di sebelahnya.


"Tidak sabar dan terharu"  Ucap Sean dengan yakin.


"Terharu?"  Tanya Linny heran.


"Hmmm. Terharu bisa memiliki mu seutuhnya besok"  Ucap Sean tersenyum manis.


Keduanya tertawa kecil. Mengingat acara besok yang pasti akan ramai dengan para tamu juga sorotan publik.


Bohong jika Linny tidak gugup. Dia gugup namun bukan gugup karena acara pernikahan besok. Lebih tepatnya dia cemas akan seperti apa kehidupannya nanti jika kelak keturunannya dengan Sean tau seperti apa Linny.


Meskipun tidak masuk dalam kelompok mafia Om Donald, namun Linny sudah sekejam itu. Jika berurusan dengan dunia bawah tanah itu. Dia memang bekerja sendiri dan tidak mau melibatkan Om Donald kecuali dalam hal-hal tertentu.


Jika orang-orang tau. Bahkan lebih celakanya jika keturunannya tau jika Linny sekejam itu, entah apa yang akan terjadi. Belum lagi skandal Linny yang sudah sering bermain api denagn suami orang dulunya.


Sean yang melihat ekspresi Linny berubah penuh pikiran itu langsung menggenggam erat tangan Linny.


"Semua akan baik-baik saja. Believe me"  Ucap Sean menenangkan pikiran Linny.


Linny hanya menghela nafas dan memejamkan mata. Dia berfokus pada setiap perawatan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Dia berusaha tidak memikirkan hal yang tidak perlu lagi. Meskipun sulit. Dia mencoba fokus untuk pernikahan besok.


.


.


Linny dalam balutan gaun putih yang indah. aksen bunga rose dan kupu-kupu tampak menghiasi tile panjangnya.


"Kau cantik sekali"  Ucap Sisilia sambil memeluk Linny.


Calon Mama itu sangat bahagia melihat Linny yang akan menikah. Jauh lebih bahagia di banding dirinya sendiri akan menikah.


Sisilia menangis bahagia melihat Linny yang mengenakan gaun pengantin seindah itu.


"Hei jangan nangis. Aku yang menikah malah kau yang menangis sih?"  Tanya Linny heran.


"Aku bahagia. Akhirnya kau mau mencabut sumpah mu sendiri dan menemukan kebahagiaan mu. Sejak dulu kau sudah banyak menderita dan terluka. Aku harap Sean bisa memberikan kebahagian untuk mu. Kebahagiaan yang dulu sangat kau inginkan"  Ucap Sisilia dengan tulus.


Linny tersenyum dan menghapus air mata Sisilia. Sahabatnya itu selalu mengerti akan dirinya. Sejak kecil keduanya memang sedekat itu.


"Jangan menangis. Tidak baik untuk kesehatan bayi mu nanti"  Ucap Linny mengingatkan Sisilia.


Bagaimanapun Linny pernah merasakan hamil meski tak sempat menyapa kedua anaknya itu.


"Iya. Ayo. Pemberkatan akan di mulai"  Ucap Sisilia.


"Ayo Linny. Om akan mengantarkan mu ke altar mewakili Almarhum Papa mu"  Ucap Om Wisnu yang sudah menunggu di depan pintu ruang tunggu mempelai wanita.


"Makasih Om"  Ucap Linny yang mengandengan lengan Om Wisnu.


Mereka memasuki ruang altar pemberkatan pernikahan. Langkah Linny perlahan menuju Sean yang sudah menununggunya di altar.


Senyuman manis Sean tampak merekah melihat Linny begitu cantik berbalut gaun pengantin yang Indah. Linny berjalan semakin mendekat pada Sean.


.


.