A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Gara-Gara Dia...



Sean yang menarik Linny kembali ke penthouse masih tampak emosi. Linny mencoba berbicara dengan tenang pada pria itu.


"Sean. Dia butuh pertolongan"


Ucap Linny berusaha selembut mungkin membujuk Sean.


"Kau lupa apa yang di lakukan dia? Dia hampir membunuh mu Linny. Dia itu ular berbahaya. Aku tidak mau kau berurusan dengannya lagi"


"Iya tapi kan sudah berlalu dan dia dalam kondisi kritis"


"Aku tidak peduli!"


"Sean. Dia bahkan tidak pernah mengganggu kita lagi. Dia sudah menyelamatkan nyawa kita saat hampir di tabrak. Kau tau itu semua suruhan Rain dan dia menghabiskan waktunya memantau demi menolong kita"


"Aku tidak peduli! Sudah aku bilang aku tidak peduli! Dia melakukan itu hanya untuk mencari simpati mu!"


Sean tampak begitu marah. Dia sama sekali tidak mau peduli atas kebaikan apa yang sudah dilakukan Erik untuknya dan Linny.


Linny masih berusaha mengontrol emosinya saat berbicara. Sean memang sangat pendendam, persis seperti apa yang Erik katakan.


"Sean. Kau mau sampai kapan mendendam pada orang yang tidak salah. Dia mungkin pernah salah tapi dia sudah berubah. Dia bahkan memohon padaku untuk menerima lamaran mu!"


Ucap Linny tegas.


Sean menatap Linny. Dia tampak tidak peduli dengan kebaikan Erik yang sudah di sebutkan Linny.


"Dia itu hanya ******! Dia itu sampah! Dia hanya benalu yang mencoba menggerogoti ku lagi! Mengingatnya saja aku jijik!"


Umpat Sean kesal. Dia masih sangat memendam amarah dan kekesalan pada Erik. Sejak Erik menusuk Linny sejak itu pula dia membenci Erik.


"SEAN!!"


Linny kehabisan kesabarannya. Dia sangat tidak suka dengan sikap dan perkataan Sean tentang Erik.


"Kapan kau akan berubah? Kapan kau bisa lebih dewasa menghadapi sesuatu? Sudah aku bilang Erik sudah berubah! Kau tau apa perjuangannya demi melepaskan mu dari Rain???!!!!!"


Tanya Linny penuh amarah. Sean sejak tadi terus menolak memahami dan mendengarkan tentang Erik.


"Dia sedang terkena kanker rektum. Dia juga baru berhasil sembuh dari hepatitis B! Di saat dia sakit yang dia pikirkan itu kau! Dia yang meminta William membujuk mu untuk medical meskipun dia tau kau selalu bersih dan menggunakan pengaman!"


Ucapan Linny membuat Sean menatapnya tidak percaya.


"Dia juga menahan rasa sakitnya tanpa pengobatan demi kembali ke samping Rain! Dia melakukan itu untuk bisa mendapat informasi apa yang akan Rain lakukan lagi padamu! Dia sudah meloloskan orang-orang ku yang mencoba menyusup ke tempat Rain! Dia menghancurkan semua data tentang mu dan orang di sekeliling mu! Karena dia tau Rain akan menyerang orang di sekeliling mu lagi!"


"Dan yang menyebarkan serta mencelakakan ayahmu itu RAIN! Bukan Erik! Dia tidak punya niat untuk membunuh siapa pun!"


Ucap Linny penuh emosi pada Sean. Dia ingin sekali memukul kepala Sean agar pria itu bisa lebih berpikir jernih dan membedakan mana musuh mana kawan. Mana yang tulus mana yang busuk.


"Tapi dia menusuk mu Linny! Kau jangan percaya dengan ****** kotor itu! Bagaimana pun di waktu lalu dia tetap ****** yang mau menyakiti mu"


Sean masih tetap tidak mau mempercayai kebaikan Erik.


"Dia memang menusuk ku karena refleks dan tidak terima kau mencampakkannya begitu saja! Dia sangat mencintai mu hingga terobsesi memiliki suami sebaik dirimu! Kau lupa bagaimana kau memperlakukannya dengan baik saat kau masih membutuhkannya???"


Tanya Linny dengan kesal. Dia merasa Sean kini seperti orang yang lupa akan kebaikan orang lain hanya karena sebuah kejahatan yang pernah terjadi.


Meskipun Linny juga kejam dan bahkan lebih kejam dari Sean. Tapi dia tetap memiliki hati dan pikiran untuk mempertimbangkan baik dan buruk.


"Sudahlah Linny. Aku tidak akan mengizinkan mu membantu ****** itu! Jika dia di gerogoti penyakit dan mati di tabrak karena Rain pun itu urusan dia. Mahluk ****** yang hanya mengandalkan tubuhnya di pakai siapa pun itu tidak perlu di bela! Dia menjijikkan! ****** dan pel@cur rendahan! Bagus jika dia mati karena penyakit!"


Umpat Sean yang seperti lupa kisah kasihnya yang mesra dengan Erik dulu.


"Sean!! Cukup!!!"


Linny tampak semakin kesal mendengar ucapan Sean.


Sean tampak semakin kesal saat Linny membela Erik.


Linny tertawa lirih mendengar ucapan kejam Sean. dia tidak menyangka Sean memiliki pemikiran sesempit itu.


"Kini kau menunjukkan kalau kau memang keturunan Mahaprana!"


Ucapan Linny membuat Sean terkejut mendengarnya.


"Dia memang ******. Tapi dia juga ****** yang pernah kau cintai bukan? Dulu kau juga memuja tubuhnya bukan?"


"******? Di pakai orang? Kotor? Lantas aku apa? Kau lupa kalau aku juga ****** yang suka berpetualang dengan laki-laki bahkan suami orang?"


Ucapan Linny terdengar begitu dingin dan menusuk, membuat Sean terkejut. Wajah Linny berubah sangat mengerikan. Tatapannya seolah hendak mencabik-cabik Sean.


"Kau berbeda Linny. Kau~"


"AKU TIDAK BERBEDA! AKU JUGA MENOLAK UNTUK HIDUP BERKOMITMEN DENGANMU! DAN KAU LUPA ITU"


Ucapan Linny begitu keras dan tegas membuat Sean tersentak.


"Kau persis Papa mu itu. Merendahkan kehidupan dan masa lalu orang lain seolah kalian sudah jauh lebih baik dari pada mereka! Padahal kau juga dulu gay! Apa pernah aku dan keluarga serta sahabatku mengolok-mgolok masa lalu mu?"


Sean terdiam mendengar perkataan Linny. Dia sudah salah mengungkit kehidupan Erik


"Kau benar-benar menjijikkan Sean. Aku tidak menyangka isi otak mu sama seperti Mahaprana"


"Apa kau pikir kau sudah lebih baik dari pada Erik? Apa kau tidak punya dosa dan masa lalu? Erik yang kau katakan ****** itu bahkan berlutut memohon padaku untuk melindungi mu! Dia siap mati di tangan Rain kapan saja asal kau bisa lepas dari Rain!"


"Dia mencintai mu sebegitu dalam! Kau tau sepak terjang Rain? Dia penjual dan penjaja pria maupun wanita untuk keuntungannya dan kau itu sudah dia targetkan! Karena Erik lah dia tidak bisa menyentuh mu! Erik tidak membiarkan siapa pun menyentuh mu karena kau kekasihnya! Kau paham?!"


Sean masih terdiam mendengar kemarahan Linny. Kalimat demi kalimat Linny seolah putusan hakim yang terus berdengung di telinga dan masuk ke dalam pikiran Sean.


"Jika bukan karena Erik! kau bukan hanya tidak bisa lepas dari komunitas! Kau sudah menjadi ****** pria yang di jual Rain! Dan rain jauh lebih berbahaya daripada Agus!"


Kalimat itu membuat Sean sedikit tersentak. Dia masih belum mau percaya dengan Erik. Memang sekuat itu dendam Sean pada Erik yang pernah mencoba melukainya dan Linny.


"Terserah apa mau mu! Tapi kau tidak bisa mengatur apa yang akan aku lakukan pada tubuhku!"


Ucap Linny yang langsung menyambar kunci mobil. Alfa bergegas mengikuti Linny.


"Nona biar saya yang mengemudi"


Ucap Alfa yang takut Linny mengemudi dengan emosi tinggi.


"Diam!"


Linny tampak tidak mau di ganggu. Alfa hanya diam dan mengikuti Nonanya.


Mobil Linny melaju cepat menuju rumah sakit. Linny tetap akan mendonorkan darahnya untuk Erik.


Sedangkan Sean terduduk di ruang keluarga penthouse sambil mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar bingung. Harus kah dia memaafkan dan membantu Erik? Namun kenyataannya dia masih sangat membenci pria muda itu.


Tapi saat dia teguh membenci Erik, malah Linny sangat marah dan mengamuk pada Sean. Dari ucapan Linny tampak wanita itu bukan hanya membela Erik tapi ingin menyampaikan kenyataan pada Sean.


Kenyataan yang sangat sulit Sean terima karena di pikirannya Erik sangat terobsesi pada dia. Dan Erik akan selalu mencoba mendapatkannya kembali.


"Astaga. Karena Erik lagi aku bertengkar dengan Linny" Gumam Sean.


.


.


.