
NOTE : PERINGATAN!!! CERITA INI MENGANDUNG UNSUR AKTIVITAS DEWASA!!!
DIHARAPKAN BIJAK DALAM MEMBACA DAN TIDAK MENIRU ADEGAN DALAM CERITA INI!!!
KHUSUS 18+. MOHON MEMPERHATIKAN USIA LAYAK MEMBACA CERITA INI.
"Kau ini benar-benar pintar menggodaku " Ucap Sean sambil menyentuh perlahan leher jenjang Linny.
" Kau yang ini. Baru di bilang begitu aja udah on tuh si Pluto" Ucap Linny sambil menyentil Pluto yang sudah mulai menegang.
Sean menarik Linny duduk di atas pangkuan dan menghadapnya.
Keduanya saling bertukar saliva hingga kehabisan nafas.
Perlahan Sean membuka pakaian atas Linny dan mencium tubuh indah Linny perlahan.
Ditinggalkan nya bekas cinta mereka sebagai jejak.
" Hei. Jangan tinggalin jejak Sean" Ucap Linny protes.
Sean hanya tersenyum dan terus melanjutkan aktivitas itu. Fantasi gila di pikiran Sean mulai bekerja.
' Sepertinya Aku kebanyakan lihat video vpn gratis. Kenapa jadi liar begini sih ' Batin Sean yang juga malu dirinya semakin liar dan mudah terpancing jika bersama Linny.
Sean menarik Linny untuk bangkit dan mendekati kaca jendela besar di belakang meja Linny.
" Ngapain? " Tanya Linny heran.
" Aku ingin coba melakukan itu di sini. Sambil melihat pemandangan di luar" Ucap Sean setengah berbisik.
" Kau ini. Memang cocok gelar Om-Om untuk mu" Ucap Linny sambil tersenyum.
Linny melakukan apa yang di minta Sean. Hanya bermain-main di ruangan kantor tidak menjadi masalah untuk nya.
Lagi pula ruangan kantor miliknya tidak ada CCTV, selain itu semua kaca di ruangan itu tidak bisa mengintip dari luar.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sama-sama polos.
Dirinya memanjakan Venus kesayangannya untuk memberi sentuhan dan godaan yang lebih bagi wanita cantik itu.
Sean tau Linny hampir mencapai pelepasannya. Sengaja Sean menghentikan kegiatannya itu.
Mata Linny menatap tajam Sean karena dirinya merasa terganggu.
" Kenapa berhenti?? " Tanya Linny kesal karena tidak bisa mencapai pelepasannya.
Sean hanya tersenyum dan langsung mengendong Linny.
Perlahan Pluto bertemu dengan Venus dan bercengkrama bersama.
Paduan suara cinta antara Sean dan Linny terdengar begitu sensual dan membuat Sean semakin bersemangat.
" I Love you Linny. " Ucap Sean sambil mengecup perlahan bibir Linny.
Sean terus menggerakkan tubuhnya mendesak tubuh Linny dengan posisi berdiri.
Dirinya paham Linny sangat menyukai posisi itu karena akan terasa nikmat bagi wanita jika berada dalam posisi seperti itu.
Tampak Linny seperti terbang ke langit ketujuh. Nafas Linny tersengal-senggal. Sean tersenyum puas, Venus berhasil di kalahkan Pluto di babak pertama.
" Aku masih ingin " Ucap Sean sambil menurunkan Linny dari gendongannya.
Linny berbalik membelakangi Sean yang membuat kembali Pluto dan Venus saling menyatukan diri dan memanjakan satu sama lain.
Pergumulan itu berlangsung hingga hampir sejam. Akhirnya Sean mendapat pelepasannya setelah Linny tiga kali mencapai langit ketujuh itu.
Linny tampak sangat lelah, Sean memang memiliki stamina yang gila dalam urusan ranjang.
Keduanya masuk ke dalam kamar mandi di dalam ruangan kantor untuk membersihkan diri dan kembali berpakaian rapi.
Sean segera memanaskan makan siang mereka sebentar di dalam microwave yang tersedia di ruangan itu.
Setelahnya dia menyuapi Linny dengan telaten.
Linny terkadang memang bisa bersikap manja kepada Sean. Padahal selama ini dia tidak pernah seperti itu.
Entah apa yang membuatnya nyaman bersama Sean, hanya perasaan nyaman itu selalu di tepis Linny dan beranggapan dirinya nyaman karena Sean satu-satunya orang yang mampu memuaskan nafsu gilanya.
Selesai makan siang, Sean kembali ke ruangan-nya. Tampak beberapa anggota memandangi Sean penuh tanda tanya.
Ingin bertanya namun takut di anggap melanggar aturan kantor dan di pecat. Terpaksa para anggotanya hanya saling bergosip ria di aplikasi chat.
B : 'Iya beda banget dari biasanya'
C : 'Jangan-jangan Pak Sean itu suami dari CEO kita??'
E : 'CEO belum menikah. Mungkin pacarnya kali'
K : 'Eh bisa aja udah nikah tapi di sembunyikan. Sekarang kan lagi ngetrend gitu biar pada penasaran.
L : 'Duh meleleh hati adek Bang lihat senyuman nya itu. Jarang banget loh'
A : 'Tapi hebat juga Pak Sean bisa dapatin cewek sekelas CEO kita. Belajar ilmu dari mana dia ya?'
C : 'Dari goa hantu kali'
D : 'RIbut banget sih kalian ini. Pengen kena surat teguran gegara melanggar aturan perusahaan?'
K : 'Ah kagak asik banget lu ini. Kita kan cuman ngobrol'
L : 'Iya, jangan jadi kibus entar lu'
A : 'Eh btw kenapa lama banget ya Pak Sean di ruangan CEO?'
B : 'Ciyeee penasaran nih yeee. Cemburu ya???'
A : 'Apaan sih?'
L : 'Cemburu bilang aja. Kan emang lu suka sama Pak Sean kan?'
E : 'Ada yang patah hati nih'
A : 'Ya kali gue saingan sama boss besar. Kalah telak dong gue. Mana CEO kita uda kaya cakep pula. Perfecto banget. Banyak kan pria dari perusahaan lain yang coba deketin CEO kita'
C : 'Iya sih. Kalau di ibaratkan lu sama CEO tuh beda jauh. CEO kita ibarat bulan dan matahari yang bersinar, nah lu cuman lampu teplok'
E : 'Anjrrrrr lampu teplok. Hahahaha'
A : 'Sialan lu!! Gini-gini gue juga banyak yang di taksir'
L : 'Eh udah-udah, tuh Pak Sean uda mendekat ke tempat kita guys. Jangan sampe ketahuan kita gossip via digital nih!'
Sean memperhatikan beberapa anggota sales-nya sibuk memainkan ponsel. Feeling-nya Sean menebak mereka sedang bergosip ria mengenai hubungan Sean dan Linny.
Namun Sean tidak ingin ambil pusing, pekerjaan yang harus di kerjakan cukup banyak. Lebih baik dia mengurus tugasnya di kantor dari pada memikirkan perkataan dari karyawan.
Biar Linny saja yang mengurus karyawan-karyawan yang suka bergosip itu.
Sean meminta team sales-nya untuk membuat beberapa contoh iklan untuk promosi produk baru dan harus segera di berikan kepadanya sebelum pulang.
Wajah Sean yang kembali tegas dan dingin membuat beberapa karyawan membenarkan, Sean kekasih CEO mereka dan hanya akan tersenyum apabila berkaitan dengan CEO.
Sambil menunggu hasil pekerjaan team sales-nya, Sean kembali mengutak-atik ponsel mencari sesuatu.
Sean ingin memberikan hadiah untuk Linny, dirinya mencari berbagai jenis kado yang kira-kira cocok.
Saat men-scroll beberapa tautan terkait kado untuk wanita cantik, muncul iklan produk pakaian minim berupa li*ng*rie.
Sean menelan saliva nya membayangkan Linny memakai pakaian dinas itu.
"Sial, otak ku sudah rusak sepertinya" Ucap Sean pada diri sendiri.
"Tapi Linny pasti cantik sekali berpakaian begitu di dalam kamar" Ucap Sean lagi.
Sean menggelengkan kepalanya mengusir pikiran-pikiran anehnya itu agar tidak berkembang lebih jauh lagi.
Segala sesuatu berkaitan dengan Linny selalu membuatnya panas dingin.
Linny yang berpakaian lengkap dan tertutup saja bisa menggoda dia hingga dirinya bernafsu, apalagi Linny dengan pakaian tipis itu. Sudah pasti Sean akan menerkamnya dan mengurungnya seharian di dalam kamar.
Sean tersenyum sendiri mengingat kegilaannya dengan Linny.
Bisa-bisanya mereka bermain di ruang kerja CEO, seluruh benda di ruangan itu sudah menjadi saksi bisu keganasannya dan Linny.
Beruntung ruangan Linny tanpa CCTV juga tertutup rapat tanpa bisa ada yang mendengarkan alunan lagu cinta mereka tadi. Jika tidak mungkin keesokan hari sudah ada berita baru untuk di gosipkan perusahaan itu.
.
.
.