
Linny sudah selesai mandi dan hanya mengenakan bathrobe menuju dapur tempat Sean sedang menyusun rapi sarapan mereka.
Aroma sabun dan shampoo Linny yang harum membuat Sean meliriknya.
"Sudah selesai mandi?" Tanya Sean dengan senyumannya.
"Hmmm" Jawab Linny dengan deheman singkat.
"Rambut mu masih belum kering benar" Ucap Sean lalu mengeringkan rambut Linny dengan handuk yang di bawanya.
"Nanti saja. Makan dulu aku lapar" Ucap Linny memegang tangan Sean yang hendak mengeringkan rambutnya.
"Baiklah" Ucap Sean lalu tersenyum.
Tak sengaja Linny melihat lengan Sean yang terluka akibat cengkeraman kuat Linny semalam.
"Tangan mu kenapa?" Tanya Linny yang belum menyadari luka Sean akibat perbuatannya.
"Tidak apa-apa" Jawab Sean sambil tersenyum.
Linny menatap tajam pada Sean tanda dia tidak suka jawaban Sean.
"Ini luka saat semalam kau ketakutan" Jawab Sean dengan lembut.
Linny terdiam, meskipun hanya luka karena kuku-nya namun bisa dipastikan itu cukup sakit dan pedih.
Linny beranjak mengambil kotak P3K lalu sambil duduk di atas pangkuan Sean, Linny perlahan membersihkan dan mengobati luka itu.
Hal itu tentunya membuat Sean tersenyum senang. Bukan hanya Sean yang senang, si Pluto juga ikut senang hingga mengeras tanpa Sean sadari.
"Kau benar-benar mesum" Ucap Linny tanpa ekspresi.
"Hah? Ah.. Maaf" Ucap Sean malu.
Dasar Pluto, hanya memangku Venus tercintanya saja sudah langsung on tanpa aba-aba.
"Kau ini. Ayo sarapan. Aku ada meeting pagi" Ucap Linny menyudahi kegiatannya mengobati lengan Sean.
Sean hanya tersenyum. Sabar yah Pluto. Venus tercinta mu sedang fokus dalam pekerjaannya.
Mereka menikmati makanan yang di buat oleh Sean. Selanjutnya Linny dan Sean menuju kantor bersama. Tampak semua orang memandang iri akan kedekatan Sean dan Linny.
Terlebih meskipun Linny yang murah senyum saat disapa tetap saja Linny akan tampak judes jika tidak berbicara. Semua orang penasaran bagaimana seorang Sean mampu menaklukkan kerasnya CEO mereka yang sudah terkenal dimana-mana itu.
Bahkan anak seorang pejabat besar di kota itu saja di tolak mentah-mentah oleh Linny. Sedangkan Sean yang diketahui hanya orang biasa dan sederhana malah bisa memiliki Linny dan sangat dekat dengan Linny.
"Kau mau makan siang apa nanti Linny?" Tanya Sean saat membantu Linny menyelesaikan beberapa berkas di ruangan Linny itu.
"Pizza" Jawab Linny singkat.
"Okey" Sean tidak akan bertanya lebih banyak lagi karena dia sudah hafal menu pizza kesukaan Linny.
"Kau akan ke kantor polisi nanti?" Tanya Linny memastikan.
"Iya, aku harus menjadi saksi. Kau tenang saja. Tidak akan ada kaitan apa pun pada mu. Setelah makan nanti aku akan berangkat bersama Jun" Ucap Sean sambil tersenyum.
"Baiklah, terserah kau saja" Ucap Linny sambil tetap fokus memeriksa semua laporan yang ada.
Jam makan siang pun tiba, mereka menikmati makan pizza bersama. Sean membelikan dua loyang pizza untuk Jun dan Alfa serta menyuruh keduanya menikmati makanan itu di ruang kerja Sean.
"Kau sudah yakin tidak perlu ke dokter?" Tanya Sean yang masih mencemaskan Linny.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja" Jawab Linny dengan santai.
"Baiklah. Ah, coba yang ini. Ini lebih enak" Ucap Sean sambil menyuapi sepotong pizza untuk Linny.
Linny melahapnya dengan santai. Sean menyukai cara Linny makan yang sangat lahap itu.
Berbeda dengan kebanyakan wanita yang tidak berani banyak makan dan terus berdiet ria. Linny malah sangat menyukai makanan.
Terlebih makanan pedas padahal dia memiliki riwayat GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), yaitu gangguan pencernaan yang ditandai dengan reflux (naiknya asam lambung ke kerongkongan) berulang dalam jangka panjang, jika tidak di tangani dengan cepat dapat menyebabkan sakit pada ulu hati bahkan kematian jika terlalu parah.
"Aku harus mengecek gudang stok barang" Ucap Linny.
"Tidak usah. Kau urus saja masalah kemarin. Biar aku dan Sisilia saja yang mengecek dan sidak dadakan" Ucap Linny dengan santai.
Dia memang bosan terus berkutat dengan laporan dan berkas di mejanya.
"Baiklah. Aku akan segera kembali nanti" Ucap Sean.
Linny hanya diam tidak menanggapi Sean yang berpamitan berangkat ke kantor polisi bersama Jun.
Di dalam ruangannya Linny tampak berpikir. Tak lama Linny memanggil Alfa untuk masuk ke ruangannya.
"Ada apa Nona?" Tanya Alfa dengan sikap hormatnya.
"Sediakan mobil, satu jam lagi aku dan Sisilia akan sidak di gudang stok barang" Ucap Linny.
"Baik Nona" Jawab Alfa sambil menghormat.
"Satu lagi. Kumpulkan pasukan yang kuat, Weekend ini sepertinya akan terjadi pertempuran besar antara aku dengan manusia bernama Erik itu. Dan aku yakin dia di bantu oleh Rain" Ucap Linny pada Alfa.
"Nona ingin bagaimana? Apa perlu kami menyediakan senjata api?" Tanya Alfa yang tahu masalah yang sedang di hadapi Nona CEO-nya itu.
"Tidak perlu. Sediakan yang biasa saja untuk berjaga-jaga" Ucap Linny dengan santai.
"Saya akan menyiapkan 50 pasukan berjaga-jaga Nona. Apa boleh saya mengabari Tuan Donald?" Tanya Alfa.
"Jangan. Aku ingin bersenang-senang. Jika Om Donald tau pasti dia tidak akan membiarkanku melakukan apa pun" Ucap Linny.
"Baik Nona" Jawab Alfa dengan sigap mengatur semua yang disuruh oleh Nona CEO-nya.
Linny kembali mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
.
Sedangkan Sean baru selesai dari kantor polisi seusai memberi keterangan atas kejadian kemarin. Dia segera kembali ke kantor bersama Jun mengingat masih banyak pekerjaan yang menunggunya di kantor.
Pekerjaan? Oh no, hanya modus. Lebih tepatnya dia sudah merindukan Linny.
Sepanjang perjalanan Sean hanya fokus pada ponselnya sedangkan Jun yang mengemudi. Sean lebih senang di temani Jun saja daripada meminta seorang sopir untuk ikut bersamanya.
Mata Sean tak sengaja menatap ke arah seorang anak laki-laki yang tampaknya berusia belasan tahun. Terlihat seorang dewasa bertato dan berpakaian urak-urakan menarik tangan anak itu dengan kasar.
Mobil Sean berhenti di lampu merah dekat dengan anak laki-laki itu.
Sean mendengar suara anak laki-laki itu berbicara dengan seorang pria dewasa
"Sudah Om, tolong berhenti. Aku enggak kuat lagi" Ucap anak laki-laki itu tampak kesulitan berjalan.
"Diam kau! Jangan melawan! Selama ini kau sudah makan dari uangku! Sialan!" Bentak pria dewasa itu.
Sean menutup matanya dan memalingkan wajahnya dari pemandangan itu. Dia merasa tidak nyaman, hal itu tentu mengingatkannya pertama kali di sentuh oleh Agus dengan paksa dan kasar.
"Tuan baik-baik saja?" Tanya Jun melihat wajah Sean yang tidak nyaman.
"Tidak apa-apa. Apa masih lama tiba di kantor?" Tanya Sean mencoba mengabaikan apa yang dia lihat dan dengar tadi.
"Mungkin 15 menit lagi Tuan jika tidak macet di bundaran luar" Jawab Jun menjelaskan.
"Oke" Jawab Sean lalu memainkan ponselnya kembali.
' Apa yang akan terjadi jika aku berjumpa lagi dengan Erik ' Batin Sean.
"Jun. Apa kau punya kenalan yang bisa berjaga dengan ketat?" Tanya Sean serius.
"Ada apa Tuan?" Tanya Jun heran dengan pertanyaan Sean.
"Aku harus berjaga-jaga. Kau tau bukan kalau aku dan Linny akan pergi ke Bar Madam pelangi menemui Erik. Erik mungkin tidak berbahaya, tapi orang di belakangnya itu adalah Rain. Dia sangat licik" Ucap Sean mengungkapkan ke khawatiranya pada Jun.
"Jika begitu saya akan mengumpulkan teman-teman kepercayaan saya Tuan. Saya akan pastikan Tuan dan Nona akan baik-baik saja" Ucap Jun dengan yakin.
Sean hanya mengangguk mempercayai Jun, loyalitas Jun dan Alfa sudah tidak bisa di ragukan lagi selama ini. Mereka juga sangat cepat tanggap dan waspada menjaga Tuan dan Nona-nya itu.
.