A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Lepaskan Sean Jika Tidak Bisa…



"Sean tidak menjadi Gay karena keinginannya. Dia menjadi Gay karena kau Mahaprana!"


"Aku sudah bersusah payah menarik dia keluar dari kehidupan tidak sehat itu dan aku tidak akan biarkan siapapun menghancurkan Sean lagi"


"Berani menyakiti Sean sama saja meminta kematian dariku!"


Ucapan Linny membuat Keluarga Sean hanya dapat diam. Linny begitu tegas membela Sean.


"Kau seorang CEO kenapa kau mau dengan putra ku yang rendah dan menjijikkan itu?"  Tanya Mahaprana.


"Kalau kau mengatakan putra mu sendiri orang rendah dan menjijikkan, lantas kau apa?"  Tanya Linny menatap tajam pada Mahaprana.


Mahaprana terkejut belum pernah ada yang mengatakan hal seperti itu pada dirinya selama ini.


"Jika sebagai orang tua yang berbagi darah dan daging dengan anaknya sendiri bisa mengatakan sang anak serendah itu, berarti kau sebagai orang tua juga jauh lebih rendah. Hanya orang menjijikkan yang memiliki keturunan menjijikkan bukan?"  Ucap Linny menusuk.


Hal itu membuat Mahaprana dan sang istri malu mendengarnya.


"Anjing melahirkan anak anjing. Babi melahirkan anak babi. Bukankah begitu? Jika Sean menjadi rendah dan menjijikkan itu artinya kalian lah yang menjijikkan" Ucap Linny yang semakin kesal.


Eny menatap sedih pada Sean. Selama ini begitu sakit hati Sean dan tidak ada yang membelanya. Kini seorang wanita kaya seperti Linny membela Sean dan bahkan tidak mempermasalahkan Sean seorang Gay.


"Perlu kalian ketahui, Sean menjadi Gay karena kalian. Jika saat itu kalian merangkulnya dengan baik dan memberinya kehangatan. Dia tidak akan bertemu dengan orang yang salah yang sudah menjebak dan menjualnya pada kaum pecinta terong lemas itu"  Ucap Linny.


Semua orang terkejut mendengar hal itu dan menatap Sean. Sean membuang muka tidak mau melihat pandangan keluarganya. Tanpa dia sadari air matanya terus turun hingga dia menggenggam erat Linny.


Ingatan buruk saat dia di jadikan budak oleh Agus kembali terlintas di kepala Sean.


Semua orang melihat Sean yang bergetar dan menggenggam erat lengan Linny. Terlihat Sean sangat takut.


Linny langsung menarik Sean dan membawa kepalanya bersandar di bahu Linny.


"Menangislah jika ingin. Ada aku di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi"  Ucap Linny perlahan mengelus rambut Sean.


Hal itu sengaja Linny lakukan agar keluarga Sean melihat bagaimana menderitanya Sean selama ini tanpa sandaran.


"Dia terjebak dalam lubang hitam itu bertahun-tahun dan kalian hanya terus menekan dan menyalahkannya. Lubang yang berisi orang-orang yang terus memberinya sandaran yang nyaman. Jadi apa itu salah Sean?"


"Kalian sebagai keluarga. Orang yang sudah berbagi darah dengannya. Tapi kalian juga yang merusak masa depan dan kehidupannya"


"Apa kau tidak takut dengan mereka Alicia? Harus menikah dengan orang yang berasal dari keluarga se-toxic mereka? Yang hanya memikirkan nama baik sendiri tanpa memikirkan kemanusiaan?"


"Memikirkan harta dan kekuasaan jauh di atas segalanya dan sekarang apa yang kalian dapatkan? Begitu saja kau masih selalu pamer di luar sana Mahaprana. Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan?"


Linny menatap tajam pada Mahaprana. Linny tau selama ini Mahaprana masih selalu sibuk dengan komunitas mobil antiknya dan juga bangga mengatakan Sean memiliki kekasih seorang CEO besar.


"Kau dengan besar kepala mengatakan pada orang kalau Sean punya calon istri seorang CEO. Tapi kenapa sekarang kau malah menjatuhkan Sean lagi? Kau terlalu munafik dan menjijikkan. Austin memang hebat dan tepat memecat mu"  Ucap Linny dengan dingin.


Mahaprana hanya bisa bungkam tanpa berani membantah perkataan Linny yang memang benar adanya itu.


"Jangan pernah kalian menyentuh dan mengganggu Sean lagi. Sean milikku. Apa pun yang dia lakukan harus atas seizinku. Dan dia tidak butuh keluarga seperti kalian. Mulai sekarang cobalah hidup tanpa bantuan dana bulanan dari Sean. Aku ingin melihat kalian akan menjadi apa nantinya"


Ucap Linny yang membuat Mahaprana membola tidak percaya. Bagaimana bisa Linny mengatur Sean untuk tidak menafkahi orang tuanya sendiri.


"Kau... Sudah sewajibnya seorang anak menafkahi orang tuanya!"  Ucap Mahaprana dengan keras.


"Itu berlaku jika orang tuanya bijak dan tidak toxic seperti kalian" Ucap Andrean yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat Mahaprana.


Tampak Sisilia juga William yang ikut datang ke tempat itu.


Sean terkejut melihat kehadiran Andrean dan Sisilia juga William.


"Apa perlu aku buat surat pernyataan putus hubungan kalian saja Sean? Aku rasa tidak ada gunanya kau berbaik hati memikirkan mereka. Mereka masih terlalu senang mendapat banyak sokongan bulanan dari mu yang entah di gunakan ke mana hingga membayar rumah sakit saja tidak sanggup"


Andrean mengejek Mahaprana yang tampak sudah sangat malu merasa di rendahkan. Padahal selama ini dia selalu di puji di luar sana sebagai orang yang hebat dan menjadi tangan kanan pengusaha besar.


Sean menarik nafas dalam lalu menatap kedua orang tuanya.


"Kalian memang orang yang sudah melahirkan dan memberiku susu untuk hidup. Tapi sejak SD aku harus belajar bertahan hidup menjadi yang terbaik seperti yang kalian inginkan. Yang selalu aku dapat hanya umpatan dan caci-maki jika bodoh. Jika benar pun tidak pernah dipuji tetap saja aku di marahi dan selalu di bilang itu keharusan. Aku memang salah karena sudah melenceng tapi aku juga bersusah payah kembali ke hal yang seharusnya. Mungkin yang terbaik memang jangan ada hubungan di antara kita lagi"


Ucap Sean terdengar lirih dan frustrasi. William terus merangkul Sean agar dia kuat.


"Kalian dengar sendiri? Silakan katakan pada semua orang kalau aku yang membuat putra kalian meninggalkan kalian. Kita lihat apa respons orang-orang"  Ucap Linny menantang Mahaprana.


Tentu orang-orang akan berpikir jika ada sesuatu yang salah dari keluarga Mahaprana. Apalagi Linny terkenal sebagai CEO yang tidak sembarangan.


"Coba saja lakukan apa pun. Tapi jika itu untuk menyakiti dan menjatuhkan nama baik Sean. Maka akan aku pastikan kalian mati seperti Agus yang sudah membuat Sean menjadi budaknya dulu"  Ucap Linny terdengar mengerikan.


Keluarga Sean terkejut mendengar perkataan Linny yang tetap membela Sean dan terus menyudutkan keluarga kandung Sean.


"Kau? Membunuh?"  Mahaprana tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan.


"Aku bisa membunuh dan menghancurkan siapa pun yang berani menyakiti Sean-ku. Lebih baik kalian diam dan jauhi Sean jika kalian tidak bisa menerima Sean yang kalian katakan monster menjijikkan. Sean akan menjadi bagian dari keluarga kecilku!"  Tegas Linny lalu mengajak Sean dan teman-temannya pergi dari sana.


Keluarga Sean tampak diam dan tidak bisa berkata apapun.


Linny dan Sean meninggalkan ruang rawat Mahaprana tanpa menoleh sekalipun pada keluarga toxic itu.


"Dre. Urus biaya Mahaprana untuk perawatan di rumah sakit. Ingat hanya perawatan selama di sini. Selebihnya abaikan. Stop fasilitas yang masih bisa dia nikmati setelah di pensiunkan. Katakan pada Om Austin ini perintah khusus dariku"  Ucap Linny terdengar emosi.


Andrean tampak paham dan mengikuti perkataan Linny. Habis sudah kehidupan Mahaprana yang selalu ingin tampak berkuasa dan di segani.


Selama ini Linny masih membiarkan Mahaprana menerima fasilitas meskipun di pensiunkan. Dan pastinya Sean akan menghentikan uang bulanan juga untuk keluarganya itu.


"Ini hanya sementara untuk memberi mereka pelajaran. Kau tidak masalah bukan?"  Tanya Linny pada Sean.


"Tidak. Aku akan ikuti apa pun itu. Sesuai janjiku. Semua keputusan mu tidak akan di bantah"  Ucap Sean sambil tersenyum.


Sean paham Linny hanya ingin membuat keluarganya sadar jika uang dan nama baik akan lenyap begitu saja jika sikap mereka seperti itu terus menerus.


"Dan kalian kenapa datang tiba-tiba?"  Tanya Linny menatap heran pada Andrean, Sisilia dan William.


Andrean, Sisilia dan William tampak saling berpandangan sebelum berbicara.


"Ada Good news dan Bad News"  Ucap William terdengar serius.


"Apa?"  Tanya Sean penasaran.


"Video mu bocor di beberapa situs dan group telegram"  Ucap Andrean tanpa beban.


Mata Sean membola terkejut mendengar hal itu.


"Group??"


Sean merasa ketakutan dan bergetar. Dia membayangkan pandangan menjijikkan dari semua orang yang akan menyebarkan videonya dan memaki dirinya.


.


.


.