
"Mari kita sambut kedua mempelai yang berbahagia malam ini. Tuan dan Nyonya Winsen Darren"
Sambutan dari MC acara yang begitu meriah untuk Sean dan Linny memasuki aula resepsi.
Nuansa hiasan putih dan gold membuat seisi ruangan tampak mewah. Dengan aksen kupu-kupu juga bunga rose asli di setiap sudut ruangan menambah harum ruangan itu.
Sean dan Linny berjalan menuju tengah panggung di aula acara. Keduanya tampak serasi.
Sean yang tampak gagah dengan tuxedo-nya dan Linny dengan gaun pengantinnya yang begitu indah.
Tiba di tengah panggung aula acara, keduanya melakukan wedding kiss. Ritual wajib bagi sepasang suami-istri baru.
Semua tamu tampak bersorak menyambut pasangan pengantin baru itu. Mereka tampak sangat berbahagia. Meskipun Sean bisa melihat raut wajah Linny menyembunyikan banyak kekhawatiran.
Bahkan di acara berbahagianya pun Linny tampak sangat waspada dengan segala orang yang berkeliaran di aula itu.
"Kenapa?" Tanya Sean saat melihat Linny memperhatikan sebuah sudut.
"Tidak. Aku sepertinya melihat Carlie" Ucap Linny setengah berbisik.
Sean terkejut, dia refleks ikut menoleh ke arah yang di lihat Linny.
"Kau tidak salah lihat?" Tanya Sean memastikan.
"Mataku belum rabun" Jawab Linny.
William dan Andrean yang melihat Linny begitu khawatir langsung mendekati pasangan suami-istri baru itu.
"Ada apa?" Tanya Andrean.
"Linny bilang dia sepertinya melihat Carlie" Jawab Sean.
"Kau yakin?" Tanya William yang turut ingin memastikan.
"Sejak acara pemberkatan tadi pagi. Aku melihat sosok yang 90% mirip Carlos. Dan itu tidak mungkin Carlos. Pasti itu Carlie. Meski sekilas tapi aku yakin itu dia" Ucap Linny.
Andrean paham. Linny memiliki penglihatan yang tajam dan jarang sekali dia salah mengenali orang.
"Akan aku perketat penjagaan" Ucap Andrean yang langsung mendekati beberapa body guard kepercayaannya.
Penjagaan benar-benar di perketat. Om Donald yang melihat gerak gerik Linny dan yang lainnya turut menjadi lebih waspada. Dia yakin ada yang salah.
"Kau mau ke mana?" Tanya Linny saat Sean bergerak sendiri.
"Hanya mau menyapa mereka" Ucap Sean menunjuk sekumpulan orang yang merupakan teman kerja Sean di perusahaannya yang lama.
Linny langsung memberi kode Jun untuk berjaga di dekat Sean. Jun yang paham di ikuti dua orang lainnya untuk menjaga Sean.
Meskipun di dalam aula dan sedang dalam acara tetap saja Linny akan waspada. Terlebih sudah melihat sosok Carlie yang berani berkeliaran di acar Linny dan Sean.
"Kau khawatir?" Tanya William.
"Aku takut mereka menyerang Sean saat aku lengah" Ucap Linny jujur.
"Bagaimana dengan Erik? Apa jangan-jangan mereka mencari Erik?" Terka William.
Bukan tak berdasar William berkata begitu. Erik merupakan rekan Rain dan juga teman ranjang Rain. Jika menghilang selama itu pasti Rain akan curiga.
"Entahlah tapi dia aman karena berada dalam pengawasan Om Donald. Hanya orang bodoh ingin cepat mati yang berani menyusup masuk ke dalam rumah Om Donald" Ucap Linny yang tak khawatir pada keselamatan Erik.
Selama Erik ada di rumah Om Donald dia tentu akan selalu aman. Tidak mungkin ada yang berani masuk ke sana dan melukai nya. Hanya Linny yang bisa melukai Erik jika mau.
"jangan terlalu tegang. Rileks sedikit. Ini acara besar kalian" Ucap William menenangkan pikiran Linny.
"Aku harap bisa tapi sepertinya sulit. Sudahlah. Aku akan menemani Sean." Ucap Linny lalu bergerak mendekati Sean yang sedang asyik berbincang dengan rekan lamanya.
Linny tampak hanya tersenyum saat Sean berbincang dengan kenalan-kenalannya. Mata Linny menyisir setiap sudut ruangan.
"Tenanglah" Bisik Sean yang memperhatikan Linny begitu waspada.
"Kalian serasi sekali Kak Sean" Ucap salah satu rekan lama Sean.
"Terima kasih. Ah kami ke sana dulu. Masih mau menyambut yang lain" Ucap Sean pada rekan-rekannya itu.
"Iya. Sekali lagi selamat ya atas pernikahannya. semoga langgeng sampai kakek nenek" Ucap salah satu di antara rekan Sean dan di amini mereka semua.
Sean membawa Linny mendekat ke arah Om Donald dan Wisnu Negara yang sedang berbincang.
"Hai Om" Sapa Linny pada Om Donald dan Wisnu Negara.
"Hai our Queen. Wah cantik sekali hari ini CEO kita" Ucap Wisnu Negara memuji Linny.
"Iya. Sean juga sangat tampan. Benar-benar King of today" Ucap Om Donald menambahi.
Sean dan Linny tertawa mendengar pujian dari Om Donald dan Wisnu Negara.
Acara berlangsung hingga larut malam. Setelah selesai acara, Linny memilih untuk kembali ke penthouse dari pada menginap di hotel itu.
Sejak melihat sosok yang mirip dengan Carlie berkeliaran di acara pernikahannya membuat Linny was-was.
Dia takut ada yang menyerang Sean saat dia lengah. Jadi dia memilih kembali ke penthouse pribadinya.
Lebih aman jika dia berada di tempat pribadinya itu. Karena tidak akan ada yang bisa sembarang masuk dan penjagaan sangat ketat di sana.
"Kau tidak mau menginap di sini?" Tanya Sean memastikan saat Linny meminta untuk langsung pulang ke penthouse.
"Iya. Kita pulang saja. Kau keberatan?" Tanya Linny pada Sean.
Wajah Linny yang tampak serius juga gusar membuat Sean paham. Linny sedang khawatir dan merasa tidak nyaman di tempat itu.
"Tidak masalah bagiku" Ucap Sean yang mengikuti kemauan Linny.
Dia tidak mau memaksa Linny untuk tetap menginap di hotel dan membuat Linny terus cemas. Karena Sean tau, Linny memiliki insting kuat akan keberadaan musuhnya.
Dan Linny juga pasti akan terjaga sepanjang malam karena dia tidak mau sampai sesuatu terjadi pada Sean.
Mereka akhirnya kembali ke penthouse. Tampak wajah Linny lebih tenang di banding sebelumnya. Meskipun Linny sesekali masih terus menatap ponselnya seolah menunggu sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Sean sambil memeluk Linny dari belakang.
Sean baru selesai membersihkan tubuh. Aroma wangi sabun di tubuhnya begitu harum.
"Tidak" Jawab Linny singkat.
"Tidur lah. Lusa kita akan ke Thailand" Ucap Sean.
Sean dan Linny memang memutuskan untuk honeymoon ke negara gajah putih itu. Mereka bisa memilih tempat yang lebih jauh namun Linny menolak.
Dia tidak ingin bepergian terlalu jauh terlebih dahulu mengingat mereka masih memiliki musuh yang anggotanya bertebaran di mana-mana.
Linny memilih Thailand karena dia memiliki koneksi di sana. Yaitu Santo. Santo memiliki kelompok tersembunyi yang tentu akan patuh dan menjaga Linny sesuai perintah Santo Wisnu.
Pria psikopat gila itu sangat setia kawan dan tau balas budi pada Linny yang sudah sering membantunya sejak dulu.
Linny juga yang sudah mengajarkannya bermain pisau dengan cepat untuk melumpuhkan musuh.
"Ayo tidur" Ucap Linny lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas.
Keduanya sama-sama merebahkan tubuh di atas ranjang yang biasa menjadi saksi bisu kisah cinta mereka.
Namun kini dengan status berbeda. Keduanya sudah sah sebagai pasangan suami-istri.
.
.
.