A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Last Night KSM..



Beberapa hari berlalu. Semua kegiatan dan acara honeymoon Sean dan Linny sudah berakhir. Hari ini malam terakhir sebelum besok mereka terbang kembali ke kota Jakarta.


"Hari ini mau ke mana lagi?"


Sean membantu mengeringkan rambut Linny di pagi hari.


Jangan tanya lagi apa yang mereka lakukan di pagi hari. Tentunya ritual wajib para pasutri baru. Apalagi jika pasutri-nya mesum seperti Sean dan Linny.


Tak pernah mereka melewatkan waktu bercinta di pagi hari kecuali keadaan memang tidak memungkinkan.


"Mau ke pantai aja. Mau santai. Besok pagi kita da harus balik"


Jawab Linny sambil mengaplikasikan skincare rutin di wajahnya. Dia cukup rutin menjaga kesehatan kulitnya sendiri.


"Baiklah"


Sean meneruskan aktivitasnya mengeringkan rambut Linny yang sudah kembali memanjang sejak di potong pendek di Singapore beberapa waktu lalu.


"Mau sarapan di luar atau di sini?"


Tanya Sean lagi setelah memastikan rambut Linny sudah kering. Sean menaruh kembali alat pengering dan handuk ke kamar mandi.


"Di luar saja sekalian jalan-jalan. Kita beli beberapa oleh-oleh untuk di bawa pulang ya"


Sean mengikuti keinginan Linny. Mereka memang belum membelikan sesuatu apapun untuk teman-teman mereka.


Keduanya memilih sarapan di salah satu restoran tak jauh dari tempat mereka menginap. Di sana kembali mereka bertemu dengan Santo dan rombongannya,


Melihat kehadiran Sean dan Linny, Santo segera menghampiri mereka dan mengajak mereka bergabung bersama.


"Biar aku yang traktir kalian makan hari ini"


Ucap Santo dengan senyumnya yang ramah.


"Tidak usah. Anggota aku banyak"


Linny menolak halus ajakan Santo.


"No problem. Sudah duduklah. Suruh anggota mu ikut makan juga. Tuh Bram dan yang lain juga ikut makan kok" Ucap Santo yang tetap tidak mau di tolak.


"Okay"


Linny pun mengalah dan membiarkan Santo yang membayarkan makan hari itu.


Mereka duduk bersama dan mengobrol. Sean cukup cakap dan mudah berbaur dengan rombongan Santo yang usianya sepantaran dengan Santo.


Banyak yang memandang kagum Linny dan Sean. Bahkan mereka memuji Sean dan Linny memang cocok bersanding bersama.


Sepanjang acara makan bersama itu, tidak sekalipun Sean - Linny ataupun Santo membahas kejadian Santo yang hampir di lukai orang-orang yang entah suruhan siapa.


Mereka merasa buntu mencari tahu kebenaran yang ada karena yang empunya informasi sudah mengakhiri hidupnya sendiri.


"Besok kalian sudah mau balik?"


Santo menatap Sean dan Linny bergantian. Dia sebenarnya masih ingin berbincang dengan Sean dan Linny beberapa waktu di tempat itu.


"Iya. Banyak yang harus kami kerjakan di kantor. Kami tidak bisa menghilang terlalu lama"


Jawab Linny sambil menikmati dessert mangga yang di sajikan.


Sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan Linny segera kembali ke tanah air. Hanya Linny merasa tidak nyaman sejak semalam.


Entah apa alasannya namun dia terus merasa jantungnya berdegup terus menerus. Dia juga tidak bisa memberi tahu Sean. Karena dia tidak punya jawaban atas apa yang dia rasakan.


"Malam ini bagaimana kalau kita barbeque bersama? Sebelum kalian kembali"


Santo memberi usulan untuk menghabiskan waktu malam terakhir liburan Sean dan Linny.


Sean dan Linny saling bertatapan sejenak dan sama-sama mengangguk setuju untuk usulan Santo.


Mereka kembali berbincang ringan bersama. Canda dan tawa di meja itu begitu terasa. Hanya Linny yang tersenyum tipis mendengar percakapan semuanya.


Linny masih menerka-nerka apa yang sedang dia rasakan. Dia terus meyakinkan dirinya jika tidak ada hal aneh yang akan terjadi.


Terlihat rombongan teman-teman dari kekasih Santo begitu bahagia. Anak-anak muda itu tampak sangat senang berlarian di sepanjang pantai.


Tampak beberapa di antaranya juga bermain air bersama. Celly juga turut bermain air dengan teman-teman perempuannya yang turut ikut di acara liburan itu.


Linny menatap salah satu di antaranya dengan pandangan yang dalam. Dia seperti melihat seseorang yang aneh dan palsu. Seperti ada hal buruk yang di simpan gadis muda itu.


"Kenapa?"


Santo mendekat ke Linny karena menyadari Linny menatap satu persatu teman dari kekasihnya.


"Tidak. Teman dari kekasih mu itu sangat aneh. Sifatnya memiliki dua kepribadian yang sangat berbeda, mirip seperti mu"


Ucap Linny sambil menatap Santo.


Santo terdiam, dia tidak pernah menyadari hal itu. Selama ini dia hanya fokus pada kekasihnya dan teman-teman pria yang mengelilingi kekasihnya itu.


"Berbahaya?"


Tanya Santo penasaran. Linny hanya menatap Santo dengan menaikkan satu alisnya.


"Tergantung. Tapi dia bukan tipikal yang akan menyakiti temannya sendiri"


Linny dengan santai menanggapi pertanyaan Santo. Dia kembali memperhatikan anak-anak muda itu yang tampak sangat menikmati waktunya.


"Masih muda dan menyenangkan hidup mereka, tidak ada beban"


Komentar Linny melihat anak-anak muda itu.


Santo tersenyum mendengar ucapan Linny. Beban yang Santo dan Linny hadapi memang beban yang begitu menyakitkan. Siapa pun tidak akan menyangka ibu kandung sendiri yang menghancurkan kehidupan anak kandungnya.


Sean tampak kembali ke tempat Linny dan Santo duduk menunggu kekasih Santo. Sean dan body guard-nya membawakan kelapa segar untuk mereka minum.


Sean menyuapi Linny daging kelapa muda. Melihat perlakuan Sean pada Linny membuat Santo tersenyum.


Dia cukup kagum dengan Sean yang benar-benar berhasil keluar dari kelainan orientasi seksualnya itu.


Hingga sore menjelang mereka kembali ke villa masing-masing setelah sebelumnya mereka sepakat untuk barbeque di villa yang di sewa Santo.


Tempatnya masih satu penginapan dengan tempat Sean dan Linny. Hanya harus berjalan kaki 10 menit jaraknya.


.


Malam tiba, Sean dan Linny mendatangi villa Santo dan rombongannya.


Sean dan Linny membawakan 3 botol wine untuk mereka.


"Duduk lah. Biar kami yang urus makanannya"


Santo tampak begitu antusias memangang daging untuk mereka semua.


Tampak Santo dan kekasihnya juga saling menyuapi satu sama lain dengan mesra.


Meskipun berada di villa milik Santo dan Santo juga teman-temannya yang memanggangkan daging, tetap saja Jun dan Alfa tetap waspada dan memperhatikan makanan yang di sajikan untuk Sean dan Linny.


"Tenang. Aku yang membeli sendiri daging ini. Jika ada yang berani menyakiti kalian akan aku binasakan"


Ucap Santo dengan suara yang lebih pelan pada Sean dan Linny.


"Maaf. Mereka makin sensitif dan waspada dengan segala sesuatu yang terhidang"


Ucap Linny pada Santo. Santo hanya membalas dengan senyuman. Dia paham karena dia juga melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun.


Mereka juga tampak menyalakan speaker dan memasang lagu. Mulai dari lagu yang santai dan melow. Hingga lagu yang lebih nge-beat dan keras di telinga.


Untuk Sean dan Linny mereka tetap bisa menikmati musik itu karena musik itu mirip musik DJ yang sering mereka dengar dulu di club dan bar.


.


.