A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Kok Bisa???



Seminggu berlalu. Pertemuan Sean dan Linny di bar RB terus berlanjut. Sean sudah hampir seperti pelanggan VVIP untuk Linny.


Tempatnya duduk juga selalu sama seperti pertama kali dirinya hadir. Linny bahkan sengaja mengosongkan kursi itu khusus untuk Sean.


.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore, Sean bersiap pulang kantor. Sudah seminggu pula dirinya mengabaikan telepon dari keluarganya juga tidak ke club bersama sahabat-sahabatnya.


Sean lebih memilih berkunjung ke bar RB menemui Linny, dan terkadang juga mengobrol dengan Eka--karyawan bar nya Linny.


Beberapa kali juga Sean membawakan makanan untuk kedua wanita itu.


Dirinya merasa hangat saat disambut di sana. Berbeda saat dirinya mengunjungi Wingtiger Club.


Meskipun dia tamu VVIP  di Wingtiger Club dan terjaga privasinya, namun dia tidak merasa nyaman saat berada di sana. Tempat itu hanya menjadi pelarian baginya tanpa bisa mengeluarkan apa yang menjadi bebannya.


Ponsel Sean berdering. Tampak Danu yang meneleponnya


" Bro! Masih hidup kau? "  Tanya Danu di seberang sana.


" Masih lah! Ada apa? "  Tanya Sean sambil merapikan mejanya bersiap untuk pulang ke apartemen.


" Ngumpul Bro! Lama kagak nonggol Kau ini! "  Ucap Danu.


Sean baru menyadari dia memang sudah absen 1 minggu dari club.


" Enggak bisa hari ini. Next time deh ya" Ucap Sean menolak.


Sean ingin bertemu Linny dan berbincang mengenai pekerjaan termasuk panggilan interview di FP Corporation.


" Ah elah! Gitu amet! Kenapa Kau ini? Ada masalah lagi? " Tanya Danu heran.


Tumben sekali Sean tidak mau berkumpul. Padahal pacarnya Erik belum kembali dari Singapore.


" Bukan gitu. Besok Aku ada interview di FP corporation! "  Ucap Sean berusaha memelankan suara agar tidak di dengar orang lain.


Sean belum mengajukan resign, bisa jadi boomerang bukan kalau ketahuan orang kantor nya saat ini.


" Oh begitu. Ya sudah kalau gitu. Good luck yah! Besok jumpa loh tapi?!!! " Ucap Danu sebelum menutup telepon


" Siap mulia!! "  Jawab Sean lalu mematikan panggilan teleponnya.


Tak lama tampak chat masuk di ponselnya. Dari Erik.


'Sayank masih ngantor? ' -isi chat dari Erik-


'Iya Sayank. Masih lama di sana? ' -balas Sean-


'Beberapa hari lagi Aku pulang. Oh ya kata Danu, sayank sudah lama enggak kumpul bareng mereka? Kemana aja? ' -tanya Erik menyelidik-


' Lagi malas aja. Lagi bersiap untuk interview tempat baru besok ' -balas Sean-


'Okey, good luck Sayank' -tulis Erik-


' Thank you and miss you' -balas Sean-


Entah apa yang ada di pikiran Sean, dia tidak pernah memberi tahu Erik tentang Linny. Karena Sean yakin, Erik pasti akan meradang jika tahu.


Tapi entah sejak kapan dirinya mulai nyaman dengan Linny di banding Erik. Padahal selama bertahun tahun ini dia tidak bisa lepas dari Erik.


Hanya Erik seorang yang membuatnya bisa nyaman dalam berhubungan. Meskipun sering bertengkar namun ujungnya juga mereka kembali mesra.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Sean segera mengendarai mobil sedan menuju bar pinggir kota milik Linny.


Tiba di sana tampak Linny yang sedang melayani tamu yang memesan minuman di meja bar.


Sean menatap pakaian Linny, tank top hitam dengan luaran jaring menerawang di padukan dengan hot pants yang membuat Linny tampak sangat sexy.


Ya jika jujur Linny tampak sexy namun bukan penampilan sexy yang menggelikan seperti wanita lain yang hanya memamerkan dagingnya sehingga tampak murahan.


Sexy yang di tunjukkan Linny benar tampak elegant terlebih dia tidak suka bersentuhan dengan pria mana pun.


Rambutnya tergelung dan di tusuk konde menggunakan tusukan konde kesukaan Linny.


Sean sampai sudah hafal apa saja yang sering digunakan Linny untuk menata rambut panjangnya yang berwarna merah kecokelatan.


" Hai! Duduk! Kok berdiri di situ! "  Sapa Linny yang menyadari Sean sudah tiba.


Sean tersenyum dan duduk di kursi meja bar.


" Mau minum apa hari ini? "  Tanya Linny.


" Bisa buatkan cocktail terenak? "  Tanya Sean sambil menaikkan alisnya sebelah.


" Haha. Oke-oke tunggu sebentar ya"  Ucap Linny lalu membuatkan sebuah cocktail untuk Sean. Tak lupa dia menghidangkan sepiring chicken pop untuk Sean.


Saat pelanggan mulai sepi Sean baru mengajak Linny berbincang.


" Hei. Besok aku interview di tempat baru"  Ucap Sean sambil tersenyum bersemangat.


" Dimana? "  Tanya Linny lalu duduk berhadapan dengan Sean.


" FP corporation "  Jawab Sean.


Linny tersenyum mendengar tempat baru Sean.


" Wah. Bagus dong! "  Ucap Linny menyemangati.


" Entah lah. Aku merasa down"  Ucap Sean sambil mencicipi cocktail-nya.


" Kenapa? "  Tanya Linny heran.


" Aku berpikir apa Aku bisa, apa Aku pantas, apa Aku sanggup, dan banyak hal lagi"  Ucap Sean sambil meluruhkan bahunya


" Jalani dulu. Kau pekerja keras. Pasti bisa! "  Ucap Linny menyemangati.


" Terima kasih. Aku merasa lebih baik sekarang"  Ucap Sean.


" Terus gimana? Sudah hubungi keluarga mu? "  Tanya Linny.


" Belum. Dan Aku risih, wanita itu berganti nomor dan terus mengganggu Ku. Apa Aku ganti nomor telepon saja ya? "  Ucap Sean kesal.


" Ngapain. Abaikan saja. Nanti juga dia bosan"  Ucap Linny dengan santai.


" Aku benar tidak suka gadis yang seperti itu "  Ucap Sean.


" Dasar kau ini. Tapi benar juga sih"  Ucap Sean sambil terkekeh.


Dia merasa nyaman bisa menjadi diri sendiri di hadapan Linny. Dia bisa menceritakan apapun tentang nya tanpa harus berpura-pura.


" Thanks ya. Kau selalu mau mendengarkan ku"  Ucap Sean.


Linny hanya tersenyum menanggapi Sean. Dirinya kembali melayani tamu lain.


Sean meminta sebotol Glenfiddich 18, dirinya tidak cukup hanya meminum segelas cocktail.


" Jangan kebanyakan Sean. Besok Kau interview bukan? "  Ucap Linny mencoba menghentikan Sean minum.


" Aku sudah cuti seharian besok, lagian interview Ku besok siang. Aku lagi butuh banyak alkohol Linny"  Ucap Sean mengambil kembali gelasnya dari Linny.


" Ada apa sih? " Tanya Linny heran.


" Sudah seminggu lebih aku tidak membuang! Kau tau kan maksud Ku?"  Ucap Sean memelankan suaranya.


Tentu Linny paham yang di maksud Sean, membuang cairan yang membuat otaknya sakit sepanjang hari.


" Astaga Kau ini. Dasa mesum! "  Ucap Linny sambil terkekeh.


" Aku juga manusia Linny. Kau saja yang tidak tahu nikmatnya surga dunia itu"  Ucap Sean tanpa sadar.


Linny terdiam sejenak kemudian tersenyum kembali. Dia mengabaikan perkataan Sean.


Pukul 2 dini hari, waktunya tutup bar. Sean tampak limbung.


" Astaga sudah Ku katakan jangan kebanyakan minum! "  Keluh Linny yang membopong tubuh Sean bersama Eka.


" Kak. Lebih baik Kakak antar saja Kak Sean pulang"  Ucap Eka.


" Kau sendiri bagaimana? "  Tanya Linny mengkhawatirkan Eka pulang sendirian.


" Tenang Kak. Tadi Aku sudah telepon adikku. Sebentar lagi Dia sampai"  Ucap Eka yang memaklumi kondisi Sean. Tidak mungkin membiarkan Sean mengendarai mobil sendiri.


" Aku tidak apa-apa. Kalian pulang saja. Aku bisa pulang sendiri"  Ucap Sean yang setengah mabuk dan berpegangan pada Linny.


" Ah itu adikku sudah datang. Aku duluan ya Kak"  Ucap Eka berpamitan.


Linny hanya menanggukan kepala membiarkan Eka pulang.


Linny mencoba membawa Sean masuk kedalam mobil miliknya lalu memasangkan seatbelt.


Sebelumnya dia menelepon seseorang, tampak seorang pria berpakaian jas menangguk mendengar perintah Liny.


Linny masuk dan duduk di kursi pengemudi. Dirinya mengemudikan mobil menuju apartemennya karena tidak tahu di mana tempat tinggal Sean.


" Hei. Ayo kita sudah sampai"  Ucap Linny mencoba membawa Sean turun dari mobilnya.


Sean yang sudah mabuk dan hanya mengikuti Linny.


" Nona. Ini... "


Terdengar suara seorang pria memberikan kunci mobil Sean. Mobil Sean dibawa entah siapa sampai di apartemen milik Linny.


Linny hanya menganggukkan kepala lalu mengambil kunci mobil Sean dari tangan orang itu.


Dia segera membawa Sean ke dalam apartemennya sebelum kekuatannya untuk membopong Sean terkuras habis.


" Astaga orang ini! Badannya besar malah mabuk! Menyusahkan saja!"  Keluh Linny lalu membawa Sean masuk ke dalam apartemennya.


Di baringkannya Sean ke atas tempat tidur miliknya.


Tadinya dia ingin membiarkan Sean tidur di sofa bed, namun berhubung penghangat ruangannya sedang rusak dia takut Sean malah masuk angin dan tidak bisa interview besok.


" Hahh. Baru kali ini ada orang menyusahkan seperti dia. "  Keluh Linny lalu hendak menuju ke ruang tamu untuk tidur.


Tangan Linny di tarik oleh Sean hingga tubuhnya terjatuh di atas Sean.


" Hei!!! "


Teriak  Linny yang terkejut.


" Argh.... "


Sean tampak mengerang, dirinya sepertinya sedang bergairah, kebiasaannya setelah minum memang seperti itu.


" Hei kau.... "


Linny terdiam sejenak.


Dia merasa tidak enak melihat kondisi Sean.


" Astaga, apa aku harus melakukan itu dengan manusia gay yang sedang mabuk ini?! "  Keluh Linny.


Sean menarik tangan Linny menyentuh si pluto yang sudah menegang.


" F*ck!!! D@mn it!!! " Ucap Linny kesal.


Dirinya melepaskan pakaian Sean dan dirinya sendiri lalu memulai mencumbu Sean.


Linny sendiri heran kenapa dirinya tidak risih menyentuh Sean.


'Kok bisa Sean tegang gini gara di sentuh wanita? ', pikir Linny


Hingga Linny mempertemukan si pluto dengan venus.


" Arghh..... Shiitttt... Erikkkk.... " Ucap Sean yang masih mabuk.


" Bangsttt!! Aku di kira temen gay-nya!! "


Keluh Linny namun tetap saja dia menggerakkan tubuhnya dan sama-sama mencapai pelepasan bersama Sean.


Setelah beristirahat sejenak. Linny segera membersihkan tubuhnya dan juga tubuh Sean.


Linny bergegas menuju sofa bed untuk tidur.


" Astaga.. Kenapa aku merasa puas dengannya.. Padahal dengan yang lain aku sulit merasa puas dan mencapai pelepasan Ku" Ucap Linny pada diri sendiri.


Sedangkan Sean.. Dia tertidur pulas dan tersenyum serta bermimpi indah.


.


.


.


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-WAKTU-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT TERHADAP SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN.