A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Penyesalan?



Willy yang sudah semakin membaik di rawat selama tinggal di tempat Om Donald. Luka-luka di tubuhnya juga sudah membaik. Dan kenyataan dia tidak pernah berkeinginan menjadi penyuka sesama jenis membuatnya semakin cepat pulih setelah di rawat dokter.


Dokter dapat meyakinkan jika Willy tidak akan mengalami kelainan seksual. Hanya saja kondisinya Willy pernah di cekoki obat-obatan terlarang dan dia harus mendapat rehabilitasi untuk menghilangkan ketergantungannya itu.


"Apa kadar obat-obatan itu tinggi di dalam tubuhnya?"


Linny tampak sangat serius berbicara dengan dokter yang mengurus Willy.


"Lumayan. Namun jika itu karena dia di paksa dan bukan dari keinginannya sendiri untuk mengonsumsi barang haram itu, saya yakin dia akan cepat lepas dari ketergantungannya jika di rehabilitasi segera"


Dokter itu meyakinkan Linny jika Willy akan dapat kembali hidup normal. Mendengar itu Sean juga turut lega.


"Terima kasih dok"


Ucap Sean sambil menyalami dokter itu. Setelahnya Sean mendekati Willy yang duduk diam menatap ke halaman belakang.


Dia melihat ke arah Joe dan Erik yang tampak mesra. Tapi mereka terlihat tulus dan tidak menjijikkan seperti yang pernah dia lihat di Bar selama ini.


"Mereka pasangan. Dulu Erik mantanku"


Ucap Sean yang mengejutkan Willy. Willy menunduk malu. Dia masih merasa bersalah pada Sean.


"Sudahlah. Semua sudah berakhir. Setelah ini kau ikut rehabilitasi ya. Agar kau bisa lepas dari pengaruh obat-obat sialan itu"


Sean menepuk pundak Willy perlahan. Willy hanya mampu mengangguk. Dia mengikuti semua yang di ucapkan Sean.


Kini Willy sudah tidak memiliki apa pun. Tidak ada pekerjaan, kondisinya ketergantungan obat-obatan, dan dia sudah pasti terancam kehilangan Alice.


Tidak mungkin kekasihnya itu masih mau menerimanya. Meskipun Alice mau menerimanya, keluarga Alice pasti akan menolak kehadiran Willy saat ini.


"Aku akan menemui Papa. Aku harus mengambil semua berkas penting mu. Santo akan membawa mu ke Thailand agar kau bisa memulai hidup baru di sana. Dia butuh IT hebat seperti mu"


Ucap Sean lagi. Willy menatap Sean dengan dalam. Entah bagaimana jadinya jika Sean tidak memperdulikannya. Mungkin dia akan tetap dalam kubangan lumpur gelap itu.


"Terima kasih Kak"


Ucap Willy dengan tulus. Baru kali ini mereka berbicara banyak, sebelumnya mereka sangat jarang mengobrol ataupun bertemu karena masing-masing sibuk dengan kehidupan mereka.


"Alice sudah tau. Dia masih mencintai mu dan menunggu mu. Jika kau mau maka aku akan membantumu menikah dengannya dan membawanya pergi bersama mu"


Ucap Sean yang membuat Willy menatapnya penuh harap. Tentu saja Willy mau, dia sangat mencintai Alice. Jika tidak maka Alice tidak akan mungkin hamil sebelum mereka sah menikah bukan?


"Tapi orang tua Alice?"


Willy tampak ragu. Orang tua Alice begitu keras dengan mahar yang sudah di janjikan oleh Mahaprana.


"Itu urusanku. Kau tenang saja. Coba berolahragalah dengan pengawal milik Om Donald selama aku mengurusi Alice untukmu"


Tampak Linny mendekat pada kedua pria itu. Melihat Linny yang mendekat, Sean langsung merangkul pinggangnya dengan posesif.


"Ayo kita ke tempat Alice. Panggilan Gary untuk ikut serta"


Linny mengajak Sean pergi dari sana. Dewi juga di bawa Linny kembali ke apartemen. Tugas Dewi sudah selesai dan dia bisa menjalani hidup normalnya lagi.


Linny berjanji tidak akan mau membiarkan Dewi terlibat lagi dalam hal berbahaya. Selama Dewi menyusup, setiap hari pula Linny berdoa demi keselamatan Dewi di sana. Dia akan merasa sangat bersalah jika hal buruk di alami Dewi.


.


.


"Kau ada apa kemari?" Tanya Mahaprana yang takut karena Sean sudah berubah sangat tegas.


Juga Linny yang begitu keras dan tidak bisa di ancam dengan sikap diktatornya selama ini sebagai kepala keluarga.


"Willy dan Alice akan menikah. Jangan lagi kalian membuat masalah untuk mereka"


Ucap Sean tanpa basa basi.


"Tidak boleh. Memberikan mahar sebesar itu untuk anaknya yang sudah hamil? Gila saja"


Mahaprana tampak sangat keras pada pemikirannya itu.


"Dia tidak akan meminta jika kalian tidak menjanjikannya. Bukannya dulu Alive kesayangan kalian karena dari keluarga terpandang juga terpelajar? Kenapa sekarang kalian malah menolak kehadiran dia?"


Tanya Sean meledek sikap Mahaprana itu.


Memang dulu Alice selalu di bangga-banggakan Mahaprana. Namun kini malah sikapnya berbeda pada Alice.


"Si-Siapa bilang?" Tanya Mahaprana yang masih saja gengsi tinggi itu.


"Anak mana lagi yang ingin kau hancurkan hidupnya Pa? Oh iya masih ada Nini ya. Dia dan suaminya sangat penurut pada Papa. Apa mau sampai Nini juga hancur keluarganya baru kalian puas??"


Ucapan Sean membuat Mahaprana dan istrinya terkejut.


"Dulu Eny, kalian juga ikut campur dengan urusan pernikahannya kan? Dia juga selalu anggap remeh pernikahan jadinya di katakan bersuami juga suaminya tidak mengakui dia, dikatakan Janda juga dia belum resmi ketuk palu"


"Dan aku? Aku sampai harus melewati hal terburuk dalam sejarah hidupku. Tersiksa batin dan fisik. Mengalami kelainan dan terus di jatuhkan kalian"


"Sekarang. Willy. Kalian menghancurkan perasaannya juga perasaan Alice. Orang tua seperti kalian memang sangat egois. Willy dan Alice yang akan menjalankan pernikahan kenapa kalian yang semena-mena menentukan kehidupan mereka? Dan kalian tau akibatnya?? Sudah lihat berita soal Bar dan pejabat itu??? Willy menjadi korban mereka. Kalian tau itu?? Bukan hanya jadi korban seksual melenceng orang-orang itu. Willy juga di cekoki obat-obatan dan harus di rehabilitasi"


Bagai di sambar petir Mahaprana dan istrinya mendengar ucapan Sean. Anak bungsu mereka. Satu-satunya harapan mereka karena Sean yang sudah tidak mau ikut campur ataupun memedulikan mereka.


Ternyata menjadi korban di Bar itu sesuai berita yang tersiar. Bagaikan dunia runtuh Mahaprana merasa sesak. Semua anak yang dia besarkan dan dia didik dengan keras tak ada yang bisa menjadi kebanggaan dan alat pamernya lagi.


"Sudah. Cukup sudahi pemikiran gila kalian jika anak itu adalah alat pamer dan jaminan masa tua yang penuh harta juga ketenaran. Aku sudah memberi kalian bulanan yang aku rasa cukup jika kalian tidak berpikir untuk berfoya-foya tidak jelas dan seolah sangat hebat untuk pamer terus"


"Willy akan aku urus. Jangan lagi kalian mengganggu kehidupannya. Berhentilah melakukan hal gila, karena lama kelamaan kalian juga akan gila jika tidak bisa mencapai apa yang kalian mau. Tolong hidup dengan lebih nyaman dan sederhana. tidak perlu sibuk ikut memamerkan kehidupan kalian untuk di akui orang-orang"


Sean tampak sangat lelah dengan semua yang terjadi. Bukannya ingin durhaka atau tidak sopan. Tapi jika dia tidak mengatakan itu dia takut kedua orang tuanya tidak akan pernah berubah.


Sedangkan saat Sean sudah menegur mereka setelah kejadiannya dengan Linny, Mahaprana juga masih tidak berubah. Hanya dia tampak takut jika mengganggu Linny yang memang jauh lebih hebat dari padanya.


"Masalah orang tua Alice akan aku tangani. Apa pun yang aku lakukan aku harap Papa dan Mama jangan ikut campur. Cukup terima bersih atas apa yang akan Aku lakukan untuk Willy. Sama seperti saat aku dan Sean berusaha menolong Willy keluar dari lubang hitam itu"


Ucap Linny dengan santai namun terdengar tegas.


Mahaprana dan istrinya masih terdiam. Tanpa sadar pria tua itu meneteskan air mata penyesalan. Dia tidak bisa membalas apa pun perkataan Sean dan Linny.


Setelahnya Linny dan Sean pamit, Mereka akan menemui keluarga Alice dan membawa Alice untuk Willy.


.


.


.