
Beberapa hari berlalu. Andrean terus mengunjungi Angel meskipun wanita itu masih tidak peduli dengan kehadiran Andrean.
Angel masih dingin dan diam. Dia hanya mau berbicara sesekali dengan Sisilia dan Linny. Tidak banyak yang di lakukan Angel selain kontrol kondisi bayi di kandungannya. Juga membantu Linny memantau kondisi Farid.
Beruntung dari hasil konsul dengan Angel, Farid masih bisa di terapi ringan hanya untuk menghilangkan trauma dan memberikan pengetahuan dini tentang orientasi seksual agar Farid bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.
Anak sekecilnya masih rentan di pengaruhi. Namun beruntung Farid tampak penurut dan selalu mengikuti arahan Angel.
"Cukup pantau saja. Anak sekecil dia juga bisa di pengaruhi lingkungan. Berikan lingkungan keluarga yang baik dan harmonis. Itu akan baik untuk mentalnya ke depan"
Jelas Angel sambil menikmati buah yang di beli oleh Linny. Keduanya tampak bersantai bersama menikmati buah.
"Baiklah. Thanks sudah mau repot membantuku. Padahal kau juga sedang ada masalah"
Ucap Linny yang sedang duduk dan di pijat bahunya oleh Sean. Tentu dalam posisi Sean memangku Linny.
"Tapi bisa kah posisi kalian diubah? Kau benar-benar membuat mataku sakit Linny" Ucap Angel kesal.
Dia merasa dirinya yang hamil tapi Linny yang enak-enak bermanja-manja dengan Sean di hadapannya.
Siapa yang hamil siapa yang manja sih?
"Ck! Iri bilang boss!! Makanya jangan terlalu jual mahal lagi. Kasihan tuh calon suami mu" Ucap Linny dengan nada mengejek.
"Ih Calon suami apaan" Ucap Angel kesal.
"Ya calon suami kau lah. Gak mungkin Aku. Aku sudah ada Sean" Ucap Linny langsung.
"Eh Sean calon suami mu? Ciyeee yang udah nyabut sumpahnya" Ledek Angel kembali.
"Sialan kau! Ck! Kalau gak karena kau hamil udah ku lempar kau keluar dari sini" Ucap Linny kesal.
Sean yang mendengar pembicaraan kedua wanita itu hanya bisa menghela nafas. Meskipun dalam hati dia bahagia Linny terus mengatakan hanya Sean miliknya.
"Aku ingin melihat Andrean. Entah mengapa perasaan ku tiap melihatnya ingin memeluknya dan menghirup aromanya. Bukan karena aku menyukai dia tapi setiap bertemu dengannya rasa mual ku berkurang" Jelas Angel sambil mengelus perutnya yang masih rata itu.
Linny dan Sean saling memandang heran. Sepertinya anak di perut Angel berusaha membuat kedua orang tuanya dekat.
"Mungkin anak mu ingin di dekat Papanya. Kenapa tidak coba bicara dan biarkan Andrean di dekatmu saja. Kasihan bayimu yang ingin bertemu Papanya" Ucap Sean mencoba mempengaruhi Angel.
Angel menatap Sean dan Linny bergantian. Dia berpikir sejenak, namun rasa gengsi dan kesal Angel masih ada.
Meskipun selama beberapa waktu ini Andrean menemuinya dengan membawakan makanan kesukaan Angel dan tidak banyak membahas apa pun. Hanya sekedar bertanya rencana Angel. Hoby Angel yang pernah Andrean dengar.
Tampaknya Andrean menyerap semua saran dari Sean dengan baik dan melakukannya. Terbukti Angel mau bertemu dengannya meskipun masih menjaga jarak dan tidak mau berbicara.
Setidaknya makanan yang dibawakan oleh Andrean selalu di habiskan oleh Angel.
"Sudah jangan kebanyakan gensi. Mau anak mu ileran nanti?" Tanya Linny dengan sedikit mengancam.
Angel menggelengkan kepalanya sambil berkata dalam hati 'Amit-amit'.
"Ya sudah suruh Andrean datang. Bilang kau ingin makan sesuatu. Suruh dia bawa ke sini. Sekalian aku bisa makan gratis dari calon Mama dan Papa Accident ini" Ucap Linny mengejek.
"Ck Kau ini!" Angel tampak kesal namun tangannya bergerak mengirimkan pesan untuk Andrean.
Tak butuh waktu lama Andrean benar saja datang terburu-buru saat Angel berkata dia lapar dan ingin makan sesuatu.
Andrean yang masih memeriksa laporan langsung meninggalkan kantor pada Sisilia dan membawa semua berkas yang dia kerjakan pulang.
"Wuih cepat tanggap banget calon bapak satu ini" Ledek Linny saat Andrean tiba dan menyediakan makanan untuk Angel.
"Eh Linny. Ah ini ada 1 bungkus lagi sate untukmu dan Sean. Maaf tadi mau beli lebih tapi gak keburu. Harus tunggu lagi sejam" Ucap Andrean.
"Tidak masalah. Sana temani istrimu. Anakmu sepertinya rewel membuatnya muntah terus" Ucap Linny berbohong.
Sengaja Linny berkata seperti itu untuk melihat reaksi Andrean. Pria sebaik dan setulus Andrean tidak bisa menutupi kekhawatirannya pada orang yang penting dalam hidupnya.
Linny sangat paham karakter Andrean itu. Melihat Andrean yang langsung buru-buru datang membawakan makanan sudah menunjukkan jika dia menganggap Angel sepenting nyawanya sendiri.
Dan benar saja Andrean langsung menuju Angel dan menyuapinya makan. Sesekali Andrean tampak memperhatikan wajah Angel.
"Ada apa?" Tanya Angel heran karena Andrean terus menatapnya.
"Hah?" Angel bingung dengan pertanyaan Andrean.
Angel memang masih mengalami morning sickness tapi masih wajar. Dia seorang dokter tentu dia tau batas kenormal-an kondisi morning sickness ibu hamil di tri semester pertama itu.
"Linny bilang kalau kau sering muntah. Apa ada yang tidak nyaman? Apa aroma ruangan ini tidak nyaman? Jika begitu lebih baik kau tinggal di unit mu. Akan aku gantikan aromanya" Ucap Andrean penuh khawatir.
Angel ingin sekali menertawakan sikap Andrean yang terkesan berlebihan. Tapi rasanya hangat sekali melihat Andrean yang begitu peduli dan berusaha membuatnya nyaman. Terlepas dari dirinya yang sedang hamil ataupun tidak.
"Ah. Hanya kadang tidak nyaman perutku" Ucap Angel berkilah.
Mau jujur kalau Linny berlebihan dan berbohong tapi Angel tidak enak. Sepertinya Linny berniat membuat Andrean lebih dekat dengan anaknya.
"Boleh aku sentuh?" Tanya Andrean tiba-tiba.
"Ya?" Angel terkejut dengan pertanyaan Andrean itu.
"Ah. Maksudku perut mu. Ah. Maksudku aku ingin menyapa anak kita sebentar" Ucap Andrean merasa gugup.
"Oh. Ya. Boleh" Ucap Angel dengan dingin.
Meskipun begitu sebenarnya dalam hati Angel begitu bahagia. Andrean tampak begitu peduli dengan kondisi anak di dalam rahimnya.
Perlahan Andrean mengelus perut rata Angel. Meskipun belum bisa merasakan apa pun namun Andrean paham ada kehidupan di dalam.
Ada secercah nyawa yang berbagi darah dengannya. Entah mengapa Andrean meneteskan air matanya penuh haru.
"Hei! Kau kenapa?" Tanya Angel heran melihat Andrean yang menangis.
"Ah maaf" Ucap Andrean sambil menghapus air matanya.
"Kenapa?" Tanya Angel merasa tidak enak.
Tanpa sadar Angel menghapus air mata Andrean dengan penuh kasih. Angel memang masih mencintai Andrean, bagaimanapun dia sudah mencintai pria itu bertahun-tahun dan kini sedang mengandung anaknya.
"Maafkan aku Angel. Aku terlalu egois selama ini. Ku mohon meskipun kau membenciku, jangan jauhkan aku dari anak ini. Aku-- Aku mencintai anak ini" Ucap Andrean terdengar sangat tulus.
Angel tidak menyangka dan tidak pernah berharap Andrean akan mencintai anak itu. Dia selama ini berpikir Andrean hanya ingin bersikap bertanggung jawab terlebih dia di didik orang tuanya untuk selalu bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.
"Dan aku sepertinya mulai memikirkanmu. Entah dalam hal apa pun. Sejak kau kembali ke Singapore tanpa kabar rasanya dunia ku runtuh. Kau menghilang dan membuatku kebingungan" Ucap Andrean jujur.
Kata-kata yang membuat Angel kini turut menangis. Angel paham maksud Andrean. Bukan kata cinta yang bisa dia dengar untuk saat ini tapi Andrean yang tanpa sadar sudah mulai menyayangi Angel dengan tulus.
"Eh jangan menangis. Maaf. Aku memang belum tau aku bisa mencintai mu atau tidak. Karena jujur aku sangat menghargai dan menghormatimu selama ini" Ucap Andrean yang terkejut melihat Angel menangis.
"Kau janji akan menghargaiku selalu? Sebagai ibu dari anak kita?" Tanya Angel sambil menatap Andrean.
"Aku janji. Aku tidak akan membiarkan mu menangis dan terluka lagi. Maaf" Ucap Andrean sambil memeluk Angel.
Linny dan Sean tampak mengintip keduanya dari ujung ruangan. Sean mengecup puncak kepala Linny dengan penuh kasih.
"Akhirnya anak itu punya keluarga lengkap" Ucap Sean berbisik di telinga Linny.
"You're doing good job Daddy" Ucap Linny mengecup bibir Sean.
"Hm? Daddy?" Tanya Sean bingung.
"Jika seperti Andrean tentu kau akan di panggil Daddy kan?" Tanya Linny lagi.
Sean hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Linny. Sean berharap dia punya kesempatan itu.
Menjadi suami Linny juga ayah dari anak-anak mereka kelak. Tapi entah kapan itu.
"Biarkan mereka bersama. Aku lelah. Bisa kau pijat lagi punggung ku? Belakangan aku mudah lelah" Ucap Linny dengan manja pada Sean.
Sean langsung mengendong Linny ke kamar mereka.
.
.