A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Menikmati Berlayar...



"Dia benar-benar gila! Bangssttt!"  Umpat Sean kesal saat membaca pesan dari Erik.


"Temui dia. Aku akan ikut dengan mu"


Linny berdiri di belakang Sean tiba-tiba.


"Linny.. Kau bukannya sudah tidur???"


Sean terkejut, dia takut Linny salah paham tentang pesan itu.


"Berikan ponsel mu"  Ucap Linny sambil menatap Sean.


Dengan pasrah Sean menyerahkan ponselnya pada Linny. Dia tidak bisa membantah Linny.


Tampak Linny mengetikkan sesuatu setelahnya ponsel itu dikembalikan pada Sean.


"Istirahat-lah. Setelah tiba kembali ke negara kita maka temuilah dia. Kita bereskan manusia itu"  Ucap Linny tak ingin di bantah.


Sean hanya mengangguk patuh. Dia belum sempat membaca apa yang ditulis Linny.


Di atas ranjang yang sama, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Sean terbayang video yang dikirim oleh Erik. Video yang menunjukkan seberapa intim hubungan keduanya bahkan seluruh tubuh mereka terekam dengan jelas. Pikiran Sean terbayang dengan perut sixpack dan terong lemas milik Erik.


' Sial! Kenapa aku membayangkan hal itu!! Sialan Erik!!! '  Umpat Sean dalam hati. Dirinya sangat gelisah hingga tidak dapat tidur.


Sedangkan Linny tenggelam dalam pikirannya tentang Sean yang bisa berubah dengan total atau tidak, tentang keputusannya membiarkan Sean masuk dalam kehidupannya secara penuh, tentang manusia-manusia yang harus dia hancurkan dan lenyapkan bila perlu.


Linny merasa sedikit terusik dengan gerakan tubuh Sean yang sedari tadi seperti mencari posisi yang nyaman untuk tidur.


Mata Linny menangkap ada yang tak beres dengan mantan Gay satu itu. Meskipun mata Sean terpejam namun Linny dapat memastikan Sean belum tidur dan gelisah.


Entah gelisah karena ancaman Erik, atau karena hasratnya yang kembali naik karena melihat sekilas video itu, dan atau yang terburuk adalah Sean sedang menginginkan terong-terong lemas seperti videonya dengan Erik yang tampak sangat menikmati hubungan ranjang keduanya.


Linny menarik tubuh Sean dan langsung duduk di atas tubuhnya.


"Linny. Kenapa belum tidur?"  Tanya Sean terkejut saat Linny menempatkan tubuh tepat di atas tubuh Sean. Terlebih Linny menduduki gundukan celana yang mulai mengeras itu.


Linny tidak menjawab dan langsung meloloskan gaun tidur satin-nya itu hingga hanya tampak polos tanpa apa pun yang membungkus.


Linny memagut bibir Sean dengan kasar dan sesekali menggigit bibir bawahnya.


Tangan Linny mulai mengusap dan membuka kancing baju tidur Sean. Diperlakukan begitu membuat Sean semakin tidak tahan. Sean langsung mendudukkan tubuhnya dan memeluk erat Linny.


"Kau menggodaku?"  Tanya Sean heran.


"Aku hanya ingin membuatmu lupa dengan orang laknat itu"  Ucap Linny dengan dingin.


Sean menghela nafas berat, Linny sangat paham kegelisahannya.


"Maaf. Aku tidak bermaksud begitu"  Ucap Sean.


Linny kembali mencium Sean, keduanya berciuman cukup lama dalam posisi Sean yang duduk sambil memangku Linny.


Tak lama setelah itu mereka sudah tampak polos tanpa sehelai benang pun. Sean menciumi tubuh Linny dari wajah hingga turun ke inti tubuh Linny.


"Shhhhhh... Terus disitu...."  Desah Linny saat Sean mulai mencium dan menemui Venus dengan bibir dan lidah Sean.


Sean tersenyum senang, Linny benar-benar menikmati setiap sentuhan Sean.


Saat Linny hampir mencapai puncaknya. Sean dengan sengaja menghentikan aktivitasnya.


"Sh*it!! Sean!!! Kenapa berhenti??!"  Keluh Linny marah karena Sean membuatnya tanggung. Kepala Linny terasa sakit karena tidak bisa mencapai pelepasannya.


Sean tersenyum dan langsung menarik Linny bangun dari tempat tidur. Sean mengendong Linny dan merapatkan tubuh Linny pada dinding kamar.


Dengan perlahan Sean mendesak tubuh Linny dalam posisi itu, posisi yang tentu sangat disukai Linny.


"Ahhh...."  Suara erangan Linny terdengar saat Pluto sudah bertemu Venus.


"Sh*ittt... Kau terus mengurutku di dalam sana"  Ucap Sean yang keenakan saat Pluto terasa di manjakan Venus.


Kini hanya suara alam keduanya yang semakin terdengar dan di nikmati oleh kedua orang itu. Sean terus mendorong dengan keras hingga mengenai titik tersensitif di dalam tubuh Linny.


"Ahhhhh......."  Linny mengerang panjang tanda dia mencapai pelepasan pertamanya.


Sean membiarkan Linny menikmati pelepasannya sebentar lalu kembali menggerakkan tubuhnya dengan berbagai posisi hingga keduanya benar-benar kelelahan.


Akhirnya mereka bisa tidur dengan hanya menutupi tubuh polos dengan selimut.


.


.


Pagi itu terdengar suara kicauan burung laut. Linny terbangun dan melihat sebelahnya. Sean sudah terlebih dahulu bangun dan sudah selesai mandi. Sean sedang menyeduh teh untuknya dan Linny.


"Sudah bangun Honey"  Sapa Sean sambil tersenyum.


"Sialan! Honey? Madu?!"  Tanya Linny dengan ketus.


"Hahaha. Kenapa? Apa lebih baik aku panggil sayang? Baby?"  Tanya Sean sambil tertawa melihat ekspresi Linny yang merasa geli dengan panggilan itu.


"No! Panggil nama saja. Jangan membuatku jijik dengan panggilan itu."  Ucap Linny lalu bergerak turun dari ranjangnya.


"Mau aku mandikan?"  Tanya Sean sambil mendekati Linny yang masih polos tanpa pakaian karena memang semalam mereka tidur tanpa mengenakan apa pun.


"Tidak! Kau tidak hanya akan mandi. Aku tahu benar isi otak mu"  Ucap Linny tegas dan langsung masuk ke kamar mandi.


Sean terkekeh melihat sikap Linny yang takut di ikuti dirinya masuk ke dalam kamar mandi. Padahal Sean benar hanya ingin memandikan Linny, tidak untuk melakukan aktivitas panas pagi itu. Ya jika Linny tergoda lain akan lain ceritanya.


Linny yang sudah selesai mandi dan mencuci rambut tampak keluar hanya mengenakan bathrobe dengan rambut yang masih setengah basah.


"Mau aku keringkan rambutnya?"  Tanya Sean sambil memeluk tubuh Linny.


"Nanti saja. Aku ingin menikmati teh di balkon itu"  Ucap Linny.


"Baiklah. Biar aku bawakan teh ke sana. Ayo"  Ucap Sean lalu membawa teh Linny ke arah balkon.


Keduanya melihat pemandangan laut lepas di pagi hari. Sinar matahari begitu cerah pagi itu.


"Kita akan tiba di Singapore sore ini paling cepat. Dan besok sore baru kita berlayar kembali ke negara kita. Kau mau makan di kamar atau mengelilingi kapal ini?"  Tanya Sean.


"Makan di restoran saja. Aku ingin mengelilingi kapal milikku setidaknya sekali seumur hidupku"  Ucap Linny yang membuat Sean tertawa.


"Ayo ganti pakaian mu. Aku akan mengeringkan rambutmu"  Ucap Sean sambil menggandeng Linny masuk ke dalam.


"Aku ingin memakai kemeja mu"  Ucap Linny.


"Kemejaku? Itu akan terlalu besar untuk mu Linny"  Ucap Sean heran.


"Tidak masalah. Aku sedang malas memakai pakaian ketatku. Aku hanya membawa pakaian yang biasa aku pakai di bar"  Ucap Linny lalu duduk di depan meja rias sambil membiarkan Sean mengeringkan rambutnya.


"Baiklah. Pakai saja yang mana kau ingin"  Ucap Sean sambil mengeringkan rambut Linny dan merapikannya.


Setelah rambutnya kering, Linny mengambil salah satu kemeja putih milik Sean yang dirasanya paling netral untuk dia pakai.


Linny hanya mengenakan hotpants dan kemeja milik Sean, itu tampak cocok dan modis untuknya. Linny tidak menggunakan riasan, hanya memakai lip-gloss kesukaannya.


"Ayo"  Ucap Linny.


"Kau tidak membawa tas mu Linny?"  Tanya Sean heran Linny hanya menggenggam ponsel Samsung flip nya.


"Malas. Nih titip di kantong mu saja"  Ucap Linny menyerahkan ponselnya pada Sean.


"Baiklah"  Sean menyimpan ponsel Linny di kantong celana panjangnya lalu merangkul pinggang Linny.


Keduanya berjalan menuju restoran untuk sarapan. Tentunya mereka bebas memakan apa pun yang diinginkan.


Sean langsung memesankan menu yang disukai Linny juga sekaligus menyuapi Linny yang tampak sibuk dengan ponselnya. Linny mengecek beberapa email dan berita di luar sana.


"Masih mau makan yang lain?"  Tanya Sean sambil mengelap bibir Linny dengan tissue.


"Buah"  Jawab Linny singkat.


"Baiklah"  Sean beranjak dari tempat duduknya dan mengambil buah. Terlihat buah melon, anggur, dan strawberry kesukaan Linny. Sean mengambil secukupnya lalu kembali duduk di meja.


Sean menyuapi Linny dengan buah-buahan yang di bawanya. Semua terasa manis karena kualitas jepang.


Sesaat Linny menghentikan aktivitasnya dengan ponsel pintarnya itu.


"Kau tidak makan?"  Tanya Linny yang menyadari Sean sibuk menyuapinya sedari tadi.


"Sudah, aku makan makanan yang sama dengan mu. Kau terlalu fokus dengan ponsel mu dari tadi"  Ucap Sean sambil tersenyum.


Seseorang mendekati tempat Linny dan Sean duduk.


"Kimberlyn..."  Sapa pria itu menatap Linny tanpa kedip.


"Kau??? Reza??"  Linny tampak terkejut melihat pria itu.


Pria bernama Reza itu langsung memeluk Linny dengan erat. Linny terdiam dipeluk seperti itu. Sedangkan Sean tampak bingung juga merasa cemburu melihat Linny dipeluk pria yang tidak dia kenali.


"Aku merindukan mu. Kau ke mana saja. Sudah 10 tahun aku tidak bisa mendapat kabarmu"  Ucap Reza yang refleks mencium pipi Linny.


"Kau siapa?"  Tanya Sean yang tampak tidak suka melihat Reza mencium pipi Linny.


.


.


.