A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Sisi Gelap...



"Kita akan kembali ke kantor, Linny? "


"Iya. Kita kembali ke kantor. Kau ikut meeting dengan ku dan Andrean


serta Sisilia. Langsung ke ruangan ku. Mengerti? "


"Okey "


.


Tiba di kantor, Linny segera berjalan menuju ke ruangan nya di ikuti oleh Sean.


Terlihat Andrean dan Sisilia sudah menunggu di dalam ruangan.


Ruangan CEO memang di design khusus menggunakan kode akses yang hanya diketahui Linny juga kedua sahabatnya itu.


Andrean dan Sisilia yang melihat Linny datang bersama Sean mengerutkan dahi mereka.


"Kenapa pandangan kalian begitu ? "


Linny heran melihat wajah Andrean dan  Sisilia.


"Kalian barengan dari tadi? Kemana? "


Sisilia tampak menyelidik.


"Makan siang sekaligus bertemu Om Donald "


Linny merebahkan dirinya di sofa. Sean yang seperti tukang ekor langsung ikut duduk di sebelah Linny.


"Kalian ngamar tadi?"


Kini Andrean yang berbicara karena penasaran.


Linny dan Sean saling berpandangan dengan rasa bingung mendengar pertanyaan Andrean.


Tahu kalau Linny dan Sean tidak paham maksud perkataannya, Andrean menunjukkan layar ipad nya.


Terlihat unggahan dari sebuah akun yang menunjukkan foto dan video Linny beserta Sean memasuki hotel Alexxander. Dan yang paling mengejutkan adalah judul dari unggahan itu.


Mata Linny menunjukkan amarahnya yang sudah akan meledak.


"Suruh anggota mu cari siapa yang mengunggah itu, laporkan! Dan blacklist dia serta keluarganya dari seluruh perusahaan! Semua akun yang berkomentar juga harus di laporkan!"


Linny sangat kesal dengan hal itu. Bukan masalah jika dia memang benar ke sana untuk melampiaskan hasrat bersama Sean, namun dia hanya menemui Om Donald untuk urusan penting.


"Baiklah. Akan aku urus ini"


Andrean mengerti kalau berita itu tidak benar. Karena jika memang tujuan Linny pergi ke hotel hanya untuk bersenang-senang maka dia tak akan semarah ini.


Sean hanya duduk diam tanpa mau berkomentar.


"Apa yang ingin kau bicarakan Linny? Kau menyuruh ku dan Sisilia ke sini "


Linny menatap Andrean sebentar lalu mengalihkan pandangannya melihat Sean.


Sean yang paham langsung meletakkan map besar yang di berikan Om Donald tadi.


Andrean dan Sisilia saling berpandangan lalu membuka isi map itu. Mereka cukup terkejut melihat tiga sertifikat hak milik. Juga beberapa surat kepemilikan saham, dua buku tabungan yang terlihat memiliki nominal masing-masing 4 Miliar dan 5 Miliar, serta terdapat sebuah polis asuransi jiwa yang bertuliskan 10 Miliar.


Tampak juga beberapa berkas mengenai anak-anak perusahaan keluarga tiri Linny.


" Tolong urus pergantian kepemilikan sertifikat itu untuk Nicolas. Serta pencairan asuransi jiwa itu. Di situ juga ada surat wasiat sah tertulis secara notarial yang di titipkan Papa ku kepada Om Donald. Notaris itu masih hidup dan ada bukti rekamannya juga di tangan Om Donald. Itu bisa jadi bukti kalau semua peninggalan Papa itu sah "


" Ah, pindahkan dua sertifikat itu untuk Nicolas. Sedangkan satu lagi pindahkan atas nama yayasan yatim piatu yang kalian kelola. Dan gunakan uang 2 Miliar untuk membantu korban bencana juga fakir miskin serta yatim piatu" Ucap Linny melanjutkan.


" Baiklah. Aku mengerti. Terus ini? Mau kita apakan?" Tanya Andrean menunjuk informasi tentang anak-anak perusahaan keluarga tiri Linny.


" Dari yang diketahui Om Donald. Banyak perusahaan itu yang melakukan korupsi dan pembohongan data keuangan perusahaan. Publikasikan, aku ingin melihat bagaimana orang-orang itu kelimpungan karena kecurangan mereka di ketahui. Ah jangan lupa cabut semua dana kita dari perusahaan investasi mereka" Ucap Linny.


" Kau yakin ? Bisa-bisa Mama mu akan ikut di rugikan mereka"  Ucap Andrean yang agak ragu dengan dua tindakan yang pastinya akan berpengaruh dengan kehidupan ibu kandung Linny.


" Mama ku sudah lama MATI Andrean. Aku ini YATIM PIATU. Apa kau lupa ?"  Ucap Linny menatap tajam ke arah Andrean.


Andrean hanya bisa diam mendengar perkataan Linny, kebencian dan dendam Linny begitu besar.


Sisilia yang paham emosi Linny kini terpancing mencoba menengahi.


"Ya sudah. Kita lakukan saja seperti itu. Dan masalah kerja sama Abdi Wijaya dengan perusahaan perhiasan itu, sudah kami ketahui celahnya. Sepertinya ini membutuhkan mu untuk berbicara dengan CEO perusahaan itu, Linny" Ucap Sisilia.


"Aturkan saja jadwalnya. Aku akan menemui pemilik perusahaan nya"


Linny tampak tenang namun hal itu semakin menakutkan bagi Andrean. Linny benar-benar tidak memiliki rasa takut ataupun  kasihan untuk keluarga tirinya itu lagi kini.


Linny sudah sangat berubah. Linny yang sekarang bukan Linny yang baik dan lemah seperti dulu.


Beberapa perusahaan kecil yang berhasil di hancurkan Linny sudah cukup membuat keluarga tirinya itu kelimpungan sehingga mereka melepaskan pabrik pakaian peninggalan Papa Frans dengan harga murah karena terdesak keuangan. Sepertinya sistem keuangan perusahaan Abdi Wijaya sedang tidak sehat. Perusahaan itu tampak besar dan kuat di luar, namun faktanya banyak perusahaan perusahaan kecil yang dia bangun malah melakukan penipuan ekonomi di luar sana. Bahkan banyak karyawan yang di gaji tidak sesuai dan tidak mendapatkan bonus semestinya.


" Aku ingin mereka hancur dan mencium kaki ku. Akan ku pastikan kepala mereka berada di bawah kaki ku "


Ponsel Sean berbunyi, tampak panggilan dari Danu.


"Maaf aku angkat telepon sebentar " Ucap Sean meminta ijin untuk mengangkat teleponnya.


"Ha--"


" BRO!! Kau dimana??!! Erik mengamuk!! Dia mencabut semua infus dan merusak kamar tempatnya dirawat! Terpaksa pasien lain yang satu ruangan dengannya harus di pindahkan "


Belum sempat Sean berbicara, terdengar Danu sudah panik.


" Astaga anak itu. Ya sudah. Sore nanti kau dan yang lain temani aku menemuinya. Aku tidak mau bertemu dengannya berduaan "


" Okey. Semoga setelah bertemu dengan mu membuatnya sedikit waras. Dia benar-benar gila! "


" Ya. Aku tutup dulu. Aku sedang meeting "


Sean langsung mematikan panggilan itu.


Linny menatap Sean dengan penuh tanya.


"Ada apa? " Tanya Linny.


"Erik masuk rumah sakit. Dia mengamuk"  Ucap Sean.


"Hm???"


"Aku mengakhiri semuanya. Sepertinya dia tidak terima. Sejak dulu dia memang begitu " Ucap Sean lirih.


Sean lupa di sana ada Sisilia dan Andrean. Berbeda dengan Sisilia, Andrean sudah tahu bahwa Sean memiliki pasangan sesama jenis.


Sisilia menatap bingung melihat Sean.


"Tunggu dulu. Erik? Siapa dia? Mengakhiri apa?" Sisilia tampak bingung menyusun puzzle di pikirannya.


"Sean itu gay. Ah sorry, maksud ku mantan gay"  Jelas Andrean dengan santai.


Mata Sisilia membola tidak percaya. Sean yang dia lihat memang tampak sangat sempurna dan tidak menunjukkan gelagat sebagai kaum pelangi. Ternyata Sisilia tertipu selama ini.


"Kok kau tau Dre??"


Sisilia juga heran bagaimana Kakak laki-laki nya itu bisa tahu. Apa jangan-jangan Andrean juga gay????


"Teman ku penghuni bar madam pelangi. Kau tahu Regan? Dia dan Wilson--sepupunya itu kaum pelangi. Kemarin saat aku makan di cafe, tidak sengaja aku melihat Sean di sana. Nah Regan bilang Sean sangat terkenal di bar pelangi mereka. Dia ibaratnya bintang utama juga VVIP di sana"  Jelas Andrean dengan cuek.


Sean merasa tidak enak. Ternyata Andrean sudah tahu tentangnya namun tetap bersikap biasa dan tidak jijik dengannya. Jika orang lain sudah pasti akan merendahkan dan jijik dengan Sean.


"So? Kau juga tau Linny??"  Sisilia heran melihat Linny tampak cuek.


Linny hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Sisilia.


"Wah kau gila. Aku tidak menyangka kau bisa menerima seorang gay"  Ucap Sisilia yang masih syok.


"Emang kenapa?"  Tanya Linny heran.


" Ya itu karena... Hmmm.. Sorry ya Sean bukan mau men-judge kau. Tapi ini fakta dan ketakutan orang-orang loh"  Ucap Sisilia melihat Sean sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Take it easy. Tidak masalah Sisil. Aston dan yang lainnya juga tahu dan sering menasihati ku sejak dulu"  Ucap Sean yang merasa tidak ada yang bisa di sembunyikan lagi.


"Maksud ku. Biasa orang-orang sejenis kaum kalian kan mainnya lobang belakang. Sorry itu kan kotor kalau enggak di bersihkan dengan baik. Dan biasanya kaum kalian lebih rentan terkena penyakit menular"  Ucap Sisilia menjelaskan.


Sisilia tidak salah dengan perkataannya. Hal itu memang menjadi pembicaraan yang selalu di bahas oleh orang-orang.


" Aku tahu makanya aku sudah berhenti sejak dekat dengan Linny. Aku berharap bisa benar-benar lepas dari kondisi ini" Ucap Sean yang menyesali dirinya yang pernah masuk ke dalam dunia pelangi.


" Tapi jujur Sean. Aku bukan ingin merendahkan atau membuat mu patah semangat. Seperti yang aku bilang, temanku Regan dan Wilson juga sama seperti mu. Mereka terjebak dalam lingkungan itu. Dan Wilson sempat memutus hubungan dengan kaum sejenis kalian. Tapi tidak bertahan lama. Dia kembali lagi ke komunitas itu"  Ucap Andrean yang memang paham dengan situasi Sean.


" Dan aku sarankan, kau sebaiknya ke psikolog. Mungkin itu bisa membantu"   Tambah Andrean lagi.


Sean tampak terdiam. Entah apakah benar perkataan Andrean bahwa sangat mustahil bisa benar-benar lepas dari kehidupan sebagai kaum pelangi. Apa benar dia akan kembali ke jalan itu lagi.


"Kau ingin bertemu Erik? Aku ikut ya"  Ucap Linny tiba-tiba.


"Kau mau menemui Erik? Untuk apa Linny?"  Tanya Sean heran.


Linny hanya diam, itu tandanya dia tidak bisa dilarang untuk ikut menjenguk Erik.


Sean menghela nafas berat. Entah apa yang akan terjadi. Benarkah dia bisa lepas atau dia malah akan kembali ke komunitasnya seperti perkataan Andrean.


Kini jiwa Sean mulai goyah. Tidak di ungkiri terkadang melihat lelaki tampan berotot membuatnya kagum. Namun jika melihat orang komunitasnya yang berciuman dan bercumbu seperti kemarin itu malah membuatnya merasa tidak nyaman dan jijik. Dia benar-benar bimbang saat ini.


.


.


.