A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Nikmati Jalani



"Linny...."


"Hmmm..."


"Andai aku bertemu dirimu 19 tahun lalu..."  Ucap Sean lirih.


Linny menatap Sean dengan lembut. Tangan-nya bergerak mengusap wajah Sean yang lelah itu.


"Jangan mengandaikan sesuatu yang tidak jelas akhirnya. Jalani saja yang sudah ada"  Ucap Linny menasihati Sean.


Hati Sean berdesir mendapat perlakuan lembut dari Linny. Jarang sekali Linny bersikap lembut dan ke-ibuan seperti itu.


"Jangan tinggalkan aku. Ku mohon"  Ucap Sean lirih.


Linny paham, Sean sedang dalam perasaan yang bingung.


"Apa yang terjadi?"  Tanya Linny perlahan.


"Apa kau baru bertengkar dengan pacar mu itu?"  Tanya Linny lagi.


"Tidak. Hanya Erik tidak mau melepas ku"  Ucap Sean jujur.


"Kau bertemu dengan nya?"  Tanya Linny penasaran.


'Iya, aku baru dari tempatnya"  Jawab Sean jujur.


Sean merasa tidak bisa berbohong kepada Linny.


"Kalian bercinta lagi setelah bertengkar?" Terka Linny.


Sean menatap wajah Linny dan mengangguk pelan.


"Tapi bukan seperti biasanya. Jujur aku memang masih bisa terbawa suasana saat di sentuh oleh Erik dan beberapa pria lainnya. Tapi meskipun aku ingin,  entah kenapa tubuhku menolak puas saat di sentuh mereka"  Ucap Sean sambil beranjak duduk di sofa bed itu.


"Erik yang melakukannya sendiri, aku tidak merespons dirinya. Entah lah. Aku juga bingung"  Ucap Sean melanjutkan.


"Kau memakai pengaman?"  Tanya Linny lagi.


"Selalu. Aku selalu menjaga kebersihan ku Linny"  Jawab Sean serius.


"Tapi dengan ku tidak. Kau tidak pernah menggunakan pengaman meskipun ku berikan"  Timpal Linny yang heran.


Ya Linny dan Sean selalu melakukan hubungan suami istri tanpa alat pengaman. Padahal biasanya Linny mewajibkan semua teman kencan pria nya untuk menggunakan pengaman.


Jika ada yang menolak memakai pengaman maka di pastikan Linny tak akan mau di sentuh. Hanya dengan Sean saja Linny tidak mempermasalahkan hal itu.


"Ah itu...."


Sean  tergagap bingung menjawab pertanyaan Linny.


 "Kau ingin aku cepat hamil begitu? Memang nya kau pikir jika aku hamil lantas aku mau menikah dengan mu?"  Tanya Linny lagi.


Sean hanya mampu terdiam. Dirinya tidak pernah berpikir sejauh itu. Dia hanya merasa sangat ingin menyentuh Linny dan tidak mempermasalahkan hal lainnya.


"Bukan begitu..."  Ucap Sean lirih.


"Ingat Sean. Meskipun aku hamil, itu tidak akan menjamin aku mau menikah dengan mu. Aku bisa menghidupi dan membesarkan anakku tanpa sosok seorang ayah"  Tegas Linny.


"Tidak bukan begitu. Kau salah paham. Aku benar-benar tidak punya maksud seperti itu Linny"  Ucap Sean berusaha menjelaskan.


Sean meraih tangan Linny seolah takut kehilangan wanita di hadapannya itu.


"Apa pun mau mu. Akan aku ikuti. Hanya aku minta jangan pernah meninggalkan ku sampai aku tidak bernyawa lagi. Aku hanya ingin bersama mu. Kalau kau tidak ingin menikah, aku akan mengikuti mau mu"  Ucap Sean tulus.


Bagi Sean yang terpenting saat ini adalah Linny. Asalkan wanita itu tidak menjauhinya yang seorang gay saja, hal itu sudah membuatnya bahagia.  Perasaan hangat, nyaman dan tenang yang sulit di ungkapkan Sean saat bersama Linny tentu membuat Sean takut kehilangan Linny.


"Ya sudah. Minum teh herbal ini. Setelah itu masuk ke kamar. Tidur lah. Kau sedang demam"  Ucap Linny sambil menyodorkan segelas teh herbal.


Sean patuh dan menegak habis teh itu. Namun dirinya belum beranjak dari sofa bed.


"Ada apa?"  Tanya Linny dengan heran melihat Sean yang masih duduk di sofa bed.


"Aku tidur di sini saja"  Jawab Sean.


"Astaga. Kau sedang cosplay menjadi pria pemalu kah? Biasanya kau bisa memanjat ranjang ku tanpa disuruh"  Sindir Linny.


"Bukan begitu.. Aku~"  Sean merasa malu.


Meskipun demam, namun keinginan si Pluto bermain-main masih sangat tinggi apalagi belum selesai akibat perlakuan Erik tadi.


"Ikut dengan ku sekarang!"  Ucap Linny yang tidak ingin di bantah.


Sean bak kerbau yang di cucuk hidungnya langsung mengikuti perintah Linny. Keduanya masuk ke kamar dan tidur di ranjang yang sama.


Sean takut jika meminta Linny membiarkan Pluto bermain-main maka Linny akan berpikir kalau Sean hanya menganggap Linny sebagai alat pemuas saja.


Namun Sean lupa, seorang Linny bisa membaca pikiran dan sikap Sean yang sejak tadi tidak tenang.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Linny menaiki tubuh Sean yang terbaring di ranjang.


"Linny.."


Sean merasa gelisah karena si Pluto sedang diduduki Linny.


"Kau bodoh. jangan bersikap pura-pura begitu di hadapan ku. Kau aktor yang terburuk"  Ucap Linny yang langsung membuka pakaian atasnya hingga polos.


Linny bergerak perlahan memberi sentuhan pada Pluto yang memang masih menegang bahkan kian mengeras di hadapan Linny.


"Shhhhh.. Linny...."  Suara Sean tertahan.


Linny tersenyum nakal sambil membelai wajah Sean.


"Wanna taste Pak Winsen?"


Tanya Linny dengan nada menggoda.


Di perlakukan begitu, Sean tidak bisa bertahan lagi. Sean segera membalik posisi mereka hingga Linny berada di bawah kungkungannya.


Keduanya saling bertukar saliva dengan penuh perasaan.


Sean melepas semua pakaiannya juga celana tidur Linny menyisakan kain tipis berwarna hitam yang sering di sebut g-stri*ng itu.


"Just want to be seen?"  Tanya Linny sengaja menggoda Sean.


Sean segera menciumi kedua dada Linny bergantian, membuat Linny mende*sah tertahan.


Hingga Pluto bertemu dengan Venus tercintanya itu, membuat suara Linny semakin menggema di seisi ruangan kamar.


"Ahhhh.. Sh***ittttt.... Seannn..."  Desah Linny saat Pluto bermain-main didalam sana.


"Kau selalu sangat sempit dan hangat Linny"  Ucap Sean di telinga Linny.


"Kau suka?" Tanya Linny sambil tersenyum.


"Sangat..."


Sean jujur. Rasa nikmat si Pluto yang mendapat SPA dan urut oleh Venus tentu membuatnya benar-benar melayang.


"Kalau begitu hentikan aktivitas ranjang mu dengan pria lain. Maka aku akan memberikan hal yang lebih menarik lagi"  Ucap Linny sambil tersenyum.


"Caranya?"


Sean bertanya sambil menggerakkan tubuhnya perlahan mendesak tubuh Linny.


"Aku tidak meminta mu meninggalkan mereka begitu saja. Shhhhhh... Ahhhh... A-aku hanya tidak ingin kau melakukan hubungan badan dengan mereka. Aku tidak mau kau nanti menularkan penyakit pada ku"  Ucap Linny jujur sambil menahan nikmat.


"Baik lah. Aku berjanji tidak akan membiarkan mereka menyentuh ku lagi"  Ucap Sean bersungguh-sungguh.


Sean mempercepat gerakan tubuhnya hingga mencapai pelepasan bersama Linny. Demam pada tubuhnya membuat Sean tidak bisa bermain berlama-lama dengan Linny.


"Aku akan mengambilkan handuk hangat untuk mu. Diam lah di sini"


Linny langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya serta membawakan handuk hangat untuk membasuh tubuh Sean.


Keduanya tertidur hingga pagi menyingsing.


Pagi itu Sean berangkat bersama Linny menaiki mobil yang sama.


Semua karyawan tampak bingung melihat Sean datang berbarengan dengan Linny.


Namun tidak ada yang berani bertanya ataupun memulai gossip.


Karyawan di perusahaan Linny sudah pernah mendapat ultimatum keras akibat menggosipkan dan mencari tahu kehidupan pribadi teman kantor mereka.


Tak ada yang ingin mendapat surat peringatan apalagi di pecat mengingat perusahaan Linny memberikan gaji dan  fasilitas terbaik bagi karyawan yang kompeten dan bersungguh-sungguh bekerja.


Apalagi gaji di perusahaan itu memang lah tertinggi di banding tempat lainnya. Menginggat kebutuhan pokok semakin tinggi meroket saat ini.


Dipecat karena bergossip sungguh tidak terhormat bukan??


 .


.


.