
Sebulan sudah Sean dan Linny kembali akur. Mereka bahkan seperti tidak pernah bertengkar sebelumnya.
Kesibukan Linny setiap hari membuat waktunya tersita sepanjang hari di dalam kantor. Sean juga tampak sibuk karena perusahaan Linny kian hari kian mengembangkan sayap di lini bisnis lainnya.
Beruntung Sean selalu ingat waktu makan, sehingga Linny tidak akan khawatir jika G.E.R.D nya bisa kumat lagi.
Sean juga selalu menyiapkan camilan sehat untuk Linny dan meminta Alfa membelikan kulkas 1 pintu untuk ruangan Linny.
Sean selalu menyediakan buah juga roti sandwich buatannya. Jika Sean sibuk maka dia akan menghubungi Alfa untuk mengeluarkan buah untuk Linny atau memanaskan sandwich di microwave untuk Linny.
Perhatian seperti itu membuat semua karyawan yang melihat hubungan Sean dan Linny merasa ikut senang. Tak jarang para karyawan wanita menerapkan standar pria seperti Sean sebagai future husband mereka.
Hal yang aneh tapi ya begitulah. Lagi pula semua orang hanya melihat dari sisi luarnya. Mereka tidak tau apa yang sudah Sean dan Linny lewati bersama.
Jika perempuan lain bertemu Sean, belum tentu mereka bisa menerima Sean yang seperti itu. Pasti akan ada sikap mencemooh dan tidak bisa menerima masa lalu Sean.
Memang hanya Linny yang tepat untuk Sean dan Sean yang tepat untuk Linny. Mereka berdua bisa saling memahami dan menerima masa lalu masing-masing.
Hingga waktu sore tiba keduanya memutuskan pulang bersama. Begitu tiba di sekitar penthouse. Linny melihat seorang pria berjalan mengendap-gendap menggunakan hoddy hitam dan menutup kepalanya dengan topi.
Meskipun sekilas Linny bisa melihat pria itu adalah Carlie.
"Jun! Berhenti!"
Seru Linny yang membuat Jun spontan menghentikan mobil. linny langsung turun mengejar pria itu. Para pengawal dengan sigap mengikuti Linny.
"Sial! Dia kabur!" Umpat Linny kesal.
Sean yang melihat Linny begitu panik dan terburu-buru turut turun mengikuti Linny.
"Ada apa?" Tanya Sean bingung.
"Carlie! Dia ada di sekitar sini" Ucap Linny.
Mendengar nama Carlie semua pengawal langsung waspada. Mereka tau siapa saja musuh Tuan dan Nonanya itu.
"Ayo masuk. Ah kalian perketat penjagaan dan tetap berhati-hati. Aku akan mengirimkan wajah Carlie ke group. Jadi kalian bisa lebih waspada"
Ucap Sean pada para body guard nya.
"Baik Tuan. Sebaiknya Tuan dan Nona masuk saja. Biar kami yang mencari di sekitar" Salah satu pengawal mereka memberi ide.
Linny mengangguk pelan dan mengikuti Sean menaiki lift menuju penthouse.
Sean tampak sibuk mencari foto Carlie di salah satu akun media sosial kenalannya di bar madam pelangi dulu. Setelahnya Sean mengirimkan Screen shoot foto itu di group yang berisi para bodyguard mereka.
Ponsel Linny berbunyi tanda pesan masuk. Terlihat pesan masuk dari Santo.
"Rain sudah kembali. Zin sudah meninggal di tangan pesuruhku" -Pesan Santo-
Isi pesan itu tidak membuat Linny bereaksi apa pun. Dia tidak tau harus menanggapi bagaimana situasi saat ini.
"Terima kasih" -Balas Linny pada pesan Santo-
Linny menghela nafas berat. Semakin ke sini semakin jelas peperangannya dengan Rain. Di pastikan Rain akan mengejarnya karena Zin meninggal. Meskipun bukan Linny yang membunuhnya tapi luka-luka berat Zin adalah hasil dari perbuatan Linny yang mengamuk.
"Ada apa?" Tanya Sean heran.
"Rain sudah kembali"
Linny menatap dalam pada Sean. Keduanya sama-sama terdiam.
Monster gila itu sudah kembali. Mereka harus lebih waspada kini.
.
.
.
Bar MadamR~
Itu nama terbaru untuk Bar yang di buka kembali oleh Rain. Tidak sulit untuknya membuka bar seperti itu karena dia di dukung oleh aparat keamanan di daerah itu.
Hanya dengan memberi sejumlah uang dan wanita cantik untuk mereka. Rain sudah bisa membuka kembali Barnya dan beroperasi dengan normal.
"aku turut berduka" Ucap salah satu pria yang berpakaian aparat keamanan itu.
"Baiklah. Lakukan saja. Toh kecelakaan yang kau buat juga aku tetap tutup mata" Ucap pria itu.
Rain tersenyum menanggapi ucapan pria itu. Dendamnya begitu besar. Dia kini menargetkan seseorang yang akan semakin menghancurkan hati Sean juga keluarga Sean.
Menyerang keluarga adalah hal yang menarik dan terbaik menurut Rain.
"Percuma kau hancurkan semua tentang Sean. Aku sudah dan masih ingat siapa saja keluarganya" Gumam Rain sambil tersenyum menyeringai.
.
.
.
Di sebuah desa jauh di dalam hutan. Terlihat seorang pemuda yang sedang mengangkut kayu sebagai alat pembakaran tungku memasaknya.
Pemuda itu tinggal di sebuah rumah kecil yang di berikan oleh warga di sana. Dia di perlakukan dengan hangat dan baik.
Pria itu adalah Rendy Abdi Wijaya. Dia di selamatkan oleh warga desa di dalam hutan itu. Mereka merawat luka Rendy dan memberikannya tempat tinggal kecil.
Tak jarang mereka memberikan makanan untuk Rendy dan memberikan pakaian bersih. Rendy bersyukur dia benar-benar selamat. Kini dia bingung entah apa yang terjadi pada keluarganya di kota.
Meskipun memiliki ponsel namun ternyata di daerah itu listrik juga belum masuk. Warga masih menggunakan cara tradisional yaitu obor jika malam menjelang.
Dan tentu sinyal juga tidak ada. Di sana memang masih sangat tradisional sekali.
"Nak Ren mau pergi?" Tanya salah seorang nenek yang sering memasak untuk Rendy.
"iya Nek. Ada yang harus aku urus" Jawab Rendy sesopan mungkin,.
"Kapan mau pergi?" Tanya nenek itu.
"Mungkin beberapa minggu lagi Nek" Jawab Rendy.
"Ya tinggallah di sini seperlu yang kamu butuh kan. Jika di kota tidak berhasil maka kembalilah. Nenek akan menerima kamu lagi" Ucap Nenek itu terdengar begitu baik.
"Terima kasih Nek" Ucap Rendy dengan senyum yang manis.
Dia menatap langit bersih di daerah itu. Tempat itu sebenarnya begitu nyaman dan aman untuknya saat ini. Tapi rasa dendamnya kian tinggi dan dia harus membalas dendamnya.
"Akan aku cari ke mana pun kau! Sialan!" Gumam Rendy mengumpat.
.
.
Penthouse~
"Sayang. Makanan sudah siap" Ucap Sean memanggil Linny.
"Iya sebentar!" Teriak Linny dari ruang kerjanya yang tidak tertutup itu.
Tak lama kemudian Linny keluar. Dia melepas kacamata bacanya dan meregangkan lehernya yang kaku karena kelamaan membaca berkas.
"Masih banyak yang harus di urus?" Tanya Sean sambil memijit pundak Linny.
"Lumayan. Ayo makan" Ucap Linny.
Mereka makan bersama, Sean tampak menyuapi Linny sesekali. Keduanya begitu dekat. Dia menatap lekat wajah Linny yang begitu lelah.
"Perlu bantuanku?" Tanya Sean.
"Tidak usah. Aku baik-baik saja" Ucap Linny dengan santai.
"Baiklah. Sabtu nanti kita ke puncak ya. William dan yang lainnya mengajak. Erik dan Joe juga akan ikut. Om Donald bilang dia ada villa di sana"
Ucap Sean menginformasikan rencana mereka untuk berlibur.
"Baiklah" Ucap Linny dan kembali sibuk menikmati makanan yang ada.
.
.
.