
POV Linny 1
Aku cantik sejak lahir. Begitu yang selalu dikatakan kedua orang tuaku.
Aku merupakan putri pertama dari Frans John Pratama dan Sisca Natalie.
Saat aku berusia 6 tahun, Mama melahirkan seorang adik laki-laki yang tampan untukku.
Adik ku di beri nama Nicolas Fransisco Pratama...
Keluarga kami sangat bahagia. Aku sangat senang. Papa selalu mencintai kami.
Kami tidak lah kaya, juga tidak miskin. Kehidupan kami berkecukupan.
Papa membangun sebuah rumah yang sederhana dan asri untuk tempat tinggal kami ber-empat.
Papa juga mengelola sebuah pabrik pakaian yang termasuk besar di kota kami tinggal.
Setiap hari Papa akan pulang kerja membawakan roti dan susu kesukaanku.
Hari yang aku jalani sangat bahagia hingga umur ku 10 tahun, kejadian buruk menimpa Papa.
Papa mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan keluar kota.
Kematian Papa menjadi luka tersendiri bagi ku. Luka mendalam yang membuatku kehilangan sosok yang berperan penting dalam kehidupanku.
Mama juga sering melamun, keluarga kami terasa sepi tanpa Papa.
Sadar Papa tak akan pernah bisa kembali lagi. Mama pun memutuskan mulai melanjutkan usaha pabrik pakaian milik Papa.
Namun kian hari pabrik terus mengalami masalah dan juga kerugian.
Keuangan kami menipis, Mama harus berhemat.
Banyak karyawan yang sudah di berhentikan Mama termasuk pembantu rumah kami.
Kami hidup dalam situasi yang benar-benar sederhana hingga usia ku menginjak 12 tahun, Mama tampak serius bertanya padaku dan Nicolas.
" Kim, Mama mau menikah lagi boleh? " Tanya Mama pada ku.
" Menikah? " Nico yang masih berusia 6 tahun itu tampak bingung dengan maksud Mama.
" Iya sayang. Biar kalian punya Papa lagi. Biar ada yang jaga kalian kalau Mama sibuk " Ucap Mama menjelaskan niat baiknya.
" Kalau Mama rasa itu yang terbaik. Kim tidak masalah kok Ma" Ucapku yang berusaha mengerti, Mama mungkin kesulitan menjaga kami juga harus mencari uang untuk nafkah kami sehari-hari.
" Makasih sayang. Kamu memang anak yang baik " Ucap Mama yang sebenarnya jarang sekali memuji atau memelukku.
Karena hal itu lah aku lebih dekat dengan Papa dan merasa sangat kehilangan saat Papa meninggal.
Mama mengenalkan kami dengan seorang laki-laki.
Om Hendra namanya. Om Hendra datang bersama seorang anak laki-laki. Ku lihat se-umuran dengan ku.
" Hallo cantik namanya siapa? " Tanya Om Hendra.
" Kimberlyn , Om" Jawabku dengan polosnya saat itu.
" Ah Kim, kenalkan nama Om Hendra Abdi Wijaya. Panggil aja Hendra. Dan ini anak Om namanya Rendy Abdi Wijaya" Ucap Om Hendra mengenalkan anak laki-laki di sebelahnya itu.
Aku hanya mengangguk pelan. Mama menyuruh ku mengajak Rendy dan Nicolas bermain bersama.
Anak laki-laki yang bernama Rendy itu tampak angkuh dan sombong.
" Hei bocah! Main sendiri jangan ganggu aku! " Ucap Rendy yang tampak sinis dengan ku.
Aku tidak peduli dan mengajak Nicolas bermain berdua.
Tidak lama setelah pertemuan itu. Mama dan Om Hendra menikah. Aku dan Nicolas di suruh untuk memanggil Om Hendra dengan panggilan Papa Hendra.
Aku tidak mempermasalahkan nya namun Nicolas tampak tidak menyukai om Hendra.
" No! Papa ku namanya Frans bukan Hendra! ", Begitu kalimat penolakan dari Nicolas saat Mama meminta kami memanggil sebutan 'Papa' untuk Hendra.
Mama tampak berusaha membujuk Nicolas. Namun Nicolas tidak peduli.
Saat berada di kamar Nicolas. Aku mendekatinya dan bertanya.
" Dek, kamu tidak suka Papa Hendra? " Tanya ku pada Nicolas.
" Dia jahat Kak. Dia itu suka mengintip Kakak saat tidur! " Ucap Nicolas yang membuat ku terkejut
" Mengintip? Kapan? " Tanya ku heran.
" Iya! Setiap dia menginap di sini aku lihat dia selalu menatap Kakak dengan tatapan yang menjijikkan! Aku enggak suka! Tatapannya seperti orang-orang jahat di film! " Ucap Nicolas jujur.
Ah, apa adikku benar. Tapi bagaimana dia bisa membedakan tatapan jahat dan tatapan tidak jahat.
Begitu lah yang ku pikirkan. Dan aku belum menemukan jawabannya.
Hingga saat aku pulang sekolah sehabis mengikuti ekstrakurikuler. Om Hendra datang menjemputku sendirian.
" Loh. Papa? Mama dimana? " Tanya ku dengan polosnya
" Mama lagi sibuk di pabrik. Kamu tahu kan pabrik pakaian baru saja mulai kembali membaik. " Jawab Om Hendra dengan lembut.
Aku mengerti karena memang sejak kehadiran Om Hendra, usaha pabrik milik almarhum Papa kembali mulai stabil.
Om Hendra mengajak ku berjalan-jalan sebelum kembali ke rumah. Dia mengajakku ke sebuah taman sepi.
" Kita ngapain ke sini Pa? " Tanya ku yang masih polos.
" Mau main-main dulu sebelum pulang. Lagian belum sore kok" Ucap Om Hendra dengan santainya.
Aku mengikuti Om Hendra berjalan turun dari mobil menuju taman bermain. Terlihat sebuah bangunan yang tidak begitu besar di dekat taman itu.
Bangunan itu lebih layak di namakan gudang terbengkalai. Om Hendra mengajak ku ke dalam gudang yang tidak terkunci itu.
" Bantu Papa cari sesuatu ya Kim" Ucap Om Hendra sesaat sebelum masuk ke dalam gudang.
" Iya Pa" Ucap ku yang masih polos dan mengikutinya.
Saat aku masuk. Om Hendra langsung memeluk ku dengan kasar dan menciumi ku.
Aku yang terkejut lalu memberontak dan berteriak.
" Papa!! Lepas!! " Ucap ku berteriak sekuat mungkin. Aku merasa Om Hendra akan melakukan hal buruk terhadapku.
Kembali terngiang di kepala ku perkataan Nicolas bahwa Om Hendra sering mengintipku.
" Diam sayang. Papa menyayangi mu. Ayo kita bermain main dulu sebelum pulang " Ucap Om Hendra dengan berbisik ditelinga ku.
" Enggak!! Aku enggak mau!!! Aku mau pulang!!! " Bentak ku lalu aku menggigit tangannya.
" Argh! Sialan bocah ini !! " Om Hendra merasa kesakitan saat ku gigit hingga pelukannya terlepas.
Aku berlari sekencang mungkin keluar dari gudang itu hingga menabrak seseorang.
" Hahh. Hahh.. To-tolongg" Ucap ku terbata-bata dan ketakutan.
Orang yang bertabrakan dengan ku terlihat bingung.
" Ada apa?" Tanyanya dengan dingin.
" Tolong. Ada yang mau jahat pada ku" Ucap ku yang saat itu tidak tahu bagaimana menyampaikan perbuatan tak senonoh dari Om Hendra.
" Siapa? " Tanya orang itu heran.
" Papa Tiri ku" Ucap ku sambil menangis.
Terlihat Om Hendra keluar dari gudang dengan tergesa-gesa.
" Sayang sini. Jangan dekat dengan orang asing berbahaya " Ucap Om Hendra semanis mungkin saat melihat ada orang lain yang bersama ku.
Aku menggeleng kan kepala tanda tidak ingin di dekatnya.
Anak laki-laki yang menolongku tampak mengerti dan mencurigai Om Hendra.
" Saya akan mengantarkannya pulang" Ucap anak laki-laki itu.
" Hei siapa kamu? Saya Papa-nya. Mana mungkin saya biarkan putri saya bersama orang tidak di kenal" Ucap Om Hendra tampak tak senang.
" Terserah. Saya akan mengantarnya. Jika Anda tidak percaya silahkan ikuti motor saya dari belakang" Ucap anak laki-laki itu lalu membawa ku menaiki sepeda motornya.
Anak itu benar-benar mengantarkan ku pulang bertepatan dengan Mama yang baru tiba di rumah.
" Katakan kepada Mama mu. Jangan biarkan hal yang sama terjadi"
Pesan anak laki-laki itu sebelum dia pergi setelah mengantarkan ku.
Belum sempat aku berterima kasih, anak laki-laki itu sudah pergi mengendarai motornya.
' Untunglah ' Ucap ku dalam hati.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-