
Sudah dua hari Linny tidur di Rumah Sakit Bunda Kasih.
Paginya dia tetap berangkat ke kantor namun tidak sekalipun dia memedulikan kehadiran Sean. Dia juga melarang siapa pun masuk ke dalam ruangan kerjanya di kantor.
Linny meminta Andrean yang menerima semua laporan termasuk laporan dari Sean. Linny akan tiba pagi-pagi dan akan menghilang tanpa kabar.
Tentu dia menghilang hanya untuk bertemu dengan investor lalu kembali ke Rumah Sakit untuk mengecek perkembangan kondisi Erik.
Hari ketiga. Linny yang memang kurang tidur karena kondisi tempat di Rumah Sakit itu tidak memadai. Linny terlihat cukup kelelahan.
"Kau pulang saja. Suami mu pasti mengkhawatirkan mu"
Joe tampak merasa tidak enak. Akibat kejadian naas yang menimpa Erik malah merusak hubungan Sean dan Linny yang baru menikah.
Joe sadar jika perbuatan Erik dulu yang memicu Sean sangat membencinya. Wajar jika sebagai seorang suami membuat Sean sangat tidak ingin istrinya berdekatan dengan Erik.
"Tidak perlu memikirkan apa yang terjadi antara aku dan Sean. Dia urusanku. Kau fokus saja dengan kondisi Erik"
Linny tidak suka orang ikut campur dengan keputusan dan apa yang dia lakukan. Dia sengaja mendiamkan Sean agar emosinya sendiri bisa di kontrol. Karena dia tidak yakin tidak akan memukul Sean saat mendengar Sean mengumpat atau merendahkan Erik lagi.
Dia juga tau Sean hanya bisa di bungkam dengan cara itu. Biarkan Sean merasa nelangsa dan menyadari ucapan dan sikapnya sudah keterlaluan terhadap orang yang pernah dia cintai. Juga kondisi orang itu sedang di ambang kematian.
"Kau luar biasa. Dengan suami sendiri juga sekeras itu"
Joe menggeleng heran dengan Linny yang sangat tegas dan tidak bisa di goyahkan.
"Aku sudah mengikuti maunya. Mengikuti dia yang ingin aku mendengarkannya untuk kebaikan ku. Tapi dia malah seperti ini. Aku sudah pernah menasihatinya"
Linny tampak menghela nafas berat. Rasa kesalnya kembali saat membicarakan Sean.
"Aku sangat salut pada mu. Pantas Tuan Donald sangat menyayangimu. Kau berbeda. Seperti yang sering Tuan Donald ucapkan"
Joe menatap Linny yang memang begitu luar biasa menurutnya.
Linny menatap balik Joe dengan tatapan heran.
"Tuan pernah bilang, 'Linny mungkin tampak sangat keras, kasar, dingin. Tapi dia sangat peduli pada siapa pun. Dia hanya tidak bisa menunjukkan kasih sayang dengan lembut. Yang bisa dia lakukan hanya waspada dan menjaga orang-orangnya. Sekalipun itu hanya karyawan dekatnya atau body guard nya. Dia tidak akan membiarkan. Kau dan Erik adalah orang yang beruntung berada di bawah pengawasan Linny. Jika orang lain pasti sudah membiarkan kalian mati karena merupakan bagian dari musuhnya'."
Joe menirukan cara bicara Om Donald dengan persis. Linny merasa takjub dengan Joe yang mampu meniru Om Donald. Dia merasa Joe cocok menjadi generasi berikutnya untuk memimpin kelompok Om Donald itu.
"Wah. Kau hebat. Persis Om Donald saat bicara. Sepertinya kelompok Om Donald sudah ada penerus"
Ucapan Linny membuat Joe menatap heran padanya.
"Om Donald tidak mungkin mau mewariskan bisnis dunia bawah tanahnya ini pada anak kandungnya. Dia tidak akan membiarkan orang yang dia cintai dan dia lindungi dengan nyawanya ikut terjun ke dunia yang berbahaya. Dia harus berkorban hidup terpisah dan tidak bisa bertemu dengan mereka"
Lanjut Linny terdengar lirih. Dia paham, sekuat dan sesadis apa pun Om Donald. Dia tetap pria tua kesepian yang pasti merindukan anak dan wanita yang seharusnya menjadi istrinya itu.
Tiba-tiba dokter berlari menuju ruangan ICU tempat Erik di rawat. Joe dan Linny saling berpandangan terkejut. Keduanya mendekati pintu ICU menunggu dengan cemas.
Saat dokter keluar, ekspresi dokter begitu lega menatap Linny dan Joe.
"Dia sudah sadar. Masa kritisnya sudah lewat. Tapi kita masih harus memantau kondisinya untuk beberapa hari ke depan. Jangan biarkan pasien merasa stress dan tertekan ya. Karena dia belum bisa menggerakkan kakinya. Benturan itu mengenai tulang belakangnya"
Penjelasan dokter membuat Linny dan Joe lega sekaligus cemas. Seperti tak ada habisnya rasa sakit dan cobaan Erik. Seburuk itu kah dosa nya hingga kini dia juga terancam lumpuh?
"Tapi tenang, setelah pasien benar-benar pulih. Dia bisa mengikuti terapi. Kita fokus saja untuk pemulihan dia"
Ucapan dokter terdengar berusaha menghibur Linny dan Joe.
"Terima kasih. Apa dia sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat biasa?"
Linny paham, setidaknya Erik berhasil melewati kematiannya. Untuk harus bisa kembali berjalan itu mungkin butuh waktu dan kesabaran.
"Sudah. Kita akan pindahkan pasien dalam 2 jam lagi sambil memantau"
Dokter itu tampak menjelaskan prosedur untuk pasien yang akan di pindahkan.
"Baiklah, terima kasih Dok. Tolong pindahkan ke ruang VVIP Khusus"
Ucap Linny yang di pahami dokter itu. Dia bisa melihat Linny bukan orang biasa meskipun dia sangat jarang ikut berita. Dokter itu hanya merasa pernah melihat Linny tapi dia tidak banyak bertanya untuk menjaga profesionalitas kerjanya.
Setelah melewati prosedur pengecekan dan pemantauan kondisi Erik. Akhirnya pria tulang lunak itu di pindahkan ke ruangan rawat VVIP Khusus sesuai permintaan Linny.
Pengawal yang berjaga semakin mawas. Setiap keluar masuk dokter dan perawat juga di pantau. Obat-obat yang di bawa juga di perhatikan. Sampai-sampai Linny meminta Om Donald memerintah kenalan dokternya memeriksa semua obat yang di berikan pada Erik.
"Aku akan memalsukan kematian Erik" Ucap Linny dengan tegas.
Baik Joe, Erik, maupun William - Danu -Doni terkejut mendengar perkataan Linny.
"Kenapa? Itu melanggar hukum Linny"
William tampak kurang setuju dengan ide Linny.
"Hanya itu caranya menjauhkan Erik dari incaran Rain. Pria itu pasti akan terus berusaha mencelakakan Erik. Jika di lihat dari dia berani mengatur kecelakaan itu. Tidak ada jaminan jika ke depannya hal yang sama tidak terjadi bahkan bisa jadi lebih parah"
Keinginan Linny tentu memiliki dasar alasan yang kuat. William dan yang lainnya paham kekhawatiran Linny. Linny hanya satu orang, dia tidak sanggup menjaga sekian banyak orang dari Rain.
Dan tentu target utama Rain adalah Erik yang berkhianat lalu Sean yang sangat dia inginkan untuk kembali.
"Akan aku bunuh pria itu jika berani kembali. Jika perlu akan ku bakar markasnya"
Joe tampak begitu marah dan kesal karena Rain benar-benar mau membunuh Erik.
"Kau terlalu mudah untuk dia singkirkan. Belum sempat kau melukai ujung kukunya saja kau sudah tinggal abu nanti"
Ucapan Linny membuat setiap orang yang mendengar menegak salivanya kasar.
Erik hanya menghela nafas kasar. Dia akan mengikuti semua perkataan dan rencana Linny. Dia tidak punya pilihan lagi, hanya Linny yang bisa melindunginya kini.
"Ah ya, orang tua Erik gimana?"
Linny menatap Danu. Danu tampak menghela nafas kasar.
"Mereka tidak peduli dan berkata Erik sudah dewasa dan bertanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Bahkan tidak ada yang tanya di mana Erik di rawat dan bagaimana kondisinya"
Danu menjelaskan dengan rasa kesalnya. Melihat langsung ekspresi dan respons keluarga Erik membuat Danu hanya bisa menggeleng heran. Wajar jika Erik menjadi pria bertulang lunak dan masuk ke dunia berbahaya itu.
Keluarganya sendiri tidak peduli dengan apa yang mau Erik lakukan. Hidup atau mati pun mereka seolah menutup mata.
"Ya sudah. Aku akan meminta Om Donald mengurus pemalsuan kematian mu dan identitas baru untuk mu. Agar Rain bisa berhenti menargetkan mu. Lebih mudah untukku menjaga 1 orang yang dia incar"
Semuanya tampak setuju dengan keputusan Linny. Tidak ada yang membantah. Mereka mengikuti apa pun yang Linny aturkan saat itu.
.........................................................................
Los Angels~
Tampak Rain berdiri di depan nisan bertuliskan nama Zin.
Ya, Zin meninggal setelah di rawat beberapa waktu. Hal itu lah yang membuat Rain murka. Dia semakin murka mendapat laporan jika Erik membelot.
Maka dari itu dia berencana membunuh Erik juga Linny. Sean akan dia ambil kembali dan akan dia siksa untuk membalaskan sakit hatinya karena kematian Zin.
"Tenang sayang, akan aku bunuh mereka semua dan kepalanya akan aku bawa sebagai hadiah untuk menemanimu di sana"
Ucap Rain sambil mengecup nisan Zin. Kebencian dan dendam itu terukir nyata di mata Rain.
Salah satu pengawalnya mendekat dan berbisik pada Rain.
"Erik dinyatakan sudah meninggal setelah di rawat karena kritis. Dia kehilangan banyak darah karena golongan darahnya sulit di dapat"
Lapor dari salah satu pengawal Rain. Hal itu membuat Rain tersenyum puas.
"Kita kembali ke tanah air. Aku akan membunuh mereka semua dengan tanganku sendiri. Apa Carlie masih ada di kota itu?"
Tanya Rain pada pengawalnya itu.
"Masih. Dia sedang ada di markas Madam. Linny dan orang-orangnya sudah sadar Carlie masih hidup dan mengincarnya"
"Bagus. Carlie bisa jadi pionku untuk di korbankan menyerang kedua manusia itu"
Rain tersenyum menyeringai. Begitu banyak ide yang dia pikirkan untuk menghancurkan Sean dan Linny.
.
.
.