
"Kau bohong. Kau bohong kan Sean. Kau masih mencintai ku. Tidak mungkin kau bisa melupakan ku. Selama ini aku yang sudah melindungi mu. Apa kau lupa siapa yang sudah membuat mu terlepas dari laki-laki mengerikan itu" Ucap Erik yang masih terus berusaha mengapai hati Sean kembali.
"Aku tidak lupa. Aku memang berterima kasih dengan mu. Tapi aku tidak akan pernah bisa menjalin hubungan yang sama lagi dengan mu Erik " Ucap Sean sambil menutup matanya.
Pikiran Sean kembali ke masa 19 tahun silam. Saat dirinya yang terluka di tinggal oleh kekasihnya yang berkhianat, juga di remehkan keluarganya. Saat dirinya pertama kali mengenali dunia pelangi itu. Sean bertemu seorang pria berumur 40 tahun. Pria yang sering dia panggil dengan sebutan Om Agus.
Masa terkelam yang di alami Sean dan sangat membekas di ingatannya hingga membuatnya menjadi tidak terkontrol saat ini. Beruntung Sean kini menemukan Linny yang mampu membawanya kembali untuk mencintai wanita dan melupakan rasa sakit dan kekecewaan akibat pengkhianatan wanita di masa lalu Sean.
Sean menghela nafas berat menghadapi setiap perkataan Erik yang menyinggung masa lalu dan kelainan yang di miliki Sean sebelumnya.
"Aku tidak lupa dan tidak akan pernah lupa. Tapi bukan berarti aku akan kembali dengan mu Erik. Kita sudah selesai, Jadi jalani lah hidupmu dengan baik. Aku berharap suatu saat kau juga bisa sadar dengan jalan mu yang salah saat ini " Ucap Sean perlahan berusaha menasihati Erik.
Namun bukan nya mendengar, Erik malah menjerit kesetanan dan tertawa.
"Hahaha. Kau tidak mungkin bisa lepas dari kehidupan kaum kita Sean! Kau itu yang terburuk dari semuanya! Kau pikir aku tidak tahu selama ini kau bermain di belakangku dengan yang lainnya. Aku hanya mendiamkannya karena aku tahu kau tidak akan bisa berlama-lama dengan yang lain. Kau pasti akan kembali padaku. Come on baby! Jangan munafik Sean. Kau masih menyukai p***s dan wajah tampan bukan?" Ucap Erik mencoba mempengaruhi otak Sean lagi.
Sean hanya mampu terdiam. Tidak sepenuhnya perkataan Erik salah. Namun Sean terus memberontak dan membuang jauh keinginannya itu.
Linny yang merasa jengah langsung berjalan mendekati Erik.
"Siapa kau? Ah apa kau salah satu yang mau di jodohkan dengan Sean juga? Hei dengar bodoh! Sean itu gay! Dia tidak akan pernah bisa menggunakan miliknya dengan wanita. Jangan berharap kau bisa memiliki Sean! " Bentak Erik dengan kasar.
Linny tertawa melihat sikap Erik yang seperti orang gila dan bodoh itu.
"Jika aku berkata bahwa Sean bisa bereaksi dengan tubuhku, apa kau percaya? Ah atau perlu aku memberikan live show di hadapan mu? Tapi aku takut kau malah akan epilepsi jika melihatnya " Ucap Linny dengan sengaja memancing amarah Erik.
"Sialan kau j@lang! Kau tidak bisa merebut kekasih ku! Dasar pembohong!" Ucap Erik yang ingin memukuli Linny.
Belum sempat Erik memukuli Linny. Linny terlebih dahulu menampar dan memukuli perut Erik dengan setengah tenaganya. Karena jika Linny benar-benar menggunakan tenaga aslinya di pastikan Erik bisa muntah darah dengan tubuh kecil itu.
Erik mengerang kesakitan. Melihat itu Sean hanya diam. Sedangkan Danu dan Doni cukup khawatir.
"Jika kau mau mati aku sarankan lebih baik kau mencari tempat yang tidak bisa di temukan orang. Setidaknya tidak merepotkan orang-orang di sekeliling mu. Dasar bodoh. Apa kau terlalu murah hingga begitu mendambakan sebuah p***s??? Astaga. Bahkan aku hanya diam saja dengan mudah bisa mendapatkan pria mana pun " Ucap Linny sambil menertawakan Erik.
Tidak salah memang. Linny sangat menarik bagi kaum Adam bahkan banyak kaum Hawa yang penasaran dan kagum dengannya.
Erik merasa marah dan kesal dengan perkataan Linny. Linny bukan perempuan yang mudah di provokasi dengan kata-kata seperti itu.
"Saran ku lebih baik kau ke dokter jiwa saja. Kau sudah tidak ada kewarasan lagi. Dan satu lagi. Kau mati pun nanti nya jangan harap Sean akan melihat mu! Karena aku tidak akan mengizinkannya! " Tegas Linny dengan mata menatap nyalang pada Erik.
Sean terkejut dengan perkataan Linny begitu pula dengan Danu dan Doni. Di balik pintu kamar Willliam dan Aston juga mendengar percakapan mereka. Keduanya sudah bersiap jika Erik bertingkah anarkis dan melukai Linny, namun ternyata malah Linny yang memukul Erik. Benar-benar di luar perkiraan mereka.
"Ayo pulang Sean. Aku lapar " Ucap Linny yang langsung berbalik dan berjalan keluar dari kamar itu.
"Kami pulang duluan. Lain kali aku akan mengundang kau dan yang lainnya ke tempat baru ku, Liam! " Ucap Linny , dengan ramah, karena William sebentar lagi akan menjadi tunangan Sisilia, hal itu membuat Linny cukup melembut saat berbicara dengan William.
"Baiklah. Kalian hati-hati di jalan " Ucap William.
"Aku duluan ya Liam! Ton! Sampaikan salamku untuk Danu dan Doni di dalam " Ucap Sean berpamitan.
"Okey tenang aja Sean. Pulang lah! " ucap Aston meyakinkan Sean bahwa semua akan baik-baik saja.
Sean mengangguk lalu mengikuti Linny menuju mobil.
Keduanya sama-sama mendiamkan diri hingga tiba di penthouse.
Kepala Sean terasa sakit karena Erik mengungkit masa lalu yang menyakiti nya itu.
Tiba-tiba Linny mencium bibir Sean dan menyesapnya dengan kuat.
Sean bingung melihat Linny yang menyerangnya tiba-tiba itu.
"Linny...." Lirih Sean.
"Lupakan itu! Aku akan melindungi mu! Apa kau lupa siapa Linny? " Tanya Linny sambil menyunggingkan senyumnya.
Linny tahu kalau Sean merasa khawatir dengan perkataan Erik.
"Aku akan memastikan kau lupa dengan terong-terong sialan itu! Apa kau tidak cukup bangga bisa memiliki tubuh menggiurkan ku?! Hah! Padahal di luar orang-orang berlomba-lomba mendapatkan ku! Ck! " Ucap Linny berpura-pura kesal.
"Maaf. Bukan begitu " Ucap Sean.
"Dan jika kau mencari perut kotak-kotak apa kau lupa aku juga memiliki sixpack? Meskipun tidak sebesar sixpack Ade Rai ataupun Chris John! " Ucap Linny yang membuat Sean tertawa.
"Sialan! Jangan ketawa! Ck! Gay gila! " Ucap Linny lalu melepas pelukan Sean.
Sean langsung mengejar Linny dan memeluknya dari belakang.
"Maaf. Tapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik sesuai janji ku sebelumnya. Dan tolong jangan pernah meninggalkan ku ya Linny. Aku takut sendirian "
Sean menyuarakan isi hatinya yang takut jika dia benar-benar akan tertarik kembali ke komunitasnya seperti perkataan Andrean. Di tambah Erik yang berkata bahwa Sean tidak mungkin bisa lepas dari orientasi seksnya itu.
Linny hanya diam membiarkan Sean memeluknya. Mata Linny menyiratkan hal yang sulit di terka siapa pun.
Seketika Linny membeku dan mengingat sesuatu yang membuat raut wajahnya berubah.