
"Argh!!"
Suara pekik kesakitan terdengar menggema di hutan itu.
Tanpa basa-basi Linny melumpuhkan orang-orang yang ada di sana dengan pisau yang dia bawa.
Di bantu oleh Sean, Jun,Alfa, Bram dan beberapa body guard mereka. Linny berhasil menjatuhkan orang-orang yang tampaknya preman bayaran.
Linny melihat Santo yang terikat dan tampak sedikit lemah akibat pengaruh obat bius.
"Hei! Kau baik-baik saja?"
Tanya Linny menepuk wajah Santo.
Santo hanya mengangguk, dia mengumpulkan kekuatannya. Dia bisa mendengar perkataan orang di sekelilingnya hanya dia masih setengah fly akibat klorofom yang terhirup itu.
"Kau ini ceroboh. Bagaimana bisa sampai begini"
Ucap Linny tampak kesal pada Santo yang tak biasanya seceroboh itu. Mungkin dia terlalu menganggap remeh karena berpikir dia memiliki orang-orangnya di sana yang bisa melindunginya.
"Maaf"
Hanya itu yang bisa Santo ucapkan. Baru saja mereka mau membawa Santo juga orang-orang yang terlibat menyekap Santo. Seseorang muncul dan mau menusuk Santo.
"Linny! Awas!!"
Teriak Sean yang sedang membantu mengikat preman-preman itu.
Linny dengan sigap menjatuhkan Santo ke samping dan menendang pria itu. Linny mengambil pisau lainnya dan menusuk pria itu dengan membabi buta.
Darah pria itu tampak mengenai pakaian dan wajah Linny.
"Kau terlalu lemah untuk di pekerjakan orang bodoh!"
Ucap Linny yang langsung membunuh pria itu di tempat. Santo hanya menatap datar sedangkan Sean cukup terkejut.
Meskipun pernah melihat Linny menembak Agus dan pernah mau membunuh Erik karena sudah mencoba menusuk Sean. Tetap saja Sean bergidik ngeri melihat tatapan Linny yang berbeda saat berurusan dengan musuh.
Wajah Linny tampak penuh amarah dan sangat dingin seolah tak memiliki perasaan apapun setelah membunuh musuhnya.
"Bereskan"
Ucap Linny menatap Bram.
Bram yang sudah terbiasa membereskan urusan Tuan Mudanya langsung paham.
Linny berjalan mendekati beberapa pria lainnya yang tampak bergetar melihat kehadiran Linny.
Mereka merasa sudah salah meremehkan sasaran mereka.
"Katakan siapa yang mengutus kalian!!"
Bentak Linny dengan tatapan setajam serigala pemangsa.
"Tell me who sent you? Who is your Boss!!"
Bentak Linny mengulangi pertanyaannya. Dia melihat wajah orang-orang itu tidak mirip wajah orang-orang di negara konoha.
"I dont know. I just follow my friends"
Ucap salah satu dari mereka. Linny menatap tajam hingga mereka serempak menatap salah satu orang yang tampak lebih tenang dan tidak takut pada Linny.
Baru saja Linny mendekatinya orang itu langsung memuntahkan darah dan terkapar di tanah.
"Ck! Sial! Bunuh diri sebelum di tanyai. Benar-benar setia sekali kau ini!"
Ucap Linny kesal pada pria yang menyerang Santo itu.
"Yang lain harus kita apakan Nona?"
Alfa yang sudah memastikan preman-preman itu terikat dengan baik melapor pada Linny.
"Bram. Suruh anggota mu urus orang-orang ini. Lemparkan ke markas kelompok Santo di sini. Aku tidak bisa ikut campur lebih banyak. Biar Santo yang putuskan"
Ucap Linny pada Bram sambil menoleh melihat kondisi Santo yang masih lemas itu.
"Baik Nona. Terima kasih"
Ucap Bram yang bersyukur ada Linny di tempat itu juga. Jika tidak dia pasti akan mendapat masalah karena lalai menjaga Santo.
"Kalian bantu Santo. Bawa dia ke villa ku"
Ucap Linny pada Alfa dan Jun. Tanpa perlu memerintah dua kali mereka mematuhi Linny.
Sean membuka kemeja putihnya dan mengikatkannya pada tubuh bawah Linny yang terbuka itu.
Sean hanya mengenakan kaos singlet tipis yang menutupi tubuhnya kini.
Mereka berjalan keluar dari hutan itu dengan senter dari ponsel masing-masing. 100 meter sebelum tiba keluar dari hutan banyak orang-orang Linny dan Santo yang berjaga dan menunggu.
Semua nya terkejut melihat Linny yang penuh darah, Sean yang tampak kotor dan kacau juga Santo yang lemah.
Tanpa banyak bicara mereka segera membersihkan sekitar agar tak ada warga yang melihat kondisi Tuan dan Nona mereka. Mobil pun tampak menunggu di dekat mereka agar bisa segera kembali ke villa.
Santo di bawa ke villa Linny. Dengan cepat Linny memerintahkan Jun mengantikan pakaian Santo dan membersihkan tubuhnya.
Linny segera membuatkan minuman untuk membantu Santo segera reda dari pengaruh obat bius itu. Sepertinya pria muda itu terlalu banyak menghirup obat bius itu. Bisa jadi dia juga di suntuk obat-obatan agar melemahkan kesadarannya.
"Terima kasih" Ucap Santo pada Sean dan Linny.
"Kau kenapa ke tempat itu?" Tanya Sean penasaran.
"Aku mendapat informasi. Hanya mencoba mengintip agar tidak menjadi kecurigaan. Tapi ternyata aku di jebak" Ucap Santo sambil menghabiskan minuman yang di buatkan Linny.
"Jangan menyepelekan sesuatu. Jika dia bisa kabur dari mu selama ini berarti dia juga tidak semudah itu di atasi"
Ucapan Linny terdengar menggurui dan membuat Sean cukup heran. Linny seperti tau semua hal tentang Santo.
Tapi mengingat Linny pernah mengatakan dia dan Santo memiliki hubungan simbiosis mutualisme dan trauma yang mirip maka Sean tidak berani bertanya lebih banyak.
Dia merasa itu bukan haknya untuk ikut campur. Dan Linny juga sudah mengatakan jika itu urusan Santo, selama ini Linny hanya membantunya karena merasa bernasib sama. Memiliki ibu yang seperti iblis.
"Aku mengerti. Terima kasih. Sudah sekian kalinya kau membantuku. Aku berhutang nyawa pada mu sekali lagi. Jika kau butuh apa-apa kabari aku. Atau kau butuh aku mengacau kelompok Rain?"
Tanya Santo dengan senyuman yang mengerikan. Sean melihat wajah yang sama dinginnya seperti Linny saat berurusan dengan musuhnya itu.
"Untuk sekarang tidak perlu. Ya sudah kalau kau sudah sadar kembalilah ke villa mu. Akan aku suruh orang-orang ku mengawalmu. Bram sedang mengurus sisa preman-preman yang ikut menyergapmu"
Jelas Linny pada Santo. Pria muda itu mengangguk dan segera pergi dari Villa Linny, di kawal oleh Jun dan beberapa pengawal lainnya.
Setelah Santo pergi. Suasana kembali menjadi hening. Tak ada pembicaraan apapun dari Sean dan Linny.
Linny kembali teringat pembicaraan Sean tadi. Dia kembali merasa kesal pada Sean. Mau marah tapi juga percuma.
Mood Linny benar-benar hancur saat itu, Dia sangat kesal Sean yang memiliki pemikiran yang aneh itu. Entah apa yang salah di konsumsi Sean hingga pria itu malah berpikiran sempit.
Apa menemani Linny selama ini tidak bisa membuatnya pintar dan berpikiran terbuka? Harusnya Sean tau jika Linny bukan wanita yang akan memanfaatkan hubungan pribadi untuk masalah materi dan pekerjaan.
Dan dia sepertinya sudah cukup banyak melembut dan menurut pada Sean untuk hal-hal tertentu. Apa itu tidak menunjukkan dia benar-benar menghargai dan mencintai Sean meskipun dia tidak pernah menyuarakan apapun.
Linny memang bukan wanita yang suka menggombal dan berbicara manis begitu, hanya apa yang dia lakukan adalah setia dan menjaga Sean seperti menjaga dirinya sendiri.
Sean yang merasa sudah keterlaluan berbicara mencoba mendekat pada Linny. Dia yakin Linny marah karena ucapannya yang absurd itu.
Apalagi mereka sudah menikah. Mungkin Sean yang terlalu banyak pikiran. Seharusnya dia diam saja dan paham jika Linny yang mau melanggar sumpahnya itu sudah menunjukkan dia benar-benar serius memilih Sean. Bukan hanya untuk menyelesaikan masalahnya saja.
Dan untuk kaum mereka, pernikahan itu sekali seumur hidup dan sakral. Tidak mungkin Linny bermain-main dengan janji suci di hadapan Tuhan. Begitu-begitu Linny termasuk umat yang taat beragama.
Tinggal bersama Linny selama itu membuat Sean bisa melihat Linny yang diam-diam suka berdoa setiap pagi dan malam. Tanpa menunjukkannya di hadapan orang-orang maupun Sean.
"Maafkan aku. AKu sudah berbicara bodoh"
Ucap Sean sambil memeluk Linny dari belakang. Pelukan hangat yang di berikan Sean membuat Linny luruh.
"Aku bukan seperti wanita di luar sana yang pintar berbicara manis. Kau mengenalku dengan baik bukan? Memutuskan menikah dengan mu bukan hal mudah bagiku. Aku sudah mau melanggar sumpahku, apa itu tidak berarti untukmu?"
Tanya Linny panjang lebar. Tidak di pungkiri dia masih sedikit kesal pada Sean.
"Maaf. Aku janji tidak akan berpikiran seperti itu lagi. Maafkan aku"
Ucap Sean yang menyesal memulai pertengkaran tidak perlu itu.
"Ubah pemikiran burukmu. Aku tau kau akan selalu berpikiran aneh jika kau tidak mendapat pengakuan langsung. Tapi kau harus pahami setiap yang aku lakukan untuk hubungan kita itu benar-benar karena kau sudah bagian dari tubuhku. Perlu berapa kali aku bilang kalau kau adalah jantungku Sean. Jadi jangan berpikiran aneh lagi"
Linny menasehati Sean. Pria itu hanya bisa mengangguk dan memeluk erat Linny,.
"Dan jangan suka mendendam dan berpikiran negatif sebelum tau faktanya. Kau lupa pernah berpikir aku sangat rendah menemani om-om demi uang tapi menolak ajakan kawin kontrak mu?"
Tanya Linny mencibir cara berpikir dan sikap Sean itu.
"Ah. Itu~ Itu sudah lama Linny. Kenapa di bahas lagi"
Sean tampak mengerucutkan bibirnya merasa malu di ungkit masa lalu itu. Memang saat itu dia hanya menggunakan cara berpikirnya saja dan beranggapan Linny buruk.
"Kau harus belajar. Aku juga sangat kejam dan penuh dendam. Tapi aku bisa membedakan saat seseorang itu tulus atau tidak. Aku juga bisa mencari tau terlebih dahulu sebelum memutuskan mengambil langkah apa"
Ucap Linny sambil menatap dalam Sean seolah dia ingin menyampaikan sesuatu hal pada Sean.
"Maksudmu apa Linny? Kenapa kau tiba-tiba berbicara begitu?"
Tanya Sean yang heran. Tak biasanya Linny mengomentari hal seperti itu. Apalagi dengan cara bicara yang begitu serius seolah ada sesuatu besar yang akan dia katakan pada Sean.
"Tidak. Aku hanya ingin kau menjadi lebih baik setelah menjadi suamiku. Hidup dan pernikahan ini bukan hanya tentang kau dan aku. Tapi juga orang di sekeliling kita. Aku mau kau menjadi suami CEO yang terbaik"
"Sama seperti yang kau bilang, mengambil langkah menandatangi dokumen penting perusahaan harus sangat teliti dan penuh pertimbangan. Seperti itu pula dengan kehidupan dan menghadapi orang. Aku ingin kau juga bisa bersikap begitu"
Linny menasehati Sean panjang lebar. Meskipun merasa aneh dengan ucapan Linny itu, Sean tetap mengangguk tanda dia setuju perkataan Linny.
"Aku mau mandi"
Ucap Linny mengakhiri pembahasan itu.
"Ayo. Kita mandi bersama"
Sean langsung menuntun Linny menuju kamar mandi dan membersihkan tubuh. Keduanya tamapk begitu romantis di bawah guyuran shower. Hanya mandi tanpa adegan percintaan.
Mereka terlalu lelah hari itu. Sean langsung membantu Linny mengeringkan rambut dan segera beristirahat. Mereka masih bisa melaksanakan tugas memproduksi Sean dan Linny Junior besok harinya.
.
.
.