A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Dia Kembali



Sean tiba di penthouse dan mencium aroma masakan yang sangat wangi. Dia tampak antusias dan langsung menuju meja makan.


"Wah ini-"


"Mie buatan tangan pesanan mu"


Linny tampak sedang membuatkan jus untuk mereka. Sengaja dia memasak banyak agar yang lainnya juga bisa menikmati makanan itu.


"Aku mau makan dulu"


Sean tampak tidak sabaran dan langsung duduk di meja makan.


"Mandi dulu, Sean"


Linny menegur Sean yang bukannya mandi terlebih dahulu.


"No. Aku harus makan dulu. Jika dingin ini tidak enak. Ah Ayo Farid - Dewi kita makan. Kalian juga Jun - Alfa"


Sean sangat bersemangat untuk menikmati masakan Linny. Linny tersenyum melihat Sean yang makan dengan lahap.


"Pelan-pelan Tuan. Jangan sampai Tuan muntah lagi"


Ucap Jun yang merasa terkejut melihat Sean makan dengan cepat seolah takut makanannya di curi.


"Dia muntah lagi?" Tanya Linny pada Jun.


Jun hanya mengangguk pelan. Belakangan Tuannya seperti masuk angin dan sering muntah setelah makan.


Mendengar itu membuat Linny semakin kuat dan memikirkan harus segera memeriksakan dirinya ke dokter.


.


.


.


Di taman tampak Erik duduk sendiri. Dia termenung memikirkan apa yang di katakan Rain tadi.


"Sayang~"


Terdengar suara Joe yang memanggil dari jauh sambil berjalan mendekat ke arah Erik. Joe tampak santai sambil meminum jus jeruk di tangannya.


"Dia akan mati dalam waktu kurang dari setengah bulan. Racun itu akan membunuhnya perlahan sampai tidak ada yang menyangka dia di racuni"


"Kau tidak percaya? Kau mau lihat buktinya? Lihatlah ini laporan anggotaku yang sudah memasukkan racun pada minuman kekasihmu. Racun itu tidak berbau"


"Jika kau mau dia selamat maka aku akan memberi kau obat penawar untuknya. Tapi kau harus kembali padaku. Kau harus membantuku membunuh Linny dan Sean"


"Cepatlah berikan aku jawaban karena semakin kau menunda maka racun itu sudah berjalan menyebar perlahan di dalam tubuhnya. Dan jika racun itu duluan menyentuh jantungnya maka kau tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan kekasihmu lagi. Pikirkan itu"


"Ingatlah percuma kau meminta bantuan pada Linny karena Joe akan mati. Tapi jika kau kembali pada ku, kau boleh membawa Joe bersamamu dan kalian bisa hidup bahagia"


Erik tampak mematung menatap Joe yang semakin dekat hingga hanya berjarak 10 langkah darinya.


Melihat Erik yang diam dan mematung membuat Joe heran.


"Hei sayang kau kenapa?" Tanya Joe yang bingung dengan Erik yang bengong itu.


"Ah ya tidak apa-apa" Ucap Erik berusaha tersenyum.


Matanya tertuju pada jus jeruk yang hampir habis di minum Joe.


"Ah segar banget, tapi agak aneh aromanya. Mungkin jeruk lama"


Ucap Joe mengomentari minuman itu. Erik tersikap mendengar ucapan Joe. Ingin sekali dia mengatakan tentang kehadiran Rain namun dia kembali bungkam.


"Coba saja kau ceritakan tidak ada yang bisa membantu mu. Aku tetap akan membunuh Sean dan Linny. Joe juga akan mati karena kau tidak bisa memberinya penawar. Dan aku akan menghancurkan keluargamu. Ah ya sebelum mereka mati akan aku perlihatkan rekaman cinta kita yang panas. Aku yakin mereka akan ingat itu di akhirat"


Erik mengurungkan niatnya. Dia yakin ada yang sedang memantau mereka kini. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa.


"Hei kenapa tiba-tiba meminta kemari?" Tanya Joe heran.


"Hanya ingin menghirup udara segar. Temani aku jalan-jalan sebentar setelah itu kita pulang"


Ucap Erik sambil tersenyum. Joe mengangguk dan langsung membantu mendorong kursi roda Erik. Mereka berkeliling sebentar di taman yang luas itu sebelum kembali ke rumah Om Donald.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Om Donald, Erik terus memikirkan ucapan dan penawaran dari Rain.


'Bolehkah aku egois untuk hal ini? Aku tidak ingin Joe mati. Aku tidak ingin kehilangan Joe' Batin Erik.


Dia tampak memantapkan hatinya dan mengirimkan pesan pada Rain.


"Aku setuju. Aku akan mendatangimu" -pesan terkirim-


.


.


.


Pagi hari ini tampak Sean sangat bersemangat. Meskipun dia sempat muntah saat bangun tadi. Namun entah mengapa perasaannya sangat senang hari itu.


Linny heran melihat Sean terus senyum-senyum sendiri.


"Tidak tau. Hanya perasaanku sangat senang"


Ucap Sean jujur. Dia memang tidak tau ada hal apa yang membuatnya senang saat itu.


"Aku akan ke tempat lain dulu. Kau bisa berangkat duluan ke kantor bukan?"


Tanya Linny sambil menatap Sean. Dia tidak berani memberitahu Sean rencananya ke dokter. Dia ingin mengecek dulu kebenaran dia hamil atau tidak.


"Kau mau ke mana?" Tanya Sean heran.


Linny tidak memberitahu jika dia akan ke tempat lain pagi itu. Biasanya Linny akan memberi tahu rencana yang akan dia lakukan besok saat malam hari mereka bersantai.


"Hanya ada urusan dengan Angel. Kau pergi duluan saja ya"


Linny mencoba membujuk Sean. Sean tampak patuh dan tidak bertanya lagi.


Setelah Sean berangkat bersama Jun dan pengawalnya. Linny kemudian bersiap untuk menuju dokter kandungan rekomendasi Leon - Kakak ipar Santo Wisnu Negara.


Leon merupakan dokter ahli saraf yang terkenal di kota itu. Dia juga memiliki banyak kenalan dokter dan koneksi yang terpercaya.


"Kita ke Rumah sakit LH"


Ucap Linny pada Alfa.


Dengan patuh Alfa melajukan mobil menuju rumah sakit yang di sebut Linny. Mereka menemani Linny hingga Linny menemui dokter kandungan.


"Selamat Bu Kim. Anda sedang hamil. Ini sudah minggu ketiga dan masih rentan ya. Jadi mohon di jaga kandungannya dengan baik. Jangan sampai melakukan kegiatan yang melelahkan"


Jelas Dokter kandungan itu pada Linny.


"Terima kasih Dok" Ucap Linny sambil menyimpan foto USG dan test pack ke dalam tasnya.


Alfa yang tau Nonanya hamil turut bahagia sampai menitikkan air mata.


"Loh kau kenapa menangis?" Tanya Linny heran melihat Alfa yang menghapus sudut matanya.


"Tidak. Saya terharu. Saya turut bahagia akhirnya Nona dan Tuan akan memiliki anak" Ucap Alfa jujur.


Linny tertawa melihat asisten merangkap body guard pribadinya itu. Bahkan pengawal lainnya yang bertugas menjaga Linny selama ini juga semua tampak terharu.


Mereka ikut senang mendengar kabar Linny hamil.


"Kalian jangan bocorkan ini ya. Apalagi sampai Sean tau. Jangan bilang dulu. Aku mau memberi dia kejutan"


Ucap Linny yang di jawab dengan anggukan kepala tanda mengerti dari Alfa dan pengawal lainnya.


.


.


Saat tiba di kantor tampak Sean menunggu Linny di ruangan Linny.


"Sayang sudah sampai? Ah ya. Nanti malam mau makan apa? Biar aku masak"


Ucap Sean yang sangat bersemangat.


"Tidak perlu. Aku ingin ke pasar malam"


Ucap Linny.


Sean tampak mengangguk setuju dengan rencana itu.


"Kau ingin jalan-jalan seperti kencan pertama kita dulu?" Tanya Sean sambil tersenyum.


"Iya, tapi aku harus menemui investor dulu. Kau bisa duluan berangkat dengan Jun. Kita ketemu di sana saja ya nanti"


Ucap Linny sambil tersenyum pada Sean, hatinya sedang sangat senang dan berbunga-bunga.


Dia ingin berjalan-jalan dan berkencan di pasar malam seperti sebelumnya.


Kencan di pasar malam adalah kencan pertama mereka dulu saat Linny memutuskan menerima Sean dalam hidupnya.


Linny ingin memberi tahu hal bahagia itu saat dia dan Sean duduk di pinggir sungai seperti kencan pertama mereka di pasar malam.


"Okey. Ah ya ini aku sudah periksa semua berkas. Kau bisa memeriksanya lagi jika ragu. Aku harus ke gudang sebentar. Sampai jumpa malam nanti"


Sean mencium bibir Linny dan langsung berangkat ke gudang penyimpanan barang untuk melakukan pengecekan rutin.


Linny tersenyum bahagia tanpa tau jika Rain sudah menunggu celah untuk melukai mereka lagi.


.


.


.