A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Kesempatan Kedua...



Linny diijinkan pulang setelah rawat inap dua hari di rumah sakit. Kondisinya cukup fit untuk orang yang baru menjalani operasi kecil.


Dokter yang melihat Linny yang sangat lincah pun mengijinkannya pulang lebih cepat dari perkiraan rekomendasi.


"Yakin mau pulang secepat ini?"  Tanya Sean yang masih khawatir.


"Iya. Aku bahkan bisa bertarung dengan mu sekarang. Mau coba?"  Tanya Linny menantang Sean.


Sean hanya menghela nafas. Memang Linny tampak sangat fit tidak seperti baru menjalani operasi kecil. Dia bahkan tampak seperti tidak merasakan sakit sebelumnya.


Linny tampak santai dan seperti biasanya saja. Malah Sean yang lebih sering melamun dan termenung.


"Kenapa?" Tanya Linny saat melihat ekspresi Sean yang begitu murung itu.


"Tidak" Jawab Sean sambil berusaha tersenyum.


Linny tau Sean masih memikirkan bayi yang tak sempat terlahir itu. Linny langsung memeluk Sean dari belakang.


Sean langsung berbalik sambil menangkup wajah Linny dengan kedua tangannya.


Di ciumnya perlahan kening Linny dengan penuh perasaan.


"Aku tidak apa-apa. Maaf aku tidak menjaga mu dengan baik. Aku membuat mu menderita dua kali kehilangan darah daging mu"  Ucap Sean sambil menatap Linny penuh perasaan.


"Sudah jangan pikirkan itu. Aku tidak apa-apa"  Ucap Linny sambil tersenyum.


Sean memeluk Linny dengan hangat. Dia tidak bisa berbohong kalau dia masih sangat sedih mengingat kejadian yang mengharuskan mereka kehilangan calon anak.


"Apa obat ku sudah di urus? Pergilah dengan Jun untuk mengurus obatku. Aku akan duluan ke mobil bersama Alfa"  Ucap Linny.


Sean mematuhi permintaan Linny. Dia segera menuju bagian Administrasi dan apoteker untuk mengambil serta membayar obat Linny.


Sedangkan Linny langsung segera bersama Alfa menuju ruang rawat Erik sebelum pulang.


"Jaga di sini"  Ucap Linny memerintah pada Alfa dan bodyguardnya.


"Baik Nona"  Alfa dan yang lainnya menjawab dengan patuh.


Linny membuka pintu ruang rawat Erik. Dia menggunakan masker sesuai protokol kesehatan.


Begitu terkejut Linny melihat Erik yang meringkuk kesakitan dan sendirian itu.


"Hei! Kau kenapa?"  Tanya Linny panik.


Erik hanya menggeleng menahan sakit yang dia rasakan.


"Biar aku panggilkan dokter"  Ucap Linny hendak menekan tombol darurat.


"Tidak usah. Percuma"  Ucap Erik dengan terengah-engah menahan sakit.


"Kau sering kesakitan?"  Tanya Linny heran.


"Lumayan sering. Kau jangan terlalu dekat"  Ucap Erik mencoba menjauh dari posisi Linny berdiri.


Keduanya cukup dalam jarak yang dekat.


"Ck! Jangan sok kuat! Kau harus hidup! Aku masih belum puas bertengkar dengan mu setelah apa yang kau lakukan padaku dan Sean!"  Ucap Linny kesal.


Erik malah tertawa mendengar kekesalan Linny. Erik tau Linny tidak serius dengan hal itu. Dia hanya ingin Erik lebih semangat menjalani pengobatannya.


"Jangan terlalu baik. Jangan sampai kau lebih menyukai ku dari pada Sean. Tapi sayangnya aku lebih suka batangan dari pada kue yang lembut"  Ucap Erik berkelakar.


"Sialan kau ini! Jangan bercanda! Aku akan menyuruh kenalan ku untuk mengobati mu. Jangan kembali ke tempat Rain. Kau bisa mati nanti kalau masih memaksa dirimu di sana. Kau pikir kanker rektum itu main-main?"  Tanya Linny dengan nada tak kalah judesnya.


"Aku masih ada urusan dengan Rain. Aku akan kembali ke tempatnya nanti malam"  Ucap Erik dengan penuh keyakinan.


"Astaga kau ini keras kepala sekali"  Ucap Linny.


"Jangan mengataiku. Kau lebih keras kepala perempuan gila"  Ucap Erik.


"Jangan cari ribut dengan kondisi mu yang lemah. Aku tidak bisa membunuh orang yang hidupnya sendiri di ujung tanduk. Kalau mau bertengkar dengan ku maka ikut saran dokter untuk penyembuhan setelah itu kau bisa bertengkar denganku hingga puas"  Ucap Linny.


"Sekarang aku tau kenapa Sean sangat mencintaimu"  Ucap Erik tiba-tiba.


"Ha?"  Linny menatap heran pada Erik.


"Kau benar-benar wanita mandiri dan kuat. Meskipun kasar kau berhati baik. Sean saja membenci ku hingga tidak mau tau tentang ku kan? Tapi kau berbeda. Kau bisa membedakan orang yang benar-benar tulus dan tidak. Kau bahkan mau membantu ku yang pernah mencelakakan kau dan Sean"  Ucap Erik terdengar lirih.


Linny menghela nafas dan menatap Erik dengan tajam.


"Karena kau tau kesalahan mu dan kau mau memperbaikinya. Itu sudah cukup. Jarang ada orang yang mau mengakui kesalahannya dan memperbaikinya. Biasanya orang akan terus membuat kesalahan baru untuk menutupi kesalahan sebelumnya"  Ucap Linny terdengar serius.


Erik tersenyum pada Linny. Tidak heran jika banyak yang menyukai Linny meskipun dia tampak dingin dan keras. Pantas Linny menjadi CEO dan sangat di hargai banyak orang.


"Ingat permintaan ku. Aku ingin melihat mu menikah dengan Sean. Aku menunggu hari itu tiba agar aku bisa mati dengan tenang"  Ucap Erik.


"Kalau begitu aku tidak akan menikah dengan Sean agar kau tetap hidup! Jangan coba mati tanpa ijinku! Kau masih berhutang maaf pada Sean"  Ucap Linny lalu keluar dari ruangan Erik.


Linny bergegas menuju mobil bersama Alfa sebelum Sean mencarinya dan tau dia menemui Erik.


Tak lama Sean tampak menyusul Linny. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan kembali ke penthouse.


.


Tiba di penthouse tampak Andrean - Angel, William - Sisilia, Danu, Doni juga Aston -Eka tengah menunggu keduanya kembali.


"Kami mandi dulu. Kalian tunggu sebentar ya. Ah Jun apa pesanan makanan yang aku suruh sudah sampai?"  Tanya Linny.


"Sedang di ambil oleh Augst dan yang lainnya Nona. Mungkin sebnetar lagi mereka sampai"  Ucap Jun.


Jun dan Alfa memang menugaskan tiga pengawal kepercayaan mereka untuk membeli dan mengambil pesanan makanan Linny. Mencegah ada orang lain berniat buruk dengan memasukan sesuatu ke dalam makanan.


Linny hanya mengangguk. Yang lainnya pun tampak duduk dengan santai di ruang keluarga Linny.


Sean dan Linny segera masuk ke kamar mandi, keduanya mandi bersama.


Catat : Hanya Mandi. Niatnya.


Bukannya tidak ingin melakukan kegiatan selain mandi, Sean sangat ingin bahkan si Pluto kesayangan-nya sudah on. Namun si Venus belum bisa di ajak bermain.


"Kenapa?"  Tanya Linny saat Sean memunggunginya.


"Enggak. Ah kau sudah selesai? Keluarlah terlebih dulu" Ucap Sean.


Linny memicing melihat Sean yang berbeda. Bukan Linny namanya jika dia tidak paham apa yang terjadi pada Sean.


Tangan Linny langsung mengulur menyentuh milik Sean dari belakang.


"Ah.. Shhh. Linny S-Stop"  Ucap Sean menahan tangan Linny agar tidak lagi bergerak.


"Kenapa?"  Tanya Linny.


"Sudah biar aku urus sendiri saja"  Ucap Sean sambil tersenyum.


Dia tidak mau membuat Linny lelah mengurusi si Pluto yang sudah spanning tinggi itu. Linny baru saja pulih, meskipun bisa menggunakan tangan dan mulut tetap saja Sean tidak tega.


"Aku tidak selemah itu. Diam lah. Biar cepat selesai. Yang lain sudah menunggu" Ucap Linny tanpa aba-aba langsung berjongkok di depan Sean dan memanjakan si Pluto.


Tak bisa di tolak, Sean hanya mampu mengerang menikmati setiap gerakan dan perlakuan Linny. Dia hanya pasrah membiarkan Linny bekerja hingga Pluto menyelesaikan keinginannya.


Setelahnya mereka segera berpakaian dan keluar dari kamar kembali bergabung dengan yang lainnya.


Bertepatan dengan itu makanan yang di pesan sudah tiba dan sedang di hidangkan oleh Jun dan Alfa. Semuanya pun duduk bersama menikmati makanan sambil bercanda gurau.


Saat Sean sedang asyik berbincang dengan Aston dan yang lainnya. William dan Linny bergerak menjauh untuk membahas masalah Erik.


"Kau yakin mau ikut terlibat? Kau tidak ada masalah dengan Rain"  Tanya Linny pada William.


"Aku tentu akan ikut campur. Masalah Sean juga masalah ku. Dia sudah seperti saudara kandungku. Aku tidak akan tutup mata jika manusia seperti Rain mencoba menganggunya"  Ucap William dengan penuh keyakinan.


"Terserah kau. Tapi kita harus berhati-hati. Erik hari ini kembali ke apartemen Rain. Kita tunggu saja kabar dari Erik" Ucap Linny.


"Dia benar-benar mau menjadi jarum beracun untuk Rain? Anak itu benar-benar gila"  Ucap William yang tak habis pikir dengan keberanian Erik.


"Tenang. Aku sudah menempatkan orang memantaunya dari jauh. Jika ada yang berbahaya maka mereka akan membantunya langsung"  Ucap Linny yang sudah memperhitungkan segala sesuatu.


"Kau sudah katakan pada Sean?"  Tanya William.


"Belum. Erik melarang ku"  Jawab Linny.


"Dia juga melarang kami membahas tentangnya pada Sean. Aku belum pernah melihat dia sedewasa itu"  Ucap William.


"Sementara ikuti saja. Tapi yang aku takutkan Sean akan menyalahkan dirinya sendiri jika sampai Erik benar-benar tidak bertahan"  Ucap Linny terdengar khawatir.


William menatap Linny dan paham dengan maksud Linny. Sean pasti akan merasa karena dia sudah membuat banyak orang kesulitan dan ikut terlibat dalam masalahnya.


Padahal dulu Sean yang memilih masuk ke dunia itu akibat pelecehan yang dia alami. Namun jika dia bisa meneguhkan hatinya dan berusaha lepas tanpa harus menceburkan diri lebih dalam lagi maka hal ini tidak akan terjadi.


Kini yang di hadapi Sean bukan Agus yang hanya mengertak dan mengancam dengan video. Tapi Rain yang terkenal kejam dan bisa menghabisi siapa pun yang dia inginkan. Level mafia dan tingkat kesadisan yang berbeda tentunya.


"Aku dengar dari dokter yang merawat Erik, kankernya sudah sangat parah dan akan membuatnya kesulitan makan. Mereka sedang berusaha mengobati hepatitisnya dulu. Mereka belum bisa melakukan kemoterapi"  Ucap William yang memang langsung mencari dokter bernama Bram itu.


"Aku akan mencari cara. Pasti ada pengobatan dari luar yang bisa bantu menekan kondisi buruknya. Setidaknya dia bisa bertahan beberapa tahun lagi"  Ucap Linny.


"Kau benar-benar mau membantunya? Padahal dia pernah mencoba melukai kau dan Sean. Aku salut pada mu"  Ucap William yang memang kagum pada sikap Linny yang mampu bijak dalam hal itu.


"Semua orang mempunyai kesempatan kedua asal mereka mau mengakui kesalahan mereka, juga memperbaiki sikap tanpa menambah kesalahan baru"  Jelas Linny


Sean tampak mencari-cari Linny. Matanya menatap heran melihat Linny sedang berbicara berdua dengan William dan menjauh dari kerumunan mereka.


"Sedang apa mereka?"  Gumam Sean lalu beranjak mendekati Linny dan William yang tak sadar Sean sedang memperhatikan mereka.


.


.


,