
"Tenanglah. Aku pasti akan terus merepotkan mu. Tapi sepertinya akan susah menghubungi mu kalau kau berpacaran dengan Gay cemburuan itu. Lihatlah matanya sudah menatapku tajam sejak tadi"
"Bagaimana kalau dia kembali dengan kebiasaan lamanya?"
"Tapi aku rasa dia tulus dengan mu. Tatapan itu seperti tatapan suami yang takut istrinya dicuri laki-laki lain"
Linny tersenyum mendengar perkataan Santo. Bukan Linny tidak bisa merasakan ketulusan Sean padanya.
"Biarkan saja. Kau berhati-hatilah. Orang dari kelompok hitam ada di sini. Entah aku salah atau tidak, sejak di acara mereka memperhatikan Kau dan pasangan mu" Ucap Linny yang memang memiliki insting dan pandangan tajam jika melihat adanya mafia di sekitar dirinya.
"Aku tahu itu. Tapi aneh mereka tidak melakukan apa pun" Ucap Santo yang juga tahu keberadaan orang-orang hitam itu tapi mereka tidak melakukan tindakan apa pun.
"Mana berani mereka berulah. Kau tidak melihat Om Donald di sini? Cari mati mereka jika mengacau acara" Jelas Linny.
Santo tampak mengangguk paham. Kekuasaan Mafia Donald memang tidak diragukan lagi. Tidak akan ada yang berani mengacau di hadapannya.
"Satu lagi. Sepertinya wanita di rumahmu memiliki putra lain selain yang kau habisi dulu. Coba cari tahu sendiri. Aku pernah melihatnya bersama seorang anak laki-laki se-umuran dengan adik perempuan mu" Ucap Linny yang sudah seperti intel dimana-mana.
"Dia bukan adikku. Aku akan mengurusnya. Terima kasih atas informasi mu. Aku duluan. Kekasihku sudah mencariku" Ucap Santo yang melihat kekasihnya celingak-celinguk mencari keberadaannya.
"Okey. See you" Ucap Linny yang juga berjalan menuju ke arah Sean dan sahabat-sahabatnya.
.
Sean hanya memperhatikan sikap dan tindakan Linny dengan pria muda itu. Mereka tampak akrab dan banyak berbicara namun Linny tetap berjaga jarak dengan pria itu.
Sean bisa menerka mereka memang dekat dan kemungkinan pria itu memang benar memiliki koneksi bisnis erat dengan Linny.
Melihat Linny berjalan mendekati mereka membuat Sean berusaha menetralkan perasaannya. Dia tidak ingin Linny merasa tidak nyaman jika dia terlalu menunjukkan kecemburuannya.
"Ngapain kumpul di sini? Di dalam banyak yang bisa dimainkan" Ucap Linny dengan santai sambil kembali merokok.
"Tumben kau merokok biasa?" Tanya Andrean yang tiba-tiba muncul dengan Reza.
"Jangan merokok tidak baik untuk kesehatan mu" Ucap Reza yang langsung menarik rokok dari tangan Linny.
Wajah Linny berubah menjadi dingin. Linny bukan orang yang suka di atur.
Tatapan Linny berubah menjadi tajam. Melihat hal itu Sean langsung memeluk Linny dari belakang.
"Aku juga bawa rokok. Kau mau?" Tanya Sean yang paham emosi Linny terpancing.
Linny merokok hanya saat pikirannya kacau. Sean sudah banyak memperhatikan kebiasaan Linny.
Jika saat Linny berusaha menetralkan pikirannya dan merokok diganggu, tentu saja Linny akan berubah menjadi seorang iblis yang mungkin bisa menenggelamkan kapal pesiar mereka saat itu juga.
"Jangan coba-coba mengaturku!" Tegas Linny pada Reza dengan tatapan tajam dan dinginnya itu.
Reza tampak terkejut. Kimberlyn yang dia kenal belasan tahun lalu kini berubah menjadi Kimberlyn yang keras dan kasar.
Meskipun dulu Kimberlyn terkesan dingin dan menjauhi orang tak dikenalnya, tapi belum pernah dia melihat Kimberlyn yang seperti ini.
"Kau berubah. Apa pria itu yang membuatmu menjadi kasar begini?" Tanya Reza sambil menatap tak suka pada Sean.
"Bukan urusanmu!" Tegas Linny dengan suara yang mulai meninggi.
Sean mengeratkan pelukannya pada tubuh Linny berharap Linny menjaga emosinya di tempat umum. Jika tidak tentu Linny akan menjadi bahan berita yang jelek.
"Kau tidak pernah begini Kimberlyn. Apa kau lupa kita selalu sangat bahagia dulu? Aku ingin kau kembali seperti dulu. Jangan sekasar ini. Apalagi ini rokok. Kenapa kau malah merokok?" Ucap Reza sambil berusaha membelai pipi Linny.
Sontak Sean langsung mencengkeram tangan Reza, dia tidak ingin pria itu menyentuh wanitanya.
"Hei! Lepaskan tangan ku! Siapa kau?!" Bentak Reza tak suka.
"Jangan sembarang menyentuh Linny. Kau tahu ini tempat umum?" Ucap Sean berusaha menjaga emosinya. Dia hanya ingin menjaga reputasi Linny.
Danu, Doni dan Aston tampak sangat tidak menyukai Reza.
"Cukup Za. Jangan buat keributan" Tegur Andrean.
Bagaimana pun Reza masih temannya. Dia tidak ingin bersikap kasar meskipun dia tidak suka dengan perkataan Reza itu.
"Kau---" Sean tampak menahan amarahnya.
"Dia Tunangan ku!" Ucap Linny dengan tegas.
Mendengar perkataan Linny sontak semua orang melihat ke arah Linny tanpa di komando.
Linny melangkah mendekati Reza.
"Dia tunanganku. Sudah jelas Tuan Reza Ardian Wijaya? Sean adalah tunanganku jadi jangan coba-coba menghina dia atau aku akan menghancurkan Kau dan keluarga Kau itu dengan mudah. Ingat kita tidak ada urusan lagi sejak hari itu. Jika kau ingin menghancurkanku coba saja. Aku tidak peduli kau mau membocorkan masa laluku atau apa pun itu. Tapi yang harus kau tahu, di saat kau mencoba menghancurkanku maka akan aku pastikan itu hari terakhirmu bisa bernafas" Ucap Linny dengan tegas.
Linny mengeluarkan sebuah kalung dari kantung celananya dan menyerahkannya pada Reza. Kalung berbentuk matahari yang indah itu.
"Aku sudah mengakhiri semuanya. Jangan berpikir hanya dengan kalung ini maka kau masih memilikiku. Aku bukan orang yang akan dihina lagi oleh keluarga Wijaya lagi. Atau mungkin saat ini keluarga mu butuh diriku untuk memperluas bisnis mereka setelah kau mencariku sekarang? Sayangnya aku tidak sebaik itu Reza"
"Satu hal lagi yang belum pernah aku katakan dulu pada mu. Aku tidak pernah puas bermain diranjang dengan mu. Aku hanya merasa kau benar tulus padaku meskipun ternyata akhirnya aku paham kau hanya orang yang lemah. Dan aku tidak butuh orang lemah seperti mu. Berhenti berpikir bahwa aku hanya bisa puas bermain dengan mu. Kau bahkan tidak pernah bisa membuatku mendesah atau ingin melakukannya lebih dulu" Ucap Linny yang terasa menusuk bagi siapa pun yang mendengarnya.
Linny langsung menarik Sean pergi dari tempat itu. Sean hanya mengikuti Linny.
Keduanya kembali masuk ke dalam kamar. Sesampai di dalam kamar, tubuh Linny tampak bergetar hebat. Dirinya menangis. Hal yang tidak pernah Sean lihat. Linny menangis.
"Linny" Ucap Sean lirih sambil merengkuh tubuh Linny dalam pelukannya.
Linny masih menangis hebat, luka yang sudah dia tutup rapat seolah terbuka begitu saja.
"Kau kenapa? Hei. Jangan menangis. Ada aku di sini Linny" Ucap Sean berusaha menenangkan Linny.
Sean yang tadinya ingin bertanya tentang siapa Reza malah kini tidak sanggup bertanya apa pun. Tangisan yang dia lihat sudah menunjukkan jawaban siapa Reza itu.
Setengah jam kemudian, Linny tampak sudah mulai tenang. Sean menatap Linny dengan raut wajah yang cemas. Dirinya menghapus perlahan air mata di wajah Linny.
"Aku akan buatkan teh" Ucap Sean sambil tersenyum.
"Kenapa kau tidak bertanya?" Ucap Linny tiba-tiba.
"Tentang?" Tanya Sean heran.
"Reza. Dan Aku" Ucap Linny sambil menatap Sean.
"Jika kau ingin memberitahuku maka aku akan mendengarnya. Jika tidak maka aku tidak akan bertanya bila itu hanya membuat luka di hatimu" Ucap Sean sambil tersenyum tipis.
Linny menghela nafas berat. Banyak sekali luka yang dia rasakan seumur hidupnya di usia yang muda.
"Reza mantan kekasihku dulu. Aku pernah hamil dan keguguran anaknya" Ucap Linny dengan suara yang sangat pelan.
"Apa??" Sean cukup terkejut.
"Hubungan kami tidak lama dan dia mencampakkan aku" Ucap Linny sambil merebahkan dirinya di sofa. Ingatan luka itu membuat tubuh Linny merasa sakit di setiap tulangnya.
Sean menatap Linny dengan penuh tanya. Terlalu banyak masa lalu Linny yang tidak dia ketahui.
.
.
.
.