A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Kejadian Yang Mirip...



"Tolong!! Kakak!! Tolong Farid"


Suara menyayat hati dari seorang anak kecil itu membuat Linny menerjang masuk ke rumah yang sebagian besar masih terbuat dari kayu dan sudah cukup lapuk pintunya.


Linny di bantu Sean dan yang lainnya langsung menghajar dua pria dewasa yang tampak sedang melecehkan anak kecil itu.


Dewi langsung berlari memeluk adik kecilnya. Perlahan Dewi memperbaiki pakaian bawah Farid yang sudah terbuka itu.


Melihat pemandangan itu membuat Sean menatap pilu. Anak sekecil itu menjadi sasaran orang-orang berniat buruk dan melecehkannya.


Dia yang dulunya sudah berumur dewasa saja bisa merasakan sakit yang sangat teramat saat dilecehkan, apalagi jika anak sekecil itu. Sean tak bisa membayangkan rasa sakit yang di alami anak kecil itu.


"Bawa dia ke rumah sakit"  Ucap Linny memerintah.


Jun langsung paham dan segera mengendong anak kecil itu ke dalam mobil.


"Alfa dan beberapa orang urus dua manusia itu. Dan cari pria laknat yang sudah menjual anaknya ini. Bawa dia ke  hadapanku!"  Ucap Linny tegas dan dingin seolah ingin menelan siapa pun saat ini.


Alfa yang mengerti di bantu 4 pengawal lainnya mengurus apa yang di perintahkan Linny.


Sean dan Linny segera masuk ke dalam mobil bersama Dewi dan membawa adiknya ke rumah sakit terdekat.


Farid -Adik Dewi langsung di larikan ke IGD (Instalasi Gawat Darurat)  untuk di tangani segera.


Dewi tampak menangis dalam diam. Melihat kondisinya seperti itu sebenarnya siapa pun akan terenyuh dan memeluk hangat gadis itu.


Namun berbeda dengan Linny. Dia yang memang cenderung tampak dingin dan cuek tak sedikit pun bergerak untuk menenangkan Dewi.


Hanya saja dia akan melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk menghukum orang yang sudah berbuat keterlaluan.


Melihat itu Sean meminta Jun membelikan minuman untuk Linny dan Dewi. Jun langsung bergerak mengikuti perintah Sean tanpa banyak bertanya.


Setengah jam kemudian terlihat dokter keluar dari ruangan IGD dan mendekati Linny.


"Apa Anda yang bertanggung jawab atas anak kecil tadi?"  Tanya si dokter dengan pandangan yang cukup cemas.


"Ya. Saya walinya"  Jawab Linny tanpa ragu.


Mendengar perkataan Linny membuat Dewi merasa terharu, Linny orang asing yang tempat tinggalnya menjadi sasaran pencurian Dewi tapi kini Linny yang menyelamatkan Dewi dan Farid.


"Pasien mengalami pendarahan dan kerusakan pada bagian anusnya. Kami akan mencoba melakukan perawatan tanpa operasi terlebih dahulu untuk memperbaiki jaringan saraf-nya yang kemungkinan banyak yang rusak"


"Beberapa waktu ke depan pasien harus di rawat intensif dan saya sarankan untuk membawa pasien ke psikolog karena sepertinya pasien mengalami maaf - pelecehan seksual"


Tampak dokter itu berkata dengan hati-hati takut menyinggung siapa pun yang mendengar.


"Bisa sekalian di cek darah dan keseluruhannya, Dok? Tolong pastikan dia tidak mengalami penyakit menular apa pun. Jika itu terjadi tolong segera rawat. Berapa pun biayanya tidak jadi masalah"


Ucap Linny dengan tegas yang membuat siapa pun yang mendengar akan terkagum jika tahu Linny tidak memiliki hubungan darah atau apa pun dengan anak itu.


"Baiklah. Sebagai Dokter kami pasti akan melakukan yang terbaik. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat biasa. Mohon di jaga agar pasien tidak tertekan selama perawatan" Ucap Dokter itu lagi.


"Terima kasih Dok"  Ucap Linny sambil mengangguk paham.


Dokter itu pun pamit melanjutkan tugasnya yang lain.


Di depan IGD tak lama pintu terbuka. Farid di bawa menuju ruang rawat kelas 3. Linny langsung memerintah agar Farid di bawa ke ruang VIP.


"Jun. Urus administrasinya"  Perintah Linny.


Jun langsung segera mengurus permintaan Linny.


Di dalam ruangan VIP terlihat Dewi mengelus perlahan kepala sang adik dengan penuh kasih.


Linny melihat rasa kasih sayang yang besar dari sang kakak kepada adiknya. Sama seperti dia yang sangat menyayangi Nicolas -Adiknya.


Sean merangkul Linny erat seolah berkata 'Kau benar melakukan hal yang luar biasa'.


Menyadari dirinya belum sempat berterima kasih pada Linny membuat Dewi segera menghampiri tempat Linny dan Sean yang duduk memperhatikan kakak-beradik itu.


"Terima kasih Bu. Terima kasih. Saya tidak punya apa-apa. Saya bersumpah akan mengorbankan hidup saya untuk kebaikan ini"  Ucap Dewi sambil berlutut di hadapan Sean dan Linny.


Sean hendak menarik Dewi untuk bangkit tapi Linny menahan tangannya.


"Kau yakin?"  Tanya Linny.


Sean menaikkan satu alisnya merasa heran dengan pertanyaan Linny.


Linny menatap tajam Sean seolah menyuruhnya diam dan dengarkan saja.


"Saya yakin"  Ucap Dewi tanpa ragu.


Linny tampak berpikir sejenak lalu melipat kedua tangannya sambil menatap Dewi.


"Kau mau bekerja denganku? Sepertinya Kau cukup pintar"  Tanya Linny memperhatikan Dewi dengan detail.


Gadis itu terlihat cekatan dan mampu menerobos masuk lingkungan villa-nya meskipun akhirnya tertangkap. Itu juga tertangkap saat dia sudah masuk ke salah satu kamar dan mengumpulkan barang berharga yang bisa dia bawa.


"Mau Bu. Apa pun akan saya lakukan asal adik saya baik-baik saja"  Ucap Dewi dengan bersungguh-sungguh.


"Okey. Sekarang fokus dengan kesembuhan adikmu dulu"  Ucap Linny.


Dewi mengangguk paham dengan perkataan Linny dan mematuhi perkataan wanita di hadapannya itu. Dia sangat kagum dan hormat pada Linny. Meskipun tampak dingin dan galak namun wanita itu mau menyelamatkannya dan adiknya.


"Istirahatlah. Nanti akan aku suruh Jun mengantarkan pakaian ganti dan makanan untuk mu. Dua pengawalku akan ada di sini berjaga. Jangan coba-coba melakukan hal buruk lagi. Paham?!"  Tanya Linny dengan tegas.


Dewi mengangguk cepat. Mana mungkin dia berani mencuri lagi. Dia sangat bersyukur sudah bertemu Linny saat ini. Setidaknya sang Adiknya bisa selamat dari siksaan ayah tiri mereka.


Linny dan Sean keluar dari ruang rawat VIP. Linny meminta 2 pengawal untuk tinggal berjaga dan melaporkan segala sesuatu pada Jun.


Tampak Linny berpikir, dia harus mencari psikolog untuk anak kecil itu. Linny tidak bisa sembarang percaya pada dokter apalagi setelah kejadian dokter yang merupakan kekasih Rain itu dia ketahui.


Terlintas di pikirannya untuk mencari Angel saat nanti dia bisa membawa Dewi dan Farid pergi dari pulau Bali itu. Menjauhkan mereka dari kehidupan kelam mereka selama di sana adalah yang terbaik menurut Linny.


.


.


.


Kamar Andrean~


Di tempat lain tampak Andrean yang kacau. Sampai saat ini Angel tidak bisa dia hubungi. Awalnya Angel hanya tidak menerima panggilan telepon dari Andrean.


Namun kini nomor Andrean di blokir oleh Angel. Andrean ingin meminta maaf atas perlakuannya itu sekaligus berterima kasih dan bertanggung jawab atas kejadian yang sudah dia lakukan pada Angel.


"Mau ke mana Dre?"  Tanya Lisa -Mama Andrean dan Sisilia.


"Ke tempat teman sebentar Ma. Ah, aku gak pulang makan ya Ma. Jangan nungguin"  Ucap Andrean sambil tersenyum lembut.


"Ya sudah. Hati-hati di jalan"  Ucap Lisa dengan senyuman hangat.


Andrean segera melajukan mobilnya menuju salah satu rumah sakit. Dia tahu jika Angel memiliki teman di kota itu. Hanya itu cara terakhir Andrean untuk bisa menghubungi Angel yaitu meminta bantuan temannya.


Tiba di rumah sakit Andrean bergegas mencari ruang praktik Wina -Teman Angel.


"Hai. Wina"  Sapa Andrean.


Wina yang tentu tahu siapa Andrean langsung membalas sapaannya. Angel sering bahkan selalu menunjukkan foto-foto Andrean yang diam-diam di potretnya.


"Hai. Maaf ada perlu apa ya?"  Tanya Wina dengan sopan.


"Kau tau siapa aku?"  Tanya Andrean heran karena Wina tidak bertanya siapa dia.


"Tentu. Kau Andrean kan?"  Tanya Wina dengan ramah.


"Pasti Angel yang memberitahu mu kan?"  Tanya Andrean lagi.


"Haha. Ya benar tapi juga karena kau memang terkenal sebagai tangan kanan CEO Tercinta mu"  Ucap Wina yang terdengar menyindir Andrean.


Andrean terdiam menatap Wina dengan pandangan yang sulit di artikan. Dia terkejut Angel dan Wina tau tentang perasaannya selama ini.


"Jadi ada perlu apa kemarin Tuan Andrean? Mau curhat bagaimana cara mendapatkan cinta seorang CEO Kim? Sepertinya Anda jauh lebih paham karakter CEO Kim yang tak mungkin merubah pilihan hatinya"  Ucap Wina tampak menyindir keras.


Wina tahu jika Linny sudah memiliki pria di sisinya. Berita tentang Linny yang memiliki partner sudah muncul dimana-mana.


"Bukan. Aku mau minta tolong untuk menghubungi Angel. Aku tidak bisa menghubunginya sejak terakhir bertemu"  Jelas Andrean.


"Loh? Dia sudah balik ke Singapore. Apa dia tidak memberitahu mu?"  Tanya Wina heran.


Meskipun memutuskan untuk berhenti mengejar Andrean, cukup aneh jika Angel malah tak berkomunikasi sama sekali. Tidak seperti Angel biasanya.


"Iya. Dia memblokir nomorku"  Jawab Andrean jujur.


Wina terkejut Angel memblokir nomor Andrean. Apa ada sesuatu buruk yang terjadi?


"Apa ada hal yang aku lewatkan?"  Tanya Wina penasaran.


"Sedikit masalah pribadi. Ah terima kasih kalau begitu. Jika dia menghubungi mu tolong katakan aku mencarinya dan jawab panggilan dariku"  Ucap Andrean meminta tolong.


"Baiklah. Akan aku sampaikan nanti" Wina hanya tersenyum.


Andrean lalu pamit dari tempat itu. Dia masih merasa tidak nyaman.


"Ah ****! Sepertinya aku harus menyusulnya ke Singapore"  Ucap Andrean frustrasi.


Benar saja, Andrean langsung me-booking tiket pesawat untuk penerbangan besok ke negara Singapore. Dia harus meluruskan hal ini.


.


.


.