
"Linny dimana?" Tanya Sisilia saat melihat Sean keluar dari kamar sendirian.
"Linny kurang sehat. Gerdnya kumat" Jawab Sean lalu duduk di depan Sisilia dan Andrean.
"Loh? Gak ke dokter?" Tanya Sisilia khawatir.
Sudah beberapa kali Linny hampir pingsan karena Gerd-nya kumat parah. Tentu Sisilia selalu cemas saat mendengar Gerd Linny kembali kumat.
"Dia masih ada obat. Jika belum membaik nanti aku bawa dia ke dokter" Ucap Sean menenangkan kekhawatiran Sisilia.
Sisilia hanya mengangguk paham. Sedangkan Andrean tampak diam membisu tanpa suara. Andrean tampak merenung dan banyak pemikiran.
"Dre" Panggil Sean sambil menatap Andrean.
Andrean hanya menatap Sean tanpa bersuara sepatah kata pun.
"Ah Sean. Soal Andrean~" Sisilia berusaha menjadi penengah, dia takut Sean marah pada Andrean.
"Sil, bisa aku bicara berdua dengan Andrean?" Potong Sean.
Sisilia hanya menghela nafas dan membiarkan keduanya berbicara. Sisilia memilih duluan kembali ke rumahnya. Terlebih William sudah beberapa kali menelepon dia.
"Baiklah. Aku pulang duluan. Tolong kalian bicara baik-baik. Aku tidak ingin karena hal ini malah pertemanan kita rusak semua" Ucap Sisilia menasihati sebelum dia pergi dari penthouse Linny.
Setelah Sisilia pergi, keheningan terjadi di antara Sean dan Andrean.
"Kau masih mencintai Linny?" Tanya Sean tiba-tiba.
Andrean tersentak dengan pertanyaan Sean yang begitu to the point.
Sean tersenyum pada Andrean hingga membuat Andrean bingung dengan sikap Sean.
Sean tidak marah ataupun membenci Andrean yang diam-diam menyimpan perasaan pada Linny.
Dia malah merasa kagum karena Andrean bisa sebegitu mencintai Linny tanpa memaksa untuk memiliki Linny. Jarang sekali ada orang yang bisa melakukan hal seperti itu apalagi pria cenderung makhluk egois. Biasanya mereka akan berusaha terus mendapatkan apa yang mereka inginkan selama mereka masih bernafas.
Jangankan pria tulen. Orang seperti Erik dan Rain saja begitu gigih berusaha meraih kembali Sean ke sisi mereka.
"Aku terkejut kau ternyata menyimpan rasa pada Linny" Lanjut Sean.
"Kau marah?" Tanya Andrean gugup.
"Tidak" Ucap Sean sambil menggelengkan kepalanya.
Andrean semakin bingung dengan sikap tenang Sean. Pria mana pun pasti akan marah jika ada yang diam-diam menyukai wanitanya terlebih jika orang itu malah ada di dekatnya tanpa di ketahui niat hatinya.
"Jika aku jadi kau. Belum tentu aku sekuat dirimu. Membayangkan menjadi dirimu yang mencintai dalam diam selama ini pasti berat. Melihat Linny malah dekat dengan pria lain padahal kau yang selalu menjaganya dan membantunya" Jelas Sean jujur.
Andrean tampak berkaca-kaca. Pertama kali dalam hidupnya dia merasa sangat bodoh.
"Maaf. Sebenarnya sudah lama rasa cinta itu hilang menjadi rasa sayang seperti saudara. Ini bukan pembelaan diriku tapi kejujuran. Sejak Linny memutuskan tidak ingin menikah sejak itu juga aku membuang harapan untuk mendapatkannya"
"Aku masih di sisinya karena aku sudah janji pada diriku sendiri untuk menjaganya dan tidak membiarkan dia di sakiti lagi. Bagi ku dia sudah sama seperti Sisilia. Maaf jika dia menjadi alasanku menolak Angel. Hanya itu yang terlintas di pikiran ku dan aku tau Angel juga akan percaya serta menjauh. Aku tidak cukup baik untuk Angel"
Sejak Angel berubah dingin dan menjauhinya. Sejak itu pula Andrean merasa tidak tenang. Perasaan bersalahnya kian menyeruak dan mengganggunya sepanjang waktu.
"Kau benar-benar tidak bisa menerima Angel di hati mu? Apa sekeras itu tembok di hatimu sampai perempuan sebaik Angel tidak bisa masuk ke dalamnya?" Tanya Sean memastikan.
Entah bagaimana sebagai sesama pria Sean merasa jika Andrean secara tak langsung sudah menganggap Angel penting di kehidupannya. Hanya keegoisan hati Andrean menolak Angel masuk ke dalamnya.
"Maksud mu?" Tanya Andrean bingung.
"Apa kau merasakan hampa tanpa Angel misalnya? Terlepas dari rasa bersalah mu" Tanya Sean lagi.
Andrean berpikir sejenak. Apa dia hampa? Ya dia hampa. Angel yang biasanya selalu heboh mencarinya setiap hari meskipun tidak di gubris. Angel yang ceria setiap bertemu dengannya.
Kini Angel menjadi sesuatu yang lain bahkan Andrean hampir tidak mengenali Angel yang saat ini.
"Sepertinya Iya. Dia selalu ceria menyambutku. Dalam kondisi apa pun. Biarpun aku selalu tidak menggubrisnya, dia selalu ada dan mencariku. Sekarang dia yang diam begitu membuatku takut" Ucap Andrean yang tampak bingung dan sedih.
"Aku rasa di dalam hati kecilmu, Angel orang yang penting. Tapi kau terlalu egois dan naif hanya memikirkan dirimu dan janjimu. Come on, Dre. Kau juga berhak bahagia dan Linny sekarang tanggung jawabku. Cobalah berbagi beban janji mu denganku. Apa aku selemah itu untuk kalian?" Tanya Sean panjang lebar sambil menatap Andrean.
Andrean berpikir keras, benarkah yang di katakan Sean. Dia se-egois itu. Hingga dia sudah menyakiti Angel yang tidak bersalah.
"Satu lagi. Kau kan di pengaruhi obat. Biasanya kita bisa menahan dan menolak menyentuh seseorang yang tidak ada di pikiran kita. Seperti aku yang pernah hampir di jebak wanita sialan itu dulu. Tapi aku teringat dia bukan Linny dan aku langsung menolaknya keras. Apa kau menolak Angel atau kau yang meraih Angel?" Tanya Sean lagi.
Andrean kini terdiam menatap Sean. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan lagi. Dia memang bertahan dari sentuhan putri pria sialan itu. Tapi saat Angel bersamanya malah dia nyaman dan dia yang menarik Angel ke atas tubuhnya.
"Aku----"
Andrean yang bingung membuat Sean tersenyum. Sepertinya tidak masalah jika Andrean menikahi Angel. Dia hanya butuh waktu menyadari bertapa Angel penting baginya selain Linny.
"Kau harus berusaha lebih keras. Tapi mungkin tak akan sesulit ku yang ingin sekali menikahi Linny. Aku yakin Angel akan memaafkan mu. Asal kau jangan lagi Egois, jujurlah pada dirimu sendiri kalau kau butuh seseorang di sisimu"
Sean mencoba menasihati Andrean sebagai sesama pria. Dia paham kesulitan dan dilema Andrean. Sean sudah melaluinya dan bahkan kondisinya lebih buruk.
"Thanks"
Ucap Andrean sambil tersenyum pada Sean. Tulus rasa persahabatan itu di antara mereka.
"Cobalah datang beberapa hari lagi. Bawakan sesuatu untuk Angel. Ajak dia bicara tentang hal yang menjadi hobinya. Jangan bahas masalah ini dulu. Biarkan dia nyaman dengan mu. Wanita memang seperti itu. Kandang kita harus mengulur dan kadang kita harus menarik erat. Sampai sekarang aku juga masih belajar menyesuaikan dengan Linny"
Jelas Sean lagi panjang lebar. Sean kini sudah mirip dosen cinta dan hubungan rumit.
Andrean mengangguk paham dan langsung memeluk berterima kasih pada Sean yang mau memberinya pemahaman.
Setidaknya Andrean lebih lega dan mulai memahami apa yang harus dia lakukan.
.
.
.