A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Akhir Kisah Ini...



Tidak terasa tiga hari berlalu. Santo mengabari Linny jika Dewi sudah mulai menyusup. Santo sudah membuatkan identitas palsu Dewi dan membuatnya masuk menjadi waiters di sana.


Karena bagaimanapun bar itu tetap membutuhkan pelayan wanita karena ada juga pria-pria normal maupun bis3x yang suka ke sana.


Dewi dengan baik mengerjakan tugasnya dan mampu menyusup ke dalam ruangan khusus. Dia juga berhasil memasang kamera sesuai yang di ajarkan Santo dan memasang penyadap.


Tentu dengan hati-hati dia melakukan itu. Tak ada kecurigaan orang di sana karena Dewi tampak santun juga cantik. Bahkan malah beberapa pria termasuk komplotan Rain yang menyukai dewi dan ingin menjadikannya wanita simpanan.


Dengan sopan Dewi menolak dengan alasan takut ketahuan istri sah pria-pria itu. Juga takut berurusan dengan polisi jika di laporkan istri mereka.


"Hahaha. Kau takut apa. Polisi di sini semua dalam genggaman kami. Buktinya kau lihat di sini bebas menjual obat-obatan bukan?"


Ucapan pejabat itu tentu terekam jelas di kamera dan alat penyadap. Pancingan Dewi berhasil.


"Kalau begitu berikan saya waktu untuk berpikir dan menguatkan hati saya Tuan. Saya masih takut dengan ancaman istri sah yang biasanya mengerikan" Ucap Dewi beralasan.


"Tenang saja. Kau akan aman dengan ku sayang. Ah ya tolong bawakan minuman untukku. Teman-teman ku akan berkumpul hari ini"


Ucap pria itu menyuruh Dewi membawakan minuman beralkohol untuk mereka.


Dewi mengangguk dan langsung membawakan minuman untuk mereka. Dewi yang di beri tahu tentang Willy dengan waspada mencari di mana pria itu.


Terlihat Willy dan Dua pria muda lainnya di bawa masuk ke ruangan khusus itu. Tak lama tampak beberapa ex-pejabat bahkan kepala polisi datang dan masuk ke sana.


Dewi hanya mampu mengumpat di dalam hati. Dia cukup terkejut dengan hal itu hingga ada teman sesama waiters yang mendekatinya.


"Jangan dilihat. Itu gak aneh. Cukup diam saja selama gaji kita di bayar. Dimana lagi bisa dapat gaji tinggi kan?" Ucap pria gemulai itu.


"Iya. Bukan urusanku juga, masalah hidup sudah banyak" Jawab Dewi berpura-pura tidak peduli.


"Tapi sepertinya kau di sukai Tuan Kuncoro. Dia itu pejabat hebat. Madam itu teman baiknya. Kau akan kaya raya kalau sama Tuan Kuncoro. Dia tuh lancar kalau kasih bulanan. Kita di sini sana cuman pegang-pegang di kasih juga tips gede" Bocor pria tulang lunak itu.


"Pegang-pegang?" Tanya Dewi heran.


"Iya Tuan Kuncoro kan bis3x" Jawab pria itu lagi.


Dewi hanya ber-oh ria seolah tidak peduli. Namun matanya tetap sesekali memperhatikan siapa saja yang keluar masuk ruangan itu.


Terlihat Willy di seret keluar dengan kasar.


"Sialan kau! Bikin suasana jelek! Kembali ke kamarmu sebelum kau ku bunuh!"


Teriak kepala polisi itu menyeret Willy keluar dari ruangan. Semua pelayan hanya bisa diam tidak berani membantu Willy.


Willy di lempar dengan kasar ke lantai. Perlahan dia bergerak untuk bangun dan menjauh dari depan pintu ruangan itu.


Dewi menerka Willy pasti membuat masalah dan tidak jadi di 'pakai' oleh orang-orang itu.


Hingga hari ke - empat Dewi di sana. Santo memberi kabar mereka akan bergerak karena bukti sudah di dapat. Rekaman sudah cukup untuk menghancurkan komplotan Rain karena baik pejabat berpengaruh bahkan kepala polisi sudah terekam jelas ke dalam sambungan yang di miliki Santo.


Bagaikan serigala yang sedang berburu. Santo mengenakan topengnya agar tidak di kenali sebagai pewaris Wisnu Negara.


Dia mendatangi Bar itu bersama orang-orang terlatihnya dan mulai menghancurkan tempat itu.


"Ingat. Bawa Dewi dan Willy keluar secepat mungkin" Titah Santo pada Bram dan Bagas.


Dua orang terpercayanya.


Bram bertugas mencari dan membawa Willy keluar. Sedangkan Bagas bertugas melindungi dan membawa Dewi.


Perburuan di mulai. Santo mengacau layaknya mafia yang memiliki masalah dengan pihak Rain. Dia melihat Carlie, target yang harus dia bunuh karena sudah berani membantu musuhnya.


"Siapa kalian???" Bentak Kepala Polisi saat melihat penyerangan terjadi di dalam bar.


"Wah ada pejabat pemerintah. Keren" Ucap Santo sambil tersenyum mengerikan di balik topengnya.


Bar di hancurkan dan di bakar. Semua orang berlarian. Santo dan yang lainnya melumpuhkan semua pengawal milik Rain di sana. Bahkan tak sedikit yang meninggal.


Hingga di rasa cukup, Santo membawa pergi Willy dan Dewi untuk di amankan. Sedangkan Carlie langsung di bawa ke paviliun khususnya untuk menjadi mainan penyiksaan Santo sebelum meregang nyawa.


Willy dan Dewi di bawa ke markas Om Donald sementara untuk di amankan. Akibat kericuhan itu polisi berdatangan hingga berita menyebar ke mana-mana.


Sayangnya polisi tidak tau siapa pelaku yang membuat kerusuhan. Desas - desus mulai terdengar dan mengatakan jika kasus ini mirip dengan kasus sebuah bar yang juga di bakar.


Namun ini jauh lebih mengerikan lagi karena terdapat korban jiwa dan ada rekaman dari orang sekitar saat bar itu terbakar. Di sana terlihat beberapa wajah petinggi pemerintah keluar dari Bar itu dalam kondisi luka.


Meskipun bukan hal aneh jika ada yang ke Bar di era modern itu. Hanya tetap saja bagi sebagian netizen yang 'kepo' tetap itu hal yang patut di perbincangkan di saat masyarakat kesulitan pangan dan pemerintah ber-party di Bar mewah.


"Netizen memang hebat"


Ucap Andrean saat melihat komentar di posting an itu.


"Ini. Bukti perbuatan asusila dan menjijikkan di mana kepala polisi dan pejabat itu terlibat. Aturkan untuk menangkap mereka termasuk Rain. Dewi sempat memotret banyak hal di sana" Ucap Linny sambil menyerahkan ponsel Dewi dan flashdisk berisi bukti di Bar itu.


"Keren juga si psikopat satu itu" Ucap Andrean mengomentari.


"Ya. Pastikan Rain dan semuanya di tangkap. Dia tidak akan lolos kali ini" Ucap Linny dengan yakin.


Andrean mengangguk dan mulai melakukan tugasnya. Berbekal sebuah akun palsu dia mulai menyebar bukti keterlibatan para pejabat dan kepala polisi dengan bisnis haram Rain. Di rekaman itu terdengar dengan jelas semua rencana mereka. Tindakan korupsi. Pengakuan mereka membuat Bar dan menjual obat terlarang.


Selain itu terlihat adegan menjijikkan sesama jenis di ruangan itu. Semua terekam jelas di bareng in foto yang di ambil Dewi di mana ada Rain yang juga berpelukan dengan kepala polisi bahkan berciuman.


Sontak hal itu menjadi Headline news dan semua orang yang ada di video serta foto langsung di tangkap serta di interogasi. Para pejabat itu langsung di periksa dan terbukti mereka terlibat dalam kasus perdagangan obat-obatan serta perdagangan manusia.


Selain itu mereka juga terbukti melakukan korupsi dalam jumlah besar. Di dalam berita Rain juga tampak di sorot dan di tangkap sebagai kaki tangan.


"Kaki tangan? Dia biangnya bukan kaki tangan. Bodoh!" Umpat Linny kesal. Dia tidak ingin Rain di hukum dengan ringan jika hanya dianggap sebagai kaki tangan.


Sean yang melihat kekesalan Linny mulai menenangkannya. Kini Sean sedikit lega. Rain tertangkap dan Willy sudah berhasil mereka bebaskan dari cengkeraman Rain.


"Sudahlah. Semua sudah berakhir. Biarkan hukum saja berjalan" Ucap Sean.


"Kau yakin hukum bisa adil? Jika dia bebas ke depan nya dia pasti akan melakukan hal yang sama. Harusnya aku bunuh saja dia" Ucap Linny kesal.


"Jangan. Kau jangan membunuh lagi. Dan lagi pula kasus mereka sedang menyita perhatian publik. Kalau Rain mati mendadak dan terbukti kau membunuhnya. Maka akan menjadi masalah baru lagi nanti" Ucap Sean mencoba menasihati Linny.


Dia hanya tidak ingin Linny mendapat masalah. Saat ini Rain sudah di tangkap, Sean sudah senang karena artinya pria itu tak akan bisa lagi mengganggu.


Kelompoknya juga sudah hancur dan semua di tangkap. Itu artinya Rain sudah kehilangan kekuasaannya di tempat itu.


"Semua sudah berakhir. Semua sudah selesai"


Ucap Sean sambil mengecup kening Linny.


.


.


.