
Sepulang kerja Linny pergi ke suatu tempat tanpa mengajak Sean sehingga Sean harus kembali ke penthouse sendirian menggunakan kendaraan umum.
Entah kenapa tapi Sean tampak tidak mau secepat itu pulang. Dia merasa hampa tanpa Linny di sampingnya. Sean menuju ujung kota, dia mendatangi sebuah warung kecil di sana hingga larut malam.
Merasa sudah terlalu lama berada di tempat itu, akhirnya Sean memutuskan kembali ke penthouse. Udara di luar terasa semakin dingin. Sean melihat ponselnya.
Tidak ada satu pun pesan dari Linny. Entah wanitanya itu sudah makan atau belum. Linny tidak boleh terlambat makan karena memiliki riwayat GERD.
Sean segera memesan kendaraan online untuk kembali. Sebelum tiba di penthouse, Sean melipir ke minimarket dekat daerah penthouse Linny.
"Wah.. Kau Sean si kuat bukan? " Ucap seseorang saat Sean keluar dari minimarket itu.
Sean terkejut melihat pria itu. Dia adalah teman Om Agus. Salah satu pria yang juga turut menyiksa dan melecehkannya dulu. Tubuh Sean bergetar. Rasa takut dan marah membuncah.
" Bisa bicara sebentar? " Tanya pria itu tampak ramah kepada Sean.
Sean hanya mengangguk dan menaruh belanjaannya ke dalam mobil online serta meminta sang sopir menunggunya 5 menit.
Sean mengikuti pria itu ke sisi gang dekat minimarket itu. Tempat itu tampak gelap namun Sean tidak takut. Berhubung di sana juga masih daerah kota serta ada minimarket yang di kunjungi orang-orang. Tidak mungkin orang di hadapannya itu akan melecehkannya di situasi yang tidak menguntungkan itu.
" Apa kabar mu bit*ch? " Tanya pria itu sambil tersenyum miring.
" Jauh lebih baik setelah lepas dari kalian " Ucap Sean sambil membalas senyuman pria itu.
"Ah aku dengar kau sudah tidak bersama Erik. Itu tanda nya kau sudah tidak di lindungi bukan? " Ucap pria itu sambil memamerkan senyum mengerikan.
Sean bingung dengan perkataan pria itu. Dia tidak mengerti maksud pria itu dengan kata 'dilindungi'.
" Aku tidak paham dan tidak mau paham dengan perkataan mu. Jika tidak ada yang penting maka aku akan pergi sekarang " Ucap Sean dan bersiap pergi dari tempat itu.
" Kau dan pacar mu benar-benar sialan! " Ucap pria itu membentak.
Sean heran lalu ingin meminta penjelasan dari pria itu.
" Apa maksud mu ?" Tanya Sean.
Tanpa banyak bicara tiba-tiba pria itu menerjang dan memukuli Sean.
Tubuh Sean yang cukup besar dan memang sudah berlatih bela diri mencoba melawan pria itu.
Tapi Sean tidak sadar pria itu memiliki pisau yang dia selipkan di pinggang. Dalam sekejap pria itu menusukkan pisaunya ke bahu Sean.
Sean mengerang kesakitan dan berusaha melawan.
Tangan Sean ikut terluka sayatan karena mencoba menepis tusukan kedua dari pria itu.
Pria itu kembali menusuk bagian perut Sean.
Beruntung dua orang satpam minimarket sedang di tugaskan membuang beberapa kardus ke bagian samping gang.
"WOI!!!! SIAPA ITU!!!!! " Teriak satpam itu mengejar pria yang menusuk Sean.
Pria itu melarikan diri meninggalkan Sean dengan pisau yang tertancap di perutnya.
" Woi Nu!! Udah sini bantuin angkat Abang ini dulu Nu! Ini kena tusuk orangnya " Ucap satpam yang lain panik melihat kondisi Sean berlumuran darah.
Sean di bopong keluar dari gang sebelah minimarket itu. Semua mata menatap ke arah Sean. Mereka sangat terkejut di tempat seramai itu bisa terjadi aksi kriminal.
Sean segera di bawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan pertama.
.
.
Di tempat lain Linny sedang bertemu dengan Mister Lee untuk membicarakan kerja sama antara mereka.
Linny yang sedang menemui pengusaha perhiasan yang kerja samanya dengan Abdi Wijaya berhasil di gagalkan oleh Andrean dan Sisilia tampak senang dan puas.
Kedua CEO muda itu tampak langsung akrab dan berbicara serius untuk kerja sama mereka. Perusahaan perhiasan itu sedang meluaskan bisnis perhiasannya dan membutuhkan investor agar semakin kuat.
Hal itu membuat Linny langsung menemuinya untuk membicarakan kerja sama bisnis. Selain karena perusahaan perhiasan itu memang terkenal di mancanegara, Linny juga tahu keuntungan besar sedang menanti jika kerja sama itu bisa berjalan dengan baik.
"Thank you Mister Lee. I am very honored to work with you" Ucap Linny sambil menjabat tangan Mister Lee -CEO dan Founder perusahaan perhiasan itu.
"With pleasure CEO Kim. I'm the one who's honored to get to know and work with a great CEO like you. Thank you for the banquet tonight " Balas Mister Lee.
Andrean tampak tergesa-gesa mendatangi Linny.
Melihat wajah panik Andrean membuat Linny heran.
Linny membalas dengan senyuman yang ramah.
Setelah Mister Lee pergi, Linny beralih ke Andrean.
" Ada apa? " Tanya Linny heran.
" Itu Sean.... Linny, Sean masuk rumah sakit " ucap Andrean ngos-ngosan karena dia memang berlari dari lantai bawah menuju lantai 7 letak restoran di hotel Alexxander. Tempat Linny bertemu dengan Mister Lee untuk membahas kerja sama mereka.
Saat itu lift penuh hingga Andrean menaiki tangga menuju lantai 7 bersama dua bodyguard-nya.
" Masuk rumah sakit? Kenapa ?"
Linny tampak santai karena berpikir Sean hanya sakit biasa, karena dia sudah pernah menghadapi Sean yang demam sehabis ribut dengan Erik juga keluarganya seperti sebelum-sebelumnya.
" Sean ditusuk orang. Dia kehilangan banyak darah. Sekarang sedang di tangani dokter. Tusukan di perutnya cukup dalam " Jelas Andrean.
Netra Linny membola terkejut.
" Siapa bajingan yang berani melukai MILIK KU?! " Tanya Linny penuh amarah.
" Aku sudah meminta CCTV di dekat lokasi kejadian juga sekitarnya. Mungkin besok akan mereka kirimkan " Ucap Andrean.
"HARI INI!! Dalam satu jam kau harus memberikan semua rekaman CCTV dan data bajingan itu! " Titah Linny tak bisa di bantah.
Andrean menelan salivanya dengan kasar. Linny benar-benar dalam mode singa kelaparan.
Pernah bukan melihat singa kelaparan? Ya begitu lah kira-kira saat ini yang di lihat Andrean.
Siapa pun itu, mereka sudah gila dan membangunkan singa yang sedang tertidur ini.
"Berikan kunci mobil ku! Di rumah sakit mana Sean di bawa ? " Tanya Linny sambil berjalan cepat menuju lift.
" Ah. Di rumah sakit Mitra Kasih. Biar aku yang mengemudi saja Linny" Ucap Andrean yang takut Linny mengebut dalam kondisi marah.
"DIAM!!!" Ucap Linny dengan tegas.
Andrean tidak bisa lagi bersuara jika Linny sudah dalam mode singa betina. Dia hanya diam mengikuti kemauan Linny.
Linny mengemudikan mobil BMW nya dengan kecepatan semaksimal mungkin membelas jalanan. Terpaksa mobil Andrean dan bodyguard-nya mengikuti kecepatan mobil Linny. Mungkin seminggu lagi mereka akan mendapat kiriman surat cinta dari polisi lalu lintas akibat mengebut dan menerobos lampu kuning menuju merah.
Tiba di rumah sakit Linny langsung berlari menuju UGD. Terlihat William dan Sisilia menunggu di depan pintu UGD.
"Linny" Ucap Sisilia lirih.
"Bagaimana? " Tanya Linny langsung.
"Entah lah. Kata dokter dia kehilangan banyak darah. Dua luka tusukan dan satu sayatan mengenai tangan kanannya" Jelas Sisilia.
Linny menatap tajam ke dalam ruangan UGD.
"Jangan coba-coba mati tanpa seizinku. Bahkan ke neraka pun akan aku kejar dan ku bawa kau kembali Sean!" Ucap Linny dingin.
Melihat sikap Linny, Andrean dan Sisilia paham Linny sangat khawatir. Meskipun wajahnya tampak dingin namun Sisilia yakin, Linny sangat takut Sean tidak selamat.
Seorang dokter tampak keluar dari ruangan UGD.
"Keluarga pasien Winsen Darren Mahaprana?" Panggil dokter itu.
"Saya Dok " jawab Linny langsung.
"Maaf sebelumnya. Pasien mengalami banyak kekurangan darah dan harus segera di lakukan transfusi darah. Luka di perutnya cukup dalam. Juga bahu kirinya. Hanya stok darah di rumah sakit ini kosong untuk golongan darah pasien" Ucap Dokter itu menjelaskan.
"Apa golongan darahnya Dok?" Tanya Linny.
"AB+ " Jawab William langsung. Tentu sebagai sahabatnya Sean tidak mengherankan William tahu golongan darah Sean yang termasuk golongan darah yang sulit di cari karena hanya ada 5,88% penduduk di seluruh dunia memiliki golongan darah itu.
Maka tidak mengherankan kalau pihak rumah sakit kekurangan stok darah AB+ saat ini.
"Sebentar Dok saya akan telepon teman saya. Doni darah nya AB+ juga" Ucap William. Ya diantara mereka berlima hanya Doni dan Sean yang memiliki golongan darah AB+.
" Tidak perlu. Ambil darah aku saja Dok. Aku AB+" Ucap Linny langsung.
Sisilia dan Andrean terkejut. Linny tidak pernah mau melakukan donor darah selama ini. Linny pernah mengatakan bahwa darahnya hanya akan dia berikan untuk Nicolas -adiknya ataupun keturunan Nicolas kelak nanti. Hidupnya hanya untuk sang adik tercinta.
" Baik. Silakan ikut saya ke ruangan periksa. Kita test dulu apakah Anda dan darah Anda layak " Ucap Dokter yang memang harus mengikuti prosedur donor darah.
.