A Gay With His Angel

A Gay With His Angel
Siapa Kau?



"Kalian sedang membicarakanku?" Tanya Linny sambil berjalan mendekati Sean dan Om Donald.


Sean dan Om Donald refleks melihat ke arah Linny yang tampak berjalan mendekat.


"Sudah selesai?"  Tanya Sean pada Linny.


"Sudah"  Ucap Linny dengan santai lalu meraih gelas wine milik Sean.


"Hei kau masih harus minum obat"  Ucap Sean mengingatkan Linny.


"Ck! Tinggal hari ini bukan?"  Ucap Linny protes.


"Makanya tahan dulu ya. Besok akan aku temani kau minum"  Ucap Sean membujuk Linny.


"Sepuasnya?"  Tanya Linny sambil menunjukkan puppy eyes-nya.


"Secukupnya"  Ucap Sean tegas.


Tidak mungkin membiarkan Linny minum minuman beralkohol tanpa di kontrol jumlahnya. Tetap saja itu tidak baik untuk kesehatan Linny.


"Ih!" Linny tampak kesal mendengar ucapan Sean.


Om Donald menertawakan mereka yang tampak begitu mesra.


'Kau lihat Frans? Putri mu sudah menemukan pria yang bisa mencintainya sebesar cinta mu untuknya. Putra mu juga sukses di luar sana. Kau beristirahatlah dengan tenang. Hingga akhir nafasku akan aku pastikan menjaga kedua anak mu dan melihat mereka hidup bahagia dengan pasangan masing-masing'  Ucap Om Donald dalam batin.


Mereka bertiga kembali berbincang hingga waktu terasa berlalu dengan cepat. Sean dan Linny pamit karena Linny ingin mengunjungi makam kedua anaknya.


"Tolong ya Om"  Ucap Linny yang hanya di pahami maksudnya oleh Om Donald.


"Tetap waspada ya"  Ucap Om Donald pada Sean dan Linny.


Sean dan Linny mengangguk paham maksud Om Donald.


Mereka segera masuk ke mobil dan menuju ke salah satu pemakaman umum. Tempat peristirahatan kedua anak Linny.


Linny menyempatkan diri membeli dua karangan bunga krisan putih untuk dia letakkan di atas makam anak-anaknya.


Linny tampak tenang dan menyapa kedua anaknya itu.


"Hai Baby. Maafkan Mommy tidak menjaga kalian dengan baik. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi dan Mommy harap saat itu kalian bisa memaafkan Mommy"  Ucap Linny terdengar sedih di telinga Sean.


Sean merangkul Linny dan menguatkannya. Walaupun di luar tampak kuat, Sean yakin Linny tetap lah wanita yang rapuh dan sedih jika mengingat kedua anaknya yang belum sempat dia sapa itu.


"Ayo kita kembali. Tadi William menelepon. Dia mengajak kita makan bersama di restoran yang sudah dia booking"  Ucap Sean.


Waktu memang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sudah waktu yang tepat untuk mereka menuju restoran dan makan malam bersama.


Linny hanya mengangguk mengikuti perkataan Sean. Sebelum meninggalkan tempat itu, Linny mencium kedua nisan anak-anaknya dan berpamitan.


Keduanya kembali ke dalam mobil menuju restoran tempat berjanji bertemu dengan William dan Sisilia.


Bisa di katakan itu double date mereka yang pertama kalinya. Biasanya mereka selalu beramai-ramai dengan yang lainnya.


Namun khusus hari ini William ingin mengajak Sisilia juga pasangan Sean - Linny untuk menikmati dinner bersama.


Untuk menghibur Sean dan Linny setelah kejadian menyakitkan itu. Sekaligus Sisilia berencana sengaja mendesak Linny agar mau menikah dengan Sean.


.


Di dalam Restoran tampak pasangan William - Sisilia sudah menunggu di salah satu meja dekat jendela. Restoran mewah dan terkenal dengan steak yang enak itu tampak cukup banyak pengunjung dari kelas atas tentunya.


"Jangan terlalu memaksa saat berbicara dengan Linny"  Ucap William menasihati.


"Dia kalau tidak di paksa mana mau"  Ucap Sisilia.


"Ingat dia baru kehilangan bayinya. Meskipun dia tertawa dan tampak kuat tetap saja dia wanita yang bisa down dan merasa kehilangan. Lagi pula tidak baik terlalu ikut campur dalam hubungan mereka. Mengerti kan sayang?"  Ucap William dengan lembut memberi pengertian pada Sisilia.


Sisilia pun mengangguk paham dan tidak melawan perkataan William lagi.


Terlihat Sean dan Linny memasuki restoran dan berjalan mendekati meja William - Sisilia.


"Hai. sudah lama?"  Tanya Sean menyapa kedua pasangan pengantin muda itu.


"Tidak juga. Ayo duduk. Ah aku sudah memesan menunya untuk kita. Tidak masalah bukan?"  Tanya William memastikan.


"Justru aku mau bilang maaf ini Alfa dan Jun aku suruh ikut makan juga"  Ucap Sean merasa tidak enak pada William.


"Tidak masalah. Duduklah dan makan. Yang lain di mana?"  Tanya William menanyakan pengawal Sean dan Linny yang lainnya.


"Mereka makan di tempat lain. Kami melarang agar tidak menjadi perhatian di sini"  Ucap Sean.


Sean dan Linny memang tidak mau terlalu menarik perhatian sekitar jika terlalu banyak pengawal yang ikut masuk ke tempat mewah itu.


"Oh baiklah. Jun dan Alfa mau makan apa langsung pesan saja"  Ucap William dengan ramah.


"Terima kasih Tuan"  Ucap Jun dan Alfa yang memang menghormati William.


Mereka kemudian berbincang ringan dan tertawa bersama sembari menunggu hidangan tiba. Saat makanan tiba tentunya Sean dengan cepat memotong-motong steak menjadi ukuran yang mudah untuk di makan Linny.


Begitu pula William tampak begitu romantis memperlakukan Sisilia.


Tanpa Linny sadari, dua pasang mata menatap tanpa henti pada Linny dan mendekati meja mereka.


"Wah. Kau menikmati hidup sekali ya Kimberlyn"  Ucap Seseorang yang suaranya sangat Linny kenali.


Linny menoleh dan melihat dua orang yang sangat di bencinya tepat berada di dekatnya.


Linny tersenyum meremehkan melihat kedua orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Hendra Abdi Wijaya dan Sisca Natalie. Sang Ayah tiri dan Ibu kandung Linny yang telah menghancurkan dan membuang Linny dulu.


"Apa aku mengenal kau?"  Ucap Linny dengan santai.


"Begitu caranya kau menyambut orang tua sendiri? Memang tepat pilihan Natalie mencampakkan anak seperti mu"  Ucap Hendra sengaja memanasi.


Sisilia tampak sangat kesal melihat kehadiran dua orang yang tak di undang juga tak di harapkan itu.


Alfa dan Jun hendak bergerak mencegah Hendra dan Sisca Natalie mendekat. Namun Sean memberi kode agar mereka duduk diam saja.


Sean akhirnya mengenali, kedua orang itu adalah orang yang sangat melukai dan menghancurkan hidup Linny.


"Memangnya aku punya seorang ayah tukang selingkuh dan ibu yang gila harta dan s3l@ngkangan seperti kalian?"  Ucap Linny terdengar sangat merendahkan Hendra dan Sisca Natalie.


Wajah Hendra dan Sisca Natalie tampak memerah menahan amarah. Tentu mereka tidak terima di hina Linny seperti itu.


"Kau memang kurang ajar Kim. Tidak berubah! Dasar anak sundal!"  Ucap Sisca Natalie dengan kasar memaki Linny.


Linny yang dimaki malah tertawa menanggapi perkataan Sisca Natalie yang baginya tidak penting itu. Sudah lama Linny menganggap ibu kandungnya itu mati.


"Kau siapa? Siapa yang anak mu?"  Tanya Linny dengan tawa meledek.


Sisca Natalie hendak menampar Linny yang tentu membuat Sean langsung berdiri dan mencegahnya.


"Bisa Anda lebih sopan? Jika Anda kurang ajar maka saya tidak segan memanggil security mengusir Anda!"  Ucap Sean dengan tegas.


Hendra dan Sisca Natalie tersikap melihat Sean. Pria tampan dan tampak berkarisma dengan pakaian dan barang branded. Meskipun tidak glamour namun mata Hendra dan Sisca Natalie bisa melihat seberapa bagus barang yang di miliki Sean.


Tak luput juga mereka memperhatikan Linny yang mengenakan gelang emas juga kalung emas. Belum lagi baju Linny yang memang keluaran terbatas brand luar negeri membuat Sisca Natalie terkejut.


Namun Sisca Natalie mencemooh Linny dan menganggap remeh putri kandungnya itu.


"Kau sepertinya berhasil menjadi jal@ng ya? Berapa banyak pria yang berhasil meniduri mu dan kau gerus hartanya hingga kau bisa berpakaian glamour begini?"  Ucap Sisca Natalie mengejek.


"Setidaknya aku tidak gila terongan lemas seperti kau yang terlalu terobsesi dengan milik tua bangka yang tukang selingkuh dan perusak anak sambungnya"  Ucap Linny dengan sengaja.


"Kau!"


Sisca Natalie tampak geram dan mengacungkan tangannya pada Linny.


"Turunkan tangan mu! Kau kira aku takut pada kalian? Tenang saja. Aku akan duduk dan tertawa melihat kehancuran kalian. Ah tapi kalian memang sudah hancur bukan? Tukang selingkuh. Dan tukang penghabis harta. Bagus memang"  Ucap Linny dengan santai.


Beberapa orang tampak memperhatikan keributan di meja mereka.


"Ah aku sudah kenyang dan mual karena mereka. Bagaimana kalau kita pindah saja?"  Tanya Linny sambil melihat Sean dan yang lainnya.


"Ayo. Jangan habiskan tenaga mu bicara dengan orang yang tidak memiliki akhlak seperti mereka. Sudah tua tapi tidak sadar diri"  Ucap Sisilia yang turut merendahkan Hendra dan Sisca Natalie.


Mereka meninggalkan meja itu dengan Hendra dan Sisca Natalie yang masih menahan amarahnya karena di hina Linny dan di abaikan begitu saja.


'Dia berubah'  Batin Sisca Natalie menatap sang putri yang berjalan menjauh.


Tak sekalipun Linny menoleh dan memandang ke arah mereka.


.


.


Di tempat parkir tampak Linny berhenti dan menggenggam erat tasnya. Emosi Linny memuncak, matanya berkaca-kaca. Dia menahan rasa sakit dan pedih itu sejak melihat kedua manusia itu.


"Linny. Kau baik-baik saja?"  Tanya Sean khawatir.


"Kita kembali ke penthouse kalian saja Sean. Lebih nyaman jika di sana"  Ucap William memberi ide.


Sean mengangguk setuju dan menuntun Linny masuk ke mobil.


Sepanjang perjalanan kembali ke penthouse, Sean langsung merangkul Linny dan menggenggam tangan Linny.


"Sudah. Tidak apa-apa. Mereka akan jatuh dan meminta maaf padamu. Jangan takut. Ada aku"  Ucap Sean menenangkan perasaan Linny.


Linny hanya menutup matanya dan menarik nafas dalam. Sia-sia dia berharap sang Mama memeluk dan meminta maaf padanya. Jika itu di lakukan oleh sang Mama. Dia pasti akan memaafkannya dan mengurungkan niat untuk menghancurkan keluarga itu lebih hancur lagi.


Linny sudah memiliki kartu AS untuk menghancurkan Hendra hingga tidak bersisa dan itu tentu akan berdampak untuk kehidupan Sisca Natalie - Ibu Kandung Linny dan Nicolas.


Semakin kuat kini keinginan Linny melihat dengan mata kepalanya akan kehancuran kedua manusia sombong itu.


.


.


.