
"Hallo om"
"..."
"Ah aku sedang di daerah pelabuhan. Om dimana?"
"...."
"Baiklah nanti aku akan ke sana setelah makan, Kamar berapa?"
"..."
"Okey Om. See ya"
"..."
Sean menatap Linny dengan raut wajah yang tampak cemburu. Pikiran Sean sudah bercabang ke mana-mana.
'Dia masih sering berhubungan dengan om-om random ternyata' Batin Sean merasa kecewa.
Makanan pesanan mereka sudah terhidang. Keduanya segera menyantap makanan yang ada. Namun Sean tampak tidak begitu berselera.
Melihat hal itu membuat Linny heran. Padahal tadi Sean sangat bersemangat memesan banyak makanan itu.
"Kau kenapa?"
Sean menatap Linny dan berusaha tersenyum.
"Tidak apa-apa" Jawab Sean singkat.
Linny bukan orang bodoh yang tidak peka. Linny bisa merasakan Sean cemburu, apalagi dengan terang-terangan pria mantan gay itu berkata mencintainya dan ingin menikahinya.
"Makan lah yang banyak. Setelah ini temani aku ke suatu tempat " Ucap Linny berpura-pura tidak peduli.
"Iya"
Sean tampak masih pelit berbicara. Lebih tepatnya Sean takut salah berbicara dan membuat Linny tidak nyaman bahkan menjauhinya.
Linny diam-diam tersenyum melihat Sean yang cemburu namun tidak mampu memprotes kepadanya.
Makanan yang terhidang sudah habis di makan oleh mereka. Linny membayar makan siang itu dan berjalan mengelilingi pelabuhan. Melihat beberapa kapal yang sedang berlabuh.
Terlihat ada kapal barang atau yang sering di sebut kapal cargo, ada pula kapal kontainer, dan ada juga kapal pesiar yang sederhana tampak sedang parkir di pelabuhan itu.
Linny bergerak mendekati kapal pesiar itu. Beberapa orang berpakaian seragam kapal memperhatikan Linny yang menatap lekat ke arah kapal pesiar itu.
"Maaf ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanya salah satu petugas kapal di itu.
"Kapal ini milik siapa? " Tanya Linny tanpa basa basi.
"Kapal ini milik perusahaan ocean blue. Apa nona ingin melakukan perjalanan dengan kapal pesiar?" Tanya petugas itu lagi dengan ramah.
"Tidak, aku ingin membeli kapal pesiar, tapi yang lebih bagus dari ini. Apa perusahaan mu ada menjualnya?" Tanya Linny dengan santai.
Mata petugas kapal itu tampak membola terkejut. Awalnya dia berpikir wanita muda yang cantik itu hanya ingin bertanya biaya untuk bisa menaiki kapal pesiar, namun ternyata malah wanita itu ingin membeli sebuah kapal.
"Ma-maaf. Tadi Nona bilang ingin membeli kapal pesiar kah?" Tanya petugas itu terbata-bata.
"Iya, aku ingin membeli kapal pesiar. Ini kartu nama ku, berikan kepada orang yang mampu memberikan aku informasi untuk pembelian kapal pesiar" Ucap Linny memberikan kartu namanya.
Petugas itu menerima kartu nama Linny dan sangat terkejut.
Kimberlyn Fransisca Pratama, CEO FP Corporation. Siapa pun tahu itu termasuk para pemilik maupun karyawan perusahaan Ocean Blue. Bagaimana tidak, CEO muda yang sangat sukses dan misterius itu menjadi sorotan publik setelah kemunculan pertamanya memimpin langsung di perusahaan dan mengikuti beberapa jamuan bisnis.
"Ahhh.. Anda CEO Kim. Maafkan saya tidak bisa mengenali Nona Kim" Ucap petugas itu merendahkan diri.
"Tidak masalah. Bisa bantu aku untuk mencari kapal pesiar? Aku ingin membeli satu tapi yang lebih bagus dari ini" Ucap Linny dengan santai.
"Bisa Nona Kim, akan saya segera kabari pihak kantor untuk mencarikan sesuai kemauan Nona. Apa Nona ingin melihat-lihat kapal ini? Kebetulan Kapal ini akan berangkat malam nanti. Jika Nona tidak keberatan silakan melihat-lihat kapal ini" Tawar petugas itu mempersilahkan Linny untuk masuk ke dalam kapal pesiar itu.
"Boleh juga " Ucap Linny lalu melangkah memasuki kapal pesiar itu.
Sean dan bodyguard Linny mengikutinya masuk. Hanya sopir pribadi Linny yang kembali ke dekat restoran untuk berjaga di mobil.
Setelahnya Linny keluar dari kapal itu karena dia ingat harus menuju ke hotel tempat dia berjanji dengan seseorang.
"Aku akan menunggu kabar dari kalian. Bilang kepada pimpinan mu jika sulit menghubungi ku bisa menghubungi asisten ku, Andrean" Ucap Linny sebelum meninggalkan kapal itu.
"Baik Nona. Terima kasih atas kunjungannya" Ucap petugas itu dengan sopan.
Linny berjalan di bawah terik matahari yang menyilaukan.
Bodyguard yang memang sigap membawa payung langsung memayungi Linny sambil menjaga jarak saat berjalan.
"Ayo kita ke hotel Alexander " Ucap Linny kepada sopir pribadinya.
"Baik Nona" Ucap sang sopir lalu melajukan mobil menuju hotel Alexander.
Linny turun dari mobil di ikuti Sean.
"Kalian tunggu di sini. Biar Sean saja yang menemani ku" Ucap Linny memerintah.
"Baik Nona" Ucap bodyguard dan sopir itu berbarengan.
Linny berjalan masuk menuju resepsionis untuk memberi akses ke kamar yang ingin dia tuju.
Tanpa mereka sadari beberapa ponsel merekam serta memotret Linny dan Sean yang masuk ke dalam hotel.
Orang-orang itu men-viralkan berita tentang CEO Muda FP Corporation masuk ke dalam hotel bersama seorang pria di tengah siang bolong.
' Wah, CEO mah bebas ya kapan jam mau ngamar '
' Eh cakep cowoknya. Pantes dong CEO mau sama cowoknya '
' Itu suami atau pacarnya CEO cantik itu ya? '
'Mungkin berondongnya kali. Tapi ganteng banget '
Begitulah berbagai komentar di media sosial mengenai Linny yang memasuki hotel bersama seorang pria. Memang mulut-mulut netizen yang tidak bisa menjaga kelincahan jari mereka. Sangat kepo dan suka menggunjingkan hal yang belum tentu kebenarannya.
Apakah di otak para rakyat negara +26 ini hanya sebatas perkara ranjang dan lendir semata? Padahal sebuah hotel berbintang 5 sekelas hotel Alexxander itu memiliki banyak fasilitas, salah satunya restoran mewah, ruang meeting yang disewakan dan juga kelas gym. Sungguh miris dengan otak dangkal rakyat saat ini.
Di meja resepsionis, Linny langsung meminta akses ke kamar yang ingin dia tuju.
"Maaf mbak. Bisa sambungkan ke penghuni kamar 1508?" Tanya Linny kepada resepsionis itu.
"Boleh mbak, dengan siapa ya?" Tanya resepsionis itu dengan sopan.
"Katakan Linny sudah tiba" Ucap Linny sambil tersenyum tipis.
"Baik, mohon di tunggu sebentar ya mbak. Saya konfirmasi ke terlebih dahulu" Ucap resepsionis itu.
Linny menunggu sambil mengedarkan pandangan nya melihat sekeliling lobby hotel mewah itu.
"Maaf Mbak. Silakan, biar saya bantu untuk akses liftnya" Ucap resepsionis itu dengan sopan.
Linny dan Sean mengikuti langkah resepsionis itu menuju lift.
"Silahkan mbak, lift akan berhenti di lantai yang di tuju. Pak Donald sudah menunggu Anda" Ucap resepsionis itu.
Linny hanya tersenyum kepada resepsionist itu.
Sean mendengar nama Donald mencoba berpikir, siapa pria yang akan di temui Linny. Jika memang itu salah satu teman ONS Linny kenapa Linny mengajaknya ikut menemui Om-Om itu.
Atau jangan-jangan Linny ingin menunjukkan bahwa dia tetap akan bermain dengan pria lain dan jangan berharap bisa menikahi atau mengikat dirinya.
Sean begitu pusing hingga tanpa sadar wajahnya memerah menahan amarah.
.
.
.