
Sinar matahari samar-samar menyelinap masuk ke dalam kamar Linny dan Sean. Linny terbangun, tubuhnya terasa lelah. Perlahan dirinya mengumpulkan kesadaran.
"Sudah bangun?" Tanya Sean yang sedang menyeduh kopi.
"Hmmm" Jawab Linny hanya berdeham singkat.
"Mau kopi atau teh?" Tanya Sean sambil berjalan mendekati Linny yang sedang mengambil posisi duduk di atas tempat tidur.
Sean mengecup pelan kening Linny.
"Teh aja" Jawab Linny singkat.
Sean segera menyeduh secangkir teh beraroma bunga untuk Linny.
Setelah mengingat apa yang terjadi semalam, wajah Linny tampak penuh amarah. Melihat itu Sean mendekati Linny membawakan tehnya.
"Minum dulu. Masih pagi jangan emosi begitu" Ucap Sean sambil menyodorkan teh Linny.
Linny hanya diam menerima secangkir teh dan menyesapnya perlahan. Tubuh Linny semakin segar. Akibat obat laknat itu menguras banyak tenaganya semalam.
"Dimana dia?" Tanya Linny tanpa basa-basi.
"Aku dengar di bawa Andrean ke hadapan Om Donald" Jelas Sean singkat.
Sean mendapat informasi itu dari Jun dan Alfa.
"Aku akan menemuinya" Ucap Linny lalu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Wajah Linny tampak dingin seolah hendak membunuh seseorang.
Sean hanya dapat menghela nafas perlahan. Linny tentu tidak akan melepaskan orang yang mencoba melukainya.
Selesai membersihkan tubuh Linny langsung menemui Om Donald. Linny ditemani oleh Sean. Wajah Linny yang datar dan dingin membuat Sean khawatir akan keselamatan Reza.
Sean bisa memaklumi Reza yang masih sangat menginginkan Linny, mungkin jika dia adalah Reza dirinya pun tidak akan rela melepas Linny untuk pria lain.
Walaupun begitu Sean tetap mengutuk perbuatan Reza yang menggunakan cara kotor untuk bisa meraih Linny kembali.
Om Donald membawa Linny dan Sean menuju ke ruangan bawah kapal pesiar. 1 lantai sebelum lantai bawah tempat mesin kapal berada.
Tempat itu cukup pengap dan panas jika tidak dihidupkan pendingin ruangan. Terlihat beberapa kamar yang mungkin bisa digunakan para pekerja untuk beristirahat. Ruangan kamar yang lebih kecil dari kamar-kamar normal lainnya.
"Buka pintunya" Ucap Om Donald pada penjaga ruangan itu.
Terlihat Reza meringkuk dengan wajah memar. Reza mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang.
Mata Reza berbinar saat melihat Linny, dia berpikir Linny masih memendam perasaan untuknya hingga mau datang menemuinya dan melepaskannya.
"Kenapa masih biarkan dia hidup? Seharusnya Om langsung mencabut saja organ tubuhnya dan membuangnya ke laut lepas" Ucap Linny dengan santai tanpa perasaan.
Netra Reza membola terkejut mendengar perkataan Linny. Bahkan Sean juga tidak menyangka Linny akan berkata begitu.
Dalam bayangan Sean, Linny hanya akan memukuli dan menyiksa Reza hingga Reza meminta untuk mati saja.
"Kimberlyn" Panggil Reza lirih.
"Tutup mulut mu bajing@n! Kau pikir aku akan memaafkan tindakan mu itu? Atau kau pikir jika kau bisa menyentuhku dan membuatku hamil maka aku akan menikah dengan mu? Kau salah besar"
"Kimberlyn sudah lama mati. Aku bukan Kimberlyn, aku Linny. Hamil atau tidaknya diriku tetap aku tidak akan pernah menikah! Kau paham itu?!" Tegas Linny.
Reza tidak menyangka, wanita yang masih selalu ada dihatinya benar-benar berubah. Sekeras apa pun Linny dulu masih memiliki sisi lembut dan tidak sekejam itu.
Tapi wanita yang ada di hadapannya ini seperti orang yang tidak pernah dia kenali.
"Aku akan menghancurkanmu dan keluarga mu yang sudah pernah menghina dan menginjakku. Jangan harap aku akan melepaskan mu kedua kalinya!" Tegas Linny.
Sean dan Om Donald saling memandang. Aura kejam Linny muncul kembali.
"Cambuk dia setiap 5 menit sekali sebanyak 10 cambukkan. Jika dia pingsan siram air dingin agar dia bangun. Aku ingin dia merasakan sakitnya tubuhku karena obat yang dia berikan" Perintah Linny pada Algojo Om Donald.
"Baik Nona" Ucap Algojo itu.
"Om, pesankan obat medroxyprogesterone acetate, cyproterone acetate, dan agonis LHRH" Ucap Linny sambil tersenyum pada Om Donald.
Mata Om Donald dan Sean membola terkejut. Linny ingin mengebiri Reza secara kimia.
"Ah satu lagi. Pesankan jenis obat perangsang yang paling ampuh. Setelah kalian kebiri dia, tolong suntikkan obat perangsang itu" Ucap Linny dengan santai.
"Linny kau yakin?" Tanya Om Donald.
"Ya. Aku sangat yakin Om. Lakukan saja. Setelah itu lempar dia kembali ke rumahnya. Ah ya aku dengar orang tuanya berhutang pada Om dengan jaminan rumah mewah mereka bukan? Aku mau Om menyita rumah itu sesegera mungkin" Ucap Linny yang sudah penuh dengan kebencian pada Reza.
Om Donald hanya mengangguk dan mengikuti keinginan Linny. Linny sudah menjadi sekejam itu, meskipun Om Donald juga sedikit kasihan dengan cara hukuman kebiri kimia itu.
Bagaimana pun dia juga tahu Reza memang masih mencintai Linny dan melakukan semua itu untuk bisa kembali dengan Linny. Sebagai seorang pria, Om Donald merasa kasihan. Tapi sebagai seorang Om dan Papa angkat Linny tentu Om Donald sangat marah dan membenci Reza hingga ingin menelannya hidup-hidup.
Reza tidak menyangka Kimberlyn yang di cintai begitu kejam. Dia berharap bisa membangkitkan kenangan lama dan meraih Kimberlyn-nya kembali. Namun sayangnya Kimberlyn a.k.a Linny sudah mati rasa. Diperlakukan dengan buruk oleh dunia membuat sisi kejam Linny terbangun. Reza kini benar-benar menggali lubang kematiannya.
Belum juga dia bisa mengobati kekecewaan dan sakit hati Linny di masa lalu. Malah kini Reza kembali membuat masalah baru.
Apa pun hal yang bertentangan dengan hukum dan mengotori tangan dengan darah, maka Om Donald yang akan mengambil alih agar Linny tidak di ketahui oleh pihak mana pun.
Linny meninggalkan Reza yang kini mulai di cambuk oleh Algojo Om Donald. Suara teriakan kesakitan Reza terdengar menyakitkan namun Linny tampak tidak peduli dengan hal itu. Dia dengan santai meninggalkan tempat itu diikuti Sean.
Mereka menuju Restoran untuk sarapan yang sudah telat waktunya. Sean memesankan semua makanan kesukaan Linny.
Saat makan tiba, Sean menyuapi Linny seperti biasa. Linny tampak tenang seperti tidak ada yang terjadi. Dirinya sibuk membaca berita dari iPad yang dibawa Sean.
Sean melihat Linny yang sudah tenang mencoba berbicara dengannya. Sean tidak tega Linny melakukan kebiri pada Reza. Jika hukuman yang lain tidak masalah, namun sebagai sesama pria, jiwa Sean sedikit terusik dengan hal itu.
"Linny" Panggil Sean yang membuat Linny menoleh menatap Sean.
"Apa?" Tanya Linny dengan datar.
"Kau yakin dengan hal itu?" Tanya Sean lagi.
Linny menaikkan satu alisnya tanda tidak mengerti maksud pembicaraan Sean.
"Maksudku kebiri kimia. Apa kau yakin? Aku rasa itu terlalu berlebihan. Dengan menyita semua aset dia dan Andrean yang sudah mencabut semua investasi sudah pasti menghancurkan keluarganya dan jatuh di bawah mu" Ucap Sean mencoba berbicara dengan perlahan tanpa menyinggung Linny.
Linny langsung meletakkan iPad nya di meja dan menatap tajam pada Sean.
"Apa kau lupa peraturan kedua? Jangan ikut campur apa pun keputusanku!" Tegas Linny.
Sean hanya bisa menghela nafas panjang. Linny benar-benar seperti batu karang yang sangat sulit di ganggu gugat keputusannya.
"Hukuman itu cukup ringan untuk orang yang sudah mengingkari janjinya, dia berani mempertanyakan keabsahan darah dagingnya dulu, bahkan orang tuanya juga sudah membunuh garis keturunan mereka sendiri dan membuatku hampir mati. Aku rasa aku cukup berbaik hati tidak memotong langsung *********** agar dia merasakan sakit yang sama!" Ucap Linny dengan tatapan penuh kemarahan.
Sean langsung meraih tangan Linny dan mengecupnya perlahan.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu ingat akan rasa sakit itu. Maaf Linny. Aku tidak akan mengusik keputusan mu lagi" Ucap Sean yang lebih khawatir melihat tatapan mata Linny yang menyembunyikan kepedihan kehilangan bayinya dulu.
Linny memejamkan matanya dan menetralkan nafasnya. Dia mencoba menenangkan emosinya yang sempat terpancing itu.
"Sudah lupakan. Jangan bahas itu lagi" Ucap Linny.
Sean tersenyum dan mengangguk. Dia kembali sibuk menyuapi Linny makanan. Dirinya memilih menu makanan sehat yang sangat bagus untuk tubuh Linny.
"Sehabis ini mau berjalan-jalan sebelum kapal malam nanti berlayar kembali?" Tanya Sean.
"Boleh. Aku ingin membeli beberapa barang untuk Nicolas dan kekasihnya" Ucap Linny.
"Baiklah. Ini minum dulu jusnya. Ini bagus buat tubuhmu" Ucap Sean menyodorkan segelas jus segar.
Linny meminumnya hingga habis tidak tersisa.
Sahabat-sahabat mereka ternyata juga baru bangun dan mendekati meja Sean dan Linny.
"Heran nih, yang pasangan pengantin siapa, yang mesranya kebangetan malah entah siapa" Ledek Danu melihat Sean yang begitu perhatian pada Linny.
"Aku lebih herannya sekarang ada cowok bucin kebangetan. Malah aku kira Sean yang cewek, Linny yang jadi cowoknya" Ucap Doni ikut meledek.
Linny tampak cuek tidak peduli ejekan itu. Baginya selama dia enjoy dan tidak melukai orang lain dia tidak akan peduli.
"Makanya cepat cari pasangan Danu! Jangan jomblo terus. Atau kau suka dengan sesama pedang juga?" Ledek Aston.
"Alah sementang ada yang mau lamaran sombong dia!" Ucap Doni meledek Aston.
"Hah? Lamaran? Siapa?" Tanya Sisilia yang tidak mengerti.
Sean juga tampak bingung.
"Aston akan melamar Eka. sebentar lagi kau dan Andrean akan punya ipar" Ucap Linny dengan santai.
"Loh... Kau tahu Linny?" Tanya Aston terkejut.
Belum ada yang tahu itu selain Doni dan Danu yang membantunya mengurus barang lamaran untuk Eka.
"Kau bisa membodohi yang lain, tapi tidak denganku. Aku cukup kagum dengan Tante Rebecca dan Om Austin. Mereka mau menerima Eka dengan senang hati bahkan sangat menyayangi Eka. Kau beruntung memiliki Orang tua yang benar-benar berhati mulia. Hal itu bisa memberkati seluruh keturunan mu" Ucap Linny dengan santai.
Sean dan yang lainnya paham maksud pembicaraan Linny. Kini mereka juga paham kenapa di awal Linny sangat menentang dan tidak setuju Aston mendekati Eka. Linny tidak ingin Eka mengalami rasa sakit yang pernah dia alami dulu.
"Aku sudah siap makan. Kalian lanjutlah. Ayo Sean, banyak yang harus kita beli" Ucap Linny.
"Okey. Kami duluan ya" Ucap Sean berpamitan dengan yang lain.
Sean setengah berlari mengikuti Linny dan merangkul pinggang Linny. Dua bodyguard mereka juga tampak mengikuti dari jarak tertentu.
"Wah.. Baru kali ini aku melihat ada gay yang tobat dan se-bucin itu dengan wanita" Ucap Danu.
"Ya, Gay dan Wanitanya itu benar-benar luar biasa. Hubungan yang aneh!" Tambah Doni.
.
.
.