
Seminggu sudah Linny membiasakan diri bekerja di perusahaan-nya. Meskipun dirinya kurang menyukai keseharian yang harus bersikap layaknya orang besar.
Linny masih merasa dirinya lelah seharian hanya berjibaku dengan laporan dan ajakan makan siang bersama kolega.
Terlebih semua kolega juga ujung-ujungnya hanya ingin mendekati Linny dengan tujuan pribadi.
'Nona Kim sudah berkeluarga?'
'Nona Kim sudah ada pasangan? atau ada yang mendekati?'
'Nona Kim tinggal dimana?'
'Nona Kim, saya mau ajak makan malam bersama'
Dan lain-lainnya yang benar-benar membuat Linny merasa muak. Bahkan ada yang terang-terangan mengajak one night stand (ONS) dengan imbalan kerja sama.
Jika orang itu ada di bar RB, dipastikan minimal tangannya akan di patahkan oleh Linny.
' Memuakkan ' Batin Linny kesal.
Pintu ruangan CEO di ketuk dari luar.
Linny menekan tombol pembuka pintu. Tampak Sean yang masuk kedalam.
"Nona Kim, ini laporan yang Nona minta" Ucap Sean saat melangkah masuk.
"Tutup pintunya" Perintah Linny.
Sean mengikuti perintah Linny dan segera menutup pintu ruangan CEO.
Tampak pintu kembali terkunci otomatis.
"Kemarilah" Ucap Linny.
"Ada apa Linny?", tanya Sean sambil melirik ke luar ruangan. Kalau-kalau ada yang menatap curiga ke ruangan CEO.
"Kenapa kau ketakutan begitu? Tidak ada yang bisa mengintip ke dalam ini Sean" Ucap Linny heran melihat tingkah Sean itu.
"Bukan begitu. Hanya takut ada yang memperhatikan aku masuk ke sini dan selalu pintu tertutup" Jawab Sean yang masih saja memperhatikan luar ruangan.
Linny tertawa, Sean begitu lucu menurutnya. Dimana Sean yang selalu suka menggodanya saat di Bar juga Sean yang begitu garang jika bersamanya di atas ranjang.
"Ah begitu. Kalau begitu lain kali buka saja pintu-nya saat kita berciuman' Ucap Linny dengan santai.
"Linny..."
Mata Sean melotot horror, meskipun dia sangat ingin bersama Linny tapi dia juga tidak mau membuat rumor yang menyulitkan posisi Linny.
Sean merasa bingung harus berkata apa lagi.
"Aku lelah Sean. Kepala ku rasanya ingin pecah duduk seharian di kantor. Belum lagi bertemu kolega-kolega gila di luar sana" Linny mengeluh kesal sambil sesekali memijat keningnya sendiri.
"Masih ada yang mengajak kau untuk main di ranjang?" Tanya Sean sambil berjalan mendekati kursi tempat Linny duduk.
Sean memijati kepala Linny dari belakang untuk memberikan rasa rileks.
"Masih, dan sangat banyak. Gila!" Ucap Linny kesal.
Sean tertawa melihat respon Linny yang kesal.
"Kenapa tertawa?" Tanya Linny heran.
"Ya kan bagus kalau ada yang mengajak, bukannya seru seperti hal yang selalu kau inginkan?" Tanya Sean meledek.
"Sialan kau ini! Kau pikir aku masih Linny si wanita pemilik bar???!! Mana bisa aku sebebas dulu lagi!" Ucap Linny kesal sambil berusaha memukuli tangan Sean.
Sean masih tertawa sambil menepis pukulan Linny yang tidak kencang itu. Karena kalau Linny benar-benar marah dan memukul, dipastikan Sean sudah babak belur.
Sean menangkap tangan Linny dan menunduk mendekati wajah Linny yang tampak kesal.
"Jangan marah. Kau sangat hebat bisa menjalankan semua hal selama ini. Jujur aku salut dengan mu. Saat menjadi Linny , kau sangat berkharisma, bisa menjaga karyawan mu dengan baik dan menghajar orang-orang kurang ajar. Sedangkan saat menjadi CEO, kau sangat elegant, sangat disegani, kau sangat pintar mengelola semua hal di perusahaan, bahkan kau sanggup menahan emosi mu untuk tidak memukuli kolega mu yang kurang ajar itu. Jujur aku sangat kagum pada mu. Kau yang terbaik Linny. Jangan menyerah, ada aku, jika lelah aku akan selalu memijit kepala mu seperti tadi" Ucap Sean sangat panjang, perkataan Sean memang benar adanya.
Sean membelai pipi lembut Linny lalu mengecup bibirnya perlahan.
"Jangan gombal. Kau tau, aku tetap tidak akan menikah dengan mu. Aku sudah bilang, aku mengizinkan mu naik ke ranjang ku sesuka hati, tapi tidak dengan status resmi itu!" Ucap Linny mengingatkan Sean.
"Aku paham, aku tidak akan memaksa mu. Hanya aku berharap kau bisa merasakan aku tulus padamu sejak dulu. Baik kau ini adalah Linny ataupun kau CEO Kim" Ucap Sean memang terdengar sangat tulus dan tidak terbantahkan.
Linny tahu hal itu, dia pun yakin Sean memang tulus padanya. Namun Linny tetap lah Linny yang keras. Dia belum bisa membuka hati sepenuhnya.
Mata Sean membola heran juga terkejut dengan perkataan Linny.
"Kau tampak seperti brondong yang ku pelihara. Setiap di ruangan ini pasti kau akan mencium dan memijati bagian tubuhku yang lelah" Ucap Linny meledek Sean.
"Ah tidak apa-apa. Aku rela kok jadi brondong-nya tante Linny. " Ucap Sean bertingkah layaknya brondong yang sedang manja dengan Tante-nya.
"Sial kau ini! Kau yang enak!!" Ucap Linny kesal.
Sean hanya tertawa. Dirinya merasa beruntung karena bisa mengenal Linny. Andai dia bisa mengenal Linny lebih cepat, mungkin dia tidak perlu terjebak dalam kehidupan sebagai seorang gay.
Namun semua takdir dan jalan kehidupan telah ditulis dengan baik oleh Tuhan. Tak ada manusia yang bisa menolak apa yang telah di garis kan.
Setidaknya Sean masih punya kesempatan untuk menjadi lebih baik meskipun dia sendiri tidak tahu apakah bisa terlepas dari jeratan dunia pelangi itu.
Hari berganti sore, waktunya semua karyawan pulang termasuk Sean. Linny sudah terlebih dahulu pulang bersama Sisilia karena harus memeriksa toko utama untuk produk skincarenya.
Sean bergegas turun menggunakan lift.
"Sean...." terdengar suara seseorang menegur Sean yang baru hendak keluar dari loby kantornya menuju parkiran depan.
"Erik??"
Sean terkejut Erik tiba-tiba muncul di tempat kerjanya.
Takut ada yang mendengar pembicaraannya dengan Erik, Sean segera mengajak Erik ikut naik ke mobilnya. Tentu dengan berjaga jarak tidak ingin tampak dekat dan intim dengan Erik.
"Ada apa datang kemari?" Tanya Sean saat mulai melajukan mobilnya meninggalkan kantor.
"Apanya yang ada apa? Aku ingin bertemu apa itu tidak boleh? Kenapa memangnya? Takut calon istri mu itu lihat?" Tanya Erik dengan perasaan cemburu.
"Bukan begitu. Itu kantor. Bagaimana kalau beredar rumor buruk nanti, apalagi aku baru belum lama bekerja di sana" Jelas Sean sambil menghela nafas panjang, semakin lama Erik semakin berani.
"Ya resign aja. Kita pindah ke luar negri kalau perlu" Ucap Erik tidak peduli.
"Erik! "
Sean tiba-tiba mengeraskan suaranya membentak Erik.
Tampak Erik mulai meneteskan air matanya, belum pernah Sean membentaknya seperti itu.
"Kau... Membentakku...." Ucap Erik sambil terisak.
"Maaf... Maafkan aku sayang. Aku sedang lelah dan banyak pikiran. Aku antar kau pulang ya" Ucap Sean merasa bersalah sudah membentak Erik hingga pria muda itu menangis.
Erik diam sepanjang jalan menuju rumahnya. Mereka tiba di sebuah ruko di kompleks pertokoan. Erik mengelola toko pakaian pria di lantai 1 ruko itu, sedangkan di lantai 2 merupakan gudang stok barang, dan lantai 3 ruangan tempat Erik biasa tidur.
Erik lebih banyak menghabiskan waktu di ruko itu karena dirinya akan lebih bebas dibanding jika harus pulang dan tidur di rumah orang tua nya.
Sean terpaksa menemani Erik tidur di rukonya, untuk membujuk serta memastikan Erik tidak melakukan tindakan berbahaya karena bertengkar dengannya.
Di dalam kamar Erik, tampak Sean memeluk Erik dari belakang berusaha menenangkan pria muda yang tengah merajuk setelah dibentak.
"Sudah jangan marah. Aku hari ini akan menginap. Kau jangan marah lagi ya" Ucap Sean berusaha membujuk Erik.
Tanpa menjawab apapun Erik langsung mencium dan mencoba menyentuh Pluto milik Sean.
Sean terkejut dan mencegah tangan Erik menyentuh lebih lagi.
"Ada apa sayang?" Erik heran, baru kali ini Sean menolak.
"Tidak apa-apa. Aku lelah. Ayo ganti baju sana. Kita istirahat" Ucap Sean membujuk Erik.
Beruntung Erik mau menurutinya dan tidak melanjutkan hal yang pastinya akan menjurus ke adegan panas sesama jenis itu.
Sean benar-benar tidak memiliki nafsu itu lagi terhadap Erik. Si Pluto sudah bisa memilah lebih menyenangkan bersama Venus daripada cercahan batu-batu galaxy tak jelas itu.
Namun sulit sekali bagi Sean untuk meninggalkan Erik begitu saja. Erik lah satu-satunya Pria yang telah mengisi hidupnya salam 3 tahun ini dan juga berjasa bagi Sean. Terlebih Erik tampak sangat tidak ingin melepas Sean.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-WAKTU-KEADAAN HANYA FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA CERITA INI DAPAT MENGHIBUR. TERIMA KASIH.
-linalim-